Mengenal Lebih Dekat Kalurahan Tamanmartani

Salah satu objek wisata yang ada di Kalurahan Tamanmartani yakni kali opak tujuh bulan. (Foto: Fadli Susilo)

KALASAAN, Tamanmartani-Kalurahan Tamanmartani adalah salah satu Kalurahan yang ada di Wilayah Kapanewon Kalasan. Hasil-hasil pertanian di Tamanmartani adalah padi dan berbagai tanaman palawija, karena tanahnya subur seperti daerah-daerah lain di lembah merapi. Selain itu terdapat pula hasil tambang golongan C berupa batu dan pasir. Di sepanjang wilayah desa Tamanmartani mengalir sungai opak dan sungai Gendol yang berhulu di gunung Merapi

Kalurahan Tamanmartani memiliki beragam wisata desa. Sebelas potensi pedukuhan didorong untuk bangkitkan badan usaha milik desa (BUMDes) bernama 5758, kepanjangan dari Maju Mapan.

Cikal bakal BUMDes 5758 Kalurahan Tamanmartani bergerak di bidang sampah. Mulai 2012, sampah dikelola untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Sampah residu. Ada yang dijual dan diolah menjadi kerajinan bernilai tinggi. Sisanya dibuang ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan.

Selanjutnya, muncul potensi-potensi baru di sembilan padukuhan. Apabila diurutkan dari utara, yang pertama adalah Cageran Edupark yang berada di Padukuhan Cageran. Fungsinya sebagai wisata edukasi anak-anak, seperti wahana permainan jelajah sungai di aliran Sungai Opak yang mengarah ke Kabupaten Klaten.

Selain itu ada pertanian organik, kelompok kandang sapi. Objek wisata ini memperkenalkan berbagai jenis tanaman kepada anak-anak sembari bermain air. Kedua, wisata Sungai Opak Tujuh Bulan. Lokasinya di Padukuhan Dalem.

Di sepanjang tepian sungai itu, batu-batu kali menghampar alami menghiasi panggung seni pertunjukan yang terletak tepat di bantaran sungai. Suasana kawasan tepi sungai itu begitu asri dengan rindang pepohonan. Tepat di bawahnya berdiri warung-warung makan dengan menu khas ikan lokal seperti wader, udang kali, dan sebagainya.

Tempat ini dikembangkan oleh Koperasi Tamanmartani Sejahtera yang bekerjasama dengan warga desa setempat. Mereka berupaya mengembangkan potensi alam desa mereka untuk meningkatkan kesejahteraan warga.

Menempati lahan seluas kurang lebih 2 ha, warga membangun tempat wisata ini secara swadaya. Mulai dari membangun jembatan gantung, panggung pertunjukan, instalasi seni dan foto selfie, toilet, pendopo pertemuan, hingga warung-warung makan.

Kali Opak 7 Bulan menawarkan wisata alam yang dipadukan dengan wisata keluarga, serta wisata edukasi. Selain bisa menikmati suasana pedesaan di tepi sungai yang alami, pengunjung juga bisa bermain-main air di kolam yang disediakan.

Selain susur sungai, di sini juga kita sediakan permainan rock painting atau melukis batu serta rock balancing atau menata batu secara vertikal. Termasuk juga permainan outbound.

Ke selatan, ada kafe jamu kebon di Padukuhan kebon, selatan padukuhan ini. Di sini, pengunjung bisa meracik jamu tradisional. Sementara di Padukuhan Tamanan, potensi unggulannya adalah nguri-uri budaya jawi, mementri wiji, nembang macapatan dan unggah ungguh adat jawa (budi pekerti).

Cara berbicara anak dengan orang tua, sebaya dan lain-lain. Ada pula budaya kenduri. Di tempat ini tamu diajak masak dan makan bareng. Untuk produk unggulannya adalah dawet yang dipadu dengan aloe vera atau lidah buaya.

Sementara di Padukuhan Jongkangan, objek wisata unggulannya adalah Taman Raja Balitung. Di tempat ini terdapat petilasan cerita Candi Kedulan dan Trowulan. Lalu ada Sendang Gilang dan ada situs candinya. Disini terdapat mata air yang tidak pernah surut. Alirannya sampai ke bawah dimanfaatkan untuk pengairan sawah.

Secara geografis, padukuhan Jongkangan memiliki posisi desa yang sangat strategis, karena terletak di sepanjang jalan alternatif yang menghubungkan antara Yogyakarta dan Klaten bagian utara. Jalan ini juga merupakan salah satu jalan alternatif dari Candi Prambanan ke Candi Kedulan. Sehingga merupakan salah satu jalan yang sangat ramai dilalui oleh kendaraan.

Secara topografis, Jongkangan terdiri dari daerah ledok sungai, tanah pekarangan dan tempat tinggal, lahan pertanian dan lahan perkebunan. Lahan tersebut terdiri dari tanah hak milik pribadi dan tanah kas desa. Tanah ledok di sepanjang kali biru merupakan tanah yang belum diolah secara maksimal, hanya ditanami aneka tanaman keras, bambu, gayam, bendo, munggur dll. Karena produktivitasnya kurang maka lahan ini jarang dirawat sehingga terkesan kurang bersih.

Di sepanjang sungai ini juga terdapat beberapa sumber mata air abadi yang sangat jernih, yaitu sumber air (umbul) Gilang yang airnya digunakan untuk pengairan persawahan di dusun sebelah selatan dusun Jongkangan, dan sumber mata air (belik) yang konon merupakan tempat pemandian Raja Balitung setelah berburu di semak-semak sekitar Candi Kedulan.

Di sisi utara dusun terdapat banyak sisa-sisa batu candi yang bersejarah di mana menurut staf Balai Pelestarian Cagar Budaya BPCB DIY, batu-batu tersebut merupakan reruntuhan Situs Candi Jongkangan yang keberadaannya sudah terdeteksi sejak tahun 1923.

Wilayah perkampungan dusun Jongkangan terdiri dari jalan yang cukup lebar, pekarangan dan rumah tinggal. Beberapa bangunan lama berupa rumah limasan dengan material bangunan kuno masih ada yang dipertahankan pemiliknya sehingga menarik sebagai bahan penelitian dan dikunjungi.

Sebagian besar rumah tinggal sudah direhab dan direnovasi dengan model modern mengikuti perkembangan zaman sehingga layak untuk dimodifikasi sebagai homestay dalam program live in.

Padukuhan ini memiliki area sawah yang masih cukup luas persawahan ini sebagian besar adalah tanah milik pribadi. Tanaman yang dibudidayakan bervariasi antara lain, padi, jagung, ketela, buah melon, semangka, aneka sayuran seperti cabe, kacang panjang, sawi, terong, dan lain lain.

Sementara kegiatan pertaniannya meliputi membajak sawah dengan alat tradisional dan modern, menanam padi (tandur), upacara labuh (syukuran karena tanaman padi mulai tumbuh) dan upacara wiwit (ungkapan syukur tanaman padi siap dipanen) merupakan beberapa kegiatan yang sangat menarik untuk dinikmati masyarakat saat ini.

Posisi persawahan ini terletak di timur dusun Jongkangan dan persis di pinggir sempadan jalan alternatif Jogja-Klaten yang sangat ramai. Hamparan sawah yang luas dan latar belakang pemandangan Gunung Merapi di sebelah utara sangat menarik terutama bila cuaca cerah. Di malam hari bisa digunakan untuk mengamati Gunung Merapi saat erupsi efusif dimana lelehan lava pijar sangat jelas terlihat.

Tanah Kas Desa terletak di beberapa lokasi antara lain di dekat sungai, di utara dusun, di sebelah timur dusun merupakan tanah yang bisa dimanfaatkan untuk menunjang pengembangan desa wisata.

Sebagian besar mata pencaharian masyarakat Jongkangan adalah petani, peternak, dan sisanya sebagian berprofesi sebagai pegawai negeri, pegawai swasta, pedagang, pengrajin. Kelompok swadaya masyarakat terdiri dari kelompok usaha bersama dan kelompok sosial. Kelompok usaha yang berkembang saat ini adalah kelompok peternak ayam kampung, Kelompok Petani Ikan, Kelompok Ternak Sapi & Kambing, Kelompok Tani.

Untuk kelompok sosial antara lain, Takmir Masjid, kelompok pengajian Ibu-ibu, kelompok PKK, Karang Taruna, dan lain-lain. Kelompok-kelompok tersebut di atas saat ini bersemangat dan bersinergi dalam usaha mewujudkan desa Jongkangan menjadi Desa Wisata.

Makanan khas ditempat ini adalah jenang tujuh rupa dan pasar tradisional yang digelar sepekan sekali setiap minggu pagi.

Potensi wisata-wisata tersebut tergabung dalam ikatan paguyuban wisata Kalurahan Tamanmartani. Seiring dengan kepengurusan baru dan evaluasi dari tahun sebelumnya, wisata desa masuk bagian BUMDes. Harapannya wisata desa Tamanmartani ke depan semakin populer di kancah mancanegara.

Pertanian Padi Organik

Petani di Jongkangan mengembangkan pertanian padi organik dengan penanaman jenis IR-64. Pengembangan padi organik itu menjadi bagian dalam peluncuran program pengembangan pertanian organik berbasis sumber daya lokal untuk peningkatan taraf ekonomi masyarakat sekitar yang didukung PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (PT TWC) melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).

Pertanian padi organik ini bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat pedesaan terutama dengan hasil pertanian yang berkualitas tinggi.

Budidaya tanaman organik kini mulai dikenal luas masyarakat seiring dengan adanya tren hidup sehat. Banyak pelaku pertanian organik bermunculan seiring dengan pangsa pasar yang semakin terbuka. Tidak hanya karena bernilai ekonomis tinggi, pertanian organik penting untuk perbaikan ekosistem pertanian yang kian rusak terpapar bahan sintetik atau kimiawi seperti pestisida.

Program ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya bahan pangan organik yang selain dapat memberikan manfaat lebih bagi tubuh juga dapat menghasilkan nilai ekonomi tinggi seiring dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya bahan pangan yang sehat.

Dengan adanya pengembangan pertanian padi organik ini akan kembali menggairahkan pertanian padi dan sekaligus menaikkan produktivitas di Kalurahan Tamanmartani dan Kapanewon Kalasan.

Di masa pandemi Covid-19 kegiatan tersebut diharapkan akan dapat membantu meningkatkan kualitas produk pertanian khususnya padi.

Kalurahan Pemajuan Kebudayaan Berbasis Digital

Kalurahan Tamanmartani beberapa waktu lalu telah dideklarasikan sebagai Kalurahan Pemajuan Kebudayaan berbasis Teknologi Informatika (TI) atau digital. Selain akan melestarikan dan mengembangkan kebudayaan lokal, kalurahan ini juga mengembangkan teknologi informasi dalam memberikan layanan kepada masyarakat.

Bahkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengapresiasi langkah kelurahan Tamanmartani yang berusaha mencari terobosan baru dengan menjadinya wilayahnya sebagai pemajuan budaya serta dikembangkan berbasis TI atau desa pintar.

Menurut Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid, terobosan tersebut sangat penting, mengingat hal tersebut dilakukan setelah lahirnya UU nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Di mana pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan dan di tingkat akar rumput kegiatan pemajuan kebudayaan juga sudah mulai bergerak sampai ke level desa.

Deklarasi tersebut dilakukan bersamaan dengan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2020 lalu. Guna mendukung pengembangan menuju kelurahan pintar dilakukan penandatanganan kerjasama antara Kalurahan Tamanmartani dengan pihak swasta dalam hal ini PT Ambara Duta Santi. Hal ini untuk mendukung penyediaan dan pelayanan Jasa Internet.

Semoga kedepan bisa kalurahan Tamanmartani terdapat banyak sekali objek kebudayaan, baik yang masih lestari dan berkembang maupun yang sudah punah. Objek-objek itu berupa cagar budaya benda maupun cagar budaya tak benda.

Melalui program berbasis TI nantinya pihak swasta akan menyediakan infrastruktur internet yang dikerjasamakan dengan BUMDes. Termasuk memberikan layanan internet kepada masyarakat dengan harga murah dan keuntungan akan kembali ke masyarakat.

Adanya infrastruktur ini juga mendukung good governance karena akan ada beberapa aplikasi yang bisa diterapkan misalnya aplikasi pelayanan publik, aplikasi pendataan penduduk, aplikasi pendidikan, aplikasi pengembangan potensi budaya.

Sedangkan terkait pemajuan budaya, bentuk pengembangannya akan lebih luas dan tidak sebatas pada kesenian. Sesuai dengan pengertian budaya dalam UU nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, sangat luas. Bukan hanya kesenian. Ada 10 objek pemajuan kebudayaan yang meliputi seluruh perikehidupan masyarakat. Ini akan dikembangkan di Tamanmartani.

Tumbuhkan Jiwa Kewirausahaan untuk Masyarakat

Kewirausahaan merupakan kegiatan yang sudah tidak asing lagi di Indonesia. Belum meratanya pemahaman tentang pentingnya berwirausaha bagi masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan, dan pada akhirnya menyebabkan terjadinya ketimpangan ekonomi pedesaan.

Karena itu perlu adanya suatu gebrakan agar mampu meningkatkan taraf ekonomi Masyarakat kearah perekonomian yang lebih baik. Infrastruktur yang kurang memadai ditambah dengan minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan faktor pemicu tidak meratanya pemahaman tentang kewirausahaan di Indonesia.

Umumnya kewirausahaan sering dijumpai dalam dunia bisnis, namun akhir-akhir ini berkembang dari pelaku kewirausahaan. Kewirausahaan bukan hanya milik wiraswasta atau usahawan, tetapi kewirausahaan dapat dimiliki semua orang, tentunya jika ada kemauan keras, sikap optimis, dan kreatifitas yang mampu membuat inovasi-inovasi baru. Seperti yang dilakukan oleh Kalurahan Tarumartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, yang melek akan pentingnya berwirausaha.

Mengingat banyaknya minat warga Tamanmartani yang gemar akan burung berkicau dan penangkaran, Lurah Tamanmartani, Gandang Hardjanata berinisiatif menggelar penyuluhan ternak burung berkicau. Menurutnya kegiatan tersebut adalah sebagai salah satu cara untuk mengembangkan minat masyarakat yang mana hal ini bertujuan untuk meningkatkan potensi dan kemampuan dalam bidang hobi dan penangkaran burung berkicau.

Dalam kegiatan tersebut juga mendatangkan 4 narasumber yang berkompeten di bidangnya masing- masing, seperti perwakilan juri kontes burung berkicau Kotrek, peternak sekaligus juri dan penulis buku seputar burung love bird, Budi Prawoto, MC sekaligus entrepreneur dunia burung, Puguh Liontin serta dokter hewan spesialis burung Drh. Edi Boedi Santosa.

Pada kesempatan itu masing-masing narasumber memberikan wawasan dan juga pengembangan untuk manajemen sebagai upaya untuk dapat memberikan keuntungan yang optimal agar dapat memberi manfaat yang lebih bagi masyarakat Desa Tamanmartani.

Selain membekali warga dengan beberapa materi seputar kegiatan hobi dan penangkaran burung, di akhir acara, Lurah Tamanmartani juga memberikan bantuan langsung berupa sangkar untuk beternak kepada warga.

Gandang berharap dengan adanya penyuluhan penangkaran burung berkicau mempunyai harapan dan titik terang menuju ke arah yang lebih baik dari segi ilmu pengetahuan maupun kesejahteraan serta untuk kedepannya dapat berjalan dengan lancar.

Add Comment