Kibar Tamanmartani, Tekad Menjadi Tuan Rumah di Desa Sendiri

Rock Balancing Kali Opak Kalurahan Tamanmartani. TAMANMARTANI

Ada yang inspiratif dari Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman. Umumnya, Kepala Desa atau Lurah mengawali kepemimpinan dengan analisis strategis seputar isu-isu populis, seperti kemiskinan, kesenjangan, atau korupsi dan pelayanan publik yang lebih baik. Tamanmartani memilih ‘Kalurahan Berdikari’ dalam slogan ‘Kibar Tamanmartani’.

“Sebenarnya, saya sangat berkeinginan menjadikan warga Tamanmartani sebagai tuan rumah di tanahnya sendiri. Mandiri di desanya sendiri. Itu saja dulu,” tutur Lurah Gandang Hardjanata, beberapa waktu lalu di kantornya.

Lurah Gandang tentu saja tengah membahas desa mandiri, karena menyematkan keberdikarian dalam setiap gerak kalurahan. Sebuah semangat berkarya semasif mungkin untuk mengangkat derajat orang per orang agar tidak tergantung sepenuhnya pada pihak lain.

Pada periode kedua kepemimpinan Tamanmartani (2020-2026), terjadi perubahan nomenklatur. Penyebutan Kepala Desa berubah menjadi Lurah, pun dengan Desa menjadi Kalurahan. Selanjutnya, Lurah dikukuhkan sebagai ‘pemangku keistimewaan’.

Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 24 ayat (1) Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2018 tentang Kelembagaan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta bahwa dalam rangka mewujudkan visi dan misi Pemerintah Daerah dan terselenggaranya urusan keistimewaan DIY maka kelembagaan Pemerintah Daerah Kabupaten dan Pemerintah Desa harus selaras dengan Perangkat Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sehubungan dengan hal tersebut, dalam rangka penyelarasan bentuk kelembagaan keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, berdasarkan ketentuan Pasal 34 ayat (1), Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pemerintah Kalurahan bahwa setelah pelaksanaan pelantikan Lurah oleh Bupati, Lurah dikukuhkan sebagai pemangku keistimewaan oleh Gubernur.

Lurah Gandang dilantik bersama 81 Lurah se-Kabupaten Sleman oleh Bupati Sleman Sri Purnomo serta dikukuhkan oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, secara daring dan dipusatkan di Gedhong Pracimasana Kompleks Kepatihan Yogyakarta, pada hari Kamis, 22 Oktober 2020.

Ketika memberi sambutan, Bupati Sleman mengatakan, penataan kelembagaan Pemerintah Kalurahan diselenggarakan untuk mencapai efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan masyarakat menuju kalurahan yang berdikari, berbudaya, rukun, berketahanan, demokratis, maju, dan makmur.

Pada konteks Kalurahan Tamanmartani, Lurah Gandang kemudian menginisiasi ‘Kibar Tamanmartani’. Semula, Kibar Tamanmartani sekadar dimaknai sebagai kreatif, tapi berdasarkan masukan dari pimpinan Kalurahan lainnya, diganti menjadi singkatan dari ‘kesejahteraan, inovatif, berbudaya, agamis, dan rukun’.

Kibar Tamanmartani merepresentasi keberdikarian desa, manifestasi dari kepemimpinan transformasional yang telah terasa signifikan pengaruhnya. Gelora semangat maju sebagai desa mandiri tampak pada gairah warga untuk membawa Tamanmartani menuju kalurahan tujuan wisata yang nyaman bagi siapa pun.

Tentang Desa Mandiri, sebuah referensi patut diketengahkan. Sebuah buku berjudul Menuju Desa Mandiri, buah kerja sama Pusat Data dan Informasi, Badan Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan dan Latihan, dan Informasi (BALILATFO) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia, dengan Lembaga Penelitian dan Pengembangan (LPPM) Universitas Bengkulu, serta didukung oleh Direktorat Jenderal Pembangunan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia.

Desa Mandiri adalah desa maju yang memiliki kemampuan melaksanakan pembangunan desa untuk peningkatan kualitas hidup dan kehidupan sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat desa dengan ketahanan ekonomi, dan ketahanan ekologi secara berkelanjutan.

Desa Mandiri dapat diartikan pula sebagai desa yang mampu mengatur dan membangun desanya dengan memaksimalkan potensi yang ada di desa dan kemampuan masyarakatnya dan tidak tergantung pada bantuan pihak luar.

Selain itu, Desa Mandiri bisa berarti desa yang mampu menghasilkan produk berdaya saing, lembaga sosial yang aktif, tingkat partisipasi, keswadayaan masyarakat tinggi, dan masyarakat miskin terlibat aktif dalam rantai produksi.

Beberapa faktor yang mempengaruhi upaya pencapaian Desa Mandiri adalah potensi sumber daya manusia, potensi sumber daya alam, pasar, serta kelembagaan dan budaya lokal.

Potensi sumber daya manusia yang dimaksud, yakni motivasi dan budaya tinggi warga desa. Selain itu, memiliki jiwa wirausaha yang kuat serta mempunyai kemampuan dan keterampilan tertentu yang mendukung pengembangan potensi lokal. Sementara potensi sumber daya alam meliputi potensi desa yang berdaya saing untuk dikembangkan, pengelolaan potensi desa secara berkelompok, skala usaha berbasis sentra.

Selanjutnya, faktor pasar melingkupi produk yang dikembangkan benar-benar dibutuhkan pasar. Produk juga mempunyai daya saing pasar. Terakhir, faktor kelembagaan dan budaya lokal mewakili pelaksanaan program yang didukung oleh kelembagaan desa yang menjunjung tinggi kearifan lokal.

Setidaknya, ada empat strategi yang dapat dilakukan untuk mewujudkan Desa Mandiri. Pertama, membangun kapasitas warga dan organisasi masyarakat sipil di desa yang kritis dan dinamis. Kedua, memperkuat kapasitas pemerintahan dan interaksi dinamis antara organisasi warga dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Ketiga, membangun sistem perencanaan dan penganggaran desa yang responsif dan partisipatif. Keempat, membangun kelembagaan ekonomi lokal yang mandiri dan produktif.

Keberdikarian desa boleh dikatakan juga lekat dengan semangat Trisakti Bung Karno. Tiga fondasi penting, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan menjadi dasar setiap langkah kepemimpinan Tamanmartani. Kibar Tamanmartani dan Trisakti Bung Karno seperti berkait-kelindan serta terinternalisasi dalam bingkai jati diri warga.

Trisakti bermula dari pidato Bung Karno di Istana Negara Jakarta pada 28 Maret 1963 yang sarat dengan ide-ide pemikiran ekonomi, kemudian dikenal sebagai Deklarasi Ekonomi (Dekon).

Selanjutnya, pada pidato 17 Agustus 1964, Bung Karno mengemukakan prinsip Trisakti Tavip atau Tahun Vivere Pericolos. Sang Proklamator menjelaskan tiga prinsip berdikari, yakni berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Puncaknya, politik berdikari menjadi populer setelah Bung Karno memberi judul pidatonya pada 17 Agustus 1965, ‘Tahun Berdikari’. Tidak boleh lagi terjadi ‘ayam mati di lumbung padi’, karena Tanah Air Indonesia kaya raya.

Bagi Tamanmartani, warga kalurahan tidak boleh lagi ada yang kekurangan, karena dianugerahi kekayaan melimpah. Tekad membangun Tamanmartani agar tidak bergantung pada siapa pun sungguh merepresentasi semangat Trisakti Bung Karno.

Gerak Operasional

Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin transformasional dengan visi keberdikarian kalurahan, Lurah Gandang kemudian berusaha mengenali potensi dan kapasitas Tamanmartani. Setelahnya, disusunlah perencanaan pembangunan Desa Mandiri, yang berlanjut dengan pembangunan visi ‘Kibar Tamanmartani’.

Memasuki tataran lebih teknis, Pemerintahan Kalurahan Tamanmartani lantas mengimplementasikan Rencana Pembangunan Kalurahan Mandiri, serta tak lupa, melakukan monitoring dan evaluasi pembangunan. Upaya mewujudkan ‘Kibar Tamanmartani’ tidak lupa dibarengi dengan pengembangan jejaring kerja desa.

“Seperti yang saya omongkan kepada semua orang. Memberi pemahaman dengan dasar untung-rugi lebih mudah diterima warga. Kalau kita punya wisata itu, untung kok, jadi mari tetap rukun,” papar Lurah Gandang.

Lurah Gandang memulainya dengan melakukan pemetaan, dusun mana yang dapat dijadikan ikon, punya kekuatan atau pun potensi yang bisa dijadikan destinasi, serta dusun mana yang bisa menjadi homestay. Kawasan tinggal dapat satu paket dengan ketersajian kuliner desa dan suvenir.

Pemetaan pelaku kesenian pun dilakukan. Dusun apa menampilkan kesenian apa menjadi pertimbangan keberhasilan wisata. Setelah itu, warga bisa menjadi penampil, turut beratraksi kesenian. Dalam sudut pandang pariwisata, atraksi kesenian termasuk destinasi.

Prinsipnya, pada tahap awal, Tamanmartani membangun amenitas pariwisata. Amenitas adalah berbagai fasilitas di luar akomodasi yang dapat dimanfaatkan wisatawan selama berwisata di suatu destinasi. Amenitas bisa berupa fasilitas pariwisata, seperti rumah makan, restoran, toko cinderamata, serta fasilitas umum, seperti sarana ibadah, kesehatan, taman, dan lainnya.

Amenitas merupakan salah satu elemen penting pendukung destination mix, karena memenuhi kebutuhan wisatawan yang tidak disediakan oleh akomodasi selama berwisata, atau ketika menikmati daya tarik wisata, misalnya atraksi, serta aktivitas dengan memanfaatkan aksesibilitas yang ada.

Dalam karyanya berjudul Tourism Planning: An Integrated and Sustainable Development Approach, Edward Inskeep menuturkan komponen-komponen pengembangan pariwisata yang erat dengan pendekatan perencanaan pariwisata, yaitu atraksi wisata, akomodasi, fasilitas dan pelayanan wisata lainnya, transportasi, infrastruktur, serta elemen institusi.

Menurut Inskeep, daya tarik wisata dibagi menjadi tiga kategori, yakni natural attraction, cultural attraction, special types of attraction. Natural attraction atau daya tarik alam berdasarkan bentukan lingkungan alami, misalnya iklim, pemandangan, flora, fauna, serta keunikan alam lainnya.

Cultural attraction atau daya tarik budaya berdasarkan pada aktivitas manusia. Contohnya, mencakup sejarah, arkeologi, religi, dan kehidupan tradisional. Sementara special types of attraction merupakan aksi yang tidak berhubungan dengan kedua kategori sebelumnya, tetapi atraksi buatan, seperti theme park, sirkus, mall, dan lain-lain.

Lurah Gandang lantas mengupayakan sinergitas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), baik tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Sleman, maupun Kalurahan Tamanmartani, supaya akselerasinya lebih baik, dan seirama.

Dalam konteks keistimewaan Yogyakarta, dengan adanya Dana Keistimewaan (Danais) ketentuannya pun telah jelas, yakni setiap kalurahan dapat mempertahankan keistimewaan dengan inisiasi kreatif.

Pada tahun 2021, Pemerintah DIY menggelontorkan Danais sebesar Rp18,78 miliar untuk 32 kalurahan. Danais yang dikucurkan untuk 32 kalurahan tersebut berasal dari APBD DIY murni 2021. Total Danais DIY tahun 2021 sebesar Rp1,32 triliun. Danais dapat dimanfaatkan lebih optimal oleh Pemerintah Kalurahan untuk memberdayakan masyarakat, sehingga tujuan Danais untuk kesejahteraan dan ketenteraman bisa terwujud.

Penggunaan Danais di kalurahan tidak seperti Dana Desa (DD) atau Alokasi Dana Desa (ADD). Ada syarat khusus penerima Danais, di antaranya untuk program desa mandiri budaya, untuk balai budaya, untuk karangkopek, untuk padat karya istimewa, dan untuk budaya maritim desa di sepanjang pinggir pantai selatan DIY. Penyaluran Danais ke kalurahan melalui pola Bantuan Keuangan Khusus (BKK).

Kalurahan penerima Danais harus mengajukan proposal terlebih dahulu yang kemudian diverifikasi oleh Pemerintah DIY dan Pemerintah Pusat. Proposal tersebut harus disusun oleh kelompok-kelompok masyarakat.

Apabila melalui BKK, desa tidak memiliki kewenangan untuk membuat perencanaan dan penganggaran kegiatan yang dibiayai Danais. Desa hanya ketempatan uang. Kelompok masyarakat yang merencanakan program, mengerjakan, serta mengawasinya.

Apalagi sekarang Pemerintah Pusat sedang getol-getolnya mendorong pembangunan wisata, karena ternyata ketahanan ekonomi nasional memang bergerak ke sana. Pembangunan wisata dianggap paling murah dan secara potensi tidak perlu mencari-cari, sebab sudah ada dari sananya.

Berdasarkan laporan tahunan statistik Indonesia yang diterbitkan Badan Pusat Statistik tahun 2019, penduduk Indonesia tersebar di 98 kota dan 83.931 desa yang terletak di lembah, lereng, dan hamparan. Hal tersebut menegaskan bahwa distribusi penduduk Indonesia yang sebagian besar tinggal di wilayah perdesaan atau rural area.

Dalam Rencana Strategis 2020-2024 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dimaktubkan pandangan bahwa potensi penduduk di wilayah pedesaan dengan karakter kehidupan yang khas dan terbangun dari budaya yang hidup dalam masyarakat lintas generasi merupakan potensi dan kekuatan dalam kerangka pengembangan daya tarik wisata untuk meningkatkan diversifikasi daya tarik serta daya saing pariwisata Indonesia.

Potensi daya tarik yang sebagian besar ada di daerah perdesaan apabila mampu dikelola melalui pendekatan pembangunan kepariwisataan berkelanjutan secara terpadu, sangat dimungkinkan dapat memberi nilai tambah, tidak saja dari aspek ekologis, edukatif, dan aspek sosial budaya, tetapi juga nilai tambah dari aspek rekreatif dan aspek ekonomis yang bermanfaat bagi kesejahteraan bangsa, sekaligus meminimalisasi tingkat kemiskinan dan kesenjangan pembangunan di perdesaan.

Pengembangan wisata berbasis pedesaan (desa wisata) dapat menggerakkan aktivitas ekonomi pariwisata di pedesaan yang mencegah urbanisasi masyarakat desa ke kota. Pengembangan wisata pedesaan mendorong pelestarian alam, antara lain bentang alam, persawahan, sungai, dan danau yang pada gilirannya akan mereduksi pemanasan global.

“Tugas pemerintah dalam pembangunan desa itu dari sektor lingkungan, sosial, dan ekonomi. Kalau tiga itu, bisa, rampung kok. Tugas Lurah hanya itu,” terangnya ringkas bernas.

Oleh karena itu, apabila Tamanmartani berupaya membangun keberdikarian, salah satunya dengan pariwisata, harus bertumpu pada sektor lingkungan, sosial, dan ekonomi. Integrasi ketiganya adalah fondasi utama eksis-tidaknya Tamanmartani di masa depan. Apabila salah satunya saja bermasalah, semua akan bermasalah. Ketiganya dapat saling menguatkan dengan iktikad baik warga yang turut berkolaborasi positif ke arah Tamanmartani berdikari.

Lurah Gandang sadar, semua ini tentu saja tak mudah. Setiap program pembangunan, tidak selalu langsung tampak di depan mata, tapi bisa jadi membutuhkan waktu hingga puluhan tahun. Namun, bila telah sampai waktunya, semua warga pada akhirnya akan bersyukur dan menikmati hasil pembangunan yang ada.

Ia mencontohkan program infrastruktur Pemerintahan Jokowi, terutama jalan tol. Menurutnya, meski tak mudah, salah satu tujuan pembangunan jalan tol adalah memecah titik konsentrasi perekonomian Jakarta. Belajar dari pembangunan Batam yang tersentral, kemudian saat didera permasalahan, perlahan meredup.

“Nah, apa yang terjadi di Batam jangan sampai terjadi di wilayah saya,” harapnya.

Warga yang memahami visi kalurahan juga bagian penting. Jadi, semisal kelak Tamanmartani dipimpin oleh sumber daya manusia yang kurang kapabel sekalipun, tatanan dan fondasi yang telah dibangun tidaklah rusak. Semua masih dapat berjalan dengan sendirinya, bahkan terus membaik.

“Saya bercita-cita, desa itu punya sistem. Mulai sekarang, kanca-kanca saya ajak berbagi. Mereka saya beri tugas. Saya kasih pemahaman. Tanpa mereka, bisa dipastikan, saya tidak bisa bertugas dengan baik. Sistem yang saya maksud, memunculkan kekuatan di masing-masing titik. Tak lama lagi, tiap pedukuhan akan saya dorong untuk mandiri. Pedukuhan Mandiri,” terang Lurah Gandang.

Upaya Kalurahan Tamanmartani untuk mewujudkan Kalurahan Berdikari dalam slogan Kibar Tamanmartani boleh dibilang sebuah gebrakan inovatif. Kibar Tamanmartani pada praktiknya benar-benar eksis, karena memenuhi kesejahteraan warga, dengan program dan gerakan inovatif, serta mempertahankan sistem nilai kalurahan yang berbudaya, agamis, dan rukun.

Kibar Tamanmatani tidak mungkin berhasil, hanya dalam satu dan dua tahap, atau sekadar satu dan dua sentuhan. Kolaborasi segenap lapisan warga Tamanmartani sebagai bagian dari gerakan kemandirian kalurahan menjadi penentu utamanya. Bila ada yang kurang maksimal, segeralah orang per orang lain bersumbangsih. Sebab, ibarat tubuh, semua warga adalah bagian tubuh. Sebagian terasa sakit, semua turut merasakannya. Pun bila sebagian menikmati kebahagiaan, semua pasti menikmatinya.

Miliu pembelajaran yang berdaya dukung warga pembelajar dapat menjamin keberlangsungan reproduksi pengetahuan. Bahwa ada pengetahuan yang dijaga, dilestarikan, dan dimanfaatkan terus-menerus untuk kemajuan Tamanmartani. Suasana belajar yang tak berkesudahan dapat membuka ruang kritis dan tabu yang bisa jadi selama ini kurang terekspose, lantaran faktor kelaziman. Sementara praktiknya, zaman telah berubah, dan tafsir tentang itu pun mulai dimodifikasi. Meski jelas, norma dan nilai kemasyarakatan akan tetap dijaga.

Tamanmartani adalah potret keberanian desa untuk berubah, dalam situasi yang tak selalu menguntungkan. Keberanian itu terasa inspiratif bagi desa lain, yang bisa jadi dianugerasi sumber daya lebih baik. Lebih dari semua itu, Tamanmartani adalah cerminan kesungguhan dan kebaikan antar-generasi yang dapat dipupuk, lalu menyuburkan harapan untuk hidup yang jauh lebih baik dan beradab. Terus berkibar, Tamanmartani.

Bahan Bacaan

  1. Basuki Sigit Priyono dkk. 2019. Desa Mandiri. Jakarta: Pusdatin Balilatfo Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia. h. x-xii.
  2. Artikel Rusman berjudul Mengingat (Kembali) Pemikiran ‘Deklarasi Ekonomi’ Bung Karno. https://theglobal-review.com/mengingat-kembali-pemikiran-deklarasi-ekonomi-bung-karno/ Diakses pada 15 Mei 2021.
  3. Inskeep, Edward. 1991. Tourism Planning: An Integrated and Sustainable Development Approach. New York: Van Nostrand Reinhold.