PKK Tamanmartani Peduli Lansia

Ketua TP PKK periode 2010-2020 Kustini Sri Purnomo saat meninjau pedagang pasar Tradisional. (Foto: Pemkab Sleman)

KALASAN, Tamanmartani-Dalam menjalani ruas akhir kehidupannya, lansia selalu dihadapkan pada berbagai persoalan yang menyangkut menurunnya daya tahan tubuh dan munculnya berbagai penyakit akibat usia lanjut. Kondisi ini sering menyebabkan lansia merasa bersedih hati. Belum lagi ia merasa sudah tidak berguna lagi karena pikiran dan tenaganya yang terus melemah.

Ketergantungannya yang makin tinggi terhadap orang lain, menyebabkan lansia mudah tersinggung manakala dirinya tidak diperhatikan atau diacuhkan oleh anak-anak atau cucunya.

Di sinilah perlunya keluarga yang ditumpangi lansia sadar diri dan harus memberi perhatian dan kasih sayang yang cukup agar lansia merasa bahagia. Perhatian dan kasih sayang tidak harus berlebih, karena lansia sudah tidak butuh lagi makanan yang mewah, pakaian yang mahal, atau perhiasan yang mempesona.

Mereka hanya butuh makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya dalam batas sederhana saja, yang penting dia merasa ‘diuwongke’, didengarkan nasehat-nasehatnya serta diberi ruang untuk berbuat sesuatu sebatas kemampuannya.

Pada kenyataannya di masyarakat masih banyak ditemukan keluarga lansia yang belum memahami kebutuhan mereka, mengingat kebutuhan lanjut usia tidak sebatas tercukupi makan, minum, dan menjaga kesehatan saja, tetapi lebih dari itu diperlukan kepedulian keluarga di dalam pemenuhan kebutuhan lainnya.

Mengingat hal tersebut, dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan keberfungsian sosial lanjut usia, maka lansia perlu didampingi oleh seseorang yang mempunyai sifat dan pendekatan tertentu yang dapat diterima dengan baik oleh lanjut usia.

Seperti yang telah dilakukan di PKK Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman yang terus berupaya untuk membuat para lansia ini mendapat kebahagiaan serta kesejahteraan dalam kehidupannya,

Kalurahan Tamanmartani menjadi salah satu Kalurahan yang berusaha untuk menggerakkan partisipasi masyarakatnya dengan melibatkan peran PKK untuk berbagai kegiatan.

Ketua Tim Penggerak PKK Tamanmartani, Siti Marfu’ah mengatakan jika Kalurahan Tamanmartani terus melaksanakan program PKK salah satunya adalah peduli lansia. Untuk itu PKK Tamanmartani terus aktif dalam posyandu lansia.

Dalam penerapannya, posyandu untuk lansia tidak berbeda jauh dengan posyandu balita, posyandu ini juga untuk memantau kesehatan para lansia di Kalurahan Tamanmartani.

“Dalam posyandu tersebut para kader PKK berperan memberikan informasi kepada lansia tentang perilaku hidup sehat dan menjaga kesehatan selama pandemi berlangsung. Tak kalah penting yang harus diperhatikan bagaimana lansia bisa mendapatkan informasi yang tepat dan jelas mengenai Covid-19,” katanya beberapa waktu lalu.

Kader juga membagikan masker untuk para lansia, baik yang dibeli sendiri dari kas posyandu maupun dari bantuan lembaga lain.

“Peran lain yang tak kalah penting adalah kerjasama antar stakeholder, seperti dengan pihak RT. Oleh karena cakupan wilayah kecil dan saling berdekatan, maka akan lebih memudahkan dalam memantau kondisi lansia,” katanya.

Kegiatan posyandu lansia tidak hanya mempertahankan kesehatan fisik agar selalu bugar, namun posyandu lansia juga sebagai wadah bertemu dengan teman sebayanya, lansia bisa saling berkomunikasi dan berinteraksi. Pada masa pandemi ini mereka merasa kesepian karena tidak bisa berkumpul.

Selain mengecek kondisi kesehatan lansia, seperti tensi atau tekanan darah, kolesterol, hingga gula darah, para kader juga memberikan bimbingan atau konsultasi kesehatan gratis bagi warga, termasuk penerapan protokol kesehatan selama masa pandemi Covid-19.

“Pemeriksaan kesehatan bagi lansia ini dalam upaya meningkatkan kesehatan warga. Pemeriksaan ini rutin dilakukan setiap seminggu sekali,” jelasnya.

Menurutnya adanya pemeriksaan tersebut juga dinilai sangat memudahkan para keluarga lansia, khususnya mereka yang masuk dalam kategori warga kurang mampu. Jika nantinya, ada warga lansia yang kondisi kesehatannya memburuk, pihaknya akan membantu mengarahkan untuk dibawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.

Dalam Undang-undang nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia dijelaskan bahwa Indonesia juga memiliki kewajiban untuk mensejahterakan lanjut usia. Negara wajib memberikan perlindungan sosial bagi rakyatnya. Sehingga lanjut usia juga menjadi tanggung jawab suatu negara.

Dari Undang-undang tersebut jelaslah yang menjadi hak-hak para lanjut usia dalam menjalankan roda kehidupannya. Dipaparkan dalam penjelasan pasal 19 Undang-undang nomor 13 Tahun 1998 bahwa upaya perlindungan sosial terdiri dari pemenuhan kebutuhan sosial para lanjut usia maupun kemudahan dalam mendapatkan pelayanan.

Menua bukanlah sebuah penyakit, setiap manusia pasti akan mengalaminya, untuk itu para lansia wajib mendapatkan perhatian khusus, undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2 menyebutkan bahwa usia 60 tahun adalah usia permulaan tua. Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur-angsur mengakibatkan perubahan yang kumulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh yang berakhir dengan kematian.

Ia mengungkapkan jika dalam menjalani ruas akhir kehidupannya, lansia selalu dihadapkan pada berbagai persoalan yang menyangkut menurunnya daya tahan tubuh dan munculnya berbagai penyakit akibat usia lanjut. Kondisi ini sering menyebabkan lansia merasa bersedih hati. Belum lagi ia merasa sudah tidak berguna lagi karena pikiran dan tenaganya yang terus melemah.

Ketergantungannya yang makin tinggi terhadap orang lain, menyebabkan lansia mudah tersinggung manakala dirinya tidak diperhatikan atau diacuhkan oleh anak-anak atau cucunya. Di sinilah perlunya keluarga yang ditumpangi lansia sadar diri dan harus memberi perhatian dan kasih sayang yang cukup agar lansia merasa bahagia. Perhatian dan kasih sayang tidak harus berlebih, karena lansia sudah tidak butuh lagi makanan yang mewah, pakaian yang mahal, atau perhiasan yang mempesona.

Sebelumnya Ketua TP PKK Kabupaten Sleman periode 2010-2020, Kustini Sri Purnomo mengatakan jumlah lansia yang berada di wilayah Kabupaten Sleman pada tahun 2019 mencapai 127.052 jiwa. Namun 80.09 % lansia dari jumlah tersebut telah mendapat layanan kesehatan lansia dari Pemerintah Kabupaten Sleman serta masih banyak yang aktif dalam berbagai kegiatan atau paguyuban.

“Kami kader PKK terus berusaha supaya para lansia untuk terus semangat dan produktif dalam berkarya dengan melibatkan bimbingan dari kader kesehatan, relawan, dan keluarga yang memiliki lansia,” ujarnya.

Ia menuturkan jika TP PKK Sleman telah memberikan perhatian pada para lansia diantaranya diwujudkan dalam penanganan kesehatan lansia melalui posyandu usia lanjut, pelatihan kader usia lanjut di bidang kesehatan, serta pembinaan senam bugar usia lanjut.

“Puskesmas di wilayah Kabupaten Sleman merupakan Puskesmas Santun Lansia yang telah memiliki layanan kesehatan untuk lansia. Selain itu, di puskesmas juga memiliki program pro lansia yang bertujuan untuk mendorong para peserta penyandang sakit kronis mencapai kualitas hidup optimal,”katanya.

Ia mengungkapkan jika angka harapan hidup di Kabupaten Sleman adalah yang tertinggi di Indonesia. Saat ini harapan hidup rata-rata untuk perempuan di Kabupaten Sleman mencapai 76 tahun. Sedangkan harapan hidup rata-rata untuk laki-laki 74 tahun.

“Hal tersebut merupakan bukti bahwa masyarakat Sleman peduli dengan kesehatannya. Saya berharap masyarakat dapat terus mempertahankan budaya hidup sehat tersebut, bahkan lebih ditingkatkan lagi,” jelasnya.

Menurutnya harapan hidup mayarakat Sleman tinggi karena masyarakat Sleman mempunyai sifat sabar, nrimo, legowo, namun tetap mau bekerja, dan bergerak. Karena kalau kualitas hidup meningkat, harapan hidup juga meningkat.

“Saya mewajibkan semua pedukuhan memiliki Yandu Lansia, mengurusi kondisi lansia, salah satunya setiap bulan memeriksa kesehatan mereka. Mulai dari tensi darah, berat badan, hingga memberikan tambahan vitamin. Ini harus terpantau dengan baik, untuk itu bekerja sama dengan Puskesmas,” ujarnya.

One Day One Hundred

PKK Tamanmartani juga menggulirkan program one day one hundred. Program ini berupa pengumpulan iuran sukarela dari warga untuk disumbangkan kepada lansia terlantar dalam wujud makanan. Melalui aksi sosial ini, setiap hari ada 60 lansia yang dapat dibantu.

“Caranya sederhana yakni dengan mengumpulkan uang dari warga, kemudian diberikan dalam bentuk makanan kepada 60 lansia miskin di Kalurahan Tamanmartani. Penyalurannya dibantu rekan-rekan dari karang taruna,” terangnya.

Besaran dana tersebut tidak ditentukan. Warga yang bersedia dapat menyumbang seikhlasnya. Dari aksi kemanusiaan ini bisa terkumpul dana dari masyarakat rata-rata sebesar Rp 2 juta, yang dikumpulkan tiap bulan oleh pemuda karang taruna.

Dana itu kemudian dialokasikan untuk memasak menu yang diolah sendiri oleh warga desa setempat. Setiap hari, para lansia mendapat jatah bantuan satu kali menu makan siang. Selain swadaya masyarakat, program ini juga didukung anggaran CSR dari beberapa perusahaan yang ada di Kalurahan Tamanmartani.

Ia berharap kedepan bisa lebih banyak lansia yang terjangkau program ini. Meski sudah ada program keluarga harapan (PKH) yang mengcover lansia namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dalam sebulan. Sehingga butuh partisipasi kepedulian dari warga sekitar.

“Sebenarnya lansia yang butuh bantuan ada lebih dari 60 orang tapi kemampuan kami sementara hanya sejumlah itu,” ujarnya.

Ia mengungkapkan munculnya berbagai inovasi program sosial seperti one day one hundred, tidak lepas dari dasawisma di tingkat RT yang memberikan laporan kepada PKK Kalurahan. “Untuk itu kami berinisiatif untuk membantu para lansia tersebut” ujarnya.

Penanganan lansia perlu diupayakan melalui pendekatan holistik secara menyeluruh dan terpadu baik oleh pemerintah, masyarakat maupun keluarga, dengan harapan agar lansia tetap hidup dalam keadaan sehat.

“Sebenarnya yang dibutuhkan lansia itu perhatian, sentuhan sedikit saja mereka sudah bangkit,” katanya.