Monumen Plataran Saksi Bisu Kisah Perjuangan Taruna Akademi Militer

Monumen Plataran yang memiliki luas 7.500 meter persegi ini sering digunakan berbagai macam kegiatan. M.ISNAN

Sunyi dan tenang, suasana inilah yang kini banyak dicari oleh para wisatawan. Beberapa tempat wisata di sekitar Yogyakarta telah menyediakan fasilitas yang mendukung permintaan ini.

Kunjungi saja Monumen Plataran Selomartani. Selain belajar sejarah, di tempat ini Anda bisa menikmati suasana tenang yang jauh dari kebisingan kota. Monumen Plataran Selomartani atau juga disebut Monumen Perjuangan Taruna, terletak di Plataran, Kiyudan, Selomartani, Kalasan, Sleman.

Hamparan sawah di sebelah barat monumen menambah sejuk suasana rehat anda. Sementara itu, jalan raya di samping monumen juga tak begitu ramai, sehingga kesunyian pun makin terasa.

Meskipun jauh dari kota, akses jalan menuju ke sini tidak sulit, karena sudah dilalui jalan raya. Anda bisa memanfaatkan google maps, apabila ingin menuju ke lokasi dengan mudah dan cepat.

Monumen yang berbentuk plataran itu menceritakan puingan sejarah perjuangan pahlawan di dunia militer untuk masyarakat.

Sebagai tempat wisata dan sarana edukasi, monumen ini sering dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Monumen Plataran yang memiliki luas 7.500 meter persegi ini sering digunakan berbagai macam kegiatan. Tak jarang juga dikunjungi oleh taruna Akmil untuk ziarah dan karya bakti.

Saksi Bisu Kisah Perjuangan Taruna Akademi Militer

Monumen Plataran, Sleman menjadi saksi bisu kisah perjuangan taruna Akademi Militer pada tahun 1949. Monumen ini mengenang para taruna Militer Academy (MA) atau Akademi Militer (Akmil) saat ini yang gugur saat pertempuran melawan Belanda.

Pasca agresi militer kedua pada tanggal 19 Desember 1948, ibu kota Republik Indonesia di Yogyakarta dikuasai tentara Belanda. Para pejuang Indonesia menyingkir ke wilayah di Sleman, Bantul, Kulon Progo dan sekitarnya. Setelah mengetahui beberapa markas tentara Indonesia berada di Sleman, Belanda menggelar operasi seperti di Kalasan, Turi, Pakem dan Godean.

Operasi di wilayah timur diantaranya di Bogem, Kalasan mengakibatkan beberapa desa dilakukan didatangi tentara Belanda. Ada banyak pejuang Indonesia yang gugur pada 24 Februari 1949 diantaranya 2 perwira remaja, 5 taruna, 1 anggota Tentara Pelajar (TP) dan warga masyarakat.

Pertempuran pasukan Belanda dan Indonesia di kawasan tersebut Berawal dari gugurnya Letnan Abdul Jalil yang sedang mengadakan patroli di Sambiroto berpapasan dengan Belanda. Pada saat itu Letnan Abdul Jalil gugur tertembak karena senjata laras panjangnya masih dalam keadaan terkunci.

Setelah Kadet Abdul Jalil tertembak, kemudian Belanda menggeledah pakaian Letnan dan menemukan buku harian. Di buku harian tersebut tercatat semua markas-markas tentara Indonesia di wilayah Kalasan.

Kemudian tanggal 22 Februari pada malam hari, Belanda langsung menyerang markas yang ada di wilayah Bogem. Namun karena tentara Indonesia sebelumnya telah mengetahui bahwa Belanda akan segera menyerang, maka tentara Indonesia berkemas dan lari ke utara.

Pertempuran di Bogem terjadi selama 3 jam, pejuang Indonesia memberikan perlawanan. Mereka sembunyi di antara tanaman padi yang sedang menguning. Namun, karena pada saat itu Belanda sudah memiliki pesawat, maka Belanda menjatuhkan bom kepada tentara Indonesia, sehingga menewaskan beberapa taruna MA dan perwira.

Pada akhirnya, setelah terjadi pertempuran hebat, tentara Belanda melakukan pembersihan. Mereka menangkap seorang pimpinan TNI yakni Letnan Husein. Mereka memenggal kepala Letnan Husein dan dipisah menjadi tiga bagian.

Belanda menemukan Letnan Husein dengan ciri-ciri tubuhnya pendek, dan gundul sehingga mereka mengira Letnan Husein adalah orang Jepang. Langsung saja Belanda memotong tubuh Husein menjadi tiga bagian. Patung yang berdiri tersebut untuk menghormati dan mengenang Letnan Husein.

Menurutnya Monumen Plataran ini dibangun pada tahun 1976 dan diresmikan pada tanggal 24 Februari 1977 oleh Jenderal Surono. Monumen Plataran terletak di Selomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Di dalam Monumen Plataran ini Anda dapat melihat patung simbolis Letnan Husein yang dipotong tubuhnya dengan tinggi mencapai 5 meter, terdapat juga 8 patung taruna naik burung garuda yang sedang memanjatkan doa kepada yang Maha Kuasa, agar para arwah pejuang diterima, dua buah joglo yang melambangkan bulan ke dua yakni Februari, 24 buah anak tangga, dan ukiran kaca bertulis MA atau Militer Academy.