Strategi Bertahan Pengusaha Ritel di Tengah Pandemi

Mina swalayan saat mengadakan promo bazar. (Foto: Instargram/minaswalayan)

Pandemi virus corona (covid-19) merebak dan meluas hampir ke seluruh penjuru dunia membuat aktivitas penduduk di seluruh dunia menjadi terhambat yang memaksa semua orang harus diam di rumah mengisolasi diri agar terhindar dari virus, terutama aktivitas yang berhubungan dengan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Salah satu dampaknya adalah turunnya pengunjung pusat perbelanjaan hingga 50%. Kini, konsumsi masyarakat juga hanya terpusat pada kebutuhan bahan pokok dan alat kebersihan. Sektor lainnya seperti pakaian, perangkat elektronik, dan kosmetik sepi pelanggan.

Pemerintah Indonesia menghimbau agar masyarakat berkegiatan di rumah saja sebagai upaya mitigasi. Tentu saja keputusan ini berdampak besar untuk para pengusaha, khususnya ritel. Hal tersebut juga dirasakan oleh pemilik Mina Swalayan Arif Rahutama.

Namun ia tak menyerah begitu saja, Ia pun memutar otak agar barang yang dijualnya tetap laku di pasaran sehingga omset bisa kembali pulih dan seluruh pegawai tidak ada yang dirumahkan.

Ia mengungkapkan dalam masa pandemi Covid-19 ini, perusahaan harus lebih jeli melihat peluang dan terus melakukan inovasi yang dapat ditawarkan kepada konsumen sehingga dapat terus bertahan bahkan bertumbuh.

“Menurunnya penjualan di sektor tersebut terjadi seiring dengan menurunnya pendapatan sebagian kelompok konsumen karena himbauan work from home ini. Selain itu, ketidakpastian yang menyelimuti pandemi virus corona menyebabkan masyarakat lebih ketat dalam menggunakan uangnya,” jelas pria yang sudah memulai usahanya sejak 23 tahun tersebut.

Arif pun berinovasi memasarkan produknya melalui media online, menurutnya pasar online merupakan pasar yang sangat potensial di masa depan. Di masa pandemi ini, masyarakat enggan berinteraksi secara tatap muka dan lebih memilih mencari cara alternatif untuk memenuhi kebutuhannya tanpa harus keluar rumah.

“Mina swalayan memiliki website yakni https://www.minaswalayan.com/, di website tersebut terdapat berbagai menu, salah satunya adalah menu promo, jadi setiap barang kami yang sedang promo kita pajang di website tersebut,” jelaskan yang juga merupakan anggota paguyuban ritel Sleman ini.

Ia menjelaskan jika internet memberikan banyak sekali peluang usaha yang menguntungkan bagi masyarakat Indonesia.

“Pada masa pandemi ini, banyak masyarakat yang enggan berinteraksi di tempat terbuka, mereka lebih memilih untuk mencari cara alternatif untuk bisa memenuhi kebutuhannya tanpa harus keluar. Terbukti dengan transaksi e-commerce di Indonesia yang meningkat,” katanya.

Dalam pandemi seperti ini promosi adalah hal penting dalam mengelola usaha. “Ada banyak jenis promosi yang bisa Anda tawarkan seperti potongan harga, bebas ongkos kirim, pembayaran online, Memberikan giveaway dan masih banyak lainnya,” ungkapnya.

Ia pun berharap agar para pelaku usaha sebaiknya juga beralih fokus strategi di penjualan online. Cara ini bisa menyelamatkan bisnis ritel dari kerugian-kerugian akibat turunnya penjualan di toko offline.

“Selama pandemi ini, Alhamdulillah, Mina belum pernah tutup. Karena kita tidak menggunakan pinjaman bank maka setiap penjualan ada cadangan dengan itu kita bisa efisiensi dan cukup,” jelasnya.

Ia mengakui hal terberat adalah Mina swalayan tidak mengurangi karyawan, dan ia selalu terbuka kepada seluruh pegawainya tentang berapa jumlah pendapatan yang diperoleh toko miliknya setiap bulannya.

“Yang paling berat itu kita tidak mengurangi karyawan dan liburnya yang biasanya seminggu sekali sekarang hari Jumat ada yang kita liburankan. Para karyawan juga paham situasi ini, karena omset penjualan setiap hari mereka juga pada tahu. Jumlah karyawan di Mina sekitar 130 orang ” ujarnya.

Namun sekarang, seluruh pegawainya telah masuk secara normal namun dengan protokol kesehatan yang ketat karena daerah ini termasuk lingkungan masjid untuk umum, gudang dan kantor.

Pada kesempatan tersebut pihaknya membeberkan sejak pandemi Covid-19 terjadi, ada sejumlah produk yang banyak dicari konsumen. Produk-produk ini contohnya beras, minyak, gula, vitamin, dan hand sanitizer.

“Banyak diantara para pelaku usaha kebingungan menemukan cara yang tepat untuk dapat tetap bertahan di masa pandemi sekarang,” katanya.

Untuk itu, ia selalu menekankan kepada seluruh karyawannya untuk terus semangat dan pantang menyerah, bahkan pandemi Covid-19 ini adalah saatnya para pengusaha ritel untuk memanfaatkan momentum ini.

“Karena kita ini bisnisnya berbasis ritel, malah pandemi ini saatnya, karena yang bisa bertahan adalah ritel, tidak mungkin orang tidak butuh beras, tidak mungkin orang tidak butuh sembako, faktanya memang pandemi ini, selain alat kesehatan, sembako juga banyak yang order,” ungkapnya.

Selain itu, untuk menyakinkan pembeli, ia melakukan berbagai cara, salah satunya adalah memberikan edukasi kepada pembeli bahwa swalayan miliknya telah mengaplikasikan protokol kesehatan seperti yang telah dianjurkan oleh pemerintah.

“Selain kebersihan dan kualitas produk, pelaku bisnis ritel juga perlu memprioritaskan penerapan prosedur kesehatan dan keamanan di toko sebagai persiapan dalam menghadapi pandemic Covid-19. Tunjukan kepada pelanggan jika toko kita itu bersih dan nyaman. Lakukan sanitasi toko secara rutin setiap hari, di saat buka maupun toko akan tutup,” katanya.

Menurutnya hal tersebut menjadi poin penting yang perlu diperhatikan ketika toko-toko mulai diperbolehkan untuk buka kembali. “Dengan adanya kesempatan ini, kita bisa memaksimalkan kembali hasil penjualan toko dengan jaminan keamanan toko,” katanya.

Peduli Sesama

Untuk membantu sesama warga terdampak pandemi Covid-19, ia menyisihkan paket sembako untuk warga masyarakat yang membutuhkan.

“Kita juga selalu menyisihkan Rp 100 / 1 kg, dan Rp 50 untuk ½ kg, setelah terkumpul akan kita kembalikan ke masyarakat yang membutuhkan, tahun kemarin sudah terkumpul sekitar Rp 80 juta,” jelasnya.

Untuk tahun ini, ia akan memulai pendistribusian bantuan tersebut ketika menjelang bulan puasa. “Untuk rencana tahun ini akan kami bagikan pada saat menjelang puasa,” katanya.

Sebelum pandemi, ia rutin menggelar kajian di rumahnya. Namun karena adanya pandemi ini, kegiatan tersebut diberhentikan sementara.

“Untuk acara seperti kajian Minggu pagi ditiadakan, hanya ibadah 5 waktu dan sholat Jumat. Para jamaah dan karyawan Mina kita pahamkan agar tidak semena-mena terhadap covid karena kasus di indogrosir terjadi di salah satu toko kastil yang harus sempat tutup ini menjadi pelajaran,” ucapnya.

Arif berharap agar pandemi Covid-19 bisa segera berakhir, dan warga masyarakat bisa melakukan aktifitas dengan normal kembali.

“Semoga pandemi ini segera berlalu, hampir dari satu tahun dampaknya yang kita rasakan, rasanya luar biasa, terutama perekonomian dan hampir semua lapisan kena, kita berharap untuk edukasi untuk masyarakat agar lebih bijak,” harapnya.