Pelatihan Komposter Cacing

Pelatihan vermi composter. KAPANEWON BANGUNTAPAN

Yogyakarta, 13 Maret 2021, Bank Sampah Berdikari Sejahtera, berkesempatan untuk belajar membuat vermi composter skala rumah tangga dan komunal.

Pelatihan ini dilaksanakan di perumahan Graha Banguntapan dan diikuti oleh pengurus Bank Sampah dan beberapa perwakilan ketua paguyuban dan warga, dibimbing langsung oleh Ibu Dwi Pratiwi, owner Yayasan Bringin dan Omah Lor sekaligus pakar kompos dan ethno farming.

Vermicomposting adalah salah satu metode mengolah sampah organik menjadi kompos dengan proses alam dalam hal ini memanfaatkan tenaga dari cacing, dengan kelebihan tidak berbau, tidak memerlukan tenaga manusia lebih serta memiliki nilai ekonomis.

Seperti diketahui dari data SIPSN tahun 2020, menyebutkan, berdasarkan jenis sampah, komposisi sampah terbanyak berasal dari sampah organik 47,7% terdiri dari 30,4% sisa makanan, 17,3% kayu/ranting/daun dengan sumber sampah terbesar, adalah rumah tangga, 63.5%, tersebar di 256 kab/kota di Indonesia.

Hal ini mendorong Bank Sampah Berdikari Sejahtera untuk mengedukasi dan mengajak warga perumahan untuk mau memilah dan mengolah sampah, salah satunya dengan metode komposter cacing.

Ubah Minyak Jelantah jadi Sabun Cuci

Bank Sampah ini juga bisa ubah minyak goreng bekas atau jelantah menjadi sabun cuci. pada awalnya anggota bank sampah ini mencari berbagai hal di youtube yang bermanfaat dan bisa dikerjakan di kampungnya.

Ternyata di youtube ada beberapa tips cara mengolah minyak jelantah menjadi berbagai produk yang bernilai ekonomis, termasuk bisa diubah menjadi sabun cuci.

Sekitar bulan Maret 2019, bank sampah ini mulai menerima minyak jelantah dari warga kampungnya dengan dibeli dengan harga murah, karena minyak tersebut biasanya hanya dibuang, bahkan bisa mencemari lingkungan.

Setelah jelantah tersebut terkumpul di bank sampah, mereka mulai mengolah jelantah untuk dibuat sabun cuci. Pertama-tama jelantah dijernihkan dengan cara direndam arang selama 24 jam, kemudian dicampur dengan produk tambahan lainnya, lalu diaduk.

Setelah itu, minyak tadi dituang dalam cetakan, diamkan dan didinginkan selama 2 minggu, jadilah sabun cuci padat untuk pakaian maupun pecah belah. Jika proses pembuatan berjalan baik, tanpa dicampur aroma parfum, sabun cuci batangan yang berkualitas ketika dicetak akan berwarna putih dan padat. Tapi bila ada kesalahan, maka sabun yang tercetak akan lembek, kotor, dan berwarna kekuningan.

Selain sabun padat, minyak jelantah tersebut juga bisa diproses menjadi sabun cair untuk mencuci kain batik, namun proses pengerjaannya memakan waktu lebih lama.

Dalam sebulan kelompok bank sampah ini bisa menghasilkan produk sekitar 150-200 batang dan sabun cair kemasan botol.

Hasil produk ini dijual dengan harga Rp. 15.000 untuk sabun padat, dan Rp. 25.000 untuk sabun cair. Mereka menjualnya melalui sosial media. Keunggulan produk ini diantaranya tidak memakai pemutih dan pengawet. Selain itu sabun ini diklaim mampu membersihkan noda membandel dengan cepat.

Karena tidak mengandung detergen, sabun terbilang aman untuk kulit tangan sensitif. Selain itu sabun aman digunakan untuk mencuci busana atau kain batik termasuk batik dengan pewarna alam. Sabun hanya direkomendasikan untuk mencuci bukan untuk mandi karena kandungan asam lemak yang cukup tinggi.

Selain mengolah jelantah, mereka juga mengolah sampah rumah tangga non organik, sebulan mereka bisa menghasilkan rata rata 400 kg. Namun yang lebih penting dalam pengelolaan sampah ini, adalah edukasi kepada warga masyarakat untuk bisa mengelola sampah agar lingkungannya bersih, sehat dan asri.