Peran PKK Sleman dalam Penanganan Covid-19

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sleman Hj. Kustini Sri Purnomo saat menyapa kader PKK yang ada di Kecamatan Sleman. (Foto: Humas Sleman)

Ngaglik-Pandemi Covid-19 di Indonesia masih belum berakhir, untuk menghambat angka kasus positif covid-19 di Indonesia, pemerintah meminta para jajaran, termasuk organisasi kemasyarakatan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) terlibat dalam proses sosialisasi protokol kesehatan.

Sama halnya dengan Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Sebagai kota dengan peringkat pertama terbanyak kasus Covid-19 di DIY. Namun berhasil menjaga persentase tingkat kematian rendah. Dalam penanganan Covid-19 perlu kerjasama dari berbagai pihak, termasuk para kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga PKK di setiap wilayah

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menceritakan saat ia menjadi Ketua Penggerak PKK Sleman pada pertengahan maret 2020, ia turun langsung ke sejumlah lokasi untuk melakukan tindakan pertama, yakni penyemprotan desinfektan.

“Saat itu, masyarakat masih terlihat panik karena virus yang disinyalir berasal dari Kota Wuhan mulai masuk ke Yogyakarta. Sembari menenangkan warga, saya menggandeng sejumlah pihak ikut terjun bersama saya,” jelasnya beberapa waktu lalu.

Ia mengungkapkan jika wabah Covid-19 dapat ditangani dengan modal gotong royong. Saat itu ia mendatangi 25 puskesmas di Sleman dengan meminjam mobil Pemerintah Kabupaten Sleman, yang kemudian ia gunakan untuk turun langsung ke warga.

“Mobil tersebut saya gunakan untuk melakukan penyemprotan desinfektan, selain itu kami juga melakukan pembagian masker dan hand sanitizer,” urainya.

Setelah semua itu dilakukan, Kustini juga memberikan pemahaman kepada warga masyarakat agar mereka patuh dan disiplin menjalankan protokol kesehatan

“Dan yang paling penting adalah memberikan pemahaman kepada warga untuk patuh terhadap protokol kesehatan. Saya berharap dengan penyemprotan desinfektan tersebut masyarakat menjadi lebih peduli bahwa pencegahan virus tersebut merupakan kewajiban bersama,” jelasnya.

Tak sampai disitu, ia juga mengajak kepada seluruh kader PKK yang ada di setiap desa untuk aktif memberikan sosialisasi tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

“Saya juga mengajak masyarakat agar membudayakan hidup sehat serta menjaga kebersihan lingkungan melalui Germas. Kader-kader PKK yang ada di setiap desa sudah siap dan selalu berperan aktif menyosialisasikan dalam penerapan pola hidup bersih dan sehat dari tingkat terendah yakni dimulai dari keluarga hingga ke tingkat kabupaten,” ujarnya.

Kustini juga meminta kepada Pemerintah Kabupaten Sleman agar memberikan pembekalan edukasi tentang pencegahan Covid-19 kepada seluruh kader PKK di Kabupaten Sleman.

“Para kader juga sudah kami diimbau untuk berperan aktif jika menemukan gejala di sekitar tempat tinggalnya untuk segera melaporkan ke puskesmas setempat,” jelasnya.

Akibat adanya Pandemi Covid-19 seluruh sektor kehidupan pun mengalami dampaknya, tidak hanya pada sektor ekonomi saja, namun karena pandemic Covid-19 ini anak-anak sampai sekarang tidak bisa melakukan aktivitas belajar di sekolah mereka.

Untuk itu ia berinisiatif untuk memperkuat program yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Sleman, yakni pemulihan ekonomi. Kustini yang juga sebagai ketua Dekranasda Sleman, merasakan langsung apa dialami para pelaku UMKM.

“Kondisi menjadi keprihatinan bersama, namun saya selalu tekankan bahwa dengan niat dan tekad yang kuat pasti bisa mengatasi masalah ini dengan bersama-sama, saling membantu dan peduli. Pemulihan ekonomi bisa dilakukan bersamaan dengan penanganan kesehatan,” katanya.

Berbagai upaya pun terus dilakukannya untuk memberikan jalan keluar bagi kondisi yang dihadapi UMKM yang terdampak Covid-19. Keseriusan pemerintah kabupaten dalam memulihkan perekonomian UMKM di Sleman direalisasikan dengan diluncurkannya Gedung Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda).

Gedung Dekranasda ini nantinya akan jadi wadah dalam memaksimalkan pengembangan produksi kerajinan. Baik kerajinan di Kabupaten Sleman khususnya dan kerajinan nasional umumnya.

“Saya juga menggandeng Diskominfo untuk memberikan pelatihan pemasaran dan penjualan produk secara online,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut ia menceritakan saat dirinya mengunjungi Dusun Magowo, Maguwoharjo ia melihat warga bahu membahu menyediakan bahan pangan, salah satunya sayuran segar yang disediakan gratis.

“Saya berkunjung ke Dusun Maguwo, Maguwoharjo dan melihat langsung bagaimana kebersamaan ketika merancang sebuah program bernama ‘Jumat Barokah’. Warga bahu membahu menyediakan bahan pangan, salah satunya sayuran segar yang disediakan gratis,” ujarnya.

Menurutnya itulah wujud Sleman Rumah Bersama yang selalu sia serukan kepada masyarakat. Gotong royong sebagai modal sosial memang sangat dibutuhkan.

“Urip rukun karo tonggo teparo. Nyengkuyung kiwo tengen. Berbagi, saling menopang. Yang mampu membantu yang kurang mampu, tanpa sekat tanpa batasan,” katanya.

Ketahanan Pangan dari Pekarangan

Pandemi Covid-19 berdampak secara sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat. Untuk menjaga ketahanan pangan, Kustini mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam tanaman pertanian, khususnya sayuran.

“Warga juga bisa memelihara ayam dan kolam ikan. Aktivitas itu bisa mengisi kekosongan selama menjalani seruan pemerintah untuk stay at home. Pola menanam tanaman cepat panen bisa membantu warga di tengah pandemi Covid-19,” bebernya.

Menurutnya menjaga ketahanan pangan saat ini sangat dibutuhkan untuk melawan dan mengantisipasi penyebaran Covid-19.

“Saya mengajak masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan di sekitarnya. Tujuannya agar lahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan bisa ditanami tanaman apa saja. Bisa sayur-sayuran, kolam ikan atau komoditas lainnya,” bebernya.

Ia mengungkapkan jika cara tersebut tidaklah sulit, sebab cara ini tidak membutuhkan biaya banyak, cukup menggunakan benda-benda yang sudah tidak digunakan lagi seperti ember, canting atau wadah bekas lainnya.

“Bisa menggunakan ember bekas atau benda yang sekiranya dapat digunakan sebagai pengganti pot” ujarnya.

Dengan pemanfaatan lahan pekarangan ini, warga masyarakat tidak perlu membeli jika membutuhkan sayur untuk memasak dirumah, selain itu sayuran tersebut juga bisa dijual kepada orang lain.

“Sayuran yang telah ditanam di pekarangan dapat dimanfaatkan untuk dimasak sehari-hari maupun dapat dijual lagi. Jadi makan apa yang kita tanam, tanam apa yang kita makan,” tegasnya.

Kustini berharap Kelompok Wanita Tangguh bisa memanfaatkan teknologi melalui berjualan secara online dari hasil tanaman di pekarangan nanti bila panen.

“Atau bisa juga dagangan lainnya karena di masa pandemi ini, banyak orang mencari barang lewat online di media sosial. Harus kreatif memanfaatkan jualan online. Ini sebagai upaya menaikkan ekonomi,” ujarnya.

Kesejahteraan sebuah negara salah satunya dapat dilihat dari kemampuan masyarakatnya dalam memenuhi kebutuhan pangannya. Maka diantaranya dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan yang dimiliki oleh masyarakat untuk menghasilkan berbagai macam pangan. ‘Nandur Opo Sing Dipangan, Mangan Opo Sing Ditandur’.

Ia mengungkapkan adanya pandemi memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan dan keuangan terutama bagi rumah tangga. Maka, lanjutnya, perlunya berpikir kreatif seperti, pemanfaatan pekarangan rumah sebagai lahan produktif untuk ketahanan pangan selama pandemi.

“Dengan adanya pemanfaatan media tanam di pekarangan rumah. Tentunya, memberikan keuntungan bagi si pemilik baik dari segi ekonomi dan kesehatan,” ucapnya.

Secara ekonomi, membudidayakan ketahanan pangan di pekarangan rumah dapat menghemat pengeluaran apalagi selama pandemi ini. Kesehatan pun didapatkan dari mengonsumsi makanan organik hasil tanam sendiri, yang sudah dipastikan bebas dari bahan kimia berbahaya.

Selain pemanfaatan lahan pekarangan untuk ketahanan pangan, ia juga mengajak warga masyarakat untuk beternak lele dengan memanfaatkan barang bekas seperti ember atau wadah besar lainnya.

Dipilihnya lele sebagai sumber protein dalam ketahanan pangan karena nilai gizi pada ikan lele cukup tinggi. Selain itu, perawatan ikan lele juga tidak memerlukan biaya yang besar dan tergolong lebih mudah dibandingkan ikan jenis lainnya.

“Pandemi Covid-19 membuat semua sektor usaha berhenti bergerak, seperti usaha kuliner dan kegiatan kampus terhenti yang membuat usaha-usaha kecil dan roda ekonomi juga berhenti. Akibatnya, angka kemiskinan meningkat,” katanya.

Jika tahun 2010 pada awal Sri Purnomo menjadi Bupati Sleman angka kemiskinan mencapai 19,9 persen, namun dalam 10 tahun terakhir berhasil turun 6,9 persen. Namun, sejak awal pandemi Covid-19 Maret 2020, angka kemiskinan naik menjadi 12 persen.

“Hal itu menjadi tantangan kita bersama ke depan, bagaimana menurunkan angka kemiskinan tersebut. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan meningkatkan ketahanan pangan dengan melibatkan semua komponen masyarakat, mulai dari keluarga hingga kelompok terbesar,” ujarnya.

Namun ia tak menepis adanya hambatan dalam upaya tersebut, salah satunya adalah terbatasnya lahan karena sebagian lahan produktif karena ditanami besi beton. Di sisi lain jumlah petani berkurang dan petani yang ada sudah berusia 50 tahun ke atas.

“Sementara banyak generasi muda yang tidak tertarik menjadi petani karena usaha pertanian selalu rugi. Sudah membeli pupuk dengan harga mahal bahkan langka, sementara harga hasil pertanian murah sehingga petani rugi,” ucapnya.

Akibatnya, banyak yang tidak tertarik untuk menjadi petani, apalagi generasi muda. Karena itu, ia berharap kedepan perlu dikembangkan teknologi pertanian untuk menarik minat generasi muda menjadi petani dan terjun ke bidang pertanian.

“Program ketahanan dan kemandirian pangan sangat penting, bukan hanya di Kabupaten Sleman tapi juga dalam lingkup nasional. Hal ini sesuai dan sejalan dengan program pemerintah pusat di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo. Sebab, sangat ironis Indonesia sebagai negara agraris justru impor pangan seperti beras, kedelai, daging dan sebagainya,” katanya.

Pemulihan Kondisi di Tengah Pandemi

Kustini bersama anggota PKK Sleman juga kerap mengadakan kegiatan di wilayah, seperti yang dilakukan di Balai Desa Sumberagung, Balai Desa Sumberarum dan Balai Desa Sumberrahayu, Moyudan, Sleman.

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk “Ibu Menyapa Warga” ini adalah sebuah kegiatan penyuluhan dari Pokja PKK Kabupaten Sleman yang bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman.

Dalam kunjungan tersebut ia mengajak seluruh kader PKK di wilayah tersebut agar menyiapkan dan memulihkan kembali kegiatan posyandu dan masyarakat menuju new normal.

Selain itu juga diisi dengan kegiatan memotivasi masyarakat untuk berkreatif dalam meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.

Kustini berharap kegiatan ini dapat mempersiapkan masyarakat dalam menghadapi kehidupan baru.

“Dengan selalu mengupayakan kondisi sehat, dapat berkreatif dalam memanfaatkan lahan pekarangan dan meningkatkan pendapatan ekonomi,” katanya.

Menurutnya, dengan kondisi keluarga yang sehat, kegiatan ekonomi keluarga dapat tertata dengan baik dan dapat tercipta keluarga yang bahagia dan sejahtera.

“Dengan jargonnya PKK Sleman nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur, turahane didol,” tegas Kustini sambil memberi semangat kepada ibu-ibu PKK di setiap wilayah.