Kelompok Rentan Desa Jadi Perhatian BPD Tamanmartani

Salah satu lansia Kota Yogyakarta saat menerima BLT APBD Kota Yogyakarta tahap dua. (Foto: Hanang Widiandhika)

KALASAN, Tamanmartani-Dalam menjalani ruas akhir kehidupannya, lansia selalu dihadapkan pada berbagai persoalan yang menyangkut menurunnya daya tahan tubuh dan munculnya berbagai penyakit akibat usia lanjut. Kondisi ini sering menyebabkan lansia merasa bersedih hati. Belum lagi ia merasa sudah tidak berguna lagi karena pikiran dan tenaganya yang terus melemah.

Ketergantungannya yang makin tinggi terhadap orang lain, menyebabkan lansia mudah tersinggung manakala dirinya tidak diperhatikan atau diacuhkan oleh anak-anak atau cucunya.

Di sinilah perlunya keluarga yang ditumpangi lansia sadar diri dan harus memberi perhatian dan kasih sayang yang cukup agar lansia merasa bahagia. Perhatian dan kasih sayang tidak harus berlebih, karena lansia sudah tidak butuh lagi makanan yang mewah, pakaian yang mahal, atau perhiasan yang mempesona.

Mereka hanya butuh makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya dalam batas sederhana saja, yang penting dia merasa ‘diuwongke’, didengarkan nasehat-nasehatnya serta diberi ruang untuk berbuat sesuatu sebatas kemampuannya.

Pada kenyataannya di masyarakat masih banyak ditemukan keluarga lansia yang belum memahami kebutuhan mereka, mengingat kebutuhan lanjut usia tidak sebatas tercukupi makan, minum, dan menjaga kesehatan saja, tetapi lebih dari itu diperlukan kepedulian keluarga di dalam pemenuhan kebutuhan lainnya.

Mengingat hal tersebut, dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan keberfungsian sosial lanjut usia, maka lansia perlu didampingi oleh seseorang yang mempunyai sifat dan pendekatan tertentu yang dapat diterima dengan baik oleh lanjut usia.

Seperti yang telah dilakukan di Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman yang terus berupaya untuk membuat para lansia ini mendapat kebahagiaan serta kesejahteraan dalam kehidupannya,

Pemerintah Kalurahan Tamanmartani pun telah memiliki berbagai program untuk meningkatkan taraf hidup para lansia, termasuk menggandeng Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di wilayah tersebut.

Salah satu anggota BPD Tamanmartani, Dwi Rumiyati mengatakan jika lansia menjadi fokus dan perhatian di Kalurahan Tamanmartani.

Dwi mengungkapkan jika beberapa masyarakat Tamanmartani perlu perhatian lebih, misalkan seperti masyarakat rentan marginal.

“Kami akan menyiapkan warga rentan lansia di Tamanmartani, menyiapkan disini maksudnya memberikan bekal pelatihan ringan, karena para lansia yang mempunyai ketrampilan itu akan menjadi satu kekuatan baginya dalam menjalani hidup,” tegasnya.

Undang-undang nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia dijelaskan bahwa Indonesia juga memiliki kewajiban untuk mensejahterakan lanjut usia. Negara wajib memberikan perlindungan sosial bagi rakyatnya. Sehingga lanjut usia juga menjadi tanggung jawab suatu negara.

Dari Undang-undang tersebut jelaslah yang menjadi hak-hak para lanjut usia dalam menjalankan roda kehidupannya. Dipaparkan dalam penjelasan pasal 19 Undang-undang nomor 13 Tahun 1998 bahwa upaya perlindungan sosial terdiri dari pemenuhan kebutuhan sosial para lanjut usia maupun kemudahan dalam mendapatkan pelayanan.

Menua bukanlah sebuah penyakit, setiap manusia pasti akan mengalaminya, untuk itu para lansia wajib mendapatkan perhatian khusus, undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2 menyebutkan bahwa usia 60 tahun adalah usia permulaan tua. Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur-angsur mengakibatkan perubahan yang kumulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh yang berakhir dengan kematian.

Ia berharap BPD Tamanmartani dapat bekerjasama dengan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan warga taman, sehingga tercapainya keadilan yang merata.

Selain itu, Dwi berharap selama ia menjadi anggota BPD, ia dapat menjaring aspirasi masyarakat secara langsung dengan lebih dapat terakomodasi. Baik untuk proses perencanaan pembangunan desa, penetapan peraturan desa maupun pelaksanaan pembangunan daerah.

“Paling tidak yang kita harapkan itu kita bisa mengcover semua aspirasi masyarakat Tamanmartani, yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan mereka,” harapnya.

One Day One Hundred

Pemerintah Kalurahan juga Tamanmartani menggulirkan program one day one hundred. Program ini berupa pengumpulan iuran sukarela dari warga untuk disumbangkan kepada lansia terlantar dalam wujud makanan. Melalui aksi sosial ini, setiap hari ada 60 lansia yang dapat dibantu.

“Caranya sederhana yakni dengan mengumpulkan uang dari warga, kemudian diberikan dalam bentuk makanan kepada 60 lansia miskin di Kalurahan Tamanmartani. Penyalurannya dibantu rekan-rekan dari karang taruna,” terangnya.

Besaran dana tersebut tidak ditentukan. Warga yang bersedia dapat menyumbang seikhlasnya. Dari aksi kemanusiaan ini bisa terkumpul dana dari masyarakat rata-rata sebesar Rp 2 juta, yang dikumpulkan tiap bulan oleh pemuda karang taruna.

Dana itu kemudian dialokasikan untuk memasak menu yang diolah sendiri oleh warga desa setempat. Setiap hari, para lansia mendapat jatah bantuan satu kali menu makan siang. Selain swadaya masyarakat, program ini juga didukung anggaran CSR dari beberapa perusahaan yang ada di Kalurahan Tamanmartani.

Ia berharap kedepan bisa lebih banyak lansia yang terjangkau program ini. Meski sudah ada program keluarga harapan (PKH) yang mengcover lansia namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dalam sebulan. Sehingga butuh partisipasi kepedulian dari warga sekitar.

“Sebenarnya lansia yang butuh bantuan ada lebih dari 60 orang tapi kemampuan kami sementara hanya sejumlah itu,” ujarnya.

Ia mengungkapkan munculnya berbagai inovasi program sosial seperti one day one hundred, tidak lepas dari peran PSM yang ada di Kalurahan Tamanmartani. Sebagian dari mereka sudah diikutkan kegiatan diklat.

Penanganan lansia perlu diupayakan melalui pendekatan holistik secara menyeluruh dan terpadu baik oleh pemerintah, masyarakat maupun keluarga, dengan harapan agar lansia tetap hidup dalam keadaan sehat.

“Sebenarnya yang dibutuhkan lansia itu perhatian, sentuhan sedikit saja mereka sudah bangkit,” katanya.

Pengecekkan Kesehatan Lansia

Kalurahan Tamanmartani juga rutin melakukan pengecekkan kesehatan bagi para lansia, bekerjasama dengan puskesmas Kalasan, pengecekkan kesehatan ini didampingi tenaga medis, yakni bidan desa. Kegiatan ini dilakukan dengan cara berkeliling ke rumah-rumah warga.

“Dengan pengecekan kesehatan langsung ke rumah-rumah seperti ini, kondisi kesehatan warga khususnya para lansia bisa terkontrol. Karena para lansia merupakan kelompok masyarakat rentan. Mereka pasti akan kesulitan jika harus berangkat sendiri ke Puskesmas atau Rumah Sakit. Sehingga langsung kita datangi,” katanya.

Selain mengecek kondisi kesehatan lansia, seperti tensi atau tekanan darah, kolesterol, hingga gula darah, petugas juga memberikan bimbingan atau konsultasi kesehatan gratis bagi warga, termasuk penerapan protokol kesehatan selama masa pandemi Covid-19.

“Pemeriksaan kesehatan bagi lansia ini dalam upaya meningkatkan kesehatan warga. Pemeriksaan ini rutin dilakukan setiap seminggu sekali,” jelasnya.

Menurutnya adanya pemeriksaan tersebut juga dinilai sangat memudahkan para keluarga lansia, khususnya mereka yang masuk dalam kategori warga kurang mampu.

Jika nantinya, ada warga lansia yang kondisi kesehatannya memburuk, pihaknya akan membantu mengarahkan untuk dibawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.

“Di Desa Tamanmartani ini ada sekitar 75 lansia. Dari jumlah itu sekitar 50 lansia rentan mengalami gangguan kesehatan atau sakit. Bahkan ada beberapa yang sudah tidak bisa apa-apa karena kondisi kesehatannya yang buruk. Karena itu koperasi berupaya membantu mereka. Termasuk memfasilitasi mereka agar bisa mendapatkan jaminan kesehatan dari pemerintah,” katanya.