IBI Sleman Bantu Pemulihan Covid-19 di Sleman

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Sekretariat Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Sleman. (Foto: Pemkab Sleman)

Godean-Pandemi Covid-19 masih berlangsung dan berhasil mengubah tatanan global, bahkan hingga ruang terdalam kehidupan manusia. Lebih dari sejuta kasus positif di Indonesia bukanlah angka yang sedikit. Bukan hanya tentang kesehatan, pandemi berpengaruh signifikan pada perekonomian dan tata pemerintahan sebuah negara.

Pada tingkat Kabupaten Sleman, dampak luas pandemi ternyata justru merekatkan kegotongroyongan warga. Upaya saling bantu ini terjadi di semua lini, dengan tidak membeda-bedakan kelompok masyarakat. Seperti yang dilakukan oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI) cabang Sleman.

Pada awal kasus Covid Sleman, IBI cabang Sleman memerintahkan seluruh bidan yang ada di Sleman agar melakukan bakti sosial untuk masyarakat yang membutuhkan.

Ketua IBI Cabang Sleman, Siti Purwanti mengatakan jika seluruh anggota IBI selalu berkeliling melakukan baksos, bahkan kita jadwalkan rutin per wilayah.

Ia mengungkapkan ketika awal Covid-19 seluruh anggota IBI Sleman berkeliling ke seluruh wilayah Sleman agar wilayah terpencil pun juga terjangkau baksos. Selain itu, katanya, para anggota IBU juga menyasar para bidan yang melakukan praktek mandiri.

“Pada awal kasus Covid-19 di Sleman, seluruh anggota IBI Sleman kami minta untuk melakukan kegiatan bakti sosial seperti pembagian sembako di berbagai titik, bakti sosial juga dilakukan oleh bidan yang membuka praktek mandiri di rumah mereka, bahkan Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun juga ikut melakukan penyuluhan kepada warga, insya Allah semua wilayah sudah terjangkau oleh bakti sosial,” jelasnya.

Untuk diketahui IBI Sleman ini terdapat 10 ranting yang terbagi dalam beberapa wilayah seperti wilayah ranting timur, ada wilayah ranting tengah, wilayah ranting utara, wilayah ranting barat, dan wilayah ranting Selatan.

“Selain itu juga ada IBI di RS Sadewa, IBI RSUD Sleman, IBI dari Universitas Unriyo serta IBI dari Universitas Ahmad Yani, semuanya total ada 10. Baksos ini kita adakan satu titik seperti ke warga di sekitarnya dan selalu menghadirkan Pak dukuh, Pak RT, dan Pak RW, alhamdulillah dibanding kabupaten lain insya Allah kita paling rajin,” katanya.

Selain itu para anggota IBI Sleman juga gencar memberikan pengetahuan tentang bahaya Covid-19 kepada warga masyarakat, seperti edukasi dan sosialisasi agar masyarakat disiplin menggunakan masker.

“Dari pengurus hadir kemudian kita memberikan penyuluhan ke warga masyarakat, kita mengadakan penyuluhan tentang ini pencegahan, selain itu kami mengajarkan masyarakat untuk selalu menggunakan masker, menjaga jarak, serta cara mencuci tangan yang benar seperti anjuran dari Pemerintah,” ungkapnya.

Sementara untuk para bidan yang membuka praktek mandiri juga diberi bantuan Alat Pelindung Diri (APD). Menurutnya APD sangat penting bagi para bidan, karena mereka bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“Bidan itu juga mendapatkan beberapa bantuan dari berbagai pihak yang paling krusial waktu itu, yakni APD,” katanya.

Ia mengungkapkan jika dalam pencegahan penularan Covid-19 juga menemukan hambatan, salah satunya minimnya ketersediaan APD untuk para bidan yang membuka praktek mandiri.

“Memang pada awalnya kita kesulitan mendapatkan APD untuk bidang yang membuka praktek mandiri, nah kemudian beberapa saat kita konfirmasi lewat IBI pusat sehingga pusat yang mengeluarkan solusi yakni dengan menggandeng berbagai pihak melalui program CSR-nya,” pungkasnya

Selain mengedukasi masyarakat terkait protokol kesehatan, pihaknya juga tak henti hentinya memberikan pengertian kepada warga bahwa para penyintas Covid-19 bukan sebuah aib, dan mereka harus diberikan dukungan, agar terus semangat dalam menjalani hidupnya.

“Warga kami berikan pemahaman jika ada warga kita yang melakukan isolasi mandiri itu bukanlah sebuah aib, sehingga mereka jangan dikucilkan tapi harus selalu kita dukung dan berikan semangat,” katanya.

Dalam prakteknya selama masa pandemi Covid-19, ikatan bidan ini juga telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, seperti pengaturan jalur untuk pasien yang datang dan pergi, pengecekkan suhu tubuh pasien, pengecekkan pernapasan pasien. Untuk pasien yang akan melakukan persalinan, penunggu pasien kami minta menunjukkan surat keterangan kesehatan.

“Kalau pasien akan melahirkan penunggu harus kondisi aman dan sehat yang dibuktikan dengan surat hasil rapid atau swab test. Kemudian yang nunggu hanya boleh satu orang tidak boleh banyak-banyak,” katanya.

Namun jika pasien tersebut ternyata terpapar Covid-19 maka akan dilaporkan ke Dinas terkait agar pasien tersebut dapat segera mendapatkan penanganan. Ia menegaskan jika semua bidan sudah memahami SOP tersebut.

“Jadi koordinasinya dari bidan praktek mandiri lapor ke bidan koordinator di wilayah setempat kemudian wilayah setempat akan melaporkan ke Dinas terkait, sehingga pasien itu segera bisa di tolong di tempat yang seharusnya ditolong, kita semuanya sudah memegang itu aturan itu” bebernya.

Sri Utami menceritakan pada awal kasus Covid-19 masuk ke Indonesia, hampir seluruh bidan yang ada di Sleman menutup praktek mereka, ini diakibatkan adanya larangan buka dari Pemerintah, selain itu kebanyakan bidan di Sleman termasuk usia yang rawan, sehingga mereka memutuskan untuk menutup sementara prakteknya.

“Pada awal kasus Covid-19, hampir seluruh bidan di Sleman menutup praktek mereka sekitar tiga bulan karena memang ada larangan dari Pemerintah serta kebanyakan dari bidan ini di usia sudah rawan, kemudian memang sudah ada comorbid atau penyakit bawaan, kemudian dari keluarga mereka tidak memperbolehkan untuk membuka praktek,” bebernya.

Namun, lanjutnya, setelah tiga bulan, beberapa bidan mulai membuka kembali prakteknya. “Justru masalah baru mulai muncul ketika para bidan membuka kembali prakteknya, yakni adalah mengembalikan rasa percaya diri pasien karena kebanyakan pasien takut untuk keluar rumah” jelasnya.

Berbagai cara pun dilakukan oleh para bidan ini untuk mengembalikan kepercayaan pasien, salah satunya dengan cara memberikan banyak informasi kesehatan, selain itu para bidan ini juga kerap melakukan konsultasi gratis melalui aplikasi pesan singkat whatsapp.

“Pemberian informasi kesehatan ini jadi salah satu bahan pendekatan kita ke pasien, selain itu untuk ibu hamil yang tetap khawatir dan tidak mau datang periksa, kita lakukan layanan jemput bola, yakni dengan mendatangi pasien, bidan-bidan juga mengadakan konsultasi gratis melalui whatsapp,” katanya.

Ketika ditanya apakan selama kasus Covid-19 di Sleman, bidan yang membuka praktek mandiri pernah ada yang terpapar Covid-19, ia mengatakan sampai saat ini terdapat 10 kasus bidan yang dinyatakan positif Covid-19.

“Sampai dengan saat ini ada 10 kasus, tetapi 10 itu tidak serta merta terpapar di tempat prakteknya. Jadi ada yang tertular di Puskesmas, ada yang tertular pada saat akreditasi kampus, karena kan mau tidak mau kan harus ketemu, walaupun akreditasinya online, tapi dia di dalam satu tim kecil yang harus praktek,” katanya.

Bahkan, katanya, saat awal kasus Covid-19 masuk di Sleman, ada satu bidan yang juga terpapar kasus Covid-19, dan ini membuat gempar warga Sleman.

“Ini sempat viral waktu itu, Covid-19 masih hangat-hangatnya, masih jarang lah petugas yang positif Covid-19, kasus ini sampai masuk di Facebook, sampai oleh pihak Kapanewon turun tangan, bahkan sampai kepala Dinas turun tangan, tapi alhamdulillah semua tertangani,” ungkapannya.

Ia berharap kedepan semua fasilitas kesehatan di Sleman telah siap dalam segala hal guna memberikan pelayanan kesehatan warga masyarakat,

“Jadi tidak harus pasien yang sudah mau melahirkan, tapi masih harus mencari tempat untuk bersalin, kebanyakan sulit dapat tempat, kita sebagai pelaku itu memang merasa kurang nyaman juga,” katanya.

Melakukan Pendampingan Pada Ibu Hamil di Tengah Pandemik COVID-19

Momen kehamilan adalah momen yang dinantikan oleh semua calon ibu. Rasa was-was dan khawatir tentu saja dapat menghampiri kapan saja, disinilah seorang bidan harus mampu memberikan pendampingan, penyuluhan dan bahkan edukasi yang tepat sehingga para calon ibu mampu melewati masa kehamilan dengan tenang.

Edukasi tak hanya diberikan kepada calon ibu, melainkan juga para calon ayah agar selalu menjadi sosok siaga saat mendampingi istrinya. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 saat ini, kesehatan ibu hamil harus benar-benar terjaga baik itu d1ari asupan yang dimakan sehari-hari hingga kehigienisan makanan.

Pola hidup sehat dan rajin cuci tangan setiap selesai beraktivitas harus selalu dipraktekkan hingga kapanpun meskipun telah melahirkan dan memiliki balita, karena sejatinya balita juga sangat rentan terhadap penularan Covid-19 sehingga edukasi terkait pencegahan penularan Covid-19 perlu diberikan secara tepat dengan tenaga kesehatan yang berkompeten.

Tak hanya sampai disitu para bidan juga harus mampu menginfokan bahwa kunjungan ibu hamil pada saat pandemik sebaiknya dikurangi selama tidak ada gejala darurat. Hal ini diperuntukkan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yang memang sangat berbahaya bagi ibu hamil dan menyusui karena kondisi kesehatannya dikhawatirkan sangat rentan tertular.

Bahkan saat ini para ibu hamil diwajibkan untuk mengikuti rapid test pada saat melahirkan. Di sinilah tugas seorang bidan mampu menyampaikan informasi dengan tepat dan membantu para ibu mengikuti rapid tes dengan kondisi yang nyaman dan tenang,

Pelayanan Pasca Melahirkan dan Perawatan Bayi di Tengah Pandemi Covid-19

Pasca melahirkan juga masa-masa yang sangat rentan dengan kondisi pandemik saat ini sehingga seorang bidan memberikan informasi untuk semua orang tua baru untuk mengikuti protokol kesehatan yang telah ditentukan seperti tidak berkerumun, sering mencuci tangan, menjaga jarak dan menggunakan masker.

Terlebih saat bayi mulai dikunjungi banyak orang, protokol kesehatan harus tetap terjaga, seperti wajib cuci tangan sebelum menggendong bayi, sebisa mungkin tidak menggendong bayi saat berkunjung itu jauh lebih baik karena kita tidak tahu siapa yang membawa virus atau bukan. Meskipun tubuh kita sehat, tapi kita tetap harus menjaga dan mengerti bahwa bayi sangat rentan terhadap Covid-19.

Seorang bidan tidak hanya memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan, seorang bidan juga dilatih mampu memberikan pelayanan home care dengan standar kesehatan yang telah ditetapkan. Peluang karir seorang bidan pun sangat luas, tak hanya mengabdikan diri di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lain melainkan juga mampu menjadi seorang pegawai negeri sipil (PNS) atau membuka praktik mandiri.

Add Comment