Khidmah kepada Pemilik dan Pencari Ilmu

Ahad (28/3), TPQ Qiro’ati Raudlatu Usysyaqil Qur’an melangsungkan Khotmil Qur’an wal Imtihan kali kedua. WAHYUDI AHADI

Pertengahan 2019 yang lalu, pekarangan di samping rumah saya masih berupa lahan kosong dengan sebuah rumah jamur yang belum pernah digunakan, dan sepetak kolam ikan yang tidak produktif.

Tetiba pada suatu sore, pertengahan Agustus 2020, Bu Lurah Umi Nilnaulupi, di sela aktivitasnya mengurus rumah, pekerjaan di BPOM Yogyakarta, serta urusan ke-PKK-an di desa dengan menjadi guru ngaji di TPQ Qiro’ati di dusun, mengutarakan kebutuhan, untuk segera memindahkan kegiatan ngajinya ke tempat yang baru.

Ada 80-an santri yang diampu—dan tentunya memerlukan ruangan yang cukup luas—menjadikan tidak banyaknya alternatif tempat yang bisa digunakan untuk menopang kegiatan pembelajaran harian. Setelah melihat beberapa tempat, oleh pengurus TPQ, terpilihlah bangunan limasan di samping rumah saya untuk kegiatan sementara.

Selang dua hari, suasana rumah berubah. Sejak pagi hingga tengah hari, puluhan anak dan orangtuanya mengikuti TPQ pagi. Berlanjut dengan orang-orang dewasa hingga sekitar pukul 14.00. Pada waktu setelahnya hingga menjelang azan Maghrib, puluhan anak lain mengikuti TPQ sore. Suasana segera berubah. Simbok saya pun sumringah.

Sudah puluhan tahun sejak saya lulus SMA, Simbok memang rajin mengikuti banyak jamaah pengajian. Hampir tiap tahun beliau turut Ziarah Wali yang ada di Pulau Jawa-Madura. Simbok dulu sering pergi ngaji hingga larut, bahkan beberapa kali pulang menjelang dini hari. Kini, sepanjang hari Simbok dapat mendengarkan anak-anak menyenandungkan kalam ilahi, tanpa harus keluar rumah.

Sehari-harinya, Simbok menyibukkan diri dengan kegiatan baru, menyiapkan minum dan kudapan untuk para guru ngaji yang dibuatnya dari uang sendiri, hasil berjualan pisang, batang sereh di kebun, juga penjualan kertas, kardus, dan minyak goreng bekas yang tentunya tak seberapa banyak.

Mulai saat itu, sholat lima waktu yang biasanya dilakukan dengan berjamaah di masjid, khusus untuk Maghrib, Simbok menjalankannya di rumah bersama para guru ngaji. Saya melihat Simbok lebih bahagia.

Selang beberapa minggu berjalan, mulai ada kebutuhan untuk menambah ruang belajar. Setelah berembuk dengan Simbok dan saudara lain, lahan pekarangan kosong di mana rumah jamur dan kolam berada, akan didirikan satu lagi bangunan limasan guna mencukupi kebutuhan ruang ngaji.

Jangan tanya, ada berapa uang yang saya dan Bu Lurah miliki. Karena memang uang di rekening kami sangat jarang menyentuh angka tujuh digit. Lebih sering di bawah enam digit. Tapi berbekal keyakinan layaknya sebuah brand ojok online bahwa akan selalu ada jalan maka saya putuskan untuk mendirikan satu limasan lagi.

Di saat sedang bertanya-tanya kisaran harga limasan bekas kepada beberapa kawan, seorang kawan baik menawarkan bangunan warisan Simbah-nya untuk dipinang, dengan sedikit penjelasan bahwa sebenarnya bangunan itu diwariskan agar bisa digunakan sebagai tempat ngaji. Tanpa berpikir panjang, akhirnya bangunan itu disepakati untuk dibawa ke rumah, menunaikan wasiat Sang Simbah.

Pembayaran dari tanah plungguh yang baru saja saya terima cukup untuk membayar mahar limasan kawan, tetapi biaya untuk membersihkan lahan dan mendirikannya kembali, belum terpikirkan. Tanpa disangka, saya dihubungi pihak almamater dan dinominasikan sebagai salah satu calon penerima penghargaan bidang pemberdayaan masyarakat dalam rangka Dies Natalis UGM. Bersamaan dengan diterimanya penghargaan itu, ada hadiah sejumlah uang yang cukup besar diberikan. Alhamdulillah. Saya dan istri berulang kali bersyukur atas skenario ajaib dari Gusti Allah yang mencukupkan semuanya.

Dan limasan berukuran 8 x 12 meter pun akhirnya berdiri, menggantikan rumah jamur yang belum pernah digunakan. Kolam tanpa ikan dan rerimbunan semak berganti dengan suara lantang anak-anak mengeja huruf huruf Hija’iyah.

Alhamdulillah. Beberapa santri telah menuntaskan tugas belajar mereka dan dirayakan dengan sederhana, tanpa mengurangi makna. Saya berpesan kepada mereka. Ada dua kebaikan yang kita terima dan tidak akan mampu kita membalasnya, meskipun dengan seluruh emas yang ada di dunia.

Pertama, kebaikan yang telah diberikan oleh seorang ibu kepada anaknya. Kedua, kebaikan yang telah diberikan seorang guru ngaji lantaran bimbingannya membaca Al-Fatihah sehingga menjadikan sahnya sholat. Hal yang bisa kita lakukan sebagai pengganti atas kebaikan yang kita terima hanyalah memuliakan keduanya.

Barokahe Simbok, Barokahe Istri

Saya merasa, keberadaan TPQ di limasan samping rumah sebagai bagian dari barokahe Simbok yang tiada lelah muter-muter ngaji. Seiring dengan menuanya usia dan semakin terbatasnya kesempatan Simbok untuk mengaji di banyak tempat maka Gusti Allah menggantikan kesempatan itu dengan mengirimkan anak-anak yang setiap hari datang ke rumah agar Simbok bisa ikut ngaji.

Saya merasa, ini juga bagian dari barokahe istri, meski terkadang suka cemberut dan pasang muka judes, mungkin karena lelahnya fisik mengurusi ragam kegiatan, termasuk mengurus suaminya yang belum juga kunjung ‘waras’. Dia selalu menderaskan rangkaian kalam Kitab Suci.

Alhamdulillah. Barokahe Simbok, semua kakang dan mbakyu guru, serta Bu Lurah, sehingga pada Ahad (28/3) kemarin, TPQ Qiro’ati Raudlatu Usysyaqil Qur’an melangsungkan Khotmil Qur’an wal Imtihan kali kedua.

Sebagai santri mbeling yang tidak pernah khatam mondok sehingga bacaan Fatihah tidak ‘teteh’, bagi saya, satu anugerah yang agung saat rumah dijadikan sebagai tempat ngaji Qur’an, sehingga mencuci gelas kotornya para asatidz saban sore adalah wujud khidmah saya kepada para pemilik dan pencari ilmu. Matur nuwun, Gusti.