Kampung Jawa Terban, Sebuah Gerakan Penegasan Kembali Jati Diri

Kampung Jawa yang terdapat di RW 05 Kelurahan Terban. (Foto: Kelurahan Terban)

‘Orang Jawa akan kehilangan Jawa-nya’ (Wong Jawa bakal ilang Jawane). Sebuah ungkapan Jawa klasik yang terasa penting untuk ditelaah hari ini. Tentang orang Jawa yang sudah tidak memiliki jati diri Jawa. Misalnya, orang Jawa zaman dahulu saat berbicara begitu halus dan penuh tata krama. Mereka berbicara dengan santun dan sesuai unggah ungguh. Halus dan sopan adalah sikap yang melekat pada diri orang Jawa dan tecermin ketika berbicara dan bersikap.

Namun, seiring zaman yang semakin berkembang, mulai terjadi pergeseran tata nilai dan perilaku masyarakat, khususnya orang Jawa sendiri. Anak muda, bahkan sejak generasi X dan Y, mulai kehilangan tata nilai dan budaya Jawa. Mereka cenderung lebih mengikuti budaya Barat yang mereka yakini lebih baik dari budaya Jawa. Mulai dari cara berbicara, bersikap, bahkan cara berpakaian sudah mengarah kepada budaya Barat, akibat modernisasi teknologi yang membawa dampak sangat besar terhadap perilaku anak muda.

Sebagai contoh, saat ini sangat jarang ditemui anak muda yang menerapkan unggah ungguh kepada orang yang lebih tua saat berkomunikasi. Bahasa yang digunakan tidak lagi Bahasa Jawa krama yang merupakan bahasa lazim digunakan zaman dahulu saat berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Mereka cenderung berbasa Jawa ngoko yang sebenarnya digunakan untuk berkomunikasi dengan teman sebaya. Unggah ungguh dalam berbahasa Jawa saat ini diabaikan oleh generasi muda.

Hal tersebut tidak terlepas dari peran orang tua sendiri yang abai terhadap pola asuh berbasis budaya Jawa. Orang tua saat ini memiliki kecenderungan mementingkan bahasa asing bagi pendidikan putra putrinya. Hal ini tentu sangat disayangkan, meski sekarang bahasa asing juga dibutuhkan memasuki zaman modern.

Anggapan masyarakat tentang pentingnya bahasa asing itu perlu diluruskan. Jika tidak maka bahasa Jawa akan hilang tergerus oleh masuknya bahasa asing. Maka tugas kita sebagai generasi penerus bangsa yakni melestarikan bahasa Jawa agar tidak kalah dengan bahasa asing yang kian diminati anak muda.

Melihat fenomena tersebut, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) menerbitkan sebuah buku berjudul Panduan Pola Asuh Balita Berbasis Tradisi Jawa pada 2013 yang lalu. Buku ini menjadi buku pegangan pola asuh anak sejak balita berdasarkan budaya dan tradisi Jawa sekaligus menjaga semangat Keistimewaan Yogyakarta melalui misinya, yaitu membangun peradaban berbasis nilai-nilai kemanusiaan dengan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, mengembangkan pendidikan yang berkarakter yang didukung dengan pengetahuan budaya, pelestarian dan pengembangan hasil budaya, serta nilai-nilai budaya.

Kini terdapat kecenderungan banyak orang tua yang sudah mulai melupakan berbagai kearifan lokal dalam memberikan pengasuhan kepada anaknya dan lebih bangga menerapkan metode pengasuhan Barat sehingga ada kekhawatiran bahwa wong Jawa ilang Jawa-ne. Naskah Jawa kuno yang berwujud dalam tembang, dolanan, dan dongeng anak sesungguhnya sangat kaya stimulasi serta sangat bermanfaat dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak, namun sudah mulai disingkur atau ditinggalkan.

Sejak dahulu kala, orang Jawa telah memiliki ajaran luhur tentang hidup. Pada penerapannya sehari-hari sering disebut sebagai adat kebiasaan atau tradisi, yang menata kehidupan orang Jawa. Berdasarkan ajaran luhur inilah orang Jawa menata hidupnya, kehidupan, dan interaksi sosial, lingkungan, leluhur serta terhadap Allah Pencipta Alam Semesta

Pengasuhan Jawa mempunyai kekuatan dalam menanamkan pemahaman rasa, yang sebenarnya merupakan dasar dalam menjalani kehidupan. Ada ungkapan penting, “Urip iku ngecakake rasa’. Kepekaan rasa menjadi dasar pembentukan karakter luhur dan kekuatan intuisi yang sangat bermanfaat dalam menghadapi berbagai masalah hidup.

Pengasuhan Jawa juga menekankan pada harmonisasi dan pembagian peran antar-anggota keluarga. Kehidupan keluarga yang penuh kasih sayang serta didasari saling menghormati, tenggang rasa, dan saling tolong menolong.

Inisiasi Kelurahan Terban

Oleh karena itu, upaya menghidupkan kembali ruh sebagai orang Jawa di ‘Kampung Jawa’ Kelurahan Terban patut untuk didukung semua pihak. Kampung Jawa yang terdapat di RW 05 Terban ini tentu akan mengambil inti sari pola pengasuhan Jawa yang dimulai sejak bayi. Menurut tradisi Jawa, pengasuhan pada anak dimulai sejak bayi masih dalam kandungan ibu, bahkan sejak terjadinya konsepsi; karena ajaran Jawa menganut tentang kehidupan adalah sebuah kontinum yang berkelanjutan.

Selain itu, keberadaan Kampung Jawa tentu diharapkan mampu mengembalikan tradisi dan nilai-nilai budaya Jawa di tengah era modern. Mengupayakan berbahasa Jawa berdasar unggah ungguh merupakan salah satu cara mengembalikan karakter dan watak sebagai orang Jawa.

Menghidupkan kembali beragam upacara maupun ritual yang ada pada zaman dahulu dapat menambah kekhasan Kampung Jawa. Baragam upacara atau selamatan ada di dalam tradisi Jawa, mulai dari proses kelahiran hingga kematian kemudian mulai dari proses pernikahan hingga kehamilan memiliki upacara sendiri-sendiri.

Menjadi sebuah tantangan besar bagi warga yang berada di lingkungan kampung Jawa Terban untuk mewujudkannya. Namun, menjadi sebuah mahakarya dan akan menjadi sesuatu yang monumental bila semuanya dapat dijalani oleh masyarakat di kampung Jawa.

Di tengah kampung yang terletak di jalur perdagangan dan bisnis dengan perilaku masyarakat yang modern, ditemui sebuah kampung yang tetap mempertahankan tradisi dan perilaku sebagai orang Jawa. Matur sembah nuwun.