Kunci Penanganan Pandemi Data Tak Perlu Dikunci

Prof. Adi Utarini. HUMAS UGM

Penanganan pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19) masih terdapat berbagai persoalan terkait transparansi data seperti jumlah pasien positif, hingga lokasi terinfeksi. Belum transparannya data tersebut menyebabkan kesimpangsiuran di masyarakat yang justru menjadi kendala dalam penanganan Covid-19.

Hal itulah yang diyakini Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Adi Utarini, menurutnya saat era digital saat ini keterbukaan informasi merupakan keharusan yang dilakukan pemerintah. Sedangkan, apabila pemerintah tidak transparan justru akan menghambat kebijakan pemerintah.

Sebagai akademisi, alumnus Fakultas Kedokteran UGM angkatan 1983 ini merasa punya tanggung jawab untuk mencegah penularan Covid-19. Keterbukaan data bisa meningkatkan kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi wabah yang disebabkan

Karena itu, hal yang dipilih Prof uut sapaan akrabnya adalah mengabarkan secara terbuka kepada media bahwa sang suami telah terinfeksi Covid-19.

Dengan langkah itu, ia berharap orang yang pernah berkontak dengan sang suami dalam 2-3 minggu terakhir dapat memeriksakan diri ke rumah sakit.

Untuk diketahui, ia dan suaminya Prof. dr. Iwan Dwiprahasto sempat terpapar Covid-19 pada bulan Maret 2020 lalu, dan suaminya adalah orang nomor dua di DIY yang didiagnosa positif Covid-19. Prof Iwan menghembuskan napas terakhir pada 24 Maret 2020 lalu.

“Pada awalnya, Prof Iwan justri opname-nya di JIH selama dua hari, lalu baru dipindahkan ke RS Sarjito sampai beliau meninggal, waktu di JIH sudah ada dugaan yang kuat karena foto rontgennya sudah putih semua,” jelasnya.

Prof Uut menceritakan suaminya mulai sakit sekitar tanggal 6 Maret 2020 lalu. Menurutnya awal mula keluarga mereka bertolak ke Jakarta dengan tujuan untuk menemani kakak dari Prof Uut menjalani pengobatan mata.

Namun, di sela-sela kegiatan tersebut, Prof Iwan juga menghadiri beberapa jadwal rapat kerja di sana. Prof Uut pun tak mengetahui dari mana sang suami terpapar Covid-19.

Tak sampai sepekan setelah kepergian suaminya itu, dia juga dinyatakan positif Covid-19. Prof Uut pun juga sempat dirawat selama 19 hari di rumah sakit.

“Di bulan April saya sempat opname 19 hari dan setelah dinyatakan negatif lalu boleh pulang, detailnya, Prof Iwan meninggal Selasa (24/3/2020), lalu hari Sabtu (28/3/2020) saya masuk Sardjito dan selama 19 hari dirawat dan April pulang, suami saya meninggal karena Covid-19,” katanya.

Prof Uut ingat saat itu ia dan suaminya setiap hari mengikuti berita di TV tentang Covid-19. Namun, Prof Uut tak menyadari bahwa virus tersebut rupanya bisa secepat itu menyerang keluarganya.

Meski sudah mengalami gejala, mereka tak terpikir jika itu Covid-19. Sebab keduanya bukan orang yang biasa langsung memeriksakan diri ketika mengalami sakit.

Masa-masa Isolasi

Menjalani isolasi membuat Prof Uut merasa seperti anak kos, tetapi di tempat mewah. Sebab, dia mengaku mendapatkan pelayanan optimal dari tenaga kesehatan. Belum lagi, menu makanan dan snack yang enak, serta ruangan yang wangi.

Dalam masa-masa itu, Prof Uut juga menjaga kesehatannya dengan berolahraga. Ia bercerita selama menjalani perawatan Covid-19 pihaknya mengaku mendapatkan pengalaman spiritual. Oleh karenanya, setelah sembuh dari virus tersebut ia kemudian memutuskan untuk berhijab.

“Setelah menjalani musibah dan menjalani di RS, apa yang terjadi sejak April sampai Agustus itu adalah saya mengalami perjalanan spiritual yang hebat, seperti diingatkan sama Gusti Allah,” katanya.

Beruntung, masa pandemi Covid-19 memudahkannya untuk melaksanakan ajaran agama tersebut. “Jadi selama April sampai Agustus saya di rumah karena pandemi. Yang saya lakukan selama di rumah sakit itu saat-saat dimana saya banyak merenung tentang kehidupan karena suami meninggal. Setelah pulang saya putuskan untuk berhijab,” sambungnya.

Kini setelah dinyatakan sembuh, Ia melihat ada dua pelajaran hidup dibalik bahwa musibah Covid-19.

Pertama, penting bagi dirinya untuk bersikap terbuka atas segala informasi terkait penyakit ini. Hal inilah yang membuat wanita asal Jogja ini rela jenazah sang suami tak diberangkatkan dari rumahnya.

“Lalu karena pandemi saya bisa menjalani itu. Lalu saya ngantor 3 Agustus 2020, resmi bulan Juli sudah terlibat rapat. Saya seharusnya berperan jadi ketua peneliti, tapi saat punya keterbatasan lalu saya serahkan ke dr Riris Andono Ahmad sampai Agustus,” ucapnya.

Bahkan, Uut juga mengurungkan niat menjalani kebiasaan pemakaman ala orang Jawa, tlusuban. Kedua, sebagai keluarga yang punya anggota meninggal karena Covid-19, Ia yakin punya kemampuan memberi edukasi kepada masyarakat.

“Pada titik ini saya menyadari bahwa musibah dan kebahagiaan itu sama saja. Sama-sama untuk mendekatkan pada sang pencipta,” tutur Prof Uut.

Jebolan S3 Umea University, Swedia itu mengatakan bahwa Covid-19 bukanlah satu-satunya penyakit yang tidak ada obatnya.

Pasalnya, demam berdarah hingga saat ini juga belum ada penawarnya. Ia berpesan, hanya dengan langkah pencegahan Covid-19 bisa diminimalkan, seperti memakai masker dan menjaga jarak.

“Pemerintah telah bekerja keras untuk memfasilitasi. Namun, masyarakat harus membuat pilihan. Beradaptasilah sesuai kebutuhan,” pungkas Uut.

Apalagi, Ia dan suaminya dalam periode tersebut kerap melakukan perjalanan Jogja-Jakarta untuk menghadiri suatu pertemuan.

“Ada pihak yang mengapresiasi, tapi ada juga yang heran. ‘Kok diceritakan ke media, apa tidak malu,” tutur Prof Uut.

Kini Prof Uut sudah kembali berkegiatan mengajar, mengikuti rapat, membimbing mahasiswa dan melakukan kegiatan lainnya secara daring. Meski sekali dalam seminggu ia hanya keluar untuk menengok makam sang suami atau hanya seperlunya saja untuk aktivitas lainnya.

“Apa yang saya rasakan saat itu? Di dalam kedukaan, kami juga punya perasaan yang kuat. Yakni kami tidak ingin menimbulkan bencana lain akibat ketidaktahuan setelah berkontak dengan suami,” jelasnya.

Pengalaman pahit Prof Uut tentu diharapkan tidak terjadi lagi kepada keluarga lainnya. Sebagai seorang akademisi di bidang kesehatan, Prof Uut juga selalu berpesan kepada masyarakat, dengan ancaman Covid-19 seperti saat ini, masyarakat agar mau berperilaku hidup sehat setiap waktu.

“Termasuk dengan olahraga, makan makanan bergizi, tidur cukup, dan menerapkan protokol kesehatan di mana saja,” katanya.

Sebab menurut Prof Uut, mengedukasi masyarakat memang tidak mudah. Terlebih bagi pasien yang menanggung sakit, mereka juga harus tetap memberi edukasi pada masyarakat di sekitarnya. Sehingga ketika keluar dari rumah sakit, pasien bisa membuat sekelilingnya mendukung.