Semangat Beribadah di Tengah Pandemi

Penyemprotan disinfektan di Gereja Katolik Santo Mikael Pangkalan Adisutjipto. IG/GEREJA PANGKALAN

Ibadah di rumah dilakukan oleh umat Katolik sebagai salah satu wujud ketaatan mereka terhadap anjuran pemerintah, demi kebaikan seluruh kepentingan bangsa. Aktivitas gereja seperti doa lingkungan, latihan paduan suara, latihan mazmur, kegiatan persekutuan doa, dan perkumpulan anak muda, sementara ditiadakan sembari tetap melakukan ibadah dengan memanfaatkan media sosial.

Saat ini, dunia tengah mengalami masa-masa suram, dikarenakan adanya pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease 2019). Virus Corona telah memakan ratusan ribu korban jiwa di seluruh dunia. Kekuatan virus ini adalah penyebarannya yang sangat mudah dan cepat.

Untuk menanggulangi dampak Covid-19, sejak 15 Maret 2020, Presiden Jokowi telah mengeluarkan imbauan bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas di rumah.

Setelah sebelumnya pemerintah pusat mengumumkan anjuran ‘libur’ bagi seluruh instansi dan lembaga, dan menggantikannya dengan layanan yang bersifat online, kini pemerintah memutuskan bahwa proses social distancing juga diterapkan dalam konteks beribadah.

Gereja-gereja di Indonesia pun segera menindaklanjutinya. Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) per tanggal 16 Maret 2020 mengeluarkan imbauan kepada anggota-anggotanya untuk melakukan ibadah di rumah.

Romo di Gereja Katolik Santo Mikael Pangkalan Adisutjipto, Romo Martinus Joko Lelono, menceritakan situasi di awal pandemi yakni pada bulan Maret 2020. Waktu itu, bagi Gereja Katolik disebut sebagai masa Prapaskah, ini seperti halnya puasa pada agama Islam, lalu lebaran.

“Hal itu terjadi di tengah-tengah pada saat kami menyiapkan pesta tahunan yang namanya Hari Raya Paskah,” tutur Romo Martinus Joko Lelono.

Ia juga menambahkan, bertepatan dengan tanggal 20 Maret 2020, Presiden Jokowi menyatakan imbauan kepada masyarakat Indonesia agar belajar dan bekerja dari rumah.

“Kami yang berada di bawah keuskupan Semarang yang membawahi seluruh gereja di Jawa Tengah dan sebagian Daerah Istimewa Yogyakarta, akhirnya juga memutuskan bahwa sementara ibadah gereja dilakukan dari rumah,” ungkap Romo.

Menurutnya, keputusan tersebut sangat menyedihkan bagi umat. Umat yang sebelumnya telah terbiasa beribadah secara tatap muka atau datang ke gereja, seketika harus beribadah di rumah. Bulan pertama setelah adanya imbauan itu, gereja benar-benar sepi. Saat itu adalah masa-masa paling mencekam atau bisa dibilang paling panik. Karena saat itu terjadi ‘lockdown’.

Gereja juga meniadakan kegiatan yang mengharuskan umatnya untuk berkumpul, seperti kegiatan doa lingkungan, latihan paduan suara, latihan mazmur, kegiatan persekutuan doa, perkumpulan anak muda, dan lainnya.

Gereja Katolik juga meniadakan misa langsung yang mengumpulkan umat secara massal, dan sebagai gantinya umat dapat mengikuti misa secara online. Pada umumnya, gereja dan umat memanfaatkan media YouTube.

Setelah itu, gereja dan seluruh umat pun dapat beradaptasi dengan mengikuti ibadah secara online.

“Lain halnya dengan dahulu sebelum pandemi, orang-orang sangat menentang ibadah secara online karena tidak ada perjumpaan. Kalau di dalam bahasa kami itu adalah simbol kehadiran Tuhan yang dimaknai dalam bentuk roti kecil dan dibagikan ketika misa, ibarat salat, namun waktunya lebih panjang,” terang Romo.

Konsekuensi tersebut membuat umat harus beradaptasi dalam menghayati keimanan. Itu pun patut disyukuri sebagai hikmah di balik bencana global.

Pandemi Covid-19 mendorong umat di seluruh dunia belajar menghayati iman dengan model baru. Bukan memusat dalam satu atau beberapa kerumunan besar, melainkan menyebar dalam setiap keluarga atau perseorangan.

Romo Joko mengatakan pada bulan Juli 2020, uskup semarang telah memberikan izin untuk melakukan ibadah secara offline, namun dengan beberapa persyaratan.

Sekitar bulan Juli, pihaknya mulai diizinkan oleh uskup semarang untuk melakukan ibadah secara offline dengan beberapa persyaratan seperti harus ada surat izin dari pemerintah setempat, ada persiapan khusus seperti mengatur jarak antar umat, dan pembatasan jumlah umat.

Menghidupkan Ibadah Keluarga

Pandemi Covid-19 yang berdampak pada munculnya keputusan beribadah di rumah ini harus ditanggapi dengan respons yang positif. Menurut Romo Joko, memuji dan memuliakan Tuhan tidak hanya dilakukan saat di gereja. Karena itu, penyelenggaraan misa melalui siaran radio atau kanal YouTube hanya menyederhanakan, bukan meniadakan perayaan Paskah.

Selain itu, ibadah di rumah selama pandemi Covid-19 adalah upaya gereja untuk turut serta mewujudnyatakan kerajaan Allah di muka bumi. Kerajaan Allah merupakan tugas dan panggilan gereja yang berupaya untuk mengusahakan kehidupan yang damai dan sejahtera.

Nilai positifnya ialah diajak berdoa bersama keluarga di rumah, dan belajar berkorban seperti Yesus, yang rela mati disalib demi keselamatan manusia.

Menjalani ibadah di lingkungan keluarga kecil menjadi bentuk adaptasi umat dalam memuliakan Tuhan selama menghadapi pandemi Covid-19. Umat harus menghidupkan ibadah dalam keluarga. Ada seorang bapak yang memimpin doa, ibu yang memilihkan lagu rohani, dan anak-anak yang membacakan Alkitab.

“Sampai situasi normal, saat pandemi Covid-19 berakhir nanti, baru kembali beribadah ke gereja,” kata Romo.

Ia menambahkan bahwa keluarga juga merupakan bagian terpenting bagi gereja. Gereja tidak mungkin dapat mandiri jika tidak didukung oleh keluarga-keluarga Katolik setempat.

Gereja terkecil adalah keluarga, dan sebagai gereja, rumah tangga adalah tempat Yesus Kristus hidup dan berkarya untuk keselamatan manusia dan berkembangnya Kerajaan Allah.

Ia pun mendorong setiap paroki mewujudkan satu kesatuan umat dengan membuang ego masing-masing. Paroki tetap harus aktif berkegiatan dan melayani umat meskipun secara terbatas. Asumsi-asumsi yang berbeda, sekarang harus diperbarui dan disepakati bersama. Dalam situasi terburuk sekali pun, umat harus tetap bangkit untuk membangun kehidupan.

Semangat dan iman kepada Tuhan tidak dapat menghalangi umatnya untuk melakukan ibadah dan kegiatan mereka. Dalam momentum ini, umat tengah menghadapi cobaan dan ujian, untuk tetap mau melayani Tuhan dalam keterbatasan. Tentunya tidak hanya umat gereja Katolik, umat beragama lainnya juga pasti merasakan hal yang sama.

“Oleh karena itu, marilah kita berusaha melewati rintangan ini, dan berdoa agar pandemik ini cepat berakhir. Kita percaya bahwa di balik peristiwa ini ada cahaya yang membangkitkan harapan dan iman kita,” harap Romo Joko.

Ia mengungkapkan, pada masa pandemi, masyarakat merasa menjadi lebih religius di kala sedang berdoa. Menurutnya, masa pandemi adalah waktu yang tepat untuk bertaubat karena masa-masa ini adalah masa yang susah dan sulit.

Keluarga adalah yang paling utama ketika seseorang menghadapi masalah.Oleh karena itu, keluarga harus bisa membimbing dan memberikan kehangatan secara jasmani maupun rohani.

Dalam membantu sesama umat beragama, tambahnya, umat Katolik mempunyai lembaga amal yang bernama Karina atau Karitas Indonesia. Karitas yang berarti cinta.

“Karina ini berlokasi di daerah Demangan, Sleman. Mereka mengumpulkan dana dari berbagai pihak, termasuk dari keuskupan dan dari berbagai orang yang kala itu masih mampu dalam hal bidang finansial dan terkumpul sekitar satu setengah milyar rupiah,” terangnya.

Dana tersebut lalu, digunakan untuk membeli nasi bungkus, peralatan protokol kesehatan, dan untuk membayar sewa indekos mahasiswa. Sementara di Wonosari, dana digunakan untuk menyewa lahan yang ditanami sayur-sayuran.

“Mengenai penanganan pandemi Covid-19 yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman, saya rasa sudah baik dalam penanganannya. Selain itu, pemerintah juga mendukung segala kegiatan gereja yang dilaksanakan sesuai dengan protokol kesehatan,” ungkap Romo Joko.