Perjuangan Pengusaha Mebel di Tengah Pandemi

Pameran Mandiri ke-10 Dekranasda Kota Yogyakarta di Atrium Utama Malioboro Mall, 23-27 September 2015. (Foto: Marlina Giyanto)

Pandemi covid-19 telah menyebabkan industri mebel dan kerajinan di Indonesia harus merasakan dampak yang pahit, bahkan tak sedikit dari mereka telah merumahkan ratusan. Hal yang sama pun terjadi bagi para pelaku usaha sektor mebel dan kerajinan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Pandemi Covid-19 yang semakin tidak menentu ditambah kebijakan pengetatan atau pembatasan selama pandemi Covid-19 ini membuat para pengusaha tersebut semakin terpuruk.

Namun kehidupan harus terus berjalan,agar dapat terus bersaing dan bertahan di tengah pandemi Covid-19, pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mebel dan kerajinan di DIY diminta harus kreatif dan inovatif.

Hal tersebut juga dirasakan oleh salah satu pengusaha mebel dan craft di Sleman, Rian Hermawan. Rian sapaan akrabnya adalah salah satu pengusaha mebel dan craft. Ia telah mulai menggeluti bidang mebel dan craft sejak tahun 1999. Sampai saat ini ia sudah menginjak tahun ke 22.

“Berangkat dari nol kemudian mulai mengikuti pameran sedikit-sedikit dan berkembang lalu mulai bertemu dengan buyer,” katanya.

Rian menceritakan pada masa pandemi Covid-19 yang mulai bergejolak pada bulan Maret 2020, ia langsung merasakan dampaknya.

“Kebetulan pengiriman rata-rata ke Amerika dan Eropa, jadi selama waktu 1 bulan itu sejak bulan Maret 2020 sudah terkena imbasnya, sampai bulan Mei 2020 masih menunggu waktu untuk pengiriman container,” katanya.

Akhirnya Rian yang juga sebagai ketua asosiasi HIMKI (Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia) Sleman ini terpaksa menumpuk stok barangnya di gudangnya.

“Oleh karena itu kita menumpuk stok barang di gudang, dan kebanyakan teman-teman ukm lain juga seperti itu. Jadi selama 2 bulan itu dari Maret sampai Mei, barang kita timbun di gudang karena dari pihak buyer belum memberi info ke kita,” jelasnya.

Ia mengatakan jika pada waktu ia dan anggota HIMKI lainnya mengalami kesulitan terutama dari segi pembiayaan, karena ia harus melakukan talangan biaya terlebih dahulu.

“Memang agak kesulitan karena dari segi pembiayaan, kita harus nalangin dulu. jadi produk kita ada di gudang itu ada 4 kontainer dan 5 kontainer, itu menyebabkan cash flow, kita dan teman-teman ukm agak terbebani dengan hal itu,” jelasnya.

Bahkan, lanjutnya, di bulan Desember sampai Februari 2021 juga masih mahal. “Masih tiga kali lipat dari harga normal, mudah-mudahan bisa segera turun harganya,” ujarnya.

Karena situasi yang semakin sulit, pada waktu itu, Rian bersama anggota asosiasi HIMKI akhirnya berinisiatif untuk mencari jalan keluar dengan mengunjungi Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Sleman.

“Kemudian saya bersama teman-teman asosiasi ke Dinas Perindustrian untuk membicarakan mengenai situasi pada saat itu, semangat kami tidak mau merumahkan karyawan. Jadi kita bersama berusaha bagaimana caranya karyawan tetap bekerja meskipun saat itu barang tidak bisa terkirim,” ucapnya.

Tak sampai disitu, ia dan rombongan UKM juga melakukan audiensi dengan Bupati Sleman, pada waktu itu adalah Sri Purnomo, dalam audiensi tersebut mereka mendiskusikan masalah yang terjadi.

“Setelah kami bertemu dengan Disperindagkop Sleman, kami kemudian juga melakukan audiensi dengan pak Bupati Sleman, ketika itu adalah Pak Sri Purnomo, dalam audiensi tersebut dan mendiskusikan masalah yang terjadi, intinya tidak mau phk karyawan, sehingga sampai saat ini kita tidak memberhentikan karyawan,” bebernya.

Dari pertemuannya tersebut, akhirnya mereka mendapat bantuan dana talangan dari Pemerintah Kabupaten Sleman, dari dana tersebut akhirnya ia bersama para pelaku UKM lainnya bisa terus bekerja hingga saat ini tanpa melakukan pengurangan karyawan,

“Dengan dana tersebut akhirnya kami bisa tetap bekerja dan terus jalan terus sampai saat ini, kita juga tidak melakukan pengurangan karyawan,” katanya.

Inovasi di Tengah Pandemi

Selama tidak bisa melakukan pengiriman ia melakukan berbagai strategi dan inovasi, salah satunya adalah develop sample atau membuat sampel baru.

“Selain produksi barang kita juga buat sampel-sampel baru, jadi dengan buyer kita tetap melakukan komunikasi via email kemudian buat sampel baru, jadi ketika para buyer sudah siap dan meminta kami untuk melakukan pengiriman, kita sudah punya model baru,” katanya.

Selain itu ia dan asosiasi HIMKI juga menjalin kerjasama dengan Dekranasda Sleman, salah satunya menggelar pameran di gedung baru Dekranasda yang juga baru di launching beberapa waktu lalu, tujuannya diselenggarakannya kegiatan ini untuk mempromosikan produk kerajinan Sleman ke pembeli domestik maupun mancanegara.

“Kami juga bekerjasama dengan Dekranasda Sleman, kami dengan pengurus dekranasda saling berkolaborasi, pada bulan April 2020 melakukan pameran di lantai dasar gedung Dekranasda, Kami ingin tingkatkan pendapatkan masyarakat Kabupaten Sleman, lewat transaksi dengan platform digital lewat www.serayuhimki.com,” ujarnya.

Inovasi HIMKI Sleman pada gelaran tersebut adalah pameran virtual yang dapat diikuti masyarakat melalui website penjualan online yakni www.serayuhimki.com sebagai produk Koperasi Pemasaran DPD Himki Sleman Raya (Koperasi Serayu).

Website ini memudahkan pengunjung online memilih produk sebelum mengecek sampel produk secara langsung di Gedung Dekranasda. Website ini juga membuat pengunjung yang datang langsung ke lokasi tetap mendapatkan informasi lengkap produk walaupun petugas yang melayani secara langsung di gedung terbatas melalui QR Code masing-masing produk.

“Pameran tersebut sifatnya virtual, untuk pembeliannya pun melalui ponsel dengan barcode. Sistem barcode ini, lanjutnya, barang yang diinginkan oleh pembeli di foto terlebih dahulu, kemudian akan muncul harga barang tersebut, dan langsung transfer,” jelasnya.

Jadi sistemnya adalah pengunjung memilih barang yang akan dibeli melalui website tersebut, ketika sudah menentukan barang, pengunjung tinggal menekan saja barang tersebut, disitu sudah ada nominal harganya.

“Jadi kita tidak berhadapan langsung dengan pembeli karena untuk mengurangi penyebaran covid-19 dan menerapkan protokol kesehatan, dari Pemkab Sleman melalui Disperindagkop juga membantu promosi melalui media sosial, selain sosial media juga market place,” ujarnya.

Rian berharap agar pandemi Covid-19 bisa segera berakhir, dan warga masyarakat bisa melakukan aktifitas dengan normal kembali.

“Semoga pandemi ini segera berlalu, hampir dari satu tahun dampaknya yang kita rasakan, rasanya luar biasa, terutama perekonomian dan hampir semua lapisan kena, kita berharap untuk edukasi untuk masyarakat agar lebih bijak,” harapnya.