Kegaduhan yang Diakibatkan Cuitan di Twitter

Mediasai yang dilakukan oleh pihak Kelurahan, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Puskesmas, dan tim Gada Bima terhadap Faikhul yang telah melakukan cuitan di akun media sosial miliknya. (Foto: Kelurahan Kricak)

Beberapa waktu lalu, tepatnya hari Sabtu tanggal 20 Maret 2021 terjadi kegaduhan di Kelurahan Kricak, Kemantren Tegalrejo. Kegaduhan tersebut diakibatkan oleh salah satu warga RT 02 bernama Faikhul Ikhsan yang membuat cuitan di media sosial twitter yang isinya tentang ketidakpuasan terhadap pelayanan Satgas Covid-19.

Untuk diketahui bahwa keluarga saudara Faikhul yakni Ibu kandungnya terkonfirmasi positif, jadi mereka diminta untuk melakukan isolasi di rumahnya. Ibu dari saudara Faikhul ini juga sedang hamil.

Malamnya pukul 22.00 WIB Bapak Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi meminta kami untuk menelusuri terkait kebenaran cuitan tersebut, setelah itu kami langsung menghubungi Bapak Haryanto selaku ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kricak.

Ia menjelaskan bahwa semua yang ditulis saudara Faikhul itu tidak benar, dan untuk lebih meyakinkan lagi, kami juga menghubungi Bapak Widodo selaku ketua RT 02 yang juga merupakan ketua Satgas Covid-19 tingkat RT.

Pada kesempatan tersebut ia juga mengatakan jika cuitan tersebut tidak benar, karena Satgas Covid-19/PPKM Mikro tingkat RT telah memberikan berbagai bantuan seperti bantuan sembako, bantuan lauk pauk dalam bentuk mentah seperti daging ayam.

Tak sampai disitu, Satgas Covid-19 juga memberi bantuan susu Ibu Hamil, dan sayuran, pada hari minggu (21/03/2021) keluarga saudara Faikhul juga sempat dibelikan gas dan buah-buahan.

Kami juga sempat menghubungi Ibu Erna selaku petugas survaylance Puskesmas Tegalrejo, ia pun juga tidak membenarkan cuitan tersebut. Ia mengatakan bahwa Puskesmas telah memberikan pelayanan yang sudah sesuai SOP dengan pemberian vitamin. Bidan juga sudah memberikan pembinaan dan pemantauan kepada Ibu dari Saudara Faikhul.

Akibat dari cuitan tersebut, banyak pihak seperti teman-teman tim Gada Bima, dari pihak Puskesmas, masyarakat Kelurahan Kricak, terutama masyarakat RW 01 merasa tidak terima karena mereka merasa disudutkan, ditambah cuitan tersebut juga mendapat respon dari Dokter Tirta sehingga permasalahan bisa dianggap sangat serius.

Esok harinya kami melakukan rapat koordinasi dengan Bhabinkamtibmas, Babinsa, Puskesmas, dan teman teman dari Gada Bima, serta masyarakat RT 02-RW 01 untuk melakukan tindakan lebih lanjut.

Rapat tersebut kami mulai pukul 10.00 WIB, kemudian sekitar pukul 11.30 WIB kami mengundang saudara Faikhul dan Ayahnya untuk bertemu guna melakukan mediasi bertempat di Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) RW 01 yang letaknya persis di depan rumah Saudara Faikhul.

Pertemuan tersebut juga dengan penerapan protokol penanganan Covid-19 yang ketat, seperti penyemprotan tempat dengan desinfektan, jaga jarak, dan lain sebagainya.

Pada pertemuan itu Faikhul menjelaskan maksud cuitannya tersebut adalah karena ia merasa panik setelah mendapat kabar bahwa Ibunya terkena Covid-19 sehingga ia dan seluruh keluarganya harus melakukan isolasi.

Sementara itu Ayah Faikhul merasa sangat menyesal karena anaknya telah menulis cuitan seperti itu. Dari pertemuan tersebut kemudian saudara Faikhul membuat permintaan maaf melalui video yang di unggah di akun twitter miliknya.

Namun yang juga disayangkan ia tidak membuat klarifikasi tentang kesalahannya, dia tetap menyatakan bahwa dirinya melakukan semua itu karena ia merasa panik dan tidak mau mengakui jika kinerja Satgas Covid-19 sudah sangat maksimal. Tidak mengungkapkan sejauh mana pelayanan yang sudah diberikan pihak PPKM Rt 02, Kelurahan, dan Puskesmas.

Dari pihak Kelurahan, Puskesmas, dan teman-teman tim Gada Bima masih merasa keberatan karena ia tidak menyertakan klarifikasi tersebut dalam video yang diunggahnya, oleh karena itu kami ingin ada klarifikasi dan proses hukum lebih lanjut karena hal tersebut sudah merupakan pencemaran nama baik.

Namun karena pertimbangan kemanusiaan dan agar tidak memberikan tekanan moral yang lebih untuk ibunya serta juga sedikit permakluman terhadap seseorang yang sedang panik, maka sampai sekarang kami belum melakukan proses lebih lanjut.

Selain itu kami juga belum bisa menganggap bahwa apa yang dilakukan dalam video tersebut sudah cukup, hanya saja kita melihat perkembangan situasi apakah ada hal-hal yang tidak mengenakkan atau kegaduhan baru, baru kita akan melakukan tindakan lebih lanjut.

Menurut kami, permasalahan ini tidak kami lihat sebagai permasalahan individu atau lokal Kricak karena hal tersebut seringkali terjadi di berbagai tempat. Kami merasa ada sesuatu yang salah yang cukup serius dalam kehidupan bermasyarakat kita, ada yang salah karena dalam hal komunikasi sosial.

Artinya kita punya PR besar dalam pewarisan budaya, sebagai panduan generasi muda dalam bertindak, berperilaku, dan bahkan berpikir yang akan tercermin dalam etika yg dipakai.

Add Comment