Komitmen BTN Bantu Pemerintah Lawan Covid-19

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk bekerjasama dengan Ikatan Motor Bank Tabungan Negara (Itora) Jogja saat memberikan bantuan untuk RS Sardjito. (Foto: Instagram/Itora Jogja).

Turi-PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau BTN ikut melakukan berbagai aksi untuk membantu pemerintah dalam menanggulangi pandemi Covid-19.

Hal tersebut dibuktikan dengan diserahkan berbagai peralatan medis dan kesehatan di berbagai wilayah, penyerahan alat bantu pernapasan (ventilator) kepada Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang disalurkan ke rumah sakit yang merawat pasien positif Covid-19.

Selain itu BTN juga menyumbang 16.000 masker dan 400 botol hand sanitizer yang disalurkan ke daerah-daerah hingga ke desa-desa yang sangat membutuhkan.

Tak sampai disitu, BTN juga menjadi koordinator Satgas BUMN, hingga meluncurkan program donasi melalui penukaran poin Serbu BTN untuk membantu pencegahan dan penanganan penyebaran virus tersebut.

Aksi nyata serta kerja sama seluruh masyarakat Indonesia merupakan kunci penting dalam penanganan penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Direktur Utama BTN, Pahala N Mansury mengatakan sejauh ini BTN telah meyumbangkan bantuan total senilai Rp 1,24 miliar untuk membantu pemerintah melawan Covid-19. Dalam mendistribusikan berbagai bantuan tersebut, perseroan bekerja sama dengan berbagai institusi.

“Kami berkomitmen akan terus berupaya memberikan yang terbaik dalam rangka membantu pemerintah menanggulangi pandemi ini,” kata Pahala.

Sementara upaya intern BTN dalam mencegah penularan Covid-19 di area outletnya adalah, pihak BTN telah memasang penanda jarak pada wilayah antrian, kursi nasabah, ruang ATM dan berbagai area lain yang diakses banyak pihak untuk memastikan pemenuhan aturan physical distancing.

“Kami juga telah mengurangi jumlah orang dalam ruang outlet. Bank BTN akan menempatkan petugas keamanan khusus untuk mengatur jarak antar nasabah,” katanya.

Pihaknya telah menempatkan petugas keamanan khusus untuk mengatur jarak antar nasabah. Selain itu, di setiap outlet juga telah dipasangkan akrilik pada unit teller service, customer service, dan consumer loan service yang berhubungan langsung dengan nasabah.

Sosial distancing juga tetap diberlakukan bagi pegawai BTN di ruang kerja. Penggunaan ruangan pun dipastikan hanya sebesar 50 persen dari kapasitasnya.

Secara berkala, Bank BTN juga akan melaksanakan rapid test bagi seluruh pegawainya. Pelaksanaan rapid test tersebut akan menyesuaikan tingkat risiko pegawai dan kondisi wilayah masing-masing.

Beberapa waktu lalu BTN juga melakukan kegiatan corporate social responsibility (CSR) di lingkungan kampus, salah satunya adalah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Pemberian CSR dilakukan dalam rangka membantu keberlangsungan kegiatan belajar mengajar tidak terganggu di masa pandemi khususnya di lingkungan UGM.

“Selain berekspansi bisnis di Yogyakarta, perseroan memberikan berbagai bantuan guna mendukung upaya dalam mengatasi pandemi covid19 di UGM di antaranya perseroan menyediakan mobil ambulance, mobil disabilitas, dan mesin air disinfektan ruangan,” jelasnya.

Pemberian CSR ini menjadi wujud bakti dan empati BTN terhadap lingkungan sekitar. Apalagi, di tengah pandemi ini butuh berbagai fasilitas kesehatan untuk tetap menjaga produktivitas.

Ia mengungkapkan jika BTN sangat concern dengan dunia pendidikan sehingga selain memberikan CSR, BTN juga ingin bekerja sama dalam mendidik mahasiswa menjadi pengusaha properti.

Sejarah BTN

Pemerintah Hindia Belanda melalui Koninklijk Besluit No. 27 tanggal 16 Oktober 1897 mendirikan Postspaarbank di Batavia (sekarang Jakarta). Tujuan didirikannya bank ini adalah untuk mendidik masyarakat agar gemar menabung. Seiring dengan perkembangannya hingga tahun 1939 Postspaarbank telah memiliki 4 (empat) cabang, yakni di Jakarta, Medan, Surabaya, dan Makasar.

Hingga pada 1 April 1942 Postpaarbank diambil alih oleh pemerintah Jepang dan berganti nama menjadi Tyokin Kyoku. Setelah kemerdekaan Indonesia, Tyokin Kyoku diambil alih oleh pemerintah Indonesia, dan namanya diubah menjadi Kantor Tabungan Pos Republik Indonesia (RI). Bank Tabungan Pos RI ini menjadi satu-satunya lembaga tabungan di Indonesia.

Pada tanggal 9 Februari 1950, pemerintah mengganti nama bank ini dengan nama Bank Tabungan Pos. Tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari dan tanggal Bank BTN. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 4 tahun 1963 Lembaran Negara Republik Indonesia No. 26 tahun 1963 tanggal 22 Juni 1963, maka resmi sudah nama Bank Tabungan Pos diganti namanya menjadi Bank Tabungan Negara (BTN). Dalam periode ini posisi Bank BTN telah berkembang dari sebuah unit menjadi induk yang berdiri sendiri.

Sejarah Bank BTN mulai diukir kembali dengan ditunjuknya oleh Pemerintah Indonesia pada tanggal 29 Januari 1974 melalui Surat Mentri Keuangan RI No. B-49/MK/I/1974 sebagai wadah pembiayaan proyek perumahan untuk rakyat. Dan pada tahun 1976, mulailah realisasi KPR (Kredit Pemilikan Rumah) pertama kalinya oleh Bank BTN sebagai satu-satunya bank yang mempunyai konsentrasi penuh dalam pengembangan bisnis perumahan di Indonesia melalui dukungan KPR BTN.

Pada tahun 1989, Bank BTN sudah mengeluarkan obligasi pertamanya. Dan tahun 1992, status Bank BTN menjadi PT. Bank Tabungan Negara (Persero) karena kesuksesan Bank BTN dalam bisnis perumahan melalui fasilitas KPR tersebut. Demi mendukung bisnis KPR tersebut, Bank BTN mulai mengembangkan produk-produk layanan perbankan sebagaimana layaknya bank umum (komersial).

Pada tahun 1989, Bank BTN sudah mengeluarkan obligasi pertamanya. Dan tahun 1992, status Bank BTN menjadi PT. Bank Tabungan Negara (Persero) karena kesuksesan Bank BTN dalam bisnis perumahan melalui fasilitas KPR tersebut. Demi mendukung bisnis KPR tersebut, Bank BTN mulai mengembangkan produk-produk layanan perbankan sebagaimana layaknya bank umum (komersial).

Pada tahun 1989, Bank BTN sudah mengeluarkan obligasi pertamanya. Dan tahun 1992, status Bank BTN menjadi PT. Bank Tabungan Negara (Persero) karena kesuksesan Bank BTN dalam bisnis perumahan melalui fasilitas KPR tersebut. Demi mendukung bisnis KPR tersebut, Bank BTN mulai mengembangkan produk-produk layanan perbankan sebagaimana layaknya bank umum (komersial).

Pada tahun 1989, Bank BTN sudah mengeluarkan obligasi pertamanya. Dan tahun 1992, status Bank BTN menjadi PT. Bank Tabungan Negara (Persero) karena kesuksesan Bank BTN dalam bisnis perumahan melalui fasilitas KPR tersebut. Demi mendukung bisnis KPR tersebut, Bank BTN mulai mengembangkan produk-produk layanan perbankan sebagaimana layaknya bank umum (komersial).

Pada tanggal 31 Desember 2020, Perseroan memiliki 103 kantor cabang (termasuk 25 kantor cabang syariah), 373 kantor cabang pembantu (termasuk 59 kantor cabang pembantu syariah), 254 kantor kas (termasuk 7 Kantor Kas Syariah), dan 3.014 SOPP (System online Payment Point/ Kantor Pos online).

BTN memiliki visi yakni menjadi The Best Mortgage Bank di Asia Tenggara pada tahun 2025, sedangnya misinya adalah pertama secara aktif mendukung pemerintah dalam memajukan kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui kepemilikan rumah, kedua mewujudkan kehidupan yang diimpikan jutaan rakyat Indonesia melalui penyediaan rumah yang layak, ketiga menjadi home of Indonesia’s best talent, keempat meningkatkan shareholder value dengan berfokus pada pertumbuhan profitabilitas yang berkelanjutan sebagai perusahaan blue chip dengan prinsip manajemen risiko yang kokoh, dan kelima menjadi mitra keuangan bagi para pemangku kepentingan dalam ekosistem perumahan dengan menyediakan solusi menyeluruh dan layanan terbaik melalui inovasi digital.

Berbagai produk dari BTN seperti perbankan konsumer yang meliputi produk kredit konsumer dan produk simpanan konsumer. Produk kredit konsumer terdiri dari kredit perumahan dan kredit non perumahan, sementara produk simpanan consumer terdiri dari tabungan consumer dan deposito BTN ritel.

Perbankan komersial terdiri dari produk kredit komersial dan Produk Simpanan Komersial. produk kredit komersial terdiri dari kredit modal kerja dan kredit investasi, sedangkan produk Simpanan Komersial terdiri dari deposito berjangka lembaga dan giro komersial.

Unit Usaha Syariah terdiri dari produk Pembiayaan Syariah dan Produk Simpanan Syariah. Untuk produk Pembiayaan Syariah terdiri dari pembiayaan konsumer dan pembiayaan komersial, sedangkan produk simpanan syariah terdiri dari giro syariah, tabungan syariah, dan deposito syariah

 

Add Comment