Cerita Tentang Lukisan Kolam Ikan dan Program Sampah Visual

Panewu Banguntapan, Fauzan Mu’Arifin saat berfoto di lukisan 3D di depan kantornya. (Foto: Kapanewon Banguntapan)

Jika berkunjung ke kantor Kapanewon Banguntapan siapa pun akan takjub melihat “kolam ikan” di halaman kantor Kapanewon tersebut. Uniknya, kolam ini berupa lukisan. Namun, lukisan tiga dimensi yang hidup, menyerupai bentuk kolam ikan asli.

Ide lukisan tiga dimensi di halaman kantor Kapanewon ini muncul dengan tujuan untuk memberikan hiburan berupa spot selfie untuk warga yang datang ke kantor Kapanewon. Sekaligus dalam rangka ikonisasi ikan sebagai salah satu ikon Kapanewon Banguntapan.

Kami berharap selain memperkenalkan Kapanewon Banguntapan ke luar daerah, warga masyarakat Banguntapan juga akan nyaman dan menganggap kantor Kapanewon sebagai ‘rumah sendiri’.

Dengan demikian, pemerintah bisa dengan mudah menyampaikan program kepada warga masyarakat dan mereka bisa semakin senang datang ke kantor Kapanewon.

Karena dengan adanya lukisan tiga dimensi ini masyarakat banyak yang berfoto di halaman kantor Kapanewon. Banyak warga yang kaget karena tiba-tiba muncul lukisan. Dengan kedekatan emosional ini, program lebih mudah disampaikan.

Selain itu dengan adanya lukisan tiga dimensi ini juga untuk mendongkrak kedatangan wisatawan untuk datang serta untuk memberi pembelajaran bagi warga untuk mencintai lingkungan.

Dengan mencintai lingkungan, warga diharapkan tidak membuang sampah sembarangan dan tidak mencari ikan dengan cara setrum dan obat.

Menuju Banguntapan Bebas Sampah Visual

Dalam rangka mewujudkan program Banguntapan bebas sampah visual, Pemerintah Kapanewon Banguntapan bersama dengan warga masyarakat melaksanakan penertiban terhadap beberapa sampah visual yang tidak mematuhi Peraturan Daerah (Perda) nomor 20 Tahun 2015 tentang penyelenggaraan reklame dan media informasi.

Dalam Perda ini diatur bahwa pemasangan reklame dan media informasi terhadap jalan adalah sejajar jalan, menyerong, dan menjorok sampai batas jalan.

Reklame dan media informasi di atas ruang manfaat jalan harus diletakkan pada ketinggian paling rendah 5 meter dari permukaan jalan tertinggi. Pemasangan reklame dan media informasi menyesuaikan dengan kondisi ruang dan estetika lingkungan

Sementara reklame dan media informasi yang dilarang adalah jika diletakkan pada trotoar, divider atau median jalan, jembatan apabila membahayakan konstruksi jembatan dan keselamatan pengguna jalan, portal atau jenis konstruksi lainnya yang melintang di atas jalan, serta pohon, tiang listrik, tiang telepon, Alat Pengatur Isyarat Lalu Lintas (APILL), serta lampu penerangan jalan umum dan rambu-rambu lalu lintas.

Istilah sampah visual untuk pertama kali dipopulerkan oleh Jean Baudrillard, salah seorang pemikir Perancis yang banyak menaruh perhatian terhadap perilaku konsumsi masyarakat di era kontemporer. Menurut Baudrillard, sampah visual merupakan ‘kebiasaan’ para kapitalis yang ajeg menawarkan beragam produknya melalui berbagai spanduk dan banner di pinggiran jalan, juga penayangan iklan-iklan di setiap stasiun televisi, yang kesemuanya justru menimbulkan ‘kelelahan’ berikut ‘ke-tertindas-an’ psikologis bagi mereka yang melihatnya (menontonnya).[1]

Pemerintah Kapanewon Banguntapan terus berupaya untuk selalu memberikan sosialisasi pada masyarakat agar selalu mentaati regulasi dalam pemasangan reklame dan media informasi.

Persoalan iklan luar ruang juga dapat mengurangi nilai keistimewaan Yogyakarta. Sebab, nilai keistimewaan sejatinya berkorelasi dengan terwujudnya ruang publik yang bebas dari teror visual.

Mendorong Kesadaran Masyarakat

Aksi penertiban ini juga bertujuan menggugah kesadaran masyarakat. Seluruh warga dan komunitas masyarakat yang ada di Banguntapan juga diminta berperan aktif membantu pemerintah membersihkan sampah visual karena gerakan dari masyarakat untuk membersihkan sampah visual akan memberikan dampak yang jauh lebih besar jika dibanding penertiban yang sudah rutin dilakukan pemerintah daerah.

Mulailah dari sekitar lingkungan kita di tingkat RT, atau kampung. Ideologi lingkungan mestinya dikedepankan dalam penataan lingkungan dan ruang dimanapun itu.

 

[1] Baudrillard, Jean P. 2009. Masyarakat Konsumsi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Add Comment