Jalan Lain Dunia Kriya

Pameran di Gedung Dekranasda Sleman. SEMBADA

Sleman dikenal sebagai penghasil kerajinan yang tersohor hingga level internasional. Meskipun mengalami pukulan telak kala badai Covid-19 masuk ke wilayah Sleman, para pelaku kriya tidak berhenti bertahan sembari menemukan jalan lain agar bisnis seni ini tetap eksis. Mengikuti adaptasi baru dengan skema pasar yang tidak biasanya harus dilalui, walaupun kenyataannya tetap ada yang harus tumbang. Perlahan tapi pasti, dunia kriya Sleman bisa menemukan jalan lain.

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan industri mebel dan kerajinan di Indonesia harus merasakan dampak pahit, bahkan tak sedikit dari mereka telah merumahkan ratusan karyawan. Hal yang sama pun terjadi bagi para pelaku usaha sektor mebel dan kerajinan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pandemi Covid-19 yang semakin tidak menentu ditambah kebijakan pengetatan atau pembatasan selama pandemi Covid-19 ini membuat para pengusaha semakin terpuruk.

Namun, kehidupan harus terus berjalan. Agar dapat terus bersaing dan bertahan di tengah pandemi Covid-19, pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mebel dan kerajinan di DIY diminta harus kreatif dan inovatif.

Hal tersebut juga dirasakan oleh salah satu pengusaha mebel dan craft di Kabupaten Sleman, Rian Hermawan. Rian, sapaan akrabnya, mulai menggeluti bidang mebel dan craft sejak tahun 1999. Sampai saat ini, ia sudah menginjak tahun usaha ke-22. Rian memulai bisnis dari nol, mulai mengikuti berbagai pameran yang semakin membantu perkembangan usahanya.

Pada masa pandemi Covid-19 yang mulai bergejolak pada bulan Maret 2020, Rian langsung merasakan dampaknya. Ia mengungkapkan, tujuan pemasaran yang paling mendominasi adalah Amerika dan Eropa. Jadi, selama waktu satu bulan sejak bulan Maret 2020, ia sudah terkena imbasnya. Sampai bulan Mei 2020, ia pun masih menunggu waktu untuk pengiriman kontainer.

Akhirnya, Rian yang juga sebagai ketua asosiasi Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Sleman, terpaksa menumpuk stok barangnya di gudang. Hal tersebut juga dilakukan oleh kebanyakan pengusaha UKM lain.

“Jadi, selama dua bulan itu, dari Maret sampai Mei, barang ditimbun di gudang karena dari pihak buyer belum memberi informasi ke UKM,” papar Rian.

Rian juga mengungkapkan, di saat ia dan anggota HIMKI lainnya mengalami kesulitan terutama dari segi pembiayaan, ia harus melakukan talangan biaya terlebih dahulu. Sementara, produk yang ada di gudang terdapat sekitar empat sampai dengan lima kontainer. Hal itu menyebabkan cash flow semakin besar, sehingga dirinya cukup terbebani.

Bahkan, lanjutnya, di bulan Desember sampai dengan Februari 2021, pembiayaan juga masih mahal, yakni tiga kali lipat dari harga normal. Rian berharap, akan ada penurunan harga dalam jangka dekat ini.

Karena situasi yang semakin sulit, pada waktu itu, Rian bersama anggota asosiasi HIMKI akhirnya berinisiatif untuk mencari jalan keluar dengan mengunjungi Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Sleman.

Bersama rekan-rekan asosiasi, Rian datang ke Dinas Perindustrian untuk membicarakan mengenai situasi pada saat itu. Semangatnya teguh untuk tidak mau merumahkan karyawan. Rian berusaha agar karyawan tetap bekerja, meskipun saat itu barang tidak bisa terkirim.

Rian dan rombongan UKM juga melakukan audiensi dengan Bupati Sleman Sri Purnomo. Dalam audiensi tersebut, mereka mendiskusikan masalah yang terjadi. Intinya, mereka tidak ingin melakukan PHK, sehingga sampai saat ini pihaknya tidak memberhentikan karyawan.

Dari pertemuan tersebut, akhirnya mereka mendapat bantuan dana talangan dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Dari dana yang diperoleh, akhirnya ia bersama para pelaku UKM lain bisa terus bekerja hingga saat ini, tanpa melakukan pengurangan karyawan.

Inovasi di Tengah Pandemi

Selama tidak bisa melakukan pengiriman, Rian melakukan berbagai strategi dan inovasi, salah satunya adalah membuat sampel baru.

“Selain produksi barang, juga membuat sampel baru. Kita melakukan komunikasi dengan buyer via email, kemudian buat sampel baru. Jadi, ketika para buyer sudah siap dan meminta kami untuk melakukan pengiriman, kami sudah punya model baru,” jelasnya.

Selain itu, ia dan asosiasi HIMKI juga menjalin kerja sama dengan Dekranasda Sleman. Salah satunya, menggelar pameran di gedung baru Dekranasda yang juga baru di-launching beberapa waktu lalu. Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk mempromosikan produk kerajinan Sleman ke pembeli domestik maupun mancanegara.

Hal lain yang dilakukan yakni bekerja sama dan berkolaborasi dengan pengurus Dekranasda Sleman. Pada bulan April 2020, diselenggarakan pameran di lantai dasar gedung Dekranasda.

Inovasi HIMKI Sleman pada gelaran tersebut adalah pameran virtual yang dapat diikuti masyarakat melalui website penjualan online, yakni www.serayuhimki.com sebagai produk Koperasi Pemasaran DPD Himki Sleman Raya (Koperasi Serayu).

Website ini memudahkan pengunjung online dalam memilih produk sebelum mengecek sampel produk secara langsung di Gedung Dekranasda. Website juga membuat pengunjung yang datang langsung ke lokasi tetap mendapatkan informasi lengkap mengenai produk, walaupun petugas yang melayani secara langsung di Gedung terbatas melalui QR Code masing-masing produk.

Karena pameran tersebut sifatnya virtual, untuk pembeliannya pun melalui ponsel dengan barcode. Sistem barcode ini, lanjut Rian, barang yang diinginkan oleh pembeli diambil fotonya terlebih dahulu, kemudian akan muncul harga barang tersebut, dan langsung transfer.

“Sistemnya adalah pengunjung memilih barang yang akan dibeli melalui website tersebut. Ketika sudah menentukan barang, pengunjung tinggal menekan saja barang tersebut, termasuk nominal harganya,” jelas Rian.

Pihaknya tidak berhadapan langsung dengan pembeli karena ingin menghindari kemungkinan terjadinya penyebaran Covid-19. Dukungan Pemkab Sleman melalui Disperindagkop juga membantu promosi, selain melalui media sosial dan marketplace.

Rian berharap, pandemi Covid-19 bisa segera berakhir, dan warga masyarakat bisa melakukan aktivitas dengan normal kembali.

“Semoga pandemi ini segera berlalu. Hampir dari satu tahun dampaknya yang kita rasakan. Rasanya luar biasa, terutama perekonomian dan hampir semua lapisan kena. Kita berharap untuk edukasi untuk masyarakat agar lebih bijak,” ungkap Rian.