BPBD Sleman, dari Pelayanan Dekontaminasi hingga Pemakaman

Koordinator Tim Dekontaminasi, Pemakaman, dan Pemulasaraan Jenazah Covid-19 BPBD Sleman, Makwan. HUMAS PEMKAB SLEMAN

Pemerintah Kabupaten Sleman semakin gencar mencegah dan menanggulangi wabah pandemi. Kasus positif Covid-19 tidak lagi terhitung dalam angka satuan, tetapi justru meningkat lebih tajam setiap harinya. Tak sedikit pula korban yang berjatuhan, menimbulkan kepanikan luar biasa di tengah masyarakat. Penanganan pun harus dilakukan dengan tepat dan sesuai protokol kesehatan.

Di awal merebaknya kasus Covid-19, Pemerintah sudah mempersiapkan shelter karantina bagi pemudik yang akan datang menuju wilayahnya. Saat itu, dua shelter karantina diwujudkan, dengan memanfaatkan Asrama Haji di Ring Road Utara dan Wisma Sembada di Kaliurang.

Seribu sayang, Sleman mengalami ancaman baru dari Gunung Merapi yang sempat aktif saat itu. Shelter Wisma Sembada di Kaliurang terpaksa dikosongkan setelah adanya erupsi. Penghuni shelter harus dipindahkan ke Asrama Haji.

Adalah Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Makwan, yang juga bekerja keras sebagai Koordinator Tim Dekontaminasi dan Pemakaman Satgas Covid-19 BPBD Sleman.

Pada bulan April 2020, Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman, Harda Kiswaya, memberinya mandat untuk mengelola shelter karantina Asrama Haji Yogyakarta.

Bekerja di BPBD Sleman, Makwan mengaku, dirinya tidak punya basic atau informasi cukup untuk menangani Asrama Haji. Tidak mudah memahami tugas yang diampunya, pun dalam menyiapkan personel yang akan bekerja di tempat tersebut.

Saat itu, karantina menjadi suatu keharusan bagi pemudik yang tiba di kampungnya. Di lain sisi, kekhawatiran masyarakat di awal pandemi Covid-19 masih tinggi, tidaklah mudah menerima pemudik kembali.

Di Kabupaten Sleman, lonjakan pemudik terjadi jelang bulan suci Ramadan hingga libur Lebaran, sehingga pemudik harus menjalani karantina terlebih dahulu sebelum bertemu dengan keluarganya.

Melihat situasi genting, Makwan tidak mundur. Ia meyakinkan orang-orang yang akan bekerja dengannya bahwa penghuni shelter Asrama Haji adalah orang-orang terduga, yang ditolak oleh lingkungan tempat tinggal sekembalinya dari perjalanan antardaerah atau dari luar negeri.

Upayanya meyakinkan pekerja di Asrama Haji membuahkan hasil. Tim pelayanan dan satpam di Asrama Haji, baik secara fisik maupun mental, siap bekerja.

Berbagai persiapan dilakukan agar Asrama Haji siap dijadikan sebagai tempat karantina, termasuk menata ruangan yang berada di Gedung Muzdalifah agar sesuai standar dan sesuai arahan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sleman.

Untuk tahap awal disiapkan sebanyak 26 kamar, masing-masing untuk dua orang dengan tempat tidur terpisah, namun seiring berjalanya waktu Asrama Haji memiliki dua gedung dengan kapasitas 138 orang.

Asrama Haji difungsikan sebagai shelter karantina bagi Orang Dalam Pemantauan (ODP), dan Pasien Dalam Pemantauan (PDP) Covid-19 yang sudah sembuh namun belum kembali ke rumahnya, serta penginapan paramedis yang tidak bisa pulang ke rumah.

Kasus nyata Covid-19 di Sleman muncul pertama kali dari klaster Indogrosir. Setelah kasus itu, Asrama Haji pun digunakan untuk tempat isolasi pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dengan kategori Orang Tanpa Gejala (OTG).

Perjuangan Tim Dekontaminasi, Pemakaman, dan Pemulasaraan Jenazah Covid-19

Makwan menginformasikan tentang kasus warga meninggal dunia akibat paparan virus Covid-19 yang pertama di Sleman. Ketika itu terjadi, tak ada satupun pihak yang sanggup memakamkan jenazah tersebut, tentu dengan beribu kekhawatiran kalau-kalau terkontaminasi, sekaligus ketidaktahuan mengenai tata cara khusus penanganannya.

Bahkan, Palang Merah Indonesia (PMI) juga tidak bersedia. Alasannya, Alat Pelindung Diri (APD) yang wajib dikenakan petugas dalam pemakaman belum tersedia. Melihat daruratnya situasi, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman kemudian meminta BPBD Sleman untuk menangani persoalan tersebut.

BPBD Sleman, yang kala itu masih sebatas memberikan pelayanan dekontaminasi dan spraying disinfektan untuk fasilitas-fasilitas umum, melangkah maju untuk menangani jenazah Covid-19.

Setelah pemakaman rampung, muncul isu-isu di tengah kepanikan warga yang luar biasa. Warga melakukan penyemprotan disinfektan di jalan di mana jenazah diberangkatkan menuju makam, dan pemakaman pun disterilisasi berhari-berhari.

Makwan memaklumi, jika pandemi Covid-19 membangkitkan kewaspadaan bagi masyarakat luas, khususnya dalam menyikapi kasus meninggal dunia. Ia masih bersyukur, karena tidak ada penolakan terhadap jenazah untuk dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat.

Ketangguhan dan kesiapsiagaan BPBD Sleman layak diapresiasi. Berawal dari layanan dekontaminasi yang padat, disusul dengan pemakaman jenazah Covid-19, BPBD Sleman berinisiatif membentuk tim khusus yang mengampu tugas tersebut.

Tim khusus dalam satu komando dirasa perlu adanya. Akhirnya, dibentuklah Tim Dekontaminasi, Pemakaman, dan Pemulasaraan Jenazah Covid-19 BPBD Sleman, yang dikoordinatori oleh Makwan.

Tugasnya, memberikan pelayanan dekontaminasi ambulans dan kendaraan operasional lainnya, melakukan perawatan jenazah Covid-19, hingga mengurus pemakaman jenazah tersebut.

Perekrutan relawan untuk tim khusus dilakukan. Mereka yang bersedia, terbukti memiliki nyali dan kesiapan mental luar biasa untuk terjun ke lapangan yang penuh risiko, di saat banyak orang memilih untuk menghindar.

Dalam mengemban misi, Tim Dekontaminasi, Pemakaman, dan Pemulasaraan Jenazah Covid-19 telah memiliki tim pelayanan call center pemakaman. Awalnya, layanan call center tersebut menjadi bagian tugas Dinkes Sleman.

Namun, seiring waktu Dinkes Sleman memiliki tugas yang semakin kompleks dalam penanggulangan pandemi. Di satu sisi, Tim Dekontaminasi, Pemakaman, dan Pemulasaraan Jenazah Covid-19 telah berkali-kali mendapatkan permintaan untuk mengurusi pemakaman jenazah Covid-19.

Oleh sebab itu diputuskan, pelayanan call center akan dilimpahkan kepada Tim Dekontaminasi, Pemakaman, dan Pemulasaraan Jenazah Covid-19. Sejak itu, Tim dapat berkomunikasi dengan rumah sakit mengenai penanganan jenazah secara langsung.

“Alhamdulillah. Waktu call center masih dipegang Dinkes Sleman, saya harus siaga sepanjang waktu untuk menerima informasi, kalau-kalau ada permintaan pemakaman,” ungkap Makwan.

Hari ke hari, jumlah kasus meninggal karena positif Covid-19 di Kabupaten Sleman bertambah banyak. Dalam beberapa kasus, sering terjadi tidak adanya kesesuaian antara permintaan pemakaman, persiapan liang pemakaman, dengan pemulasaraan jenazah Covid-19 di rumah sakit.

Ketika enam orang Tim Pemakaman sudah siap terjun ke lapangan, ternyata pemulasaraan jenazah Covid-19 di rumah sakit belum selesai atau penggalian lubang pemakaman masih memakan waktu berjam-jam.

Oleh karena itu, di samping memiliki tim pelayanan call center, ditambahlah tim assessment. Tugasnya, mengecek sejauh mana pengerjaan penggalian liang pemakaman, mengetahui berat jenazah, serta memastikan ukuran peti jenazah sesuai dengan jenazah dan ukuran liang pemakaman.

Assessment dilakukan secara detail agar Tim Pemakaman dapat menyesuaikan kapan waktunya terjun ke lapangan. Hal tersebut mempertimbangkan terbatasnya waktu pemakaian hazmat atau APD yang wajib dikenakan tim saat bertugas.

Sebelum memakamkan jenazah, Tim Dekontaminasi, Pemakaman dan Pemulasaraan Jenazah Covid-19 selalu memastikan beberapa hal penting terlebih dahulu, misalnya apakah jenazah yang akan dimakamkan terpapar Covid-19 atau tidak, dan di mana jenazah tersebut akan dimakamkan.

Tim juga memastikan apakah masyarakat menolak jenazah jika dimakamkan di TPU setempat atau tidak, sebab jika ada penolakan, tim akan memberikan alternatif pemakaman di TPU lainnya.

Bantu Penanganan Jenazah Terpapar Covid-19 di Rumah Warga

Bagaimana jika ada warga meninggal dunia di rumah karena Covid-19?

Di masa pandemi seperti sekarang, warga masyarakat mudah menaruh curiga terhadap orang yang meninggal dunia, lebih-lebih yang terinfeksi Covid-19. Menjauh dinilai sebagai solusi yang paling baik, namun berakibat pada terbengkalainya perawatan jenazah.

Tim Pemulasaraan yang terdiri dari empat relawan telah berkali-kali membantu perawatan jenazah Covid-19 di rumah warga. Sebelum mengemban pekerjaan berisiko tinggi tersebut, anggota Tim telah diberi pelatihan yang memadai.

Makwan sebagai koordinator, selalu berpesan kepada Tim Pemulasaraan agar bekerja secara total. Ia juga mengingatkan timnya tentang betapa penting memuliakan jenazah, siapa pun dan apa pun latar belakang jenazah itu.

Secara umum, pemulasaraan jenazah harus dilakukan sesuai tata cara khusus yang telah diatur, namun penanganan tiap-tiap jenazah dapat berbeda. Misalnya jenazah Muslim, tentu harus diperlakukan berdasarkan tuntunan agama Islam, yaitu dimandikan, dikafani, dan disalatkan.

Tim Pemulasaraan juga selalu menghormati dan memedulikan pihak keluarga jenazah. Ketika menyalatkan jenazah, Tim memberi kesempatan kepada pihak keluarga untuk ikut menyalatkan, dengan catatan harus berada jauh dari jenazah dan menjalankan protokol kesehatan. Keluarga dapat menentukan tempat salat sendiri. Sementara itu, jenazah tetap berada di dalam peti.

Hingga tiba waktunya pemakaman jenazah oleh Tim Pemakaman, keluarga masih diperbolehkan menyaksikan hingga prosesi pemakaman selesai dari kejauhan. Selain itu, Tim Pemakaman juga terus melakukan yang terbaik. Usai jenazah dikuburkan, mereka tak pernah lupa berdoa untuk jenazah tersebut.

“Saya memang selalu wanti-wanti agar mereka mendoakan jenazah setelah dimakamkan, karena saat itu hanya mereka yang berada di lokasi pemakaman,” ujar Makwan.

Makwan menerangkan, dengan cara-cara tersebut, pihaknya ingin memberi pelayanan yang memuaskan bagi keluarga yang ditinggalkan, sekaligus mengaburkan stigma negatif yang berkembang di tengah masyarakat mengenai perlakuan terhadap jenazah Covid-19.

Tantangan Bukan Alasan untuk Menyerah

Tim Dekontaminasi, Pemakaman, dan Pemulasaraan Jenazah Covid-19 BPBD Sleman terbukti menjadi tim hebat yang dapat diandalkan setiap waktu, baik oleh pemerintah, rumah sakit, maupun masyarakat umum.

Di balik itu semua, upaya maksimal dalam mengampu tugas beratnya ternyata tak lepas dari berbagai persoalan dan tantangan di lapangan, misalnya ada jenazah yang langsung “dicovidkan” atau dianggap terinfeksi Covid-19 oleh keluarganya sendiri, dengan asumsi sebelum meninggal sempat bergejala menyerupai gejala Covid-19, dan sehari-hari bekerja di tempat yang ramai.

Pernyataan sepihak dari keluarga justru menyulitkan Tim untuk menindaklanjuti jenazah tersebut, sebab Tim hanya khusus menangani jenazah Covid-19 dengan tata cara khusus pula.

Kasus lainnya, terdapat kegiatan pemulasaraan jenazah Covid-19 yang nekat dilakukan oleh keluarga. Hal ini justru berakibat fatal. Perlu menjadi kesadaran bersama bahwa pemulasaraan jenazah Covid-19 harus dilakukan sesuai protokol kesehatan yang ketat dan sebaiknya dilakukan oleh petugas khusus yang terlatih.

Makwan juga mengungkapkan, anggota timnya acapkali mengalami kesulitan ketika kembali ke rumah setelah bertugas. Menjadi relawan yang bersinggungan dengan penanganan jenazah Covid-19 tentu membuat mereka mudah dicurigai oleh masyarakat.

Menyiasati hal itu, Makwan berinisiatif membuatkan surat tugas bagi anggota timnya, juga rompi tugas yang ia sebut sebagai ‘rompi sakti’. Rompi tersebut menandakan anggota timnya bertugas untuk kepentingan negara, seluruh tindakan yang diambil mengikuti prosedur yang ditentukan. Lambat laun, akhirnya masyarakat dapat memahami relawan BPBD Sleman.

Menjalankan baktinya, Tim Dekontaminasi, Pemakaman, dan Pemulasaraan Jenazah Covid-19 BPBD Sleman juga kerap mengalami kekurangan ambulans dan tenaga yang bertugas, terutama jika menerima banyak permintaan pemakaman dalam satu hari.

Petugas yang membawa pasien Covid-19 mau tidak mau harus menjalani isolasi mandiri terlebih dahulu selama enam hingga dua belas jam, sebelum dapat bertugas kembali. Demikian pula dengan ambulans yang harus melalui sterilisasi. Beruntung, BPBD Sleman dapat bekerja sama dengan BPBD DIY untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Tantangan-tantangan yang muncul di lapangan tersebut seringkali membuat membuat Tim Dekontaminasi, Pemakaman, dan Pemulasaraan Jenazah Covid-19 BPBD Sleman kelelahan dan kewalahan. Namun, hal tersebut bukanlah sebuah alasan untuk menyerah lebih dini, di saat pandemi belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Selama ini, BPBD Sleman selalu mendapatkan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Makwan mengakui, tidak ada regulasi dari pemerintah yang malah memberatkan atau merepotkan pekerjaan BPBD Sleman.

Pandemi merupakan sarana proses belajar bagi semua orang, demikian tutur Makwan. Penanganan Covid-19 ini tidak boleh diliputi dengan ketakutan dan sembrono, tetapi harus disikapi dengan mampu mengelola risikonya, serta menaati arahan baku dari pemerintah.

Kecepatan penanganan pandemi sendiri tergantung pada gerakan kerja sama dan ketaatan semua orang untuk melakukan protokol kesehatan, dari hulu ke hilir. Mereka yang sudah terpapar diharuskan melakukan isolasi, bagi yang bergejala berat harus masuk ke rumah sakit, dan yang meninggal akan menjadi tugas BPBD Sleman dalam penanganannya.

Makwan sekali lagi berharap, tidak ada stigma buruk masyarakat terhadap jenazah Covid-19 dan keluarganya. Pemerintah dapat melakukan sosialisasi mengenai bahaya Covid-19 dan penanganannya kepada masyarakat dengan lebih mantap lagi. Apabila masyarakat paham, penanganan dapat dilakukan dengan benar dan tepat.