Kunci Penanganan Pandemi, Data Tak Perlu Dikunci

Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Adi Utarini, MSc, MPH, PhD. IG/ADI UTARINI

Keterbukaan informasi menghadapi ujian nyata di tengah pandemi Covid-19. Data sebagai pijakan kebijakan Pemerintah sejatinya justru harus bersifat transparan untuk semua lapisan masyarakat, serta menjadi syarat mutlak penentuan berbagai kebijakan. Luput cara mendata, luput pula kebijakan yang dibuat. Betapa penting memberikan ruang besar pada data vital semasa pandemi.

Penanganan pandemi Coronavirus disease 2019 (Covid-19) masih diliputi berbagai persoalan terkait transparansi data, seperti jumlah pasien positif, hingga lokasi terinfeksi. Belum transparannya data tersebut menyebabkan kesimpangsiuran di masyarakat yang justru menjadi kendala dalam penanganan Covid-19.

Hal itulah yang diyakini Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM). Prof Adi Utarini. Menurutnya, saat era digital saat ini, keterbukaan informasi merupakan keharusan yang dilakukan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah. Apabila pemerintah tidak transparan justru akan menghambat kebijakan pemerintah. Ketika kebijakan terhambat, sektor perekonomian dan sektor vital lainnya akan terdampak parah.

Keterbukaan data bisa meningkatkan kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi wabah. Sebaran-sebaran, misalnya, memberikan warning kepada masyarakat. Ketika sebaran kasus diketahui, masyarakat dapat lebih masif melakukan langkah pencegahan. Dengan data-data serupa itu warga masyarakat bisa preventif serta meningkatkan ketahanan tubuh.

Selanjutnya, keterbukaan data berpengaruh penting bagi pemerintah untuk mengambil kebijakan terkait penanganan Covid-19. Bisa pula dijadikan sebagai bahan introspeksi terhadap kebijakan penanganan wabah yang selama ini sudah diterapkan.

Sebagai akademisi, alumnus Fakultas Kedokteran UGM angkatan 1983 tersebut merasa punya tanggung jawab untuk turut mencegah penularan Covid-19. Sekuat tenaga, sejauh yang bisa dilakukan, ia bersaran kepada berbagai pihak untuk mementingkan keterbukaan data agar pandemi segera diatasi.

Kala Sang Suami dan Dirinya Terpapar Covid-19

Seperti diketahui publik, Prof Uut memang punya kronik sejarah tersendiri. Sang suami, menjadi penyintas kedua dan korban meninggal dunia pertama di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sang suami, Prof Iwan Dwiprahasto mengembuskan napas terakhir pada Selasa, 24 Maret 2020.

Prof Uut ingat, saat itu, ia dan suaminya setiap hari mengikuti berita di TV tentang Covid-19. Namun, Prof Uut tak menyadari bahwa virus tersebut rupanya bisa secepat itu menyerang keluarganya. Meski sudah mengalami gejala, mereka tak terpikir jika itu Covid-19. Sebab keduanya bukan orang yang biasa langsung memeriksakan diri ketika mengalami sakit.

Pada awalnya, Prof Iwan rawat inap di RS JIH selama dua hari. Pertimbangannya, biar cukup istirahat. Terlalu banyak pihak medis yang mengenalnya, memungkinkan Prof Iwan justru kurang beristirahat karena harus lebih banyak berinteraksi dan menyapa kenalan. Situasi tidak menguntungkan, karena kondisi fisik yang sedang tidak prima. Bila pun para kenalan tidak disapa, tak mudah rasanya, karena serasa kurang etis.

Sewaktu dirawat di JIH, sudah ada dugaan yang kuat ke arah Covid-19 karena foto rontgen organ dalam Prof Iwan telah tampak tanda-tanda putih. Ia lalu dipindahkan ke Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito untuk dirawat lebih intensif, hingga kewafatannya. Suasana menegangkan pun tak dapat dihindari. Prof Uut bahkan melarang anaknya untuk berjumpa dengan sang ayah.

Prof Uut berkisah, sang suami mulai sakit pada tanggal 6 Maret 2020. Sebelumnya, keluarga mereka bertolak ke Jakarta menemani kakak Prof Uut menjalani pengobatan mata. Di sela-sela agenda itu, Prof Iwan juga menghadiri beberapa jadwal rapat kerja di sana. Prof Uut praktis tak mengetahui secara pasti, dari mana sang suami terpapar Covid-19.

Tak sampai sepekan setelah kepergian suaminya, Prof Uut juga dinyatakan positif Covid-19. Di bulan April, ia sempat opname 19 hari di RSUP Sardjito dan setelah dinyatakan negatif lalu boleh pulang, pada bulan April.

Prof Uut pun menjalani masa isolasi. Ketika menjalani isolasi, Prof Uut merasa seperti anak kos, tetapi di tempat mewah. Sebab, dia mengaku mendapatkan pelayanan optimal dari tenaga kesehatan. Belum lagi, menu makanan dan snack yang enak, serta ruangan yang wangi.

Tidak sedikit dari tetangganya yang sungguh perhatian, bukan hanya pada Prof Uut tapi pada anak dan para pembantunya. Mereka silih berganti mengirimkan makanan, sebagai bentuk perhatian dari para tetangga yang indah. Sesekali mereka melakukan senam bersama di halaman rumah, untuk menjaga kebugaran.

Mulanya, para ibu di sekeliling rumah Prof Uut khawatir juga. Tapi dengan penjelasan yang cukup, lama kelamaan mereka pun lebih ekspresif dengan tetap berhati-hati, saat berinteraksi dengan keluarga Prof Uut. Dalam suasana duka dan kesedihan juga ketakutan dan kepanikan berhadapan dengan pandemi, gotong royong semacam ini menjadi penggalan kisah yang menginspirasi banyak orang.

Dalam masa-masa itu, Prof Uut juga menjaga kesehatannya dengan berolahraga. Selama menjalani perawatan Covid-19, ia mendapatkan pengalaman spiritual. Oleh karenanya, setelah sembuh dari virus tersebut ia kemudian memutuskan untuk berhijab.

Setelah menjalani musibah dan menjalani perawatan di RS, apa yang terjadi sejak April sampai Agustus itu merupakan perjalanan spiritual yang hebat, seperti diingatkan sama Gusti Allah. Prof Uut sering mendengar suara azan, di berbagai waktu, meski bukan saatnya shalat.

Beruntung, masa pandemi Covid-19 memudahkannya untuk melaksanakan ajaran agama. Jadi selama April sampai Agustus Prof Uut terus di rumah, karena pandemi. Selama di rumah sakit, ia banyak merenung tentang kehidupan, karena suami yang meninggal dunia. Setelah pulang, ia memutuskan untuk berhijab.

Usai dinyatakan sembuh, Prof Uut melihat dua pelajaran hidup di balik musibah Covid-19. Pertama, penting bagi dirinya untuk bersikap terbuka atas segala informasi terkait penyakit ini. Hal itulah yang membuat wanita asal Jogja tersebut rela, jenazah sang suami tak diberangkatkan dari rumahnya. Bahkan ia mengurungkan niat kebiasaan pemakaman ala orang Jawa, tlusupan atau brobosan.

Tlusupan dilakukan oleh keluarga yang ditinggal untuk melepas kepergian mayit ke pemakaman. Hal itu dimaksudkan agar pihak yang ditinggal tidak selalu ingat kepada almarhum atau almarhumah. Brobosan atau tlusupan dilakukan atas dasar bahwa setelah meninggal dunia, ruh masih sering datang ke rumah. Hal ini berlangsung selama 40 hari.

Rasa Tanggung Jawab untuk Edukasi Masyarakat

Seputar keterbukaan data, ada pihak yang mengapresiasi Prof Uut, tapi ada juga yang heran. “Kok diceritakan ke media, apa tidak malu?” tanya sebagian orang. Banyak orang yang merasa bahwa didiagnosis positif Covid-19 adalah sebuah aib yang harus ditutup serapat mungkin, karena memalukan. Sebuah reputasi yang tentu saja tidak tepat.

Apa yang dirasakan Prof Uut saat itu? Di dalam kedukaan, ia juga punya perasaan yang kuat, tidak ingin menimbulkan bencana lain akibat ketidaktahuan, setelah berkontak dengan suami yang positif Covid-19. Ia tengah membentengi orang-orang di sekeliling suami agar tidak turut tertular. Upaya yang tidak mudah, tentunya.

Memberi penjelasan kepada keluarga besar, terutama, merupakan hal berat. Bila salah melakukannya, keluarga dapat memberi penilaian negatif. Misalnya, dianggap kurang berusaha atau malah ada kesan tidak sungguh-sungguh merawat sang suami.

Bila pun telah benar dalam memberikan penjelasan, belum tentu dapat diterima secara terbuka, karena penyakit ini benar-benar baru dan ketika sang suami positif, belum banyak informasi yang masuk, bahkan bagi para tenaga kesehatan, sekalipun.

Dengan upaya yang sangat keras, Prof Uut pada akhirnya dapat memahamkan keluarga besarnya. Mereka lantas saling menguatkan. Seorang anggota keluarga meyakinkannya bahwa sang suami wafat dalam keadaan syahid.

Kedua, sebagai istri yang suaminya wafat karena Covid-19, Prof Uut yakin, punya kemampuan untuk memberi edukasi kepada masyarakat. Pada titik itu, ia menyadari bahwa musibah dan kebahagiaan adalah hal yang sama saja, yakni sama-sama untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Lulusan S3 Umea University Swedia itu mengatakan bahwa Covid-19 belum ada obatnya. Ia berpesan kepada publik, hanya dengan langkah pencegahan Covid-19 bisa diminimalkan penularan dan risikonya, seperti memakai masker dan menjaga jarak. Selain itu, menyaring informasi agar tidak tersesat pada informasi yang salah. Karena, informasi yang salah dapat membuat kekacauan tersendiri di publik luas.

Pemerintah telah bekerja keras untuk memfasilitasi warga. Namun, masyarakat harus membuat pilihan dan beradaptasi sesuai kebutuhan. Ia kembali mengingatkan mobilitasnya bersama suami yang kerap melakukan perjalanan Jogja-Jakarta untuk menghadiri suatu pertemuan.

Pengalaman pahit Prof Uut tentu diharapkan tidak terjadi lagi kepada keluarga lainnya. Sebagai seorang akademisi di bidang kesehatan, Prof Uut juga selalu berpesan kepada masyarakat, dengan ancaman Covid-19 seperti saat ini, masyarakat agar berperilaku hidup sehat setiap waktu. Termasuk dengan olahraga, makan makanan bergizi, tidur cukup, dan menerapkan protokol kesehatan di mana saja.

Sebab, menurut Prof Uut, mengedukasi masyarakat memang tidak mudah. Terlebih bagi pasien yang menanggung sakit. Mereka juga harus tetap memberi edukasi pada masyarakat di sekitarnya, sehingga ketika keluar dari rumah sakit, pasien bisa membuat orang-orang di sekelilingnya untuk turut mendukung pola hidup sehat tersebut.

Kini Prof Uut telah kembali berkegiatan, seperti mengajar, mengikuti rapat-rapat, membimbing mahasiswa, dan melakukan kegiatan lainnya secara daring. Meski sekali dalam seminggu, ia keluar untuk menengok makam sang suami atau hanya seperlunya melakukan aktivitas lainnya. Hidup terus berjalan, apa pun yang terjadi, dengan penuh optimisme untuk menebar kebaikan yang jauh lebih baik.