Divaksin Bukan Berarti Bebas Covid-19

Bupati Sleman 2010-2015 dan 2016-2021, Sri Purnomo. HUMAS PEMKAB SLEMAN

Awal 2021, Bupati Sri Purnomo terpapar Covid-19, hanya sepekan usai divaksin. Karena tanpa gejala, Pak Sri lantas melakukan isolasi mandiri di rumah dinas. Dengan pola makan sehat, olahraga teratur, berpikir positif, dan optimisme, ia berhasil melewati masa sulit itu.

Tahun 2020 menjadi tahun fenomenal bagi segenap umat manusia. Dunia dilanda pandemi coronavirus (Covid-19). Pandemi benar-benar mengubah tatanan kehidupan masyarakat, tak terkecuali Kabupaten Sleman.

Pada berbagai kesempatan, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengajak kepada seluruh warganya untuk meningkatkan imunitas tubuh melalui olahraga yang baik dan rutin, makan makanan bergizi, kemudian jangan sampai stres, karena dapat mengganggu imunitas tubuh.

Selain itu, Sultan meminta warga mampu membangun kedisiplinan menjaga kesehatan secara mandiri. Hal itu untuk menghindari potensi tertular Covid-19. Menurut Sultan, meluasnya persebaran kasus Covid-19 di berbagai negara perlu menjadi kewaspadaan seluruh pihak. Meski demikian, akan lebih baik apabila setiap individu juga memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya sendiri dengan membudayakan hidup sehat.

Berbagai daya dan upaya pun terus dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman untuk menekan kasus penyebaran Covid-19. Hasilnya, meski merupakan kabupaten dengan peringkat pertama terbanyak kasus Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta, pada kenyataannya, Sleman berhasil menjaga persentase tingkat kematian rendah.

Salah satu potongan kisah menarik datang dari kasus Bupati Sleman periode tahun 2010-2015 dan 2015-2020, Sri Purnomo. Ketika itu, Kamis, 21 Januari 2021, melalui akun Instagram @sripurnomosp, ia mengumumkan ke publik bahwa dirinya terpapar Covid-19.

Dalam akunnya tersebut, Bupati Sri Purnomo menulis, dirinya terpapar virus tersebut, setelah tujuh hari mendapatkan suntikan vaksin corona Sinovac pada 14 Januari 2021. Untuk diketahui, Pak Sri menjadi orang pertama yang mendapat vaksin di Kabupaten Sleman.

Sebelumnya, pada Rabu, 20 Januari 2021, Pak Sri menjalani tes swab antigen, dengan hasil positif. Hasil ini dilanjutkan dengan tes swab PCR. Hasil yang ia terima pada keesokan harinya, yakni Kamis, 21 Januari 2021, adalah positif.

Pada siang harinya, di hari yang sama, tepatnya pukul 13.00, Pak Sri berangkat ke rumah sakit untuk melakukan rontgen thorax dan CT Scan thorax. Hasilnya bagus. Paru-paru Pak Sri, bersih.

Meski dinyatakan positif Covid-19, kondisi kesehatan Pak Sri, prima. Walaupun pada malam sebelumnya, Selasa, 19 Januari 2021, sempat batuk-batuk dan suhu badan naik di angka 37,6 derajat.

Jadi, usai melakukan rontgen thorax dan CT Scan thorax, kondisi kesehatan Pak Sri 100 persen sehat dan tidak menunjukkan gejala penyakit apa pun. Karena tidak menunjukkan gejala apa pun atau termasuk pasien OTG (Orang Tanpa Gejala) maka oleh pihak rumah sakit disarankan melakukan isolasi mandiri di rumah.

Sementara itu, keluarga dan staf yang setiap hari melakukan interaksi dengan Pak Sri, telah dilakukan swab antigen dan hasilnya negatif. Kepastian tersebut sangatlah penting, agar dapat dilakukan penanganan dengan tepat.

Suami Kustini Sri Purnomo ini menceritakan, meski tidak merasakan gejala, dirinya tetap menjalankan isolasi mandiri dengan ketat. Pak Sri berada di ruangan terpisah dan tidak melakukan kontak dengan anggota keluarga dan para staf.

Bahkan Sri Purnomo masih menjalankan kegiatan sebagai Bupati Sleman dengan bekerja di rumah maupun melalui daring. Pertemuan nasional, misalnya, diikuti dengan daring. Peresmian-peresmian bisa dilaksanakan dari rumah. Tugas-tugas kepala daerah pun terlaksana, tidak ada kendala apa pun.

Selama menjalani isolasi mandiri, Pak Sri banyak mengonsumsi makanan yang dapat menambah imunitas tubuh. Ia banyak menambah buah-buahan yang ada di rumah dinas, seperti rambutan, manggis, alpukat, jambu kristal, kelengkeng, dan jeruk nipis. Buah-buahan itu menambah daya imun tubuhnya semakin kuat.

Selain itu, rupanya Pak Sri tetap menyempatkan diri melakukan aktivitas olahraga seperti biasanya. Hanya saja, kali ini aktivitas tersebut ia lakukan tanpa teman di rumah dinas. Pagi hari, Pak Sri rutin setelah sholat Subuh melakukan aktivitas olahraga gerak jalan dan senam ringan untuk menjaga tubuh agar sehat dan meningkatkan imun.

Selain olahraga ringan, Sri Purnomo rajin melakukan kegiatan memberi makan ikan nila di depan pendopo dan ikan lele di samping rumah. Bukan itu saja, ia pun masih aktif mengontrol kondisi kebun buah-buahan di lingkungan rumah dinas. Selama menjalani isolasi mandiri, selain bekerja dan berkebun di rumah, Pak Sri mengisi waktunya dengan membaca buku.

Perkembangan kesehatan Pak Sri saat menjalani isolasi mandiri selalu dipantau langsung oleh tim dokter penanggung jawab penyakit dalam RSUD Sleman.

Setelah melakukan isolasi mandiri, pada Senin (1/2/2021), Pak Sri melakukan swab antigen dan hasilnya negatif. Ia pun dipastikan sembuh dari Covid-19 dan kembali bekerja seperti biasa, keesokan harinya, Selasa (2/2/2021).

Tips Penting Selama Isolasi Mandiri

Sri Purnomo membagi tips seputar kesembuhannya tersebut. Menurutnya, selain menaati apa yang disarankan tim medis, seperti pola hidup dan minum obat yang harus teratur, selama menjalani perawatan harus dijalani dengan penuh optimistis dan berpikiran positif.

Tips penting lainnya, yakni minum vitamin dan obat, berolahraga secara rutin, serta memperbanyak makan buah-buahan, sehingga bisa menambah daya imun. Langkah-langkah ini diyakini dapat mempercepat proses kesembuhan. Prinsipnya, memakan buah yang ditanam dan menanam buah yang dimakan.

Ia berpesan kepada seluruh warga Kabupaten Sleman, terutama, dan publik yang lebih luas, pada umumnya, agar selalu disiplin menerapkan protokol 5M, yakni mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Sementara untuk meningkatkan imunitas tubuh, warga harus melakukan gaya hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan sehat dan rajin berolahraga.

Sri Purnomo pun menyatakan komitmennya untuk menjadi pendonor plasma konvalesen. Apabila memang memenuhi persyaratan kesehatan, ia siap menjadi pendonor plasma konvalesen. Ketika itu memang bermanfaat bagi masyarakat, ia siap.

Plasma konvalesen adalah plasma darah yang diambil dari pasien Covid-19 yang telah sembuh, dan kemudian diproses agar dapat diberikan kepada pasien yang sedang dalam masa pemulihan setelah terinfeksi. Jadi, donor darah plasma konvalesen adalah donor darah dari penyintas Covid-19 untuk membantu pasien lain yang belum sembuh dari corona.

Dari pengalaman yang telah dilalui tersebut, menurutnya, meski telah divaksin, seseorang tetap bisa terpapar Covid-19. Hal ini perlu menjadi pelajaran masyarakat agar semakin berhati-hati dan lebih disiplin mematuhi protokol kesehatan. Artinya, vaksinasi bukan satu-satunya pencegahan penyebaran Covid-19.

Vaksin hanya mendorong pembentukan kekebalan spesifik pada penyakit Covid-19 agar terhindar dari tertular maupun kemungkinan sakit berat. Vaksin bukanlah sebuah obat. Vaksin mendorong pembentukan kekebalan spesifik pada penyakit Covid-19 agar terhindar dari tertular maupun kemungkinan sakit berat.

Ia menjelaskan, jika perlindungan yang diberikan vaksin Covid-19, tetap perlu diikuti dengan kepatuhan menjalankan protokol kesehatan dengan disiplin memakai masker, cuci tangan pakai sabun, serta menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

Kasus positif virus Covid-19 yang dialami Sri Purnomo ini, menurut dr Gunadi, SpBA, PhD, menjadi bukti sejumlah kondisi terkait vaksin. Gunadi adalah Ketua Pokja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Vaksin hanya berfungsi menghalangi munculnya gejala. Jadi, masih ada kemungkinan seseorang mengalami Covid-19 tetapi memiliki gejala yang lebih ringan atau sama sekali tidak mengembangkan gejala.

Mendapatkan vaksin tidak mengurangi risiko seseorang menjadi pembawa virus dan menularkannya ke orang lain. Faktanya, sebagian besar vaksin tidak sepenuhnya melindungi dari infeksi, meskipun dapat menghalangi munculnya gejala. Akibatnya, orang yang divaksinasi tanpa disadari dapat membawa dan menyebarkan patogen. Bahkan mereka dapat menjadi penyebab epidemi.

Setelah mendapatkan vaksin, bukan berarti seseorang harus melalaikan protokol kesehatan. Orang-orang yang telah mendapatkan vaksin tetap harus memakai masker, rutin mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Menurut Gunadi, masyarakat harus memahami bahwa vaksin perlu waktu untuk memberi dampak. Vaksin bisa berfungsi membentuk sistem imun membutuhkan waktu, dan tidak dalam waktu singkat. Secara umum, kira-kira sepuluh hari sampai dua minggu, baru terbentuk imun terhadap infeksi Covid-19 setelah vaksinasi.

Karena itulah, bisa diterima logika jika Bupati Sleman Sri Purnomo positif Covid-19, hanya sepekan setelah menerima vaksin. Meski tidak bisa diketahui dengan jelas, kapan virus itu menginfeksi, apakah sebelum atau sesudah Pak Sri menerima vaksin.

Faktor kedua, dalam kasus vaksin Sinovac, penerima akan menjalani dua kali penyuntikan dengan jeda waktu 14 hari. Pak Sri baru dosis pertama, belum dosis kedua. Tingkat imunnya lebih tinggi lagi pada dosis kedua. Artinya, bukan begitu divaksin jadi kebal. Masyarakat perlu diedukasi mengenai hal ini.

Pengakuan Sri Purnomo yang mengatakan sejauh ini kondisinya baik-baik saja, membuktikan fungsi vaksin yang membantu meringankan gejala. Sebab, tidak ada vaksin yang 100 persen bisa melindungi, namun kebanyakan mampu menekan dampak serangan yang diterima tubuh.

Vaksin TB atau tuberkulosis, misalnya, yang diberikan kepada seseorang, tidak serta merta membuatnya kebal. Namun, ketika ada serangan, setidaknya dalam banyak kasus, dampaknya lebih ringan, seperti tidak menyerang otak. Kondisi semacam ini harus dipahami masyarakat agar tidak mengaitkan vaksin yang dijalani Sri Purnomo dengan status positifnya.