Vihara Milik Bersama

Umat Buddha mengikuti puja bakti di Vihara Karangdjati. IG/VIHARA KARANGDJATI

Pembatasan aktivitas ibadah dirasakan oleh umat Buddha dengan harus berbesar hati merayakan Waisak tidak seperti biasanya. Menaati anjuran pemerintah menjadi kunci mereka dalam setiap aktivitas ibadah. Setelah meniadakan ibadah yang banyak mengumpulkan orang, pemanfaatan media sosial pun dilakukan agar ibadah tetap terjaga.

Bagi umat Buddha, vihara bukanlah tempat yang tertutup. Justru sebaliknya, mereka menganggap vihara sebagai milik bersama. Hal itu semakin terasa di tengah pandemi Covid-19. Vihara menjadi salah satu tempat untuk menyemai kebersamaan dalam menghadapi wabah yang semakin menggila setiap harinya.

Sejak pandemi Covid-19 berlangsung, umat Buddha di Indonesia memiliki cara tersendiri untuk mencegah penyebaran Covid -19. Para pemuka agama Buddha telah menganjurkan kepada umat untuk tidak berkerumun di vihara guna mencegah penyebaran virus Corona.

Salah satu pandita muda yang juga merupakan ketua Vihara Karangdjati Yogyakarta, Totok Tejamano, mengatakan jika dirinya dan umat di Vihara Karangdjati telah membuat kebijakan, seperti seluruh acara yang mengumpulkan banyak massa agar ditiadakan.

Umat Vihara Karangdjati berjumlah sekitar 300-500 orang, selama pandemi hanya mengontrol, mengingatkan, dan berdiskusi melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp. Sementara bagi umat yang ingin beribadah, mereka bisa mengakses melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, dan YouTube.

Totok menceritakan, Vihara Karangdjati mulai melakukan ibadah secara tatap muka atau offline setelah mendapatkan izin dari pemerintah, namun dengan berbagai syarat seperti ibadah hanya diperbolehkan dengan umat tidak lebih dari 30 orang.

Peraturan tersebut disepakati mengingat Vihara Karangdjati tidak terlalu besar. Di samping itu, ibadah yang biasanya dilakukan dengan duduk bersila, selama pandemi Covid-19 ini diganti dengan menggunakan kursi dengan jarak tertentu, sesuai standar protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

Syarat lainnya adalah ibadah yang biasanya berlangsung sekitar dua jam dipercepat menjadi maksimal satu setengah jam, dan acara makan minum selepas ibadah juga ditiadakan.

“Ibadah di vihara yang sebelumnya memerlukan waktu dua jam, tetapi sekarang maksimal hanya satu setengah jam. Kegiatan makan dan minum sehabis ibadah juga ditiadakan selama pandemi ini,” ujar Totok.

Ibadah di vihara dilakukan tiga kali seminggu, yakni pada hari Rabu, Jumat, dan Minggu. Dari 300-500 orang yang ingin beribadah, nantinya akan diberi form karena kuota yang terbatas, setiap vihara berbeda-beda waktu ibadahnya.

Selama pandemi Covid-19, kegiatan Sekolah Minggu juga ditiadakan, dan diganti dengan sistem online.

“Saat pandemi, Sekolah Minggu buat anak-anak diliburkan dan diganti secara online. Aplikasi yang digunakan untuk online yaitu Google Meet,” jelasnya.

Totok Tejamano yang juga merupakan dosen di Universitas Sanata Dharma ini menjelaskan jika di Sleman terdapat dua vihara, yakni Vihara Karangdjati dan Vihara Berbah.

Di Kabupaten Sleman, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sekurang-kurangnya ada 900 umat Buddha, belum termasuk pendatang beragama Buddha yang tinggal di wilayah tersebut.

Merayakan Waisak di Rumah

Begitu halnya saat perayaan Waisak, Totok dan umat di Vihara Karangdjati biasanya melakukan tiga kegiatan yaitu berupa puja bersama, meditasi, serta ceramah. Namun karena larangan berkumpul, ketiganya dilakukan dari rumah masing-masing bersama dengan keluarga.

Namun, hal tersebut bukan menjadi masalah karena masalah ibadah berupa puja bakti dan meditasi bisa dilakukan secara mandiri. Sebagai gantinya, pandita mengadakan perayaan secara daring yang bisa disaksikan lewat YouTube dan media sosial lainnya.

Jika masyarakat tidak mempunyai akses media sosial untuk menyaksikan ceramah, hal tersebut bisa dilakukan secara mandiri dengan sesepuh di rumah sebagai pengisi ceramah. Pun jika ceramah tidak bisa dilakukan, tidak jadi masalah.

Melihat aktivitas vihara yang harus dibatasi, tentu Totok merasa prihatin dan berharap wabah pandemi Covid-19 segera berakhir dengan mematuhi himbauan pemerintah agar tetap beribadah dari rumah. Ia mengatakan bahwa perayaan Waisak dalam pandemi ini menjadi momentum untuk melekatkan diri pada kehidupan spiritual.

Di masa seperti ini, menurutnya, masyarakat Buddha bisa membangkitkan diri bahwa peristiwa seperti ini dapat merekatkan diri terhadap kehidupan spiritual, serta penghormatan dan bakti yang lebih layak kepada Tuhan dan sesama.

Vihara Milik Bersama

Sebelum pandemi Covid-19 merebak di Yogyakarta, Vihara Karangdjati yang didirikan oleh Romo Among ini memiliki kegiatan rutin berupa kebaktian atau puja bakti, Sekolah Minggu, dan meditasi. Selain kegiatan rutin, ada juga dialog lintas iman dengan berbagai komunitas agama.

Selain melakukan kegiatan internal, vihara yang telah resmi berdiri sejak tahun 1962 ini juga melakukan kegiatan bersama warga sekitar vihara seperti bermain badminton, jaga parkir, dan saling membantu apabila ada acara di sekitar perumahan warga.

Vihara yang berlokasi di Jalan Monjali Nomor 78, Sinduadi, Mlati ini dikelilingi oleh umat muslim. Akan tetapi, hal itu tidak membuat vihara ini lantas merasa kecil dan terkucilkan, justru malah sebaliknya, umat vihara terus menjalin kerukunan dan toleransi dengan warga setempat.

Salah satu kegiatan yang dilakukan di Vihara Karangdjati dan bisa diikuti tidak hanya oleh para umat Buddha yaitu meditasi. Meditasi adalah kegiatan menenangkan diri dengan mengurangi keinginan. Umumnya, dilakukan dalam posisi duduk dan memejamkan mata.

Menurut Totok, meditasi di Vihara Karangdjati justru lebih banyak diikuti oleh umat agama lain dibanding umat Buddha sendiri. Pihaknya tidak membuat pengumuman, tetapi mereka tahu dari teman dan kerabat.

Walaupun meditasi adalah tradisi agama Buddha, tetapi tetap bisa dilakukan oleh siapa pun. Meditasi bersifat universal, bisa dilakukan oleh semua agama. Karena beberapa ritualnya berasal dari agama Buddha, umat agama lain bisa berdoa dengan kepercayaan masing-masing, kemudian setelah meditasi akan dilakukan diskusi tentang meditasi yang telah dilakukan.

Selain itu, ia bersama umat Vihara Karangdjati kerap melakukan kegiatan sosial seperti pengumpulan donasi. Hasil dari donasi tersebut digunakan untuk membeli makanan, lalu dibagikan kepada masyarakat umum yang membutuhkan.

Kegiatan tersebut biasanya dilakukan setiap dua minggu sekali, sementara para pengurus pemuda juga mempunyai gerakan free food yang mereka lakukan tiap hari Kamis.

“Untuk para pemuda mempunyai gerakan free food setiap dua minggu sekali yakni pada hari kamis, kemudian dibagikan ke jalan-jalan, panti asuhan, dan tempat yang benar-benar layak untuk menerimanya. Selain itu, kami juga memberikan alat pelindung diri (APD) untuk puskesmas dan rumah sakit,” terang Totok.

Upaya Menghadapi Covid-19

Dalam menghadapi Covid-19 yang belum jelas kapan berakhirnya ini, Totok pun meminta seluruh umat beragama agar memaknai perubahan yang terjadi saat ini dengan cerdas. Penanaman kesadaran kepada umat atau masyarakat sangat diperlukan.

Pemuka agama juga harus benar-benar bisa meyakinkan bahwa pandemi yang terjadi saat ini sangat berbahaya. Semua pihak harus saling bahu membahu untuk menyiapkan berbagai mitigasi yang bisa menekan penularan virus tersebut.

Apabila hal itu bisa dilakukan, menurutnya, upaya pemerintah yang didukung masyarakat untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 bisa berlangsung secara efektif.

Ia mengatakan, dalam menghadapi pandemi Covid-19, seluruh umat dapat belajar dari Sidharta Gautama yang mengajarkan keutamaan dalam dharma. Intinya welas dan cinta kasih kepada semua makhluk hidup.

Keutamaan dharma inilah yang dibutuhkan oleh bangsa dalam merespons wabah pandemi, yakni semangat welas asih terhadap sesama manusia yang mengalami penderitaan akibat badai Covid-19.

Menurut Totok, dharma dalam bahasa cinta itu memberi dari kekurangannya kepada mereka yang membutuhkan, inilah teladan Sidharta Gautama agar semua umat manusia di dunia berbakti kepada sesama melalui upaya solidaritas kemanusian.

“Wujud dharma juga dapat memperkuat kesadaran kita sebagai bangsa Indonesia sehingga mampu bangkit mengatasi dampak dari virus Corona,” ungkap Sang Ketua Vihara Karangdjati.