Kompetisi Sehat dan Solidaritas Ala Usaha Ritel Sleman

Pengunjung sedang berbelanja di Pasar Prawirotaman. PEMKOT YOGYAKARTA

Cangkringan-Pandemi covid-19 telah menyebabkan kinerja seluruh sektor kehidupan mengalami kelesuan, tak terkecuali dunia usaha, termasuk pebisnis ritel, untuk dapat bertahan di tengah kondisi krisis ini, para pebisnis perlu beradaptasi dengan perubahan yang ada, mereka juga diminta untuk lebih inovatif akan kebutuhan masyarakat.

Tak sampai disitu, tantangan yang dihadapi oleh para pebisnis ritel tidak berhenti sampai di situ. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, para pelaku bisnis ritel juga dihadapkan pada tantangan berupa komponen biaya pengeluaran-pengeluaran tetap yang sulit turun secara signifikan

Hal ini pun di juga di rasakan oleh paguyuban ritel Sleman Merapi, untuk diketahui, paguyuban ritel Sleman Merapi adalah paguyuban yang terbentuk karena adanya keinginan dan visi kebersamaan yang diinginkan oleh anggotanya yang terdiri dari para peritel lokal Sleman. Paguyuban ini terbentuk sejak tahun 2017.

Adri Syahrizal, sebagai ketua Paguyuban Ritel Sleman mengungkapkan ketika Pandemi Covid-19 membuat hampir seluruh pengusaha kehilangan pendapatan nya

“Pademi Covid-19 sangat bikin kaget, termasuk saya sebagai pengusaha, di bulan Maret itu sangat luar biasa, karena juga ada PSBB, itu omset bisa menurun sampai 90%, penurunan omset itu sampai sekitar bulan Mei 2020,” jelasnya.

Namun ia tak menyerah begitu saja, Adri pun memutar otak agar barang yang dijualnya tetap laku di pasaran sehingga omset bisa kembali pulih dan seluruh pegawai tidak ada yang dirumahkan.

Berbagai pola pembinaan terus dilakukan seperti assesment toko, pelatihan atau training, pendampingan, dan penguatan modal yang dikoneksikan dengan mitra Pemerintah Sleman.

“Bahkan, tidak jarang, sudah banyak yang melakukan peningkatan terhadap tokonya atau upgrade dari toko tradisional menjadi modern, selain itu juga sudah banyak yang melakukan perubahan baik dari sisi mindset pelayanan dan penataan toko,” jelasnya.

Yang terbaru adalah pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop) Sleman mengadakan training online untuk pelaku usaha Ritel Sleman. Program pendampingan dan pelatihan ini dimulai sejak hari Senin 6 April 2020.

Berbagai materi pun disampaikan, salah satunya seperti pengetahuan tentang aplikasi pesan singkat WhatsApp dengan memaksimalkan penjualan melalui aplikasi tersebut. Selain itu juga diberikan materi tentang strategi berjualan melalui media sosial dan marketplace.

“Hampir seluruh anggota paguyuban usahanya adalah minimarket dan toko ritel, dengan adanya pandemi ini kita ganti ke pemasaran online, Disperindagkop juga langsung mengadakan training online, untuk anggota yang mulai memasarkan produknya lewat online malah penjualannya bagus dan meningkat,” ujarnya.

Menurutnya pasar online merupakan pasar yang sangat potensial di masa depan. Di masa pandemi ini, masyarakat enggan berinteraksi secara tatap muka dan lebih memilih mencari cara alternatif untuk memenuhi kebutuhannya tanpa harus keluar rumah.

Namun meski begitu, upaya tersebut belum sepenuhnya membantu, karena masih banyak pemilik toko yang menggaji pegawainya dengan setengah gaji, termasuk usaha milik Adri.

“Sampai sekarang gaji pegawai juga masih 50%, kita sebagai pengusaha, kalau gaji ingin dibayarkan penuh, maka harus ada pengurangan pegawai,” bebernya.

Adri mengungkapkan akibat pandemi Covid-19, hampir semua anggota paguyuban mengalami penurunan omset yang drastic.

“Kalau dari temen-temen paguyuban juga banyak yang drop omsetnya, yang awalnya 3 juta per bulan sekarang jadi 500 ribu per bulan, makannya kita di group itu saling menguatkan satu sama lain,” tambahnya.

Adri menceritakan usahanya bisa bertahan sampai sekarang ini karena memang dari awal ia selalu terbuka kepada seluruh pegawainya tentang berapa jumlah pendapatan yang diperoleh toko miliknya setiap bulannya.

“Kami masih bertahan sampai sekarang ini karena memang dari awal saya dan tim selalu terbuka, seperti omzet kita dapat berapa, pasti selalu kami ceritakan. Yang selalu saya tekankan adalah bukan perusahaan yang menyelamatkan kalian, namun yang menyelamatkan perusahaan ya kita semua ini, mungkin itu bisa di contoh untuk para pengusaha di luar sana, agar selalu terbuka kepada pegawainya,” katanya.

Berbagai cara dilakukannya untuk meyakinkan pembeli, salah satunya adalah memberikan edukasi kepada pembeli bahwa usaha miliknya telah mengaplikasikan protokol kesehatan seperti yang telah dianjurkan oleh pemerintah.

“Kalau kita berbicara toko ritel, para pembeli itu ketakutan karena kita berjejaring, yang jelas kita terus menyadarkan masyarakat, bahwa seluruh pegawai disini sudah melakukan protokol kesehatan dengan ketat,” jelasnya.

Pihaknya pun terus mengajak seluruh anggota paguyuban ini untuk terus memberikan edukasi kepada seluruh pembeli agar pembeli merasa aman membeli produk mereka.

“Saya juga sudah bilang ke teman-teman paguyuban agar mereka menyakinkan pembeli bahwa kita telah menjalankan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah di tempat kerja kita, bahkan kami juga telah menyediakan vitamin C untuk para karyawan,” katanya.

Kebersamaan Dalam Kolaborasi

Adri pun selalu menekankan kepada seluruh anggota paguyuban untuk terus semangat dan pantang menyerah, bahkan pandemi Covid-19 ini adalah saatnya para pengusaha ritel untuk memanfaatkan momentum ini.

“Karena kita ini bisnisnya berbasis ritel, malah pandemi ini saatnya, karena yang bisa bertahan adalah ritel, tidak mungkin orang tidak butuh beras, tidak mungkin orang tidak butuh sembako, faktanya memang pandemi ini, selain alat kesehatan, sembako juga banyak yang order,” ungkapnya.

Sebagai salah satu pemilik skymart, Adri Syahrizal merasa bahwa perjuangan untuk ritel lokal Sleman harus benar-benar serius untuk disatukan, karena banyak sekali peluang apabila anggota kompak dan memiliki visi yang sama.

Beberapa hal yang sangat memungkinkan untuk dilakukan adalah melakukan pembelian bersama/join buying dengan harga yang lebih murah, memberikan data-data terbaru dari setiap item barang yang fast moving bagi anggota, sehingga anggota bisa berbagi informasi tentang harga yang terbaik dan supplier yang bisa diajak kerjasama memberikan harga terbaik.

“Kami juga rencananya akan join buying produk, kita cari yang paling murah produknya, terus kita bikin brand sendiri, dan kita display sama sama, ini kita masih ngurus badan hukumnya, alhamdulilah ini baru selesai kemarin, mungkin setelah ini kita mulai bergerak lagi.” katanya.

Selain itu mereka juga akan membuat produk dengan nama mereka, Produk ini nantinya akan dipajang di depan semua Toko, hal ini juga menjadi penguat bagi Pemkab Sleman, bahwa ritel lokal di bawah binaan Pemkab Sleman benar-benar di support dan didukung dengan sepenuh hati.

“Semisal Paguyuban membuat satu produk dengan nama Sleman Mart, ini juga bisa menjadi bukti komitmen bersama untuk mengangkat produk lokal dan brand lokal,” ujarnya.

Kedepan ia dan anggota paguyuban tengah mempersiapkan platform dan aplikasi, dimana aplikasi tersebut nantinya akan menjadi marketplace tiap anggota paguyuban.

“Kedepan kami ingin masing masih toko mempunyai platform sendiri, kami sedang memperjuangkan itu, selain itu kami juga sedang membuat aplikasi, cara kerja aplikasi ini setiap toko mempunyai e-commerce mereka sendiri,” jelasnya.

Adri mengungkapkan aplikasi tersebut telah di uji cobakan ke beberapa toko. “Targetnya semua toko bisa, nanti skemanya, delivery order di chanel mereka sendiri-sendiri,” katanya.