Penanganan Bencana Ala Kalurahan Wukirsari

Pelatihan kebencanaan yang diinisiasi oleh Pemerintah Kalurahan Wukursari dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul. (Foto: Pemkab Bantul)

Untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam dan Non alam di Wukirsari, Pemerintah Kalurahan Wukirsari memberikan alokasi khusus terhadap penanganan bencana. Tak bisa dipungkiri bahwa Wukirsari memiliki kerawanan di musim panas maupun penghujan. Oleh sebab itu, penanganan kebencanaan menjadi salah satu prioritas.

Tiap tahun Pemerintah Kalurahan Wukirsari selalu mencadangkan anggaran untuk penanggulangan bencana, baik anggaran tersebut terpakai atau tidak. Pada tahun 2020 anggaran untuk penanganan bencana di Wukirsari berjumlah hampir Rp 300 juta.

Dari dana yang tersebut, terpakai sebesar Rp 180 juta yg terbanyak digunakan untuk penanganan wabah Covid-19. Sementara untuk tahun 2021 ini, Pemerintah Kalurahan Wukirsari juga menganggarkan dengan jumlah yang sama, yakni hampir Rp 300 juta.

Untuk penanggulangan bencana kekeringan saat musim kemarau, pada tahun 2019-2020 Pemerintah Kalurahan Wukirsari telah membuat tujuh sumur bor, sumur tersebut dikelola oleh PAB (Pengelola Air Bersih) Kal Wukirsari.

Memang sumur bor tersebut baru dibuat pada tahun 2019-2020, karena sebelumnya pada tahun 2018 terdapat ribuan tangki air yang disetor ke Wukirsari. Ditargetkan pada tahun 2021 ini sudah tidak ada lagi tangki yang masuk ke Wukirsari.

Sementara untuk penanggulangan bencana banjir dan longsor, Kalurahan terus melakukan kolaborasi dan berkoordinasi dengan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Wukirsari, Garda Pucung, dan beberapa potensi relawan yang ada.

Alhamdulilah penanganan antar komunitas sangat bagus, jadi setiap ada bencana bisa ditangani dengan cepat. Untuk koordinasi potensi relawan dilakukan melalui sambungan handy talkie atau dengan aplikasi pesan singkat, WhatsApp Group (WA).

Kalurahan Wukirsari juga memiliki dua embung, yaitu di Karangkulon dan di Nogosari. Keduanya diharapkan bisa menjadi solusi penanganan banjir yang selama ini rutin terjadi.

Dengan adanya embung tersebut, diharapkan bencana banjir sudah tidak terjadi di Wukirsari dan Kapanewon Imogiri. Tak sampai disitu, dengan adanya embung tersebut, juga diharapkan dapat meningkatkan geliat pariwisata di Wukirsari. Embung tersebut nantinya akan dikelola oleh BUMKal.

Tak hanya penanggulangan bencana alam saja, Kalurahan Wukirsari pun turut melakukan penanggulangan bencana non-alam, seperti penanganan Covid-19, dimana terdapat 25 orang yang tergabung sebagai Relawan TKC Bolo Kubur. Mereka siap siaga untuk memakamkan warga yang meninggal sesuai prokes.

Kalurahan Wukirsari juga memiliki relawan yang siap 24 jam mengantar dan menjemput warga yang terkena Covid-19, dan didukung dengan dua armada ambulan yang ada di kantor kalurahan.

Dalam upaya menekan penularan Covid-19. Pemerintah Kalurahan Wukirsari juga telah melaksanakan vaksinasi Covid-19 tahap 2, sebelumnya vaksinasi tahap satu telah dilakukan pada tanggal 18 Maret 2021 lalu.

Sebelum divaksin, penerima vaksin harus melakukan pemeriksaan awal terlebih dahulu. Salah satu hal yang ditanyakan adalah riwayat kesehatan, termasuk alergi atau tidak terhadap komponen vaksin.

Pelatihan Kebencanaan

Pemerintah Kalurahan Wukirsari juga kerap melakukan pelatihan kebencanaan untuk warga masyarakat. Pelatihan ini bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul.

Tujuan pelatihan tersebut adalah agar warga masyarakat perlu memiliki wawasan kebencanaan yang lebih agar dapat menanggulangi bencana jika sewaktu waktu terjadi, mengingat potensi bencana alam di Kabupaten Bantul sangatlah banyak.

Diharapkan dengan adanya pelatihan tersebut dapat meningkatkan keterampilan serta kualitas penanggulangan bencana alam bagi masyarakat, khususnya relawan.

Pelatihan tersebut digelar selama dua hari. Pada hari pertama, materi yang diberikan lebih condong pada pemaparan teori tentang kebencanaan, seperti ancaman bencana alam yang berpotensi terjadi di Kabupaten Bantul, manajemen penanggulangan bencana, sadar bencana, dan kerelawanan.

Sementara pada hari kedua, peserta diajak untuk praktek langsung dalam simulasi jika terjadi bencana alam, seperti bagaimana melakukan pertolongan pertama pada korban bencana yang benar, bagaimana memotong dahan pohon jika ada pohon tumbang, dan bagaimana memadamkan api jika terjadi kebakaran.

Add Comment