Kipo, Salah Satu Makanan Khas Kotagede yang Wajib Dicoba

Kelezatan kue kipo salah satu kuliner khas Kotagede. NUNULS

Ketika kamu menjelajahi Yogyakarta pastikan bahwa kamu memasukkan Kotagede di dalam list tujuan wisatamu. Kotagede merupakan kawasan bekas wilayah kerajaan Mataram Islam. Di sini masih terdapat banyak warisan budaya yang masih terjaga, sehingga bisa kamu menikmati suasananya.

Bukan cuma warisan bangunan bersejarah, artefak, atau kerajinan perak yang memang menjadi andalan Kotagede saat ini, tetapi kamu juga bisa menikmati wisata kulinernya. Selain kue kembang waru, satu lagi kekayaan kuliner yang menjadi ciri khas Kotagede, yakni kipo.

Kue kipo bukan sekadar kue biasa, melainkan kue berukuran mini khas yang sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram Kuno. Bahkan, para bangsawan keraton pada masa lalu menjadikannya sebagai makanan favorit.

Kue ini berbentuk lonjong dan agak pipih serta lembut. Berwarna hijau di dalamnya terdapat campuran gula jawa dan parutan kelapa. Rasanya manis lembut sedikit kenyal, jika dirasakan ada bau khas panggangan. Kue ini dari literatur yang ada sudah lama diperjualbelikan di sekitar Pasar Kotagede.

Ukuran kipo yang tak terlalu besar ternyata justru malah membuat banyak orang semakin ketagihan karena memiliki rasa yang lezat. Kelezatan rasa kue kipo ini tak bisa lepas dari bahan alami yang digunakan dalam pembuatannya.

Membuat kipo harus berasal dari bahan alami, adapun diantaranya untuk membuat kulitnya adonan beras ketan yang diberi warna hijau dengan pewarna alami daun suji.

Untuk isian yakni ‘enten-enten’ atau parutan kelapa muda yang dicampur dengan gula jawa yang dicairkan. Setelah dibentuk, adonan ini dipanggang dalam wajan yang telah diberi alas daun pisang. Sehingga memberikan aroma yang khas sulit ditemui makanan lain.

Nama kipo timbul karena pada saat itu orang bertanya jajanan ini apa dalam bahasa jawa, “Iki opo?” Jadi disebut kipo.

Kipo adalah makanan tradisional khas Yogyakarta khususnya Kotagede yang memang sudah mulai langka ditemui. Kue tradisional ini kono telh ada dari masa kerajaan Mataram Kuno dan Mataram Islam.

Sempat Langka

Dahulu kue ini pernah mengalami masa punah dimana orang sudah tidak membuatnya lagi seiring dengan kebudayaan kerajaan Mataram yang runtuh.

Hingga pada tahun 1986 kipo dipopulerkan kembali oleh Paijem Djito Suhardjo, warga Kotagede yang saat itu mengikuti sebuah lomba makanan dengan bahan pokok berupa tepung ketan. Pada perlombaan memasak itu Bu Djito mendapatkan perhatian dari khalayak.

Bu Djito selanjutnya mempromosikan kue kipo hingga meninggal pada tahun 1991. Kemudian usahanya tetap dilanjutkan oleh anaknya, Isti Rahayu yang lokasinya berada di Jalan Mondorakan, Kotagede.

Untuk mencicipi nikmatnya kue yang satu ini kamu tidak perlu takut untuk mengeluarkan dompet, sebab satu porsi kipo yang terdiri dari 5-8 butir bisa kamu dapatkan dengan harga yang sangat terjangkau, sekitar Rp. 1.500 sampai Rp. 3.000.

Kelezatan kue kipo juga banyak menarik perhatian wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Banyak wisatawan yang ingin membawa pulang kipo sebagai oleh-oleh. Hanya saja panganan ini bukanlah jenis makanan yang bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama, Untuk dijadikan oleh-oleh, kipo hanya bertahan tidak lebih dari 24 jam saja, tergantung situasi dan kondisi cuaca pula.

Sangat disarankan untuk segera menikmati kipo setelah Anda membelinya. Sebab, dalam pembuatannya, jenis makanan ini menggunakan bahan alami tanpa menambahkan bahan pengawet di dalamnya.