Kenalkan Sejarah Para Leluhur dengan Merti Komboran

Merti Komboran untuk mengenalkan sejarah para leluhur setempat. (Foto: Kelurahan Kricak)

Kenalkan Sejarah Para Leluhur dengan Merti Komboran

Kelurahan Kricak Kemantren Tegalrejo Kota Yogyakarta berusaha menghidupkan Merti Komboran untuk mengenalkan sejarah para leluhur setempat.

Sebelumnya kegiatan budaya ini dibalut dengan kirab bregodo dan pertunjukan seni potensi kampung yang direncanakan akan digelar rutin setiap tahun, namun adanya pandemi Covid-19 sejak tahun 2020 memaksa kegiatan budaya ini harus ditiadakan sementara.

Sesuai dengan namanya, komboran merupakan aktivitas memberi makan dan minum binatang dengan mencampur beragam makanan menggunakan wadah dari batu. Pada masa perjuangan, aktivitas ini acap kali dilakukan oleh warga Kricak. Hal ini lantaran pada masa dulu terdapat 60 warga Kricak yang sehari-hari merawat kuda milik Pangeran Diponegoro.

Waktu itu Pangeran Diponegoro memiliki ratusan ekor kuda yang ditempatkan di rumah-rumah penduduk wilayah Kricak dan Bener.

Kuda-kuda tersebut minum dari aliran Sungai Winongo. Para perawat kuda tersebut kemudian membuat Komboran di atas kali mengingat posisi Kali Winongo dulu cukup terjal.

Banyak leluhur di Kricak yang berprofesi merawat kuda milik Pangeran Diponegoro dan kiprahnya tidak bisa disepelekan. Ketangguhan kuda milik pasukan Pangeran Diponegoro tersebut pun tak lepas dari kepiawaian warga dalam merawatnya.

Saat perang Diponegoro pecah, pasukan inti yang berada di lini depan yaitu pasukan Bulkiyo merupakan pasukan berkuda untuk mempertahankan wilayah Tegalrejo. Pasukan berkuda yang awalnya pasukan Suronatan binaan Pangeran Diponegoro yang tinggal di Jatimulyo.

Melalui atraksi budaya Merti Komboran tersebut kami ingin meneladani sikap kerelawanan dan semangat para leluhur warga Kricak.

Acara Merti Komboran diisi dengan berbagai rangkaian. Diawali dengan kirab bregodo di RW 9 menuju ke lokasi komboran di RW 2. Masyarakat juga disuguhi berbagai atraksi kesenian di panggung di RW 2. Mulai karawitan, tarian, matikan dan semacamnya.

Wadah komboran dicuci dengan atraksi kuda lumping. Merti ini sebagai bagian dari identitas untuk menggerakkan dan menyatukan masyarakat.

Kegiatan tersebut sangat luar biasa mampu meneguhkan Kricak sebagai Kelurahan Budaya. Ini bagian dari nguri-nguri sejarah dan budaya di mana komboran atau tempat minum kuda Pangeran Diponegoro waktu dulu ada di wilayah Kricak.

Dan jangan lupa, Kricak merupakan salah satu rintisan kelurahan budaya binaan Dinas Kebudayaan. Sehingga dengan adanya atraksi budaya Merti Komboran ini menambah kekayaan budaya yang dimiliki oleh Kelurahan Kricak.

Tombak Pusaka

Selain Merti Komboran yang menjadi identitas warga Kricak, kami juga memiliki tombak pusaka. Kricak bahkan menjadi satu satunya kelurahan di Kota Jogja yang memiliki tombak pusaka. Namanya tombak pusaka Kyai Geget Simbar Budoyo. Nama yang diberikan oleh Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi.

Semoga pandemi ini bisa segera berakhir dan merti Komboran dan kirab budaya lainnya bisa kita gelar kembali.