Asosiasi Profesi dan Ngabei Mart, Pilar Utama Perekonomian Tamanmartani

Gerobak Sapi Tamanmartani. IG/Backpacker Lensa

Lurah Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, menginisiasi berbagai asosiasi profesi tingkat kalurahan. Terasa janggal, sepintas lalu. Karena biasanya, asosiasi profesi banyak dilegalkan minimal di tingkat kabupaten atau kota. Dan ternyata, pengaruhnya signifikan bagi perekonomian Tamanmartani.

Contoh organisasi profesi di Indonesia yang populer, di antaranya Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Asosiasi Guru Sains Indonesia (AGSI), Ikatan Guru Indonesia (IGI), Asosiasi Dosen Indonesia (ADI), Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Persatuan Insinyur Indonesia (PII), dan masih banyak lainnya.

“Perekonomian Tamanmartani saya perkuat dengan merawat kelompok-kelompok profesi. Mungkin di Kabupaten Sleman, terutama, hanya ada di Tamanmartani. Ada asosiasi pedagang kelontong, asosiasi pedagang ayam goreng, asosiasi laundry, dan lainnya,” ungkap Lurah Gandang Hardjanata, belum lama ini.

Asosiasi profesi atau organisasi profesi jamak dipahami sebagai sebuah organisasi non-profit, beranggotakan orang-orang dengan latar belakang profesi sama yang umumnya memiliki tujuan memajukan dan mempromosikan profesi tersebut. Selain itu, meningkatkan kompetensi anggota, juga melayani serta melindungi kepentingan publik dan anggotanya.

Anggota dari organisasi profesi yakni para praktisi yang bergabung untuk melaksanakan fungsi-fungsi sosial yang tidak dapat mereka lakukan dalam kapasitas mereka sebagai individu. Dalam organisasi profesi, para anggota profesi hidup dalam kebersamaan dan kesejawatan, bersatu padu melakukan berbagai upaya untuk mengembangkan profesi yang digelutinya.

Asosiasi profesi diorientasikan untuk mengembangkan dan memajukan profesi, menertibkan dan memperluas ruang gerak profesi, menghimpun dan menyatukan pendapat warga profesi, memberikan kesempatan pada semua anggota untuk berkarya dan berperan aktif dalam mengembangkan dan memajukan profesi.

Magali Sarfatti Larson, seorang Guru Besar Sosiologi di Universitas Temple Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat, mendefinisikan profesi sebagai sebuah atau sekelompok pekerjaan yang membutuhkan keterampilan dan pengetahuan khusus.

Secara umum, karakter profesi memiliki asosiasi profesi, membutuhkan keterampilan yang berdasarkan pengetahuan (cognitive base), terdapat pelatihan atau pendidikan secara institusi yang memberikan pengetahuan dan pengalaman praktis seputar kompetensi yang dipersyaratkan.

Selanjutnya, terdapat lisensi atau sertifikasi sebagai bukti kompetensi, memiliki otonomi dalam pekerjaan, memiliki kode etik, serta ada standar honor atau gaji yang ditetapkan dan diatur oleh asosiasi profesi.

Asosiasi profesi turut serta mengembangkan ilmu dan teknologi profesi, meningkatkan mutu pelayanan kepada sasaran layanan, dan menjaga kode etik profesi.

Dibuatnya organisasi profesi dimaksudkan dapat memberikan dukungan dan kontribusi positif bagi para anggotanya, untuk senantiasa mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta melahirkan berbagai inovasi untuk kepentingan pengembangan dan kemajuan profesi.

Selain mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, organisasi profesi juga mendorong dan memotivasi para praktisi profesi di lapangan untuk dapat melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan standar yang disyaratkan, sehingga kehadirannya dapat memberikan manfaat dan kepuasan bagi para pengguna jasa layanan maupun masyarakat luas.

“Ke depan, saya rencananya mengadakan pelatihan pijat refleksi. Ahli diundang untuk memberikan ilmunya. Dulu sudah ada asosiasi tukang pijat. Malah sempat ada pelatihan. Pesertanya banyak, sekitar 200 orang. Jadi, sangat mungkin, nantinya, tiap dusun ada satu tukang pijat,” papar Lurah Gandang.

Kegiatan pengembangan profesi dengan tujuan meningkatkan mutu pelayanan mutlak diperlukan. Bentuknya bisa bermacam, mulai dari riset, pelatihan, seminar, hingga simposium, baik yang diselenggarakan oleh organisasi profesi atau bekerja sama dengan pihak lain.

Selanjutnya, organisasi profesi dapat melayani anggotanya dari sisi kesejahteraan kehidupan bersama dalam organisasi, serta dapat memberikan perlindungan hukum untuk kelancaran kegiatan profesi dan keamanan para anggota dalam bekerja, berikut pengabdiannya kepada masyarakat.

Asosiasi profesi mengawal profesionalitas para anggota. Profesionalitas menunjuk pada kualitas atau sikap pribadi individu terhadap suatu pekerjaan. Untuk profesional, berbagai macam cara dapat ditempuh, salah satunya membentuk komunitas atau organisasi profesi. Organisasi tersebut bisa berfungsi untuk mengayomi, melindungi, dan tempat berbagi para pekerja untuk mencapai profesionalisme.

Praktiknya, semakin banyak pekerjaan yang diakui sebagai profesi maka akan semakin banyak pula organisasi profesi yang muncul.

Asosiasi profesi dapat membangun kepercayaan dalam diri masyarakat mengenai adanya persepsi tentang kompetensi. Dengan adanya organisasi profesi dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan anggota, sehingga kompetensi yang andal pada diri anggota dapat terwujud.

Para anggota asosiasi profesi juga tidak hanya memberikan sejumlah iuran rutin. Sebuah cara yang tidak efektif dalam mewujudkan profesionalitas. Anggota organisasi dituntut untuk berpartisipasi aktif dalam organisasi seperti mengomunikasikan berbagai pikiran dan pengalaman yang mengarah kepada pembaruan dan perbaikan mutu pelayanan.

Anggota asosiasi profesi secara aktif dapat melakukan evaluasi diri, baik secara perorangan mapun kelompok dalam hal praktik profesional, mengacu pada standar profesi yang telah ditetapkan oleh organisasi.

Ngabei Mart, dari Tamanmartani untuk Tamanmartani

Basis komunitas profesi yang ada di Tamanmartani, oleh Pemerintah Kalurahan selanjutnya dikelola lebih masif dalam platform belanja daring, bernama ngabeimart.com. Terlebih saat pandemi Covid-19, dengan minimnya transaksi bertatap muka, terobosan ini menjadi relevan.

Komoditas yang di-display di Ngabei Mart adalah kebutuhan harian, produk Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM, farmasi dan apotek, fashion, peralatan elektronik, alat rumah tangga, furnitur dan mebel, alat tulis dan kantor, aksesoris handphone, perawatan hewan, bahan bangunan, jasa, tiket wisata, dan booking homestay.

Tidak lagi untuk warga perkotaan, online marketplace via Google, misalnya, terasa familier untuk masyarakat pedesaan. Karena, banyak calon pembeli yang memanfaatkan Google untuk mencari tahu, apa yang mereka akan beli. Integrasi antara e-commerce dengan Google Shopping akan memudahkan para penjual dengan menampilkan produk mereka pada halaman awal pencarian.

Di tengah warga, media sosial dirasa menjanjikan untuk berjualan online. Media sosial biasanya bisa dimanfaatkan jika target pasar yang ingin dijangkau berada di daerah yang sama. Karena, pembayaran sistem Cash on Delivery atau lazim disebut COD, dianggap lebih tepercaya dibanding harus membayar via transfer.

Peluang yang besar tersebut membuat Pemerintah Kalurahan Tamanmartani untuk mendorong para produsen semakin peka membaca pasar, termasuk tren dan kebiasaan konsumen, agar bisa mempersiapkan produk dan cara promosi yang sesuai. Lewat Ngabei Mart, warga bisa melakukan pengelolaan dan pengembangan bisnis agar hasil penjualannya maksimal.

“Kembali ke perekonomian desa, meski tidak terlalu kentara, basis komunitas profesi yang sudah ada itu kemudian di-display lebih marketable dalam platform daring Ngabei Mart. Dari Tamanmartani untuk Tamanmartani. Memutarkan uang selama mungkin di Tamanmartani. Ngabei Mart bisa sebagai pemancing,” kata Lurah Gandang optimis.

Belakangan, situs belanja daring atau e-commerce memang menjadi fenomena populer di Indonesia. Ada yang berpandangan, dapat menjadi tulang punggung perekonomian kota-kota kecil dan pedesaan. Pemasaran berbagai produk unggulan desa dapat dipermudah dengan adanya sistem perdagangan elektronik.

Dengan adanya e-commerce, para perajin, petani, peternak, dan produsen lainnya dapat menjual produk mereka tanpa perlu bertemu langsung dengan para pembeli, sehingga produk yang dijual dapat dipasarkan, baik nasional maupun internasional.

Mengapa harus e-commerce? Alasan utamanya, tentu karena preferensi publik akan internet yang semakin meningkat. Bertambahnya jumlah pengguna internet memungkinkan terbukanya peluang e-commerce bertambah besar. Lihatlah, sekarang ini mudah rasanya menemukan gawai canggih di berbagai lapisan masyarakat. Dengan begitu, sebagian dari mereka dapat menikmati layanan belanja online, baik melalui media sosial, marketplace, maupun toko online biasa.

Alasan kedua adalah, semakin majunya teknologi finansial. Keberadaan perusahaan teknologi finansial dengan layanan pembayaran online melalui aplikasi e-wallet maupun sistem kredit (paylater) terbukti memudahkan proses belanja online. Layanan yang disediakan oleh perusahaan seperti OVO Paylater, Shopee Paylater yang sekarang berubah menjadi SPayLater, serta Go-Pay Later berhasil meningkatkan persentase penjualan.

Ketiga, basis logistik atau pengantaran barang yang masih di seputaran Tamanmartani dapat diandalkan dan lebih praktis, serta membantu semua pihak untuk mendapatkan produk terbaik dengan harga yang bagus pula, sehingga berbagai produk bisa sampai ke konsumen dengan harga relatif terjangkau. Dengan kata lain, harus ada upaya memotong mata rantai logistik yang terlalu panjang dan berbelit, agar distribusi produk lebih terbantu.

Ngabei Mart pada praktiknya, benar-benar berkontribusi pada terjadinya transaksi dari dan oleh warga Tamanmartani. Pemerintah Kalurahan Tamanmartani pernah melakukan survei konsumsi beberapa waktu lalu. Sebagian kebutuhan warga kini bisa dipenuhi oleh tetangga sendiri, karena terhubung secara daring.

“Kalau survei konsumsi itu misalnya kebutuhan beras warga sekian. Kalau bisa ditutup oleh orang tamanmartani sendiri kan bagus. Itu sebabnya Ngabei Mart dibuat,” ungkap Lurah Gandang.

Ia menjelaskan, jumlah warga Tamanmartani sebanyak 17.523 jiwa. Rata-rata tiap orang membutuhkan 0,3 kg per harinya, berarti sekitar 6 ton per harinya secara keseluruhan. Lahan pertanian di Tamanmartani sekitar 350 Ha. Semisal dihitung bisa panen padi dua kali saja per tahun, dengan asumsi per Ha menghasilkan 7 ton beras, terjadilah surplus.

Warga Tamanmartani tidak lagi memerlukan beras dari tempat lain. Apabila ada yang membeli beras dari tempat lain, boleh dibilang aneh. Guncangan ekonomi di Tamanmartani, faktanya berbeda dari kalurahan sekitarnya. Di Tamanmartani, bila benar-benar kepepet tidak bisa makan, berutang beras ke tetangga yang punya sawah, kemungkinan besar akan diberi.

Ngabei Mart, secara tidak langsung, dapat menjadi magnet kunjungan wisata. Ngabei Mart sebenarnya adalah promosi wisata Tamanmartani dengan sendirinya. Melalui internet, promosi untuk menarik orang untuk datang bisa diraih dengan waktu yang singkat, biaya yang terjangkau, dan yang terpenting adalah jangkauan promosi yang lebih luas.

Bertahap, pangsa pasar untuk penjualan bisa mencapai tingkat dunia internasional. Produk Indonesia yang disukai pasar internasional, misalnya produk-produk barang kesenian seperti patung atau benda seni lainnya.

Sementara hasil perkebunan yang bisa diandalkan untuk menembus pasar internasional seperti kopi dan cokelat bisa diatur dengan asosiasi tertentu, sehingga mampu menjaga keaslian dan kualitas dari produksinya.

Dan yang tidak kalah penting, Ngabei Mart adalah media edukasi bagi warga Tamanmartani. Perlahan, warga Tamanmartani mampu mencapai kompetensi dan skill yang mampu bersaing di kancah internasional.

Meski demikian, peluncuran Ngabei Mart bukan tanpa masalah berarti. Dalam pemanfaatan Ngabei Mart, diperlukan tahapan-tahapan yang ditentukan oleh Pemerintah Kalurahan Tamanmartani, mulai dari bagaimana penetrasi internet di desa dan cara untuk meningkatkannya, bagaimana Ngabei Mart dikembangkan serta dimanfaatkan sedemikian rupa, lalu bagaimana warga memperoleh edukasi tentang e-commerce.

Selanjutnya, diperlukan pelopor gerakan melek e-commerce di Tamanmartani, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh semua kalangan dan golongan. Dengan tahapan-tahapan tersebut, diharapkan warga mampu meningkatkan pemahamannya akan Ngabei Mart yang kemudian membuat kemandirian dalam memanfaatkannya secara baik dan benar, sehingga meningkatkan kesejahteraan, terutama perekonomian desa. Partisipasi dari warga Tamanmartani jelas menentukan.

Menjawab Revolusi Industri 4.0

Ngabei Mart, setidaknya dapat mengurai benang kusut kemiskinan di pedesaan. Pemberdayaan masyarakat agar bisa mandiri, kompetitif, dan mampu bersaing distimulasi dengan cara kerja baru, cara digital. Meski kebutuhan pemberdayaan disesuaikan dengan tantangan, tapi tetap dengan memperhatikan kearifan lokal (local wisdom) masyarakat.

Hadirnya Revolusi Industri 4.0 menimbulkan dampak persaingan yang ketat. UMKM didorong agar mampu mengatasi tantangan itu dengan penuh kreativitas, hingga ke teknologi. Revolusi Industri 4.0 identik dengan situasi kerja di mana manufaktur terhubung secara digital yang ditopang oleh empat unsur, yaitu Internet of Things, Big Data, Cloud Computing, dan Artificial Intelligence.

Digitalisasi diketahui masuk ke banyak industri. Peran-peran produksi yang selama ini dikerjakan oleh tenaga manusia, mulai digantikan oleh program-program digital, sehingga banyak sektor pekerjaan yang hilang. Tidak hanya pabrik-pabrik, tetapi juga beragam profesi, seperti akuntan, analis keuangan, konsultan, dokter, penerjemah, arsitek, pustakawan, telemarketer, kasir, pegawai pos, teller, agen, masih banyak yang lainnya.

Fenomena baru yang kemudian muncul dan masif adalah pemasaran produk yang dilakukan secara digital. Selain itu, harga gawai dan internet pun semakin terjangkau, serta bermunculan para wirausaha UMKM yang mengandalkan e-commerce.

Revolusi Industri 4.0 membawa perubahan pada daya saing produk, pangsa pasar yang meluas, peningkatan pendapatan, pembukaan lapangan pekerjaan baru. Kini lebih mudah turut dalam pelatihan untuk mendapatkan tambahan pengetahuan tentang produk dan produksi yang baik, kemasan produk yang komersial, jaringan pemasaran yang baru, pengabdian pembinaan perbaikan kemasan. Produk pun kemudian dapat dipasarkan secara digital.

Kabar baiknya, dalam sudut pandang era digital, generasi milenial dan eksistensinya di media sosial ternyata mampu memberi energi yang besar dalam pengembangan desa. Generasi milenial dalam pengembangan desa juga dapat berkomitmen menjaga tradisi sosial budaya, sehingga identitas diri dapat dipertahankan dan kelestarian alam dapat terjaga.

Selain jumlahnya yang besar, karakter generasi milenial secara tidak langsung sangat mendukung proses promosi. Peran generasi milenial mampu menjadi alat pemerata pembangunan dan mengatasi kesenjangan pertumbuhan ekonomi. Strategi pengemasan dan pengembangan desa kini tidak dapat melupakan peran generasi milenial.

Karena bagaimanapun, pengembangan desa terkait erat dengan aspek sosial dan lingkungan. Selalu saja muncul kekhawatiran akan dampak industri di desa, lantas mendorong pentingnya komitmen seluruh komponen, termasuk generasi milenial. Terlebih, banyak orang di kota yang perlu berkunjung ke desa, dengan segenap kelebihannya.

“Saling tepo seliro dan tenggang rasa harus selalu ada di desa. Saya yakin, 10 tahun lagi bisa menjadi sangat langka, kalau tidak dirawat. Kemampuan desa menjaga semua itu, menarik orang kota untuk hadir di desa,” ucap Lurah Gandang.

Jadi, penyelenggaraan dan pengembangan desa mampu menjadi daya tarik wisata dan menjadi kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia, sehingga dapat dikenal oleh masyarakat Iokal maupun dunia, akan tetapi tetap menjaga keutuhan dan keasliannya.

Orang yang hadir di Tamanmartani bisa jadi adalah mereka yang merasakan kejenuhan terhadap bentuk wisata modern dan membutuhkan kembali suasana kehidupan di alam pedesaan serta berinteraksi dengan masyarakat berikut aktivitas sosial budayanya.

Ngabei Mart dan tujuan membangun branding desa wisata Tamanmartani pada akhirnya dapat selaras dan sinergi. Semua kekuatan bersanding untuk saling melengkapi. Karena, pelayanan prima tentu saja berfondasi kekompakan warga dalam menerima pengunjung dan merawat citra baik masyarakat. Di alam digital, sekalinya terdengar kabar kurang sedap, bisa berpengaruh sangat signifikan pada eksistensi sebuah entitas, bahkan untuk mereka yang sudah sangat terkenal dan dibutuhkan.

Menyoal perekonomian Tamanmartani, Lurah Gandang berpikir sangat terbuka. Dinamika Tamanmartani, asalkan untuk kemajuan dan hidup yang lebih baik, akan diterima sepenuh hati, sebagai bagian dari proses hidup. Ia yakin, kelak, semua ini akan dituai hasil baiknya, entah di tahun ke berapa.

“Orang itu sudah percaya saya saya tidak bakal nakal soal uang. Di masyarakat, saya sudah dikenal kaya. Jadi, masyarakat percaya kalau saya tidak bakal nakal. Misalnya, membuat program hanya untuk menghabiskan anggaran. Itu yang saya pegang sampai sekarang,” pungkas Lurah Gandang mengakhiri pembicaraan.

Bahan Bacaan

Larson, Magali Sarfatti. 1978. The Rise of Professionalism: a Sociological Analysis. Berkeley, California: University of California Press. h. 208.

Ikatan Konselor Indonesia. 2008. Arah Pemikiran Pengembangan Profesi Konselor. Padang: IKI.

Alpha JWC Ventures dan Kearney. 2021. ‘Unlocking Next Wave of Digital Growth: Beyond Metropolitan Indonesia’.

Rusdi Hidayat N. dan Sonja Andarini. 2020. Jurnal Bisnis Indonesia (JBI) UPN Veteran Jawa Timur. Edisi Khusus Pengabdian Masyarakat. ‘Strategi Pemberdayaan UMKM di Pedesaan Berbasis Kearifan Lokal di Era Industri 4.0’.

Rosvita Flaviana Osin dan Ni Komang Purwaningsih. ‘Peran Generasi Milenial dalam Pengembangan Desa Wisata Berbasis Kearifan Lokal’. Jurnal Ilmiah Manajemen dan Bisnis Undiknas Denpasar. Volume 5. No. 2. Desember 2020.

Add Comment