Pengentasan Kemiskinan Ala Tamanmartani

KALASAN,Tamanmartani-Kemiskinan merupakan permasalahan umum yang dihadapi oleh Negara-negara yang sedang berkembang di dunia. Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang berkembang juga terus berupaya untuk menyelesaikan permasalahan kemiskinan bagi warga negaranya.

Salah satu langkah nyata adalah melalui penerbitan kebijakan pemerintah melalui dokumen peraturan perundang-undangan yang mendukung pengentasan kemiskinan yang kemudian dituangkan ke dalam program-program pengentasan kemiskinan.

Sebagaimana Presiden Joko Widodo saat mulai menjabat telah memproklamirkan Program Nawacita yang berisi tentang sembilan prioritas pembangunan Presiden Joko Widodo selama menjadi Presiden Republik Indonesia.

Terdapat dua Program Nawacita yang sejalan pada program pengentasan kemiskinan, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, dan meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui program Indonesia Pintar dengan wajib belajar 12 tahun bebas pungutan dan program Indonesia Sehat untuk peningkatan layanan kesehatan masyarakat. Serta Indonesia Kerja dan mendorong program kepemilikan tanah seluas sembilan juta hektar.

Pengentasan kemiskinan pun juga dilakukan di setiap daerah, daerah mempunyai caranya sendiri dalam menanggulangi kemiskinan di wilayahnya, seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, dengan menggulirkan program one day one hundred.

Lurah Tamanmartani, Gandang Hardjanata mengatakan program ini berupa pengumpulan iuran sukarela dari warga untuk disumbangkan kepada lansia terlantar dalam wujud makanan. Melalui aksi sosial ini, setiap hari ada 60 lansia yang dapat dibantu.

“Caranya sederhana yakni dengan mengumpulkan uang recehan dari warga, kemudian diberikan dalam bentuk makanan kepada 60 lansia miskin di Kalurahan Tamanmartani. Penyalurannya dibantu rekan-rekan dari karang taruna,” terangnya.

Besaran dana tersebut tidak ditentukan. Warga yang bersedia dapat menyumbang seikhlasnya. Dari aksi kemanusiaan ini bisa terkumpul dana dari masyarakat rata-rata sebesar Rp 2 juta, yang dikumpulkan tiap bulan oleh pemuda karang taruna.

Dana itu kemudian dialokasikan untuk memasak menu yang diolah sendiri oleh warga desa setempat. Setiap hari, para lansia mendapat jatah bantuan satu kali menu makan siang. Selain swadaya masyarakat, program ini juga didukung anggaran CSR dari beberapa perusahaan yang ada di Kalurahan Tamanmartani.

Ia berharap kedepan bisa lebih banyak lansia yang terjangkau program ini. Meski sudah ada program keluarga harapan (PKH) yang mengcover lansia namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dalam sebulan. Sehingga butuh partisipasi kepedulian dari warga sekitar.

“Sebenarnya lansia yang butuh bantuan ada lebih dari 60 orang tapi kemampuan kami sementara hanya sejumlah itu,” ujarnya.

Gandang mengungkapkan munculnya berbagai inovasi program sosial seperti one day one hundred, tidak lepas dari peran PSM yang ada di Kalurahan Tamanmartani. Sebagian dari mereka sudah diikutkan kegiatan diklat.

Penanggulangan Kemiskinan Bukan Masalah yang Mudah

Pemerintah Indonesia menyadari bahwa kemiskinan bukanlah permasalahan yang mudah untuk diatasi akan tetapi bukan hal yang sulit pula untuk diupayakan. Sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 34 bahwa “fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”, maka Pemerintah Indonesia sejak zaman orde lama hingga saat ini mengupayakan masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan dapat menurun jumlahnya.

Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2016 menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin dengan pengeluaran per kapita per bulan yang berada di bawah garis kemiskinan mencapai 28.01 juta jiwa atau sebesar 10,86 persen dari total jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa.

Data pada BPS pun menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin lebih banyak terdapat di wilayah pedesaan daripada perkotaan. Berdasarkan data hingga bulan Maret 2016 mengalami kenaikan sebesar 0,02 persen menjadi 14,11 persen dibanding pada periode yang sama pada tahun 2015 lalu. Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Indonesia masih membutuhkan perhatian lebih dari Pemerintah Indonesia, dikarenakan terdapat kenaikan jumlah penduduk miskin dibandingkan pada tahun sebelumnya.

Program penanggulangan kemiskinan di Indonesia sudah dilaksanakan pemerintah semenjak orde lama tepatnya sejak tahun 1960-an melalui strategi pemenuhan kebutuhan pokok rakyat yang tertuang dalam Pembangunan Nasional Berencana Delapan Tahun (Penasbede).

Berdasarkan TAP MPRS No. II/MPRS/1960 tentang Garis-garis Besar Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahapan Pertama 1961-1969, pola pembangunan pada masa itu lebih ditujukkan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat yang merata. Pembangunan pada saat itu berorientasi pada peningkatan pendapatan nasional yang membentuk kemakmuran rakyat Indonesia.

Kemakmuran diwujudkan melalui berbagai kebijakan yang akan meningkatkan pendapatan secara mandiri. Bidang pendidikan, perumahan, dan kesehatan, mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Kemudian dilanjutkan kebijakan untuk peningkatan pendapatan nasional dan keluarga. Program peningkatan kualitas penduduk secara lengkap tertuang dalam dokumen Pembangunan Nasional Berencana Delapan Tahun

Tamanmartani Sebagai Smart Village

Lurah dua periode ini memang berjanji pada masa kepemimpinannya ini akan menyempurnakan program yang telah dibuat sebelumnya. Program utamanya yakni akan mewujudkan smart village atau desa yang cerdas. Selain itu akan mengusahakan Desa Tamanmartani sebagai penyangga wisata untuk candi Prambanan.

Berbagai cara pun telah dilakukannya, salah satunya dengan menggandeng Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri). Dengan kerjasama dalam bentuk pengembangan jasa penginapan jenis home stay.

Berbagai program pemberdayaan Yayasan Damandiri sejak 2017, tak hanya memberikan dampak langsung dari sisi ekonomi. Namun, juga telah mengubah wajah Kalurahan Tamanmartani. Seperti yang dirasakan oleh warga Dusun Karangmojo, mereka merasakan jika Dusunnya sekarang menjadi jauh lebih baik.

“Program Desa Cerdas Mandiri Lestari yang dijalankan Yayasan Damandiri, membuat Tamanmartani menjadi lebih hidup. Seperti di Dusun Karangmojo, dulu kawasan ini sepi, tapi sekarang ramai dengan adanya sejumlah homestay, warung-warung, dan sebagainya,” katanya.

Gandang mengatakan, sejak adanya program dari Yayasan Damandiri, Dusun Karangmojo kini telah berubah menjadi salah satu wilayah pusat ekonomi di Desa Tamanmartani. Di Dusun yang memiliki 250 kepala keluarga dan 800 penduduk ini perputaran ekonomi masyarakat Desa Tamanmartani tumbuh dan makin bergeliat.

“Dulu di sini tidak ada warung, tidak ada wisatawan yang mampir. Tapi sekarang, banyak sekali wisatawan yang datang menginap di sejumlah homestay. Warung-warung juga bermunculan. Sehingga penghasilan dan ekonomi warga juga ikut meningkat,” katanya.

Menurutnya, salah satu hal positif yang juga terlihat di Dusun Karangmojo saat ini adalah mulai munculnya kesadaran warga untuk lebih mandiri. Memanfaatkan perkembangan sektor pariwisata yang ada, tak sedikit dari warga mulai berani merintis dan membuka usaha kecil-kecilan di rumah mereka.

“Padahal sejak lama, mayoritas warga di Dusun Karangmojo ini menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai buruh. Tapi, alhamdulillah kini perlahan hal itu mulai berubah,” ujarnya.

Ia berharap, agar keberadaan program Desa Cerdas Mandiri Lestari Yayasan Damandiri di Tamanmartani bisa terus berjalan di masa-masa yang akan datang. Sehingga, kesejahteraan seluruh warga pun akan semakin meningkat.

Kampung Buah Karangmojo

Sejak dicanangkan sebagai Desa Cerdas Mandiri Lestari tahun 2017 lalu, masyarakat di Kalurahan Tamanmartani tak henti melakukan berbagai inovasi untuk memajukan desa mereka. Salah satu potensi lokal yang terus dimaksimalkan adalah di sektor pariwisata.

Menindaklanjuti program pemberdayaan yang telah dilakukan Yayasan Damandiri, seperti pembentukan kampung homestay dan warung cafe rakyat, kini sejumlah warga pun mulai merintis spot-spot wisata baru di sejumlah dusun. Salah satunya, wisata edukasi kampung buah di Dusun Karangmojo.

Saat ini warga masyarakat Karangmojo mulai menyiapkan kampung wisata agro di 4 wilayah RT sejak sekitar 3 tahun lalu. Hal ini dilakukan karena melihat perkembangan pariwisata Dusun Karangmojo yang terus bergeliat seiring adanya program Desa Cerdas Mandiri Lestari dari Yayasan Damandiri.

“Sejak adanya program homestay dan warung cafe dari Yayasan Damandiri, kampung ini menjadi lebih ramai. Banyak wisatawan luar daerah datang ke sini. Dari situ mereka berpikir bagaimana membuat spot wisata alternatif yang bisa bersinergi,” katanya

Dimulai di satu wilayah RT yakni RT 04, warga masyarakat berinisiatif untuk menanam berbagai macam jenis buah-buahan di pekarangan rumah mereka masing-masing maupun di sekitar lingkungan kampung. Bibit buah tersebut mereka dapatkan dengan cara swadaya baik membeli atau mencangkok sendiri.

“Saat ini sudah ada 137 macam jenis buah yang kita tanam. Sebagian juga sudah berbuah. Target kita nanti akan bisa mencapai 200 macam jenis buah,” ungkapnya.

Melalui upaya itu, diharapkan nantinya akan semakin banyak wisatawan baik lokal maupun wisatawan luar daerah yang berkunjung ke Kalurahan Tamanmartani.

Dengan bersinergi dengan program Yayasan Damandiri, diharapkan pemberdayaan di bidang pariwisata ini akan mampu meningkatkan pendapatan warga dusun. Sehingga kesejahteraan masyarakat pun akan semakin meningkat.

“Tujuan kita sederhana, agar masyarakat bisa punya penghasilan tambahan dari hasil menjual buah atau pun bibit yang ditanam. Sehingga kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Minimal lingkungan menjadi lebih bersih dan hijau. Kebutuhan buah masyarakat juga terpenuhi karena bisa dikonsumsi sendiri,” katanya.

Pelatihan Kewirausahaan

Kewirausahaan merupakan kegiatan yang sudah tidak asing lagi di Indonesia. Belum meratanya pemahaman tentang pentingnya berwirausaha bagi masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan, akhirnya yang menyebabkan terjadinya ketimpangan ekonomi pedesaan. Karena itu perlu adanya suatu gebrakan agar mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat kearah perekonomian yang lebih baik.

Infrastruktur yang kurang memadai ditambah dengan minimnya sumber daya manusia merupakan faktor pemicu tidak meratanya pemahaman tentang kewirausahaan di Indonesia.

Pada umumnya kewirausahaan sering dijumpai dalam dunia bisnis, namun akhir-akhir ini berkembang dari pelaku kewirausahaan. Kewirausahaan bukan hanya milik wiraswasta atau usahawan, tapi kewirausahaan dapat dimiliki semua orang, tentunya jika ada kemauan keras, sikap optimis, dan kreatifitas yang mampu membuat inovasi-inovasi baru

Pemerintah Kalurahan Tamanmartani juga kerap melakukan pelatihan kewirausahaan, beberapa waktu lalu Kalurahan ini mengadakan penyuluhan ternak burung berkicau. Dalam acara ini diikuti oleh para peternak, calon peternak, dan pecinta burung.

Gandang menjelaskan alasannya mengapa ia memilih pelatihan peternakan dengan topik burung berkicau khususnya lovebird dan kenari, karena banyaknya minat warga Tamanmartani yang gemar akan burung berkicau dan penangkaran,

“Kenapa burung, pertama karena saya melihat di desa ini banyak penggemar burung. Beberapa ada yang sudah jadi peternak, ada yang sudah cukup lama, ada yang baru mulai, ada yang baru punya keinginan tapi masih bingung bagaimana memulainya. Yang sudah mulai juga mengaku pengetahuannya secara umum masih kurang,” ujarnya.

Menurutnya kegiatan tersebut adalah sebagai salah satu cara untuk mengembangkan minat masyarakat yang mana hal ini bertujuan untuk meningkatkan potensi dan kemampuan dalam bidang hobi dan penangkaran burung berkicau.

Ia berharap dengan adanya penyuluhan penangkaran burung berkicau mempunyai harapan dan titik terang menuju ke arah yang lebih baik dari segi ilmu pengetahuan maupun kesejahteraan serta untuk kedepannya dapat berjalan dengan lancar.