Lumbung Pangan Mataram Purba Asri sebagai Destinasi Wisata Alternatif

Pemandangan Kebun Lumbung Pangan Mataram Purba Asri. ILHAM LUTHFI HABIBI

Berdasarkan data BPS, dalam tahun 2007 jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 37,17 juta dan jumlah penduduk miskin yang rawan pangan mencapai 31,81 juta jiwa. Dewan Ketahanan Pangan dan World Food Programme memetakan wilayah rawan pangan di Indonesia, dari 366 kabupaten di Indonesia, sejumlah 100 kabupaten tergolong rawan pangan dan gizi kronis.

Perhatian dalam penanganan dan pengurangan kerawanan pangan dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan masyarakat perlu difokuskan kepada daerah tersebut. Daerah yang tergolong miskin dan rawan pangan umumnya daerah yang mempunyai masalah dalam keterbatasan produksi pangan, seperti daerah lahan marginal, dan daerah pinggir hutan, daerah rawan bencana, dan daerah yang secara relatif terisolasi.

Ketahanan pangan merupakan salah satu isu paling strategis dalam pembangunan nasional, terlebih bagi negara berkembang seperti Indonesia yang berpenduduk besar. Perhatian terhadap ketahanan pangan (food security) mutlak diperlukan karena terkait erat dengan ketahanan sosial (social security), stabilitas ekonomi, stabilitas politik dan keamanan atau ketahanan nasional (national security).

Perhatian terhadap aspek ketahanan pangan semakin penting pada saat sekarang dan mendatang. Sekarang dunia dihadapkan kepada kejadian perubahan iklim global dan berdampak menurunkan produksi pangan dunia. Sampai dengan tahun 2050, produksi sereal dunia diperkirakan menurun satu persen, sementara pada periode yang sama penduduk dunia meningkat satu persen. Potensi terjadinya kerawanan pangan sangat terbuka dalam beberapa dekade mendatang.

Kerawanan pangan masih menjadi permasalahan di Indonesia, dan kerawanan pangan sangat berkaitan dengan kemiskinan. Upaya penanganan kerawanan pangan juga berarti untuk mengatasi kemiskinan, demikian pula sebaliknya.

Bahwa perbaikan ketahanan pangan merupakan cara yang paling optimal untuk mengatasi masalah kemiskinan, yang memiliki pengertian yang sangat kompleks, di mana kemiskinan tidak hanya menyangkut kekurangan pendapatan. Sejalan dengan itu, penanganan dan pengurangan kerawanan pangan harus menjadi fokus perhatian, karena di samping mengatasi kemiskinan juga sekaligus akan meningkatkan ketahanan pangan masyarakat.

Beberapa waktu lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta telah meluncurkan program Lumbung Pangan Mataram, program ini adalah sebagai upaya pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat secara mandiri.

Di tiap lumbung pangan dikembangkan tiga jenis budi daya yaitu budidaya tanaman untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat seperti ubi, singkong, dan jagung. Selain itu juga dilakukan budi daya sayur-mayur seperti sawi, bayam, dan lainnya, serta budi daya pertanian untuk pemenuhan kebutuhan protein seperti lele atau ikan jenis lain.

Melalui program Lumbung Pangan Mataram tersebut, masyarakat diajak untuk memenuhi kebutuhan pangan dari hasil budi daya pertanian yang dikelola secara mandiri.

Diharapkan program Lumbung Pangan Mataram tersebut tidak hanya untuk mencapai ketahanan pangan tetapi juga untuk tujuan pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah.

Dalam pengembangan Lumbung Pangan Mataram, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta juga bekerja sama dengan akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang siap membantu masyarakat.

Masyarakat didampingi dari awal untuk bisa melakukan budi daya yang tepat dan bagaimana cara mengatasi permasalahan yang muncul. Bahkan, masyarakat pun diberi bekal terkait pengelolaan pascapanen.

Dengan demikian, pendampingan yang diberikan sangat lengkap sejak dari proses awal budidaya hingga pasca panen. Dengan adanya pendampingan dari beberapa tim yang sudah sangat ahli tersebut maka harapannya hasil pengelolaan pertanian juga akan maksimal. Tidak hanya dari segi budi daya di lahan sempit melainkan faktor ekonominya.

Namun seiring berjalannya waktu, Lumbung Pangan Mataram ini juga diarahkan untuk menjadi destinasi wisata alternatif, warga masyarakat sekitar memiliki inisiatif untuk melengkapi kebung tersebut dengan spot foto yang unik. Seperti Lumbung Pangan Mataram Purba Asri yang terletak di Jalan Purbayan Nomor 1272, RT 57 RW 14, Purbayan, Kemantren Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55173.

Lumbung Pangan Mataram Purba Asri ini dulunya adalah lahan tidur, kemudian oleh warga masyarakat sekitar dimanfaatkan dan akhirnya menjadi lahan produktif. Lahan tersebut di sulap oleh warga menjadi kebun sayur, ternak lele, ternak maggot, dan ternak kambing.

Di tempat ini warga masyarakat juga menyediakan area untuk menikmati secangkir kopi yang mereka namakan Kopi Lumbung Mataram. Sebuah bangunan tua disulap menjadi tempat yang nyaman untuk bersantai menikmati suasana sore di sisi timur Kota Yogyakarta.

Kopi Lumbung Mataram ini menyediakan berbagai jenis kopi, salah satu andalannya adalah kopi tubruk hitam, disajikan dalam gelas dengan gula terpisah. Jadi kita bisa atur manisnya sesuai selera, atau bisa dinikmati tanpa gula. Sementara untuk menu makanannya disajikan dengan cara prasmanan dengan menu ala kampung tempo dulu.

Lumbung Mataram Purba Asri ini dikelola oleh kelompok tani RW 14 dengan bimbingan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogya dan mendapat dukungan Dana Keistimewaan. Di masa pandemi covid-19 ini, keberadaan Lumbung Mataram Purba Asri menjadi upaya untuk menunjang ketahanan pangan masyarakat.

Selain di Purbayan, Lumbung Pangan Mataram juga terdapat di beberapa tempat seperti di Kampung Pugeran Kemantren Mantrijeron, dan Kampung Blunyahrejo Kemantren Tegalrejo.

Di Kemantren Tegalrejo, lokasi Lumbung Pangan Mataram merupakan pengembangan dari Kampung Markisa yang dikelola masyarakat setempat. Sementara untuk Lumbung Pangan Mataram yang ada di Kampung Pugeran diawali dengan gerakan menanam pepaya oleh masyarakat setempat. Sebagian kampung yang ditunjuk menjadi Lumbung Pangan Mataram selama ini sudah memiliki kegiatan menanam secara swadaya masyarakat.

Produk Unggulan

Seperti yang diketahui di awal, lumbung pangan dikembangkan tiga jenis budi daya yaitu budi daya tanaman untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat seperti ubi, singkong, dan jagung. Selain itu juga dilakukan budi daya sayur-mayur seperti sawi, bayam, dan lainnya, serta budi daya pertanian untuk pemenuhan kebutuhan protein seperti lele atau ikan jenis lain.

Khusus dalam budi daya untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, Lumbung Pangan Mataram Purba Asri memiliki kelebihan dalam tanaman ketela pohon. Menurut Ita, salah satu anggota dari kelompok tani tersebut mengungkapkan bahwa ketela pohon ini sudah memanennya sebanyak 30 kilogram dan estimasi ke depan dapat memanen sampai dengan 300 kilogram. Untuk hasilnya ini di jual kepada warga sekitar, tidak harus datang ke pasar.

Selain sebagai wahana budi daya tanaman, kebun ini juga digunakan sebagai wahana silaturahmi untuk warga sekitar. Oleh sebab itu, walaupun tidak semua warga suka menanam tetapi tetap antusias untuk datang berkebun.

Sebelum pandemi kemarin, kelompok tani ini terdiri dari 20 orang. Karena pandemi, anggotanya menjadi 12 orang. Waktu pandemi, hasil panen dari kebun dibagikan kepada warga sekitar yang sedang melakukan isolasi mandiri.