Kepemimpinan Transformasional Lurah Tamanmartani

Sekolah Alam Tamanmartani UGM, satu dari sekian banyak partisipasi perguruan tinggi di Kalurahan Tamanmartani. SEKOLAH ALAM TAMANMARTANI

Lain pemimpin, lain pula kebijakannya. Lain daerah, lain pula visi yang dibangun pemimpinnya. Adalah Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman. Bila umumnya Kepala Desa atau Lurah masih sangat kental karakter feodalnya, di Tamanmartani, semua lapisan warganya dimobilisasi Lurah menuju cita-cita bersama.

“Intinya, saya sebagai Lurah tidak harus terlalu dikenal publik. Keberhasilan kepemimpinan desa itu didukung oleh semua pihak. Jadi, semuanya berkontribusi, semuanya bisa tampil,” ujar Lurah Gandang Hardjanata, malam itu, sekira awal Mei 2021, di sebuah kafe kreatif, tak jauh dari Kantor Kalurahan Tamanmartani.

Hal menarik dari pernyataan Lurah Tamanmartani ini adalah tentang gaya kepemimpinan transformasional lantaran memberi ruang yang cukup kepada setiap orang yang dipimpinnya untuk terus berkembang dan fokus pada tujuan pembangunan Kalurahan Tamanmartani.

Penekanan gaya kepemimpinan transformasional Lurah Gandang terbukti mujarab, karena warga Tamanmartani, meski bertahap, dapat menerima ide perubahan besar, yang selama ini sulit tumbuh dalam lingkungan tertutup. Tanpa gaya kepemimpinan demikian, rasanya mustahil membangun Tamanmartani dengan semangat gotong royong yang tak pernah padam nan saling melengkapi.

Bernard Morris Bass, seorang psikolog berkebangsaan Amerika Serikat di bidang studi kepemimpinan dan perilaku organisasi, berpandangan bahwa para pengikut pemimpin transformasional memiliki kepercayaan, kekaguman, kesetiaan, dan hormat terhadap sang pemimpin, serta termotivasi melakukan lebih dari apa yang awalnya diharapkan.

Diterbitkan Lawrence Erlbaum Associates yang beralamat di Mahwah, New Jersey, pada 2005, Bass menulis buku berjudul Transformational Leadership edisi kedua. Jauh sebelumnya, pada 1949, Guru Besar terkemuka di School of Management di Binghamton University tersebut telah menulis karya berjudul Comparison of the Leaderless Group Discussion and the Individual Interview in the Selection of Sales and Management Trainees, dan diterbitkan Ohio State University. Sebuah bukti kematangan Bass dalam setiap pembahasan kepemimpinan.

Bagaimanakah ciri-ciri kepemimpinan transformasional? Pertama, pengaruh ideal (idealized influence). Artinya, pemimpin memberikan visi dan misi, memunculkan rasa bangga, serta mendapat penghormatan dan kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya.

Pengaruh ideal identik dengan pemimpin karismatis. Pengikut sungguh yakin pada pemimpinnya. Mereka bangga bisa bekerja dengannya, serta memercayai kapasitas pemimpin dalam mengatasi setiap masalah.

Kedua, motivasi inspirasional (inspirational motivation). Pemimpin mampu mengkomunikasikan harapan yang tinggi, menyampaikan visi bersama secara menarik dengan simbol-simbol. Tujuannya, memfokuskan upaya orang-orang yang dipimpin dan mengispirasi bawahan untuk mencapai kemajuan penting bagi organisasi.

Ketiga, stimulasi intelektual (intellectual stimulation). Pemimpin mampu meningkatkan kecerdasan orang-orang yang dipimpinnya untuk semakin kreatif dan inovatif, rasional, serta mampu memecahkan masalah secara cermat.

Keempat, pertimbangan individual (individualized consideration). Pemimpin memberikan perhatian pribadi, memperlakukan orang per orang yang dipimpin secara individual sebagai seorang individu dengan kebutuhan, kemampuan, dan aspirasi berbeda, serta melatih dan memberikan saran. Ia mendampingi serta memonitor setiap orang yang ia pimpin dan menumbuhkan peluang.

Saat pelantikan periode pertama kepemimpinan Lurah Gandang (2012-2018), pada Rabu, 17 Oktober 2012, Bupati Sleman Sri Purnomo berharap adanya rekonsiliasi semua warga. Hasil pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) tentu saja tidak memuaskan semua pihak.

“Saat proses pemilihan kepala desa, warga masyarakat boleh saja berbeda pendapat. Namun, setelah Kepala Desa terpilih dilantik, semua friksi harus segera diakhiri,” ucap Bupati Sri ketika itu.

Pesan yang sarat makna. Bupati Sri Purnomo tampak sangat memahami situasi pasca-Pilkades yang bisa saja berbuntut panjang, bila tidak dilakukan rekonsiliasi. Sebuah tantangan krusial bagi Lurah Gandang, karena kini, setelah terpilih menjadi pemimpin Tamanmartani, harus dapat merangkul semua kalangan yang kemarin, saat pemilihan, bisa jadi memiliki pendapat berbeda.

Sesuai arahan Bupati Sri Purnomo, sebagai Kepala Desa terpilih, Gandang pun menyesuaikan diri pada norma dan etika keaparatan pemerintah desa dengan memberikan pelayanan kepada masyarakat, sebaik-baiknya.

Dalam mengemban amanah dan tugas sebagai pucuk pimpinan di Tamanmartani, Lurah Gandang berusaha melayani seluruh lapisan masyarakat serta mampu menumbuhkan aktivitas masyarakat.

Untuk memberdayakan warga dengan berbagai aktivitas, Pemerintah Desa harus mampu menciptakan sumber-sumber ekonomi yang bergerak di masyarakat. Dengan adanya sumber ekonomi, akan meningkatkan kesejahteraan warga. Terlebih, di Tamanmartani, banyak sekali potensi ekonomi yang dapat diberdayakan dan dikembangkan untuk kesejahteraan warga.

Ketika seremonial pelantikan periode pertama kepemimpinan Lurah Gandang, Bupati Sri Purnomo juga berpesan, sebagai wilayah yang berdekatan langsung dengan obyek wisata Candi Prambanan, Pemerintah Desa Tamanmartani diharapkan dapat memanfaatkannya untuk kesejahteraan warga.

Untuk itu, Pemerintah Desa dapat mendorong warga, terutama generasi muda untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Misalnya, berkreasi memproduksi berbagai cinderamata, jasa wisata, serta mengembangkan kreasi budaya yang dapat mendukung keberadaan obyek wisata Candi Prambanan.

Pemerintah Desa, sambung Bupati, dituntut lebih dinamis dalam mendorong warga mengembangkan kreativitasnya. Pemerintah Desa dapat mengembangkan jejaring kerja sama dengan berbagai instansi teknis, lembaga perguruan tinggi, serta swasta, yang memiliki kepedulian pada pemberdayaan warga desa. Tentunya dengan tetap berpegang pada aturan hukum yang berlaku.

Oleh karenanya, pada periode pertama, Tamanmartani kemudian membuat program kebersihan lingkungan. Bertumpu pada ‘Sapta Pesona’, pendukung wisata yang harus disiapkan adalah keamanan, ketertiban, kebersihan, kesejukan, keindahan, keramahan, dan kenangan. Kenyamanan inilah yang dibangun terlebih dahulu, bukan destinasi.

“Saya tidak langsung jleg membuat destinasi, tapi tata lingkungannnya dulu. Aja nganti ana banjir (Jangan sampai ada banjir),” tandas Lurah Gandang yakin.

Agen Perubahan

Kembali ke pembahasan tentang kepemimpinan transformasional, karakteristik kepemimpinan sangatlah penting. Karakteristik pemimpin transformasional dijelaskan oleh Fred Luthans, seorang profesor manajemen dengan spesialisasi perilaku organisasi di Universitas Nebraska, Lincoln.

Pemimpin mengidentifikasikan dirinya sebagai agen perubahan, mendorong keberanian dan pengambilan risiko, percaya pada orang-orang yang ia pimpin, dilandasi oleh nilai-nilai, seorang pembelajar sepanjang hidup (lifelongs learners). Selain itu, pemimpin transformasional memiliki kemampuan untuk mengatasi kompleksitas, ambiguitas, dan ketidakpastian. Terakhir, ia berkarakteristik seorang pemimpin yang visioner.

Awal kepemimpinannya, Lurah Gandang jujur mengaku bahwa pada kenyataannya, warga Tamanmartani tidak akan mungkin bisa bersaing dengan warga Jakarta, misalnya. Karena, secara SDM dan secara mentalitas, lain.

“Kalau orang Jakarta katakanlah kalau bangun jam 05.00, berangkat kerja jam 06.00, pulang jam 10.00, tidur jam 11.00, itu sudah biasa. Warga saya tidak bisa seperti itu. Kebanyakan, warga Tamanmartani terbiasa di zona nyaman, biasa tidak banyak tuntutan, tidak seperti orang kota,” jelas Gandang.

Ia pun bertekad untuk memajukan Tamanmartani, dengan keadaan demikian. Gandang berusaha menggandeng warga agar sama-sama selamat di masa depan. Berpikir dan bekerja bersama dengan landasan yang kuat. Sebab, dibutuhkan visi, pada rentang satu atau dua dekade akan seperti apa warga Tamanmartani, sementara dunia semakin global.

Lurah Gandang lantas membangun inisiasi, bagaimana berkreasi ekonomi, tanpa memaksa SDM warga Tamanmartani seperti warga Jakarta. Untuk mengikuti perkembangan zaman, salah satunya adalah menjadikan Tamanmartani sebagai desa dengan kapasitas wisata, yakni menjadi tuan rumah dengan lingkungan yang indah dan nyaman dikunjungi.

“Lha itu kan duit bakal datang. Tidak perlu ke Jakarta golek upo (bekerja). Cukup di desa sendiri. Jadi, intinya membuat lingkungan yang terlihat indah, dari segala sisi nyaman,” kata Gandang.

Betapa setiap kepemimpinan memang memiliki prinsip-prinsip kepemimpinan, pun dengan kepemimpinan transformasional. Erik Rees, seorang pastor Gereja Saddleback di Lake Forest, California, menuturkan prinsip-prinsip kepemimpinan transformasional.

Pertama, simplifikasi. Keberhasilan kepemimpinan diawali dengan sebuah visi yang menjadi cermin dan tujuan bersama. Kemampuan serta keterampilan dalam mengungkapkan visi secara jelas, praktis, dan transformasional menjawab langkah apa yang akan dilakukan.

Kedua, motivasi. Kemampuan untuk mendapatkan komitmen dari setiap orang yang terlibat terhadap visi merupakan hal kedua yang perlu dilakukan. Pada saat pemimpin transformasional dapat menciptakan sinergitas organisasi, berarti ia dapat mengoptimalkan, memotivasi, dan memberi energi kepada setiap pengikutnya.

Praktisnya, dapat berupa tugas atau pekerjaan yang betul-betul menantang serta memberikan peluang bagi mereka pula untuk terlibat dalam sebuah proses kreatif, baik saat memberikan usulan maupun ketika mengambil keputusan pemecahan masalah. Hal ini memberikan nilai tambah bagi mereka.

Ketiga, fasilitasi, dalam pengertian kemampuan untuk secara efektif memfasilitasi pembelajaran yang terjadi di dalam organisasi secara kelembagaan, kelompok, atau pun individual. Hal ini berdampak pada semakin bertambahnya modal intelektual dari setiap orang yang terlibat di dalamnya.

Keempat, mobilisasi, yaitu pengerahan semua sumber daya yang ada untuk melengkapi dan memperkuat setiap orang yang terlibat di dalamnya dalam mencapai visi dan tujuan. Pemimpin transformasional selalu mengupayakan pengikut yang penuh dengan tanggung jawab.

Kelima, siap siaga, yaitu kemampuan untuk selalu siap belajar tentang diri sendiri dan menyambut perubahan dengan paradigma baru yang positif.

Keenam, tekad bulat untuk selalu sampai pada akhir, yakni menyelesaikan sesuatu dengan baik dan tuntas. Untuk itu, perlu didukung oleh pengembangan disiplin spiritualitas, emosi, fisik, serta komitmen.

Untuk membangun Tamanartani, Lurah Gandang mengolah potensi ‘penta helix’, yakni komunitas lokal, pemerintah, swasta, perguruan tinggi, dan media. Kelimanya bersinergi, saling menguatkan, dan saling melengkapi.

Pada zaman ini, konsep ‘triple helix’ dengan menggunakan relasi universitas, industri, dan pemerintah, tidak lagi relevan. Pun dengan konsep ‘quadruple helix’ yang menambahkan komponen warga lokal.

Strategi pembangunan Tamanmartani dengan bertumpu pada kolaborasi penta helix diharapkan efektif dan tepat guna. Tanpa perlu banyak woro-woro cukup dengan merencanakan kunjungan pariwisata, dukungan dari warga akan terbangun semua dengan sendirinya. Sebab, wisata membutuhkan jalan yang layak, kondisi tertib dan aman, infrastruktur memadai. Wisata bila dimiliki bersama oleh warga akan menimbulkan kegotongroyongan secara otomatis. Terlebih, di desa, orang terbiasa tidak hidup sendiri-sendiri, bukan seperti orang kota.

Lebih operasional, pemimpin transformasional jelas lekat dengan perubahan. Pemimpin-pemimpin ini membantu orang-orang yang ia pimpin agar dapat melakukan perubahan positif dalam setiap aktivitas mereka. Perubahan itu sering kali berskala besar dan dramatis.

Tindakan paling luas yang dilakukan pemimpin transformasional adalah mengubah kultur organisasi. Nilai, sikap, dan atmosfer organisasi pun diubah dari kultur birokratis yang kaku dan sedikit mengambil risiko menjadi kultur baru yang luwes dan produktif. Orang-orang lantas mampu bergerak lebih dinamis serta tidak terlalu dibatasi oleh aturan dan regulasi.

Pemimpin transformasional membuat anggota kelompok sadar akan arti penting imbalan tertentu dan bagaimana cara mendapatkannya. Ia mungkin menyebutkan kebanggaan yang akan dirasakan orang-orang yang ia pimpin jika lembaga dinomorsatukan.

Para pemimpin transformasional membantu anggota kelompok untuk melihat gambaran yang lebih besar, demi kebaikan tim dan organisasi. Secara bertahap, pemimpin membuat anggota sadar bahwa tindakan mereka memberi kontribusi pada tujuan yang lebih luas ketimbang sekadar memenuhi kepentingan diri sendiri.

Pemimpin-pemimpin itu membantu orang-orang yang mereka pimpin untuk mencari pemenuhan diri, yakni membantu orang lain untuk tidak hanya berfokus pada kesuksesan sekadarnya, tetapi juga pada usaha mencari pemenuhan diri.

Mereka memberi pemahaman kepada orang lain tentang keadaan urgen. Untuk menciptakan transformasi, pemimpin mengumpulkan personel kritis, lalu melibatkannya dalam diskusi urgensi perubahan.

Tak lupa, pemimpin transformasional juga mengejar kejayaan. Tindakan transformasional tertinggi adalah membuat orang lain bersemangat untuk melakukan kerja keras, demi kebesaran dan kejayaan organisasi.

Lurah Gandang melakukan semua itu untuk sebuah kepentingan bersama, kesejahteraan warga Tamanmartani. Perubahan diupayakan bertahap dari satu titik ke titik lain, untuk menyemai semangat pantang menyerah sebagai entitas kalurahan yang benar-benar mengandalkan sumber daya lokal.

Pemimpin yang Melahirkan Pemimpin

Pola kepemimpinan transformasional Lurah Tamanmartani terbukti berhasil memunculkan kinerja dengan nilai yang jauh melebihi ekspektasi. Pada waktu yang sama, setiap warga tidak lantas merasa terbebani. Kepemimpinan tersebut dapat dikatakan menggerakkan warga sedemikian rupa untuk mau dan rela memunculkan kebajikan dan kapabilitas terbaiknya di dalam proses penciptaan nilai.

Bekerja dengan gairah dan semangat kerja tinggi secara berkesinambungan tampak pada kepemimpinan Tamanmartani. Banyak personel yang berkembang menjadi pemimpin di lingkungannya masing-masing. Lurah Gandang merupakan pemimpin yang konsisten melahirkan pemimpin baru di segala lini perikehidupan Kalurahan Tamanmartani.

Sang Lurah biasa bersikap proaktif dalam banyak hal. Ia tidak hanya memaksimalkan kerja orang-orang yang dipimpin, tetapi juga mengembangkan kehidupan mereka. Dalam kadar istimewa, tak segan Lurah Gandang benar-benar memerhatikan kebutuhan individual warga kalurahan. Terlebih, bagi warga yang terus konsisten bersama pemerintah kalurahan berkreasi mengembangkan potensi yang ada.

Dalam membangun kepemimpinan, Lurah Gandang terus berusaha memahami status, posisi, dan harapan orang-orang yang ia pimpin. Ia peduli pada harapan, kebutuhan, dan aspirasi pengembangan diri mereka. Kepedulian secara pribadi, bagi Gandang, dilakukan dengan memerhatikan kebutuhan dan harapan warga, karena setiap mereka adalah pribadi yang unik.

Meski tampak dominan, Lurah Gandang terbiasa mendengarkan dengan saksama permasalahan orang per orang dan pada saat yang sama, mendorong mereka untuk percaya diri agar mampu keluar dari masalah yang dihadapi. Problem umum di tingkat warga, seperti berhadapan dengan rentenir, keberhasilan panen, hingga penyelesaian administrasi keluarga menjadi rujukan utama kepemimpinan Tamanmartani.

Tak sekali dua kali, Lurah Gandang turun langsung menyelesaikan persoalan warga, bahkan sanggup menjadi jaminan, selama tidak berseberangan dengan hukum. Aksi membela kepentingan warga tersebut adalah ejawantah kepemimpinan transformasional yang selama ini inhern dalam setiap gerak Pemerintahan Kalurahan Tamanmartani. Ia peka pada beban pekerjaan orang-orang yang ia pimpin. Beban yang jangan sampai berlebihan, dan pada akhirnya, membuat pekerjaan menjadi kurang berkualitas, bahkan terbengkalai.

Secara moral, kepemimpinan Tamanmartani mampu ‘memanusiakan manusia’. Maka wajar bila kepercayaan diri dan harga diri warga kemudian tumbuh dan terus menguat. Perlakuan dan komunikasi kepada warga dengan cara terhormat dan dewasa dapat berimplikasi signifikan bagi penegasan jati diri mereka sebagai entitas bersama, Tamanmartani.

Lurah Gandang akrab pada warga, juga mengenalnya secara pribadi. Ia mengajak semua orang untuk peduli pada sesama, bukan hanya anggota keluarga masing-masing. Ia tak sungkan berpikir dan berbincang seputar kualitas pendidikan anak-anak bersama para orang tua, untuk memastikan lahirnya sumber daya manusia baru Tamanmartani yang harus lebih berkualitas dibanding sebelum-sebelumnya.

Bila telah demikian, apalagi dijalankan dengan penuh ketulusan, warga akan lebih terpanggil untuk meningkatkan kualitas partisipasinya, lalu memunculkan kebajikan dan kapabilitas terbaik. Lurah Gandang banyak bersumbangsih pada pembangunan rasa saling percaya dan saling menghargai sesama warga Tamanmartani, dalam bingkai besar pembangunan kalurahan yang maju dan mandiri.

Dan yang tak kecil pengaruhnya, Lurah Gandang bersedia terus belajar hal baru. Olah intelektual secara berkelanjutan terus dipertahankan dan dimodifikasi sedemikian rupa agar tak membosankan. Ia mendorong sikap saling terbuka di antara warga untuk kemajuan bersama. Apabila warga telah saling percaya dan saling membutuhkan, tentu lebih mudah menggandeng semua pihak untuk fokus pada pembangunan Kalurahan Tamanmartani.

Bagaimanapun, Tamanmartani sungguh membutuhkan sosok transformasional agar mampu eksis sebagai kalurahan tujuan wisata yang berkebudayaan dan aman serta nyaman. Bagaimana dengan desamu?

Bahan Bacaan

  1. Yukl, Gary. 2010. Kepemimpinan dalam Organisasi. Jakarta: Indeks. h. 313.
  2. Robbins, Stephen P. dan Timothy A. Judge. 2008. Perilaku Organisasi. Edisi 12. Jakarta: Salemba Empat. h. 91.
  3. Triantoro Safaria. 2004. Kepemimpinan. Edisi Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu. h. 63.
    Rees, Erik. 2001. ‘Seven Principles of Transformational Leadership: Creating A Synergy of Energy’. Diakses dari cicministry.org tanggal 14 Mei 2021.
  4. Dubrin, Andrew J. 2005. Leadership. Terj. Edisi Kedua. Jakarta: Prenada Media. h. 143-145.