Perkuat Sebagai Kelurahan Budaya dengan Kulinernya

Kelurahan Kricak, Kemantren Tegalrejo Kota Yogyakarta memiliki keunikan di bidang kuliner yang turut memperkuat karakter wilayah itu sebagai Kelurahan Budaya. Beberapa di antaranya adalah jamu tradisional, kue coro dan kue lumpur. Kuliner tradisional ini menjadi potensi yang masih hidup dan terus dirawat di masyarakat.

Produksi jamu tradisional di Kricak diwadahi dalam Kelompok Mugi Waras. Jamu yang diproduksi bermacam-macam, seperti kunir asem, beras kencur dan lainnya.

Mereka biasanya berjualan dengan cara menunggu di suatu tempat atau ngetem, namun ada juga yang menitipkannya di stan-stan.

Anggota kelompok Mugi Waras ini ada sekitar 50 orang. Kelompok Mugi Waras berdiri sejak 2016 lalu. Padahal untuk kemampuan memproduksi jamu, masyarakat Kricak sudah lama mengenalnya. Sudah dari dulu turun-temurun dari nenek moyang sudah bisa bikin jamu.

Pada tahun 2016 lalu Kelurahan Kricak telah dinobatkan sebagai Kelurahan Budaya. Kricak ditetapkan sebagai Kelurahan budaya berdasarkan begitu kuatnya aktifitas kebudayaan di masyarakat.

Ada sejumlah aspek yang harus terpenuhi untuk menjadi kelurahan budaya, diantaranya, adat istiadat, kesenian tradisional, permainan tradisional, Bahasa dan aksara jawa, serta bangunan cagar budaya.

Selain jamu, ada juga jue coro, kue ini juga menjadi potensi Kelurahan Kricak di bidang kuliner. Pembuatan kue coro cukup sederhana. Kue ini berbahan dasar tepung beras, tepung terigu, santan, gula pasir dan vanili.

Bahan-bahan itu kemudian diaduk dengan mikser hingga menjadi adonan. Adonan kemudian ditambah pewarna makanan, bisa hijau atau merah. Setelah itu adonan di panghang memakai wadah pemanggang dengan ceruk-ceruk bulat.

Proses memanggang bisa pakai kompor biasa, tetapi hasilnya akan lebih enak jika menggunakan arang. Pemanggangan cuma butuh waktu sekitar lima menit, jika sudah terlihat lubang-lubang di bawah kue, itu tandanya sudah matang.

Meningkatkan Kemampuan Masyarakat Dalam Memasarkan Produk

Proses pemasaran menjadi salah satu hal terpenting dalam penjualan suatu produk. Dalam hal untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memasarkan produk rumahan kepada pembeli, Kelurahan Kricak kerap melakukan pelatihan pemasaran bagi warga salah satunya melaksanakan kegiatan pelatihan promosi online produk rumahan bagi masyarakat.

Peningkatan kreativitas masyarakat menjadi salah satu kunci perkembangan perekonomian, dengan adanya kegiatan ini diharapkan bisa meningkatkan kreativitas masyarakat tentang pemasaran produk mereka, sehingga nantinya bisa diterapkan di rumah masing-masing dan bisa menjadikan bekal untuk usaha atau industri rumahan untuk menambah income keluarga.

Pemberdayaan masyarakat adalah tidak hanya mengembangkan potensi ekonomi rakyat, tetapi juga harkat dan martabat, rasa percaya diri dan harga dirinya, terpeliharanya tatanan nilai budaya setempat.

Pemberdayaan sebagai konsep sosial budaya yang implementatif dalam pembangunan yang berpusat pada rakyat, tidak saja menumbuhkan dan mengembangkan nilai tambah ekonomi, tetapi nilai tambah sosial budaya.[1]

Pemberdayaan masyarakat merupakan suatu proses di mana masyarakat, khususnya mereka yang kurang memiliki akses ke sumber daya pembangunan, didorong untuk menigkatkan kemandiriannya di dalam mengembangkan perikehidupan mereka.

Pemberdayaan masyarakat juga merupakan proses siklus terus-menerus, proses partisipatif dimana anggota masyarakat bekerjasama dalam kelompok formal maupun informal untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman serta berusaha mencapai tujuan bersama. Jadi, pemberdayaan masyarakat lebih merupakan suatu proses.[2]

Sementara menurut Widjaja, pemberdayaan masyarakat adalah upaya meningkatkan kemampuan dan potensi yang dimiliki masyarakat sehingga masyarakat dapat mewujudkan jati diri, harkat dan martabatnya secara maksimal untuk bertahan dan mengembangkan diri secara mandiri baik di bidang ekonomi, sosial, agama dan budaya.[3]

Sedangkan Bryan dan White mengemukakan bahwa pemberdayaan hendaknya dipahami sebagai suatu proses meningkatkan kemampuan masyarakat sehingga mereka dapat memecahkan masalahnya sendiri dengan cara memberikan kepada mereka kepercayaan untuk mengelola program program tertentu atas keputusannya sendiri.[4]

[1] Adimihardja (1999:11)

[2] Aziz,dkk (2005:136)

[3] Widjaja (2003:169),

[4] Bryan dan White (1989:25)