Cerita Mantan Wakil Bupati Sleman dalam Penanganan Covid-19

Pemkab Sleman Selenggarakan vaksin massal bagi ASN di lingkup Pemkab Sleman, pada Senin (8/3/2021). PEMKAB SLEMAN

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus melakukan berbagai cara untuk menekan kasus penyebaran Covid-19, hasilnya meski sebagai kabupaten dengan peringkat pertama terbanyak kasus Covid-19 di DIY, namun Sleman berhasil menjaga persentase tingkat kematian rendah.

Mantan Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun menceritakan awal meledaknya kasus Covid-19 di Sleman karena tingkat kepadatan penduduk dan tingkat kunjungan yang sangat tinggi.

“Sebetulnya wilayah Sleman itu tidak luas, hanya 18 persen dari seluruh luas DIY. Tapi penduduknya itu 33 persen. Tingkat kepadatan penduduk dan mobilisasi yang saya kira yang menyebabkan Sleman ini kasusnya cenderung meningkat,” jelasnya.

Selain itu, tingkat mobilitas masyarakat Sleman yang tinggi juga sangat mempengaruhi lonjakan kasus di Sleman.

“Penduduk Sleman itu penduduknya hampir satu juta seratus, namun yang ber-KTP Sleman itu hanya ada 250 sampai 300 ribu setiap hari. Sehingga itu yang mungkin menyebabkan kemudian, angka Covid ini meningkat, dan ini ditandai dengan ketika diberlakukan liburan setelah lebaran dan libur panjang. Itu mulai naik-naik. Sekarang ini seperti puncaknya,” bebernya.

Bahkan, lanjutnya, pada awal kasus Covid-19 di Sleman, komplek Pemkab Sleman juga sempat ditutup.

“Kira-kira bulan Juli atau Agustus. Selain itu, pasar Sleman juga pernah ditutup, dan yang paling menggemparkan adalah kasus Indogrosir, nah salah satu pembelinya adalah ASN di Pemkab Sleman, jadi kami tutup selama dua hari untuk melakukan pemeriksaan, setelah pelayanan reaktif, kan ada lanjutannya. Yang positif langsung masuk isolasi. Setelah dinyatakan negatif, resmi dibuka lagi,” jelasnya.

Berbagai juga terus dilakukan untuk mengedukasi masyarakat, salah satunya dengan menanamkan pada setiap masyarakat agar selalu menerapkan protokol kesehatan. Pemkab Sleman juga telah mendeklarasikan ‘Cita Mas Jajar’.

“Cita Mas Jajar ini singkatan dari Cita adalah cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Mas itu kita memakai masker jika keluar rumah, dan Jajar artinya menjaga jarak antara satu dengan yang lain itu satu setengah meter,” katanya.

Menurutnya setiap warga masyarakat di Kabupaten Sleman harus berkomitmen dengan Cita Mas Jajar agar menjadi budaya dan kebiasaan dalam pandemi Covid-19

Pemkab Sleman juga terus meminta masyarakat agar selalu menjadikan kebiasaan di pandemi ini menjadi kebiasaan sehari-hari tanpa harus diingatkan kembali.

“Setiap orang merupakan contoh bagi orang lain, maka dari itu masyarakat dituntut agar membiasakan perilaku baik ini agar orang lain juga ikut terbawa dengan kebiasaan tersebut. Budaya ‘pekewuh’ saat mengingatkan satu sama lain harus disingkirkan karena dalam hidup kita tidak sendiri dan harus saling mengingatkan,” ujarnya.

Tak sampai disitu, pelayanan publik di setiap tingkatan juga sudah dikondisikan dengan protokol Covid. Surat edaran untuk patuh pada protokol Covid.

“Warga juga kita latih, kita kondisikan, dan kita simulasikan bagaimana mengadaptasi kehidupan baru ini di bidang pariwisata, perdagangan, kuliner, jasa, perhotelan, restaurant. Semua kita simulasikan. Harapannya dengan simulasi itu, ya kita kemudian paham betul, apa akibatnya, apa dampaknya ketika kita tidak patuh pada protokol kesehatan,” pungkasnya.

Namun ia mengakui hal terberat dalam mencegah penyebaran Covid-19 di Sleman adalah membudayakan warga masyarakat agar patuh terhadap protokol kesehatan.

“Menurut penelitian, budaya itu kan mula-mula harus dipaksa. Setelah itu terpaksa, kemudian baru menjadi terbiasa, barulah menjadi budaya,” ujarnya,

Bahkan, ketika ia sedang berkeliling di berbagai pasar tradisional Sleman, ia kerap menemui baik pedagang dan pengunjung pasar yang tidak menerapkan protokol kesehatan.

“Saya terus keliling di pasar-pasar, dan masih banyak yang tidak memakai masker, kadang ada yang terbuka, ada yang ditempel saja, ada yang seharian belum ganti.kita pun sudah memaksa mereka,” katanya.

Ia terus melakukan pendekatan secara persuasif kepada warga masyarakat. “Mungkin dengan cara mengingatkan dengan cara yang baik akan sangat mempengaruhi orang lain dalam melakukan kebiasaan ini. Ketika kita mengikuti semua anjuran pemerintah sesuai SOP, mungkin Covid-19 ini akan pergi dan pandemi segera berakhir,” katanya.

Selain itu, banyak pedagang dan pengunjung pasar yang tidak mencuci tangan baik sebelum maupun sesudah meninggalkan pasar. “Padahal Pemkab Sleman sudah menyediakan tempat cuci tangan,” jelasnya.

Ia mengatakan jika Pemkab Sleman sudah melakukan penangan Covid-19 sesuai dengan seharusnya.

“Hal ini dibuktikan dengan angka penyembuhan cukup tinggi dan angka kematian cukup rendah. Hanya yang menjadikan budaya kepada masyarakat untuk terus disiplin menerapkan protokol kesehatan itu yang tidak gampang. Jadi kita memang harus sabar, harus telaten. Unsur edukasi, unsur sosialisasi harus terus kita lakukan,” katanya.

Selain itu Pemkab Sleman juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memfasilitasi warganya agar terbebas dari Covid-19, Ia berharap warga agar mengerti sehingga akan terjadi kerjasama, karena pemerintah sendiri tidak bisa jika warganya tidak ikut kerjasama.

Roda Ekonomi Harus Terus Berputar

Pada masa pandemi Covid-19 ini sangat berpengaruh terhadap semua sektor kehidupan, terutama sektor ekonomi, warga masyarakat yang kehilangan mata pencahariannya, untuk itu, Pemkab Sleman berinisiatif mengadakan training online untuk para pelaku usaha Sleman. Program pendampingan dan pelatihan ini dimulai sejak 6 April 2020.

Menurutnya pasar online merupakan pasar yang sangat potensial di masa depan. Di masa pandemi ini, masyarakat enggan berinteraksi secara tatap muka dan lebih memilih mencari cara alternatif untuk memenuhi kebutuhannya tanpa harus keluar rumah.

“Berbagai materi pun disampaikan, salah satunya seperti pengetahuan tentang aplikasi pesan singkat WhatsApp dengan memaksimalkan penjualan melalui aplikasi tersebut. Selain itu juga diberikan materi tentang strategi berjualan melalui media sosial dan marketplace,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa setiap orang harus menyadari bahwa hidup itu tidak berhenti, dengan adanya covid atau tidak maka kita harus bergerak agar mendapatkan keuntungan sendiri sesuai dengan apa yang bisa dilakukan.

“Kami selalu mengajak masyarakat untuk semangat dan terus bergerak untuk menjalani semua ini. Harus pintar-pintar mencari peluang yang ada di sekitar agar menghasilkan nilai,” jelasnya,

Ia menceritakan semasa ia menjabat sebagai Wakil Bupati Sleman, ia kerap mendapati masyarakat yang mengadu untuk memohon bantuan.

“Saya kerap menemui warga masyarakat yang berkeluh kesah mengenai pekerjaannya yang hilang karena dampak pandemi Covid-19, namun saya selalu memberikan nasehat dan merubah pola pikir mereka bahwa banyak sekali pekerjaan yang dapat dilakukan,” katanya

Sri Muslimatun berharap agar masyarakat selalu optimis bahwa pekerjaan itu bisa didapatkan dimana saja.

 

Add Comment