Strategi Bertahan Pengusaha Ritel di Tengah Pandemi

Bazar di Mina Swalayan. IG/MINA SWALAYAN

Badai pandemi Covid-19 memukul usaha ritel sehingga menyebabkan tingkat kunjungan di pusat perbelanjaan merosot ke angka lima puluh persen. Meski penjualan terjun bebas, pengusaha ritel di Kabupaten Sleman tidak mau begitu saja melakukan pengurangan karyawan, karena dirasa jauh dari rasa solidaritas. Mereka justru saling membahu, mencari cara bersama agar tetap bertahan.

Pandemi virus Corona (Covid-19) merebak dan meluas hampir ke seluruh penjuru dunia, mengakibatkan aktivitas penduduk terhambat. Keadaan di masa pandemi pun memaksa semua orang harus berdiam di rumah, mengisolasi diri agar terhindar dari virus, terutama aktivitas yang berhubungan dengan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Salah satu dampak pandemi adalah menurunnya pengunjung pusat perbelanjaan hingga lima puluh persen. Kini, konsumsi masyarakat juga hanya terpusat pada kebutuhan bahan pokok dan alat kebersihan. Sektor lainnya seperti pakaian, perangkat elektronik, dan kosmetik, sepi pelanggan.

Pemerintah Indonesia mengimbau agar masyarakat berkegiatan di rumah saja sebagai upaya mitigasi. Tentu saja keputusan ini berdampak besar bagi para pengusaha, khususnya ritel. Hal tersebut juga dirasakan oleh pemilik Mina Swalayan, Arif Rahutama.

Meskipun usahanya terdampak, Arif tak menyerah begitu saja. Ia memutar otak agar barang yang dijualnya tetap laku di pasaran sehingga omzet bisa kembali pulih dan seluruh karyawan tidak ada yang dirumahkan.

Ia mengungkapkan, pada masa pandemi Covid-19 ini, perusahaan harus lebih jeli melihat peluang dan terus melakukan inovasi yang dapat ditawarkan kepada konsumen sehingga dapat terus bertahan bahkan bertumbuh.

Menurunnya penjualan di sektor tersebut terjadi seiring dengan menurunnya pendapatan sebagian kelompok konsumen karena imbauan Work From Home (WFH). Selain itu, ketidakpastian yang menyelimuti pandemi virus Corona menyebabkan masyarakat lebih ketat dalam menggunakan uangnya.

Arif kemudian berinovasi memasarkan produknya melalui media online. Menurutnya, pasar online merupakan pasar yang sangat potensial di masa depan. Di masa pandemi ini, masyarakat enggan berinteraksi secara tatap muka dan lebih memilih mencari cara alternatif untuk memenuhi kebutuhannya tanpa harus keluar rumah.

Pria yang sudah menjalankan usahanya selama 23 tahun itu menuturkan, Mina Swalayan memiliki website minaswalayan.com. Website memuat berbagai menu, salah satunya adalah menu promo, jadi setiap barang yang sedang promo dipajang di website tersebut.

Ia juga menjelaskan bahwa internet memberikan banyak sekali peluang usaha yang menguntungkan bagi masyarakat Indonesia. Pada masa pandemi ini, banyak masyarakat yang enggan berinteraksi di tempat terbuka, mereka lebih memilih untuk mencari cara alternatif untuk bisa memenuhi kebutuhannya tanpa harus keluar rumah. Terbukti dengan transaksi e-commerce di Indonesia yang meningkat.

Agar tetap bertahan, promosi adalah hal yang penting dalam mengelola usaha. Ada banyak jenis promosi yang bisa ditawarkan seperti potongan harga, bebas ongkos kirim, pembayaran online, memberikan giveaway, dan masih banyak lagi.

Arif pun berharap agar para pelaku usaha sebaiknya juga beralih fokus strategi di penjualan online. Cara ini bisa menyelamatkan bisnis ritel dari kerugian-kerugian akibat turunnya penjualan di toko offline.

Selama pandemi ini, Mina Swalayan belum pernah tutup. Karena ia tidak menggunakan pinjaman bank maka setiap penjualan ada cadanganya, dengan itu bisa efisiensi dan cukup.

Ia mengakui, hal terberat adalah Mina Swalayan tidak mengurangi karyawan. Ia pun selalu terbuka kepada seluruh karyawannya tentang berapa jumlah pendapatan yang diperoleh toko setiap bulannya.

“Yang paling berat itu kita tidak mengurangi karyawan dan liburnya yang biasanya seminggu sekali sekarang hari Jumat ada yang kita liburkan. Para karyawan juga paham situasi ini, karena omzet penjualan setiap hari mereka juga tahu. Jumlah karyawan di Mina sekitar 130 orang,” tutur Arif.

Namun sekarang, seluruh karyawannya telah masuk secara normal dengan protokol kesehatan yang ketat, karena lokasi swalayan berada di lingkungan masjid untuk umum, gudang, dan kantor.

Pada kesempatan tersebut, pihaknya juga menceritakan bahwa sejak pandemi Covid-19 terjadi, ada sejumlah produk yang banyak dicari konsumen. Produk-produk ini contohnya beras, minyak, gula, vitamin, dan hand sanitizer.

Banyak di antara para pelaku usaha kebingungan menemukan cara yang tepat untuk dapat tetap bertahan di masa pandemi sekarang. Untuk itu, ia selalu menekankan kepada seluruh karyawannya untuk terus semangat dan pantang menyerah, bahkan pandemi Covid-19 harus disikapi oleh para pengusaha ritel dengan memanfaatkan momentum ini.

“Pandemi ini menjadi momentum terbaik, karena yang bisa bertahan adalah ritel, tidak mungkin orang tidak butuh beras, tidak mungkin orang tidak butuh sembako. Faktanya memang saat pandemi ini, selain alat kesehatan, sembako juga banyak yang order,” terang Arif.

Selain itu, untuk menyakinkan pembeli, ia melakukan berbagai cara, salah satunya adalah memberikan edukasi kepada pembeli bahwa swalayan miliknya telah mengaplikasikan protokol kesehatan seperti yang telah dianjurkan oleh pemerintah.

Selain kebersihan dan kualitas produk, pelaku bisnis ritel juga perlu memprioritaskan penerapan prosedur kesehatan dan keamanan di toko sebagai persiapan dalam menghadapi pandemi Covid-19.

“Saya selalu berpesan kepada karyawan, tunjukan kepada pelanggan jika toko kita itu bersih dan nyaman. Lakukan sanitasi toko secara rutin setiap hari, di saat buka maupun toko akan tutup,” ungkap Arif.

Menurut Arif, hal tersebut menjadi poin penting yang perlu diperhatikan ketika toko-toko mulai diperbolehkan untuk buka kembali.

“Dengan adanya kesempatan ini, kita bisa memaksimalkan kembali hasil penjualan toko dengan jaminan keamanan toko,” tuturnya.

Mina Swalayan Peduli Sesama

Untuk membantu warga yang terdampak pandemi Covid-19, Arif menyisihkan paket sembako untuk dibagikan kepada mereka. Ia juga selalu menyisihkan Rp100 per1 kg, dan Rp50 per ½ kg dari penjualan.

“Setelah terkumpul akan kita bagi-bagikan ke masyarakat yang membutuhkan, tahun kemarin sudah terkumpul sekitar 80 juta,” jelas pemilik Mina Swalayan itu.

Untuk tahun ini, ia berencana akan memulai pendistribusian bantuan tersebut ketika menjelang bulan puasa.

Sebelum pandemi, ia rutin menggelar kajian di rumahnya. Namun, karena adanya pandemi ini, kegiatan tersebut diberhentikan sementara.

“Untuk acara seperti kajian Minggu pagi ditiadakan, hanya ibadah lima waktu dan salat Jumat. Para jamaah dan karyawan Mina kita pahamkan agar tidak menyepelekan Covid-19, karena kasus di Indogrosir, salah satu toko kastil yang sempat harus ditutup itu, dapat menjadi pelajaran,” terangnya.

Arif berharap agar pandemi Covid-19 bisa segera berakhir, dan warga masyarakat bisa melakukan aktivitas dengan normal kembali.

“Hampir dari satu tahun dampaknya yang kita rasakan, rasanya luar biasa, terutama bagi perekonomian dan hampir semua lapisan kena. Kita berharap agar edukasi untuk masyarakat pun lebih bijak,” ungkap Arif.