Nol Korban Jiwa, Berkah ‘Lockdown’ Kalurahan Tridadi

Lurah Tridadi, Kabul Mudji Basuki. IG/KABUL MUDJI BASUKI

Lurah Tridadi, H. Kabul Mudji Basuki menjelaskan pada saat awal kasus Covid-19 masuk di DIY, ia berinisiatif membuat gapura disinfektan untuk tiap dusun di Kalurahan Tridadi. “Agar seluruh warga masyarakat yang masuk area Tridadi steril,” katanya.

Selain itu, Kalurahan Tridadi juga melakukan ‘lockdown’ atau karantina wilayah akibat mewabahnya virus tersebut. Meskipun pada waktu itu belum ada warga masyarakat yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 di kalurahannya, dan belum terdapat banyak pergerakan warga yang pulang kampung, namun penutupan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi.

Menurutnya, kalurahan yang dipimpinnya tersebut menerapkan karantina wilayah sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19 yang semakin membuat warga resah dan khawatir. Kondisi tersebut mendorong warga bertindak untuk melakukan karantina wilayah sendiri.

“Warga sepakat memutuskan ‘lockdown’, upaya ini tepat karena mempertimbangkan kesehatan dan keselamatan masyarakat di tengah pandemi Covid-19,” ujarnya.

Upaya tersebut diklaim membuahkan hasil, hingga saat ini tidak ada kasus kematian akibat Covid-19 di Kalurahan Tridadi. “Kalau warga yang positif ada, tapi alhamdulillah tidak sampai meninggal, jadi sampai sekarang belum ada kasus warga masyarakat Tridadi yang meninggal akibat Covid-19,” jelasnya.

Kabul mengungkapkan jika karantina wilayah sangat berperan dalam mengatasi penularan Covid-19 di wilayahnya, karena dengan adanya karantina wilayah tersebut warga masyarakat dapat dikendalikan. Semua warga dapat dipantau pergerakannya.

Namun, meskipun Kalurahan Tridadi memberlakukan karantina wilayah, hal itu tidak berdampak pada perekonomian warganya. “Kita tidak membatasi warga masyarakat dalam mencari nafkah, namun karantina wilayah ini hanya untuk memantau pergerakan warga masyarakat, agar penularan Covid-19 juga dapat dikendalikan,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga kerap memberikan imbauan untuk setiap warga yang baru pulang dari luar wilayah Tridadi untuk segera melapor.

“Setiap warga masyarakat yang akan masuk ke wilayah Tridadi wajib izin, wajib memakai masker, harus disemprot, dan membawa surat keterangan sehat seperti surat hasil rapid test, kalau hasilnya negatif baru boleh masuk,” terangnya.

Sebelumnya, Bupati Sleman telah menerbitkan Surat Edaran nomor 493/00864 tanggal 27 Maret 2020 tentang pemantauan warga yang datang dari luar DIY dalam rangka pencegahan Covid-19.

Imbauan resmi ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan, pemerintah tingkat panewu, hingga rukun tetangga di kampung. Mereka diminta mendata pendatang dan berkoordinasi dengan puskesmas setempat untuk antisipasi warga yang sakit.

Surat edaran yang dikeluarkan oleh Bupati Sleman Sri Purnomo tersebut sebagai bentuk respon dari pernyataan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, agar setiap daerah melakukan pemantauan terhadap setiap orang yang datang dari luar daerah.

Tak sampai di situ, warga masyarakat secara mandiri melakukan penyemprotan disinfektan dengan menggunakan truk boks yang dimodifikasi dengan alat penyemprot disinfektan. Warga pun berkeliling ke rumah-rumah untuk melakukan penyemprotan di bagian luar rumah.

“Penyemprotan disinfektan dilakukan secara mandiri atas inisiatif warga yang digalang oleh pengurus RT setempat, dan ini menjadi kesadaran bersama agar ikut serta dalam menanggulangi penyebaran virus Covid-19, sehingga warga tetap sehat dan selalu waspada,” ujarnya.

Dalam penyemprotan tersebut, petugas juga diwajibkan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap dengan mengenakan masker. “Tak hanya lingkungan, kantor kalurahan juga kita semprot disinfektan tiap dua minggu sekali,” tuturnya.

Untuk pelayanan di kantor kalurahan juga telah didesain dengan sistem online, sehingga tidak terjadi penumpukan antrean warga. “Kita telah memberlakukan pelayanan dengan sistem loket. Jadi, setiap warga yang akan membutuhkan pelayanan harus melalui aplikasi pesan singkat Whatsapp terlebih dahulu, kemudian jika sudah staf kalurahan akan menerima lewat jendela yang sudah kita desain sehingga tidak bersinggungan langsung,” jelasnya.

Untuk memberikan pengetahuan tentang bahaya Covid-19, Kabul Mudji Basuki kerap memberikan edukasi dan sosialisasi kepada warganya agar mereka disiplin menggunakan masker. Selain mengedukasi masyarakat terkait protokol kesehatan, pihaknya juga tak henti hentinya memberikan pengertian kepada warga bahwa para penyintas Covid-19 bukanlah sebuah aib. Mereka harus diberikan dukungan, agar terus semangat dalam menjalani hidupnya.

“Warga kami berikan pemahaman jika ada warga kita yang melakukan isolasi mandiri itu bukanlah sebuah aib, sehingga mereka jangan dikucilkan tapi harus selalu kita dukung dan berikan semangat,” katanya.

Selain itu, Kabul kerap melakukan koordinasi dengan Satgas Covid-19 agar seluruh warga masyarakat yang ada di wilayah Tridadi terpantau.

Gerakan Masyarakat Hidup Bersih dan Sehat (Germas) pun dibudidayakan untuk mengantisipasi dan meminimalisasi penyebaran virus Covid-19. Masyarakat diajak untuk bersama-sama menjaga kebersihan, istirahat dengan cukup, dan rutin berolahraga.

Pada kesempatan tersebut, Kabul mengungkapkan jika kendala terberat dalam penanganan Covid-19 di wilayahnya adalah saat mengkondisikan para lansia, dirasa berat karena kebanyakan lansia memiliki penyakit bawaan/komorbid.

“Para lansia kami minta untuk rutin memeriksakan kesehatannya di puskesmas untuk antisipasi agar tidak terpapar Covid-19, karena mereka termasuk warga masyarakat yang rentan terpapar. Kalau sampai sekarang memang belum ada kasus lansia meninggal akibat Covid-19 di Kalurahan Tridadi,” urainya.

Untuk memantau kesehatan para lansia tersebut, Kalurahan Tridadi rutin menggelar kegiatan posyandu lansia. Dalam posyandu, para kader berperan memberikan informasi kepada lansia tentang perilaku hidup sehat dan menjaga kesehatan selama pandemi berlangsung.

“Tak kalah penting, yang harus diperhatikan adalah bagaimana lansia bisa mendapatkan informasi yang tepat dan jelas mengenai Covid-19,” katanya.

Kader juga membagikan masker untuk para lansia, baik yang dibeli sendiri dari kas posyandu maupun dari bantuan lembaga lain.

“Peran lain yang tak kalah penting adalah kerjasama antar stakeholder, seperti dengan pihak RT. Oleh karena cakupan wilayah kecil dan saling berdekatan maka akan lebih memudahkan dalam memantau kondisi lansia,” katanya.

Kegiatan posyandu lansia tidak hanya mempertahankan kesehatan fisik agar selalu bugar, namun juga sebagai wadah bertemu dengan teman sebayanya. Lansia bisa saling berkomunikasi dan berinteraksi, mengingat pada masa pandemi ini, mereka sering merasa kesepian karena tidak bisa berkumpul.

Selain memiliki posyandu untuk lansia, Kalurahan Tridadi juga memiliki posyandu untuk balita. Para kader posyandu terus melakukan pemantauan kepada balita yang berada di Kalurahan Tridadi selama pandemi Covid-19.

Ia mengatakan bahwa pelayanan posyandu di masa pandemi Covid-19 sekarang ini lebih diperketat. Protokol kesehatan Covid-19 sangat diperhatikan oleh pihaknya setiap kali melakukan pemeriksaan.

“Pelayanan posyandu dilakukan dengan sangat berhati-hati, selalu mengikuti protokol kesehatan yang ada,” terangnya.

Alat-alat yang digunakan pun, baik sebelum maupun setelah digunakan selalu dibersihkan menggunakan disinfektan. Di samping itu, petugas juga dilengkapi dengan APD yang memadai, mulai dari masker, sarung tangan, hingga face shield.

Pemberian gizi pada balita juga menjadi aspek yang semakin diperketat. Makanan yang diberikan bersifat alami, bukan instan, dan langsung dibungkus.

Kabul mengungkapkan dampak luas pandemi ternyata justru merekatkan kegotongroyongan warganya. Upaya saling bantu ini terjadi di semua lini, dengan tidak membeda-bedakan kelompok masyarakat.

“Pandemi Covid-19 tanpa sengaja membuat warga masyarakat Tridadi kompak, yang dulunya pos ronda sepi jadi ramai. Rasa kebersamaan ini tidak ditemukan sebelumnya. Dengan adanya kekompakan warga, tingkat kejahatan seperti pencurian menurun drastis,” jelasnya.

Kampung Tangguh Nusantara

Salah satu padukuhan di Kalurahan Tridadi juga telah ditetapkan sebagai Kampung Tangguh Nusantara yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Sleman bersama dengan Kepolisian Resor Sleman.

Penetapan tersebut dilakukan karena Kalurahan Tridadi dinilai tangguh dalam menghadapi bencana nonalam, yaitu pandemi Covid-19 dengan menguatkan lima hal meliputi keamanan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan informasi kreatif.

Ia mengatakan, untuk mewujudkan Program Kampung Tangguh Nusantara perlu dilakukan evaluasi rutin dalam pelaksanaannya. Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat tetap bersemangat bersatu padu dalam menghadapi Covid-19.

“Perlu menjalin sinergi dengan berbagai pihak agar dapat mendukung terwujudnya Kampung Tangguh Nusantara,” katanya.

Tujuan dari adanya Program Kampung Tangguh Nusantara adalah untuk menjadi pilot project kolaboratif bersama stakeholder dalam melakukan aksi nyata di desa atau kalurahan dikarenakan adanya indikasi Covid-19.

“Kampung Tangguh Nusantara merupakan cara bersama untuk mencegah Covid-19 sebagai wujud kesiapan desa dalam menghadapi pandemi,” terangnya.

Kabul menjelaskan jika warga masyarakat Tridadi telah memanfaatkan lahan tidur menjadi lahan aktif yang ditanami berbagai sayuran. Menurutnya, terciptanya kondisi tersebut merupakan wujud nyata dari sikap kooperatif warga masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Dengan dicanangkannya Kampung Tangguh Nusantara, diharapkan dapat meningkatkan partisipasi dan ketangguhan masyarakat, khususnya di Kalurahan Tridadi dalam mengelola risiko bencana lokal. Selain itu, dapat lebih meningkatkan kedisiplinan warga dalam mematuhi protokol kesehatan sebagai langkah penanggulangan wabah Covid-19.