Rumah Pesik Kotagede

Pemandangan suasana di dalam rumah Pesik Kotagede. (Foto: Victor Boris Dalimartin)

Di dekat Pasar Kotagede, Yogyakarta, di gang sempit yang menjadi jalan penghubung antara perkampungan dan rumah warga, berdiri sebuah rumah yang terlihat sangat berbeda dari rumah-rumah di sekitarnya.

Jika dibandingkan dengan kondisi jalan di depannya yang rata-rata hanya mempunyai lebar sekitar 2 m, maka keberadaan rumah ini sangatlah kontras. Sebuah rumah kuno yang besar dan megah didalam suatu lingkungan atau wilayah dengan jalan dan lorong-lorong yang sempit.

Rumah mewah kuno dengan perpaduan arsitektur khas Jawa dan Eropa ini dikenal dengan nama rumah Pesik. Tak hanya desain bangunannya yang unik, tempat ini juga menyimpan koleksi barang bersejarah di dalamnya. Setelah berpuluh-puluh tahun ditutup untuk umum, kini wisatawan dapat melihat dan berfoto di tiap-tiap sudut Rumah Pesik.

Keunikan bangunan ini tentu ada pada dindingnya, dengan patung-patung arca yang disematkan pada jarak tertentu. Belum lagi berbagai barang antik yang terpajang di teras dan halaman depan rumah, membuat bangunan ini serupa dengan museum.

Wisatawan juga dapat berjalan menyusuri teras rumah ini yang tampak seperti lorong-lorong panjang dengan pintu lengkung di sepanjang sisinya, persis seperti istana kerajaan.

Selesai menikmati taman yang indah, pengunjung dapat menjelajahi ruangan-ruangan yang ada di dalam Rumah Pesik. Di dalamnya, banyak koleksi patung, wayang, dan keris kepunyaan pemilik rumah, Rudy J. Pesik, yang juga merupakan pemilik perusahaan DHL di Indonesia.

Wisatawan juga dapat melihat meja dan kursi kuno panjang dengan berbagai detail ukiran di kaki-kakinya. Ukiran bagai bunga yang meliuk-liuk ini juga dapat dilihat pada tembok dan pilar-pilar di sekeliling ruangan. Tampilannya turut menambah kesan mewah dari tempat ini, apalagi ditambah dengan keberadaan lampu-lampu kristal besar yang menggantung dari langit-langit.

Dari luar, rumah Pesik ini sudah nampak mencolok dengan tampilan tembok berwarna hijau terang dengan ornamen khas Jawa dan sentuhan budaya barat di sepanjang sisinya. Sebelum dibuka untuk umum, biasanya wisatawan akan berfoto di gang kecil dengan latar belakang tembok hijau ini.

Di tengah halaman, tampak sebuah kolam air mancur yang banyak digunakan sebagai spot foto di area taman. Tidak jauh dari taman ini, terdapat sebuah kereta kuno yang digunakan pada era pemerintahan Pakubuwono X (1893-1939).

Sejarah Kaum Kalang

Untuk lebih memahami keunikan rumah Pesik serta bangunan kuno lainnya yang berada di Kotagede, maka kita perlu mengetahui terlebih dahulu mengenai Kaum Kalang (Wong Kalang), karena melalui kisah mereka jugalah, sejarah kejayaan Kotagede ini bermula dan berkembang. Hal ini sesuai dengan catatan dari Hubertus Johannes Van Mook (Lt. Gubernur Jend. Hindia Belanda) yang mengatakan bahwa daerah Kotagede dahulu merupakan tempat perdagangan yang ramai dan terbesar di Hindia Belanda

Salah satu cerita tentang kaum Kalang yang terkenal adalah sosok Prawiro Soewarno, mungkin orang tidak akan mengenalnya, tapi bagi masyarakat Yogyakarta terutama yang telah menjadi “sesepuh”, sebutan “Bekele Tembong” mungkin akan lebih familiar di benak mereka.

Prawiro Soewarno lahir di Kotagede, Yogyakarta pada tahun 1873. Ia lahir dari keturunan Brajasemito-Demang. Dengan latar belakang orang tuanya sebagai keturunan seorang pedagang sukses secara turun-temurun, serta mempunyai strata sosial yang tinggi, dimana mempunyai hubungan yang cukup penting dengan keluarga keraton, baik Kasultanan Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta.

Prawiro Soewarno pun menjalankan bisnisnya dibantu dengan anaknya, Noerijah, di kawasan Tegalgendu, Kotagede, Yogyakarta. Usaha bisnisnya antara lain adalah mengelola rumah gadai serta berdagang emas dan berlian

Alkisah ia adalah seorang saudagar Kalang dari Kotagede yang hidup di era abad ke-19, yang membuat namanya menjadi istimewa adalah karena permintaan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk memasang ubin rumahnya dengan menggunakan uang Gulden yang bergambar Ratu Belanda, tentu saja hal tersebut ditolak mentah-mentah oleh Pemerintah Hindia Belanda karena jika koin bergambar Ratu Belanda tersebut dijadikan ubin yang notabene fungsinya untuk diinjak, maka hal tersebut sama saja dianggap sebagai bentuk penghinaan kepada Ratu mereka, karena setiap orang yang berkunjung ke rumah tersebut tentu saja secara otomatis akan menginjak ubin koin (gambar Ratu) tersebut.

Belanda pun kemudian berdalih bahwa koin tersebut boleh saja dijadikan ubin dengan syarat pemasangan koin tersebut harus secara vertikal, sehingga gambar sang ratu tidak akan terinjak. Disinilah letak kelicikan Belanda, karena dengan pemasangan koin secara vertikal tentunya akan membutuhkan jumlah koin yang lebih banyak jika dibandingkan dengan memasang koin secara horizontal

Versi lain juga mengatakan bahwa Wong Kalang adalah orang yang mempunyai ekor, namun sepertinya versi ini merupakan cerita isapan jempol saja, karena menurut pendapat lain menyebutkan bahwa mereka sengaja dikucilkan oleh masyarakat, mereka dianggap golongan rendah karena mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar.

Ada yang menyebut bahwa pengucilan ini justru karena rasa iri atas keberhasilan orang-orang Kalang di bidang materi. Dahulu orang-orang Kalang menerapkan endogami (kawin diantara sesama mereka). Mungkin dari sinilah muncul cerita soal ekor tadi

Ada satu ritual menarik dari kelompok ini yaitu Kalang Obong, sebuah upacara pembakaran pakaian dari orang yang meninggal. Dulu upacara ini selalu dilaksanakan hingga akhirnya berhenti di tahun 1955 dengan alasan yang belum diketahui hingga saat ini. Tahun 1990 ada yang berusaha menghidupkan kembali tradisi ini dengan menyelenggarakan Kalang obong di Adipala, Cilacap, namun usaha tersebut lagi-lagi tidak ada kelanjutannya hingga kini

Add Comment