Posko dan Shelter Covid di Dusun Mutihan Wirokerten

Satgas pedukuhan dalam melakukan Pembersihan di tempat yang rencananya akan dijadikan tempat sebagai shelter dan posko aman covid-19 di pedukuhan Mutihan. (Foto: Kapanewon Banguntapan)

Segala kemungkinan buruk bisa terjadi dimasa pandemi Covid-19 saat ini, pertambahan jumlah pasien Covid terus melaju dan belum ada tanda-tanda menurun. Beberapa hari ini terjadi pelaksanaan pemakaman menggunakan protokol covid-19 dan mudah-mudahan kejadian pertama dan terakhir di Pedukuhan Mutihan.

Guna mengantisipasi penularan yang lebih luas, tim Satgas Aman Covid-19 di pedukuhan ini mengupayakan tempat isolasi maupun karantina dengan berbagai fasilitasnya yang cukup memadai serta nyaman.

Tempat isolasi ini diperuntukkan bagi warga yang positif/kontak langsung dengan pasien namun mereka tidak memungkinkan untuk tinggal dirumahnya. Meski tempat isolasi ini cukup memadai dan nyaman, harus diperhatikan juga dari segi kebersihannya.

Seperti yang dilakukan sejumlah relawan Satgas pedukuhan dalam melakukan Pembersihan di tempat yang rencananya akan dijadikan tempat sebagai shelter dan posko aman covid-19 di pedukuhan Mutihan.

Meskipun tempat isolasi ini sudah bersih, nyaman dan aman tetapi kami berharap tidak ada yang menempati, dengan kata lain tidak ada kasus penambahan lagi. Amin.

Tekan Penyebaran Covid-19 dengan Satgas Desa

Pembentukan satgas Covid-19 di tingkat RT menjadi satu di antara cara efektif untuk menekan penyebaran Covid-19, khususnya mengurangi klaster keluarga. Data yang transparan adalah kunci agar masyarakat merasa aman menghadapi pandemi. Data yang transparan dan akurat juga akan mempengaruhi strategi yang akan diambil untuk menangani pandemi di desa.

Maka, kami terus berupaya untuk selalu mengolah dan memperbarui data terkait penyebaran Covid-19 di wilayah Banguntapan. Setiap padukuhan memiliki peta masing-masing. Apabila satgas ingin melihat data itu, maka mereka akan mudah mendapatkannya.

Peran Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kapanewon Banguntapan juga sangat luar biasa, mereka selalu melakukan berbagai inovasi, contohnya adalah FPRB Kalurahan Jambidan, Inovasi dari FPRB Kalurahan Jambidan adalah menciptakan bentuk seperti lingkaran obat nyamuk untuk melacak kontak erat dari pasien positif Covid-19.

Kemudian, FPRB membuat catatan mengenai penanganan warga yang sudah terkonfirmasi positif covid-19. Mereka membagi dua strategi tergantung dari kesehatan pasien. Apabila warga positif covid-19 tidak memiliki gejala atau gejala ringan, maka ia bisa isolasi mandiri 14 hari di rumah masing-masing.

Meski di rumah, namun FPRB tidak lepas tangan dan memberikan catatan untuk keluarga di rumah agar memisahkan barang-barang yang digunakan pasien dengan anggota keluarga lain.

Hal ini agar anggota keluarga tetap aman meski harus satu rumah dengan pasien covid-19 bergejala ringan atau tanpa gejala.

Jika warga positif Covid-19 itu memiliki gejala sedang atau berat serta memiliki komorbid, maka FPRB akan meminta puskesmas untuk membantu warga positif mengikuti karantina medis.

Antisipasi Klaster Resepsi Pernikahan

Beberapa waktu lalu ada beberapa pasang pengantin yang terpapar positip Covid-19. Sebagian isolasi di Shelter dan sebagian karantina mandiri di rumah masing-masing.

Hal ini sangat mungkin terjadi karena saat resepsi pernikahan yang paling lama berada di lokasi resepsi adalah pengantin beserta keluarga, dan bertemu dengan semua tamu undangan yang bisa jadi salah satu atau sebagian tamu undangan adalah positif Covid-19 namun mereka Orang Tanpa Gejala (OTG).

Untuk itu, dalam rangka pelaksanaan instruksi Bupati Bantul no 1 tahun 2021 tentang kebijakan pengetatan secara terbatas kegiatan masyarakat dan untuk mencegah penularan covid-19, maka dimohon dengan sangat agar pelaksanaan pernikahan cukup dengan sederhana yaitu ijab-qabul dengan tamu terbatas, acara syukuran pernikahan bisa dilakukan cukup dengan membagi makanan kepada keluarga atau tetangga sekitar, dan tidak perlu dengan acara tambahan pentas seni dan sejenisnya.