Edukasi Pandemi, Sebuah Harga Mati

Ketua IBI Cabang Sleman, Siti Purwanti. HUMAS PEMKAB SLEMAN

Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Sleman tak henti-hentinya mengedukasi warga masyarakat seputar pernak-pernik pandemi Covid-19. Edukasi ditempuh melalui program bakti sosial berkala, hingga ke kalurahan terpencil di Sleman. Edukasi dan sosialisasi menyertakan bantuan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para bidan. Teruntuk warga masyarakat, edukasi tentang status penyintas Covid-19 yang bukanlah aib tak lupa terus dipahamkan.

Pada awal kasus Covid-19 di Sleman, IBI cabang Sleman memerintahkan seluruh bidan yang ada di Sleman agar melakukan bakti sosial untuk masyarakat yang membutuhkan.

Ketua IBI Cabang Sleman, Siti Purwanti, mengatakan jika seluruh anggota IBI selalu berkeliling melakukan baksos, bahkan dijadwalkan rutin per wilayah.

Ia mengungkapkan, ketika awal Covid-19 seluruh anggota IBI Sleman berkeliling ke seluruh wilayah Sleman agar wilayah terpencil pun terjangkau baksos. Selain itu, katanya, para anggota IBI juga menyasar para bidan yang melakukan praktik mandiri.

“Pada awal kasus Covid-19 di Sleman, seluruh anggota IBI Sleman kami minta untuk melakukan kegiatan bakti sosial seperti pembagian sembako di berbagai titik. Bakti sosial juga dilakukan oleh bidan yang membuka praktik mandiri di rumah mereka, bahkan Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, juga ikut melakukan penyuluhan kepada warga. Insyaallah semua wilayah sudah terjangkau oleh bakti sosial kami,” jelasnya.

Untuk diketahui, IBI Sleman terdiri dari 10 ranting yang terbagi dalam beberapa wilayah, seperti wilayah ranting timur, wilayah ranting tengah, wilayah ranting utara, wilayah ranting barat, dan wilayah ranting selatan.

“Ada juga IBI di RS Sadewa, IBI RSUD Sleman, IBI dari Universitas Unriyo serta IBI dari Universitas Ahmad Yani. Semuanya total ada 10. Baksos ini kita adakan satu titik seperti ke warga di sekitarnya dan selalu menghadirkan Pak Dukuh, Pak RT, dan Pak RW. Alhamdulillah, dibanding kabupaten lain, insyaallah kita paling rajin,” ungkapnya.

Di samping itu, para anggota IBI Sleman juga gencar memberikan pengetahuan tentang bahaya Covid-19 kepada warga masyarakat, seperti edukasi dan sosialisasi agar masyarakat disiplin menggunakan masker.

“Dari pengurus hadir kemudian kita memberikan penyuluhan ke warga masyarakat, kami mengadakan penyuluhan tentang pencegahan. Selain itu, kami mengajarkan masyarakat untuk selalu menggunakan masker, menjaga jarak, serta cara mencuci tangan yang benar seperti anjuran dari pemerintah,” terangnya.

Sementara untuk para bidan yang membuka praktik mandiri juga diberi bantuan Alat Pelindung Diri (APD). Menurutnya, APD sangat penting bagi para bidan, karena mereka bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“Bidan ikut mendapatkan beberapa bantuan dari berbagai pihak yang paling krusial waktu itu, yakni APD,” katanya.

Ia mengungkapkan, jika dalam pencegahan penularan Covid-19 juga menemukan hambatan, salah satunya minimnya ketersediaan APD untuk para bidan yang membuka praktik mandiri.

“Memang pada awalnya kami kesulitan mendapatkan APD untuk bidan yang membuka praktik mandiri. Nah, beberapa saat kemudian kami konfirmasi lewat IBI pusat sehingga pusat yang mengeluarkan solusi, yakni dengan menggandeng berbagai pihak melalui program CSR (Corporate Social Responsibility),” paparnya

Selain mengedukasi masyarakat mengenai protokol kesehatan, pihaknya juga tak henti-hentinya memberikan pengertian kepada warga bahwa para penyintas Covid-19 bukan sebuah aib. Mereka harus diberikan dukungan agar terus semangat dalam menjalani hidupnya.

“Warga kami berikan pemahaman, jika ada warga yang melakukan isolasi mandiri itu bukanlah sebuah aib, sehingga mereka jangan dikucilkan tapi harus selalu kita dukung dan berikan semangat,” katanya.

Dalam praktiknya, selama masa pandemi Covid-19, ikatan bidan ini juga telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, seperti pengaturan jalur untuk pasien yang datang dan pergi, pengecekan suhu tubuh pasien, dan pengecekan pernapasan pasien. Untuk pasien yang akan melakukan persalinan, penunggu pasien akan diminta menunjukkan surat keterangan kesehatan.

“Kalau pasien akan melahirkan, penunggu harus dalam kondisi aman dan sehat, yang dibuktikan dengan surat hasil rapid atau swab test. Kemudian yang nunggu hanya boleh satu orang, tidak boleh banyak-banyak,” jelasnya.

Namun, jika pasien tersebut ternyata terpapar Covid-19 maka akan dilaporkan ke dinas terkait agar pasien segera mendapatkan penanganan. Ia menegaskan sekali lagi jika semua bidan sudah memahami SOP tersebut.

“Jadi, koordinasinya dari bidan praktik mandiri lapor ke bidan koordinator di wilayah setempat, kemudian wilayah setempat akan melaporkan ke dinas terkait, sehingga pasien itu segera bisa ditolong di tempat yang seharusnya ditolong. Kita semuanya sudah memegang aturan itu,” ungkapnya.

Siti Purwanti menceritakan pada awal kasus Covid-19 masuk ke Indonesia, hampir seluruh bidan yang ada di Sleman menutup praktik mereka. Ini diakibatkan oleh adanya larangan buka dari pemerintah. Selain itu, kebanyakan usia bidan di Sleman termasuk usia yang rawan, sehingga mereka memutuskan untuk menutup sementara prakteknya.

“Pada awal kasus Covid-19, hampir seluruh bidan di Sleman menutup praktik mereka sekitar tiga bulan karena memang ada larangan dari pemerintah. Kebanyakan dari bidan ini di usia sudah rawan, kemudian memang sudah ada comorbid atau penyakit bawaan. Oleh karena itu, dari keluarga pun tidak memperbolehkan mereka untuk membuka praktik,” jelasnya.

Namun, lanjutnya, setelah tiga bulan, beberapa bidan mulai membuka kembali praktiknya. “Justru masalah baru mulai muncul ketika para bidan membuka kembali praktiknya, yakni adalah mengembalikan rasa percaya diri pasien karena kebanyakan pasien takut untuk keluar rumah,” tuturnya.

Berbagai cara pun dilakukan oleh para bidan ini untuk mengembalikan kepercayaan pasien, salah satunya dengan cara memberikan banyak informasi kesehatan. Selain itu, para bidan ini juga kerap melakukan konsultasi gratis melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp.

“Pemberian informasi kesehatan ini jadi salah satu bahan pendekatan kami ke pasien. Selanjutnya, untuk ibu hamil yang tetap khawatir dan tidak mau datang periksa, kami lakukan layanan jemput bola, yakni dengan mendatangi pasien. Bidan-bidan juga mengadakan konsultasi gratis melalui Whatsapp,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah selama kasus Covid-19 di Sleman, bidan yang membuka praktik mandiri pernah ada yang terpapar Covid-19, Siti Purwanti mengatakan bahwa sampai saat ini terdapat 10 kasus bidan yang dinyatakan positif Covid-19.

“Sampai dengan saat ini ada 10 kasus, tetapi 10 itu tidak serta-merta terpapar di tempat praktiknya. Jadi, ada yang tertular di Puskesmas, ada yang tertular pada saat akreditasi kampus, karena mau tidak mau kan harus ketemu, walaupun akreditasinya online, tapi dia di dalam satu tim kecil yang harus praktik,” jelasnya.

Bahkan, katanya, saat awal kasus Covid-19 masuk di Sleman, ada satu bidan yang terpapar kasus Covid-19, dan ini membuat gempar warga Sleman.

“Ini sempat viral waktu itu, Covid-19 masih hangat-hangatnya, masih jarang lah petugas yang positif Covid-19. Kasus ini sampai masuk di Facebook, sampai pihak Kapanewon turun tangan, bahkan kepala dinas juga turun tangan. Akan tetapi, alhamdulillah semua tertangani,” ungkapnya.

Ia berharap, ke depannya semua fasilitas kesehatan di Sleman telah siap dalam segala hal guna memberikan pelayanan kesehatan warga masyarakat.

“Jadi, pasien yang sudah mau melahirkan tidak perlu masih harus mencari tempat untuk bersalin dulu. Mereka kebanyakan sulit dapat tempat. Kami sebagai pelaku bidan memang merasa kurang nyaman juga,” celetuknya.

Melakukan Pendampingan pada Ibu Hamil di Tengah Pandemik COVID-19

Momen kehamilan adalah momen yang dinantikan oleh semua calon ibu. Rasa was-was dan khawatir tentu saja dapat menghampiri kapan saja, di sinilah seorang bidan harus mampu memberikan pendampingan, penyuluhan, dan bahkan edukasi yang tepat sehingga para calon ibu mampu melewati masa kehamilan dengan tenang.

Edukasi tak hanya diberikan kepada calon ibu, melainkan juga para calon ayah agar selalu menjadi sosok siaga saat mendampingi istrinya. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 saat ini, kesehatan ibu hamil harus benar-benar terjaga baik, dari asupan yang dikonsumsi sehari-hari hingga kehigienisan makanan.

Pola hidup sehat dan rajin cuci tangan setiap selesai beraktivitas harus selalu dipraktikkan hingga kapan pun, meski telah melahirkan dan memiliki balita, karena sejatinya balita juga sangat rentan terhadap penularan Covid-19. Oleh sebab itu, edukasi mengenai pencegahan penularan Covid-19 perlu diberikan secara tepat oleh tenaga kesehatan yang berkompeten.

Tak hanya sampai di situ, para bidan juga harus mampu menginformasikan bahwa kunjungan ibu hamil pada saat pandemi sebaiknya dikurangi, selama tidak ada gejala darurat. Hal ini dimaksudkan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yang memang sangat berbahaya bagi ibu hamil dan menyusui, sebab kondisi kesehatannya dikhawatirkan sangat rentan tertular.

Bahkan, saat ini para ibu hamil diwajibkan untuk mengikuti rapid test pada saat melahirkan. Di sinilah tugas seorang bidan mampu menyampaikan informasi dengan tepat dan membantu para ibu mengikuti rapid test dengan kondisi yang nyaman dan tenang.

Pelayanan Pascamelahirkan dan Perawatan Bayi di Tengah Pandemi Covid-19

Pascamelahirkan juga masa-masa yang sangat rentan dengan kondisi pandemi saat ini, sehingga seorang bidan memberikan informasi untuk semua orang tua baru untuk mengikuti protokol kesehatan yang telah ditentukan yaitu tidak berkerumun, sering mencuci tangan, menjaga jarak, dan mengenakan masker.

Terlebih saat bayi mulai dikunjungi banyak orang, protokol kesehatan harus tetap terjaga, seperti wajib cuci tangan sebelum menggendong bayi. Sebisa mungkin tidak menggendong bayi saat berkunjung juga dinilai jauh lebih baik, karena tidak dapat dipastikan seseorang membawa virus atau tidak. Meskipun tubuh sehat, tapi diperlukan pemahaman bahwa bayi juga sangat rentan terhadap Covid-19.

Seorang bidan tidak hanya memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan. Seorang bidan juga dilatih mampu memberikan pelayanan homecare dengan standar kesehatan yang telah ditetapkan. Peluang karir seorang bidan pun sangat luas, tak hanya mengabdikan diri di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lain, melainkan juga mampu menjadi seorang pegawai negeri sipil (PNS) atau membuka praktik mandiri.