Puskesmas Adalah Garda Terdepan Penanganan Covid-19

dr Tirta saat usai di vaksin di puskesmas Ngemplak II, Sleman. (Foto:Instagram/dr.Tirta)

SLEMAN, Ngaglik-Sudah genap dua setahun Covid-19 mewabah di Indonesia dan telah menginfeksi jutaan masyarakat. Kasus pertama Covid-19 di Indonesia muncul pada, Senin, 2 Maret 2020 lalu, yang saat itu terlaporkan 2 warga Depok Jawa Barat positif terpapar.

Seiring berjalannya waktu, hanya dalam beberapa hari saja warga di Indonesia terus berjatuhan akibat Covid-19 hingga saat ini. Dampak pandemi Covid-19 ini juga dirasakan oleh warga masyarakat di Kabupaten Sleman.

langkah cepat segera Pemerintah Kabupaten Sleman, hasilnya meski sebagai kabupaten dengan peringkat pertama terbanyak kasus Covid-19 di DIY, namun Sleman berhasil menjaga persentase tingkat kematian rendah. Salah satu upayanya adalah menjadikan puskesmas sebagai ujung tombak dalam penanganan Covid-19.

Seperti yang dikatakan dr Tirta Mandira Hudhi, Ia mengatakan peran puskesmas sangat penting dalam pencegahan dan pengendalian Covid-19, karena puskesmas adalah garda terdepan pelayanan medis yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Menurut dia, di masa pandemi saat ini, puskesmas berperan besar dalam mencegah warga terpapar Covid-19, seperti dalam hal mendeteksi masyarakat yang diduga terpapar Covid-19 dan merespons bila menemukan warganya terpapar Covid-19. Fungsi tersebut dilaksanakan oleh puskesmas dengan pendekatan 3T (testing, tracing dan treatment).

“Melakukan testing dan screening terhadap orang dengan gejala Covid-19. Tracing dengan melacak siapa saja yang kontak erat dengan pasien Covid-19. Treatment, bila mendapati ada pasien Covid-19, pasien tersebut dikarantina supaya tidak berkeliaran,” tuturnya

Terlebih pemerintah telah mengeluarkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro, dengan adanya kebijakan tersebut peran puskesmas sebagai penanggung jawab bidang kesehatan di wilayahnya masing-masing harus dioptimalkan.

“Dengan konsep PPKM Mikro, penegasan peran yang harus dioptimalkan puskesmas sebagai pelaksana pelayanan dan pemegang kendali koordinasi penanganan Covid-19 melalui upaya 3T,” katanya.

Untuk mendapatkan informasi penanganan Covid-19 terkini di puskesmas, para tenaga kesehatan, baik telah memanfaatkan membuat inovasi. “Banyak inovasi yang telah dikembangkan agar warga masyarakat bisa mendapat gambaran real time kasus Covid-19 dan upaya 3T,” imbuhnya.

Puskesmas juga harus aktif menelusuri kontak erat dari setiap pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Penelusuran ini dilanjutkan dengan testing melalui swab PCR maupun rapid antigen. Puskesmas juga memantau pelaksanaan karantina dan isolasi di wilayah.

Peran penting lainnya yakni puskesmas mengedukasi masyarakat pentingnya vaksinasi Covid-19. Puskesmas juga mendata warga yang menjadi sasaran vaksinasi di wilayah kerjanya. Lalu, puskesmas merencanakan kebutuhan vaksin dan logistik. Puskesmas melaksanakan vaksinasi dan pelayanan ketika terjadi kejadian ikutan pasca imunisasi.

Tak sampai disitu, dalam usahanya untuk membuat warga masyarakat percaya dengan puskesmas, dokter lulus Universitas Gadjah Mada ini memilih mengikuti vaksinasi di Puskesmas. Ia di vaksin di Puskesmas Ngemplak II bersama dengan Bupati Sleman, Sri Purnomo dan jajaran Forkopimda Sleman. Sebelum divaksin di Sleman, ia telah mendapat tawaran untuk mengikuti vaksinasi Covid-19 di Istana Negara bersama Presiden Joko Widodo.

Tirta mengakui bahwa pengajuan vaksinasi bersama Presiden Jokowi memang sudah diterimanya bersama dengan beberapa tokoh lain di antaranya Najwa Shihab dan Raffi Ahmad. Akan tetapi, begitu ia lebih memilih menerima tawaran dari pihak Pemerintah Kabupaten Sleman.

Pihaknya membeberkan alasan lain ikut vaksinasi di Sleman. Ia ingin agar masyarakat bisa lebih percaya efikasi vaksin sekaligus menangkal hoaks yang beredar soal vaksin.

“Yang paling utama adalah mengajak para generasi muda khususnya tenaga kesehatan muda untuk menjalani vaksinasi di puskesmas. Selain itu Sleman adalah tempat kerja saya saat kuliah jadi harapannya saya vaksinasi pertama di Sleman masyarakat lebih percaya trust issue bisa juga bagus dan kita bisa menangkal info hoaks sehingga kita bisa selesai dari pandemi,” sebutnya.

Menurutnya, hal itu bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat bahwa vaksinasi itu merupakan bagian dari pelayanan kesehatan di tingkat pertama.

“Jadi alangkah lebih elok kalau nakes-nakes yang anak muda itu di vaksin di puskesmas karena ini bisa menjadi sarana edukasi untuk masyarakat sekitar bahwa layanan tingkat pertama dan vaksin itu merupakan termasuk layanan tingkat pertama. Selayaknya dengan program imunisasi yang ada di puskesmas sejak dulu,” jelasnya.

Tirta berharap dengan vaksinasi yang dilakukan di puskesmas dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap vaksinasi Covid-19. Terlebih lagi program vaksinasi atau imunisasi itu sudah sejak dulu ada di puskesmas.

Saat dilakukan vaksinasi tersebut, ia sempat menayangkan prosesnya di semua akun media sosial yang ia miliki dengan harapan dapat menangkal hoax yang masih sering muncul. Khususnya terkait dengan persoalan Covid-19 dan vaksin Sinovac.

Dalam vaksinasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman 52 fasilitas kesehatan (faskes). Faskes ini terdiri dari 25 Puskesmas, 24 rumah sakit, dan 3 klinik.

Inovasi Tawa Panic

Berbagai inovasi pun telah dilakukan oleh Puskesmas-puskesmas yang ada di wilayah Sleman dalam menanggulangi Covid-19, salah satunya adalah inovasi Tawa Panic atau Tanggap dan Lawan Pandemi Covid-19 yang diinisiasi oleh Puskesmas Mlati 1.

Tawa Panic ini menitik beratkan pada tanggap dan lawan, artinya Puskesmas Mlati I dengan sigap mengurangi risiko bencana Covid-19, yaitu dengan mensinergikan penguatan UKM (Upaya Kesehatan Masyarakat) dan UKP (Upaya Kesehatan Perseorangan), baik secara fisik maupun penyiapan SDM (Sumber Daya Manusia). Dengan perpaduan antara kekuatan UKP dan UKM, diharapkan dapat meminimalisir penyebaran Covid-19.

Kegiatan diawali dengan penyiapan SDM, sarana dan prasarana. Penyiapan SDM dilakukan dengan pengaturan tugas, bimbingan teknis terkait layanan kesehatan dan PPI (Pencegahan Penyakit Infeksi), serta penyiapan mental bagi karyawan. Selain itu kami juga berupaya merubah perilaku dan kebiasaan petugas maupun pasien untuk taat pada protokol kesehatan.

Pada area UKP kegiatan meliputi pemisahan pasien panas, batuk, pilek, dan sesak napas, perubahan alur layanan, penguatan PPI (Pencegahan Penyakit Infeksi). Serta pengelolaan limbah medis.

Pada area UKM Puskesmas inj melakukan edukasi secara intensif kepada masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk taat pada protokol kesehatan, serta penguatan surveilan, guna memutus rantai penularan Covid-19.

inovasi Tawa Panic ini diharapkan dapat memutus mata rantai dan meminimalisir penyebaran Covid-19, sehingga pandemi ini bisa segera berakhir. Selain itu juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk taat berperilaku hidup bersih dan sehat, selain itu juga untuk menguatkan mental petugas kesehatan dalam mengatasi pandemi Covid-19.

Tentu dalam menjalani inovasi ini ada risiko dan tantangan yang dihadapi. Menurut dr. Ernawati selaku Kepala Puskesmas Mlati I, tantangan yang selama ini dihadapi petugas medis yakni petugas puskesmas langsung berhubungan dengan pasien dan masyarakat, maka resiko terbesar adalah kemungkinan tertular penyakit. Oleh karena itu APD dan sistem pencegahan penyakit infeksi harus diperkuat dan harus memenuhi standar.

Tingginya stigma masyarakat terhadap seseorang yang terkait dengan kasus Covid-19, maka tenaga kesehatan juga dituntut untuk mampu memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menghilangkan stigma. Merubah perilaku masyarakat bukan hal yang mudah, perlu edukasi secara intensif dan berulang-ulang.

Peran Aktif Relawan

Selain itu ia juga meminta masyarakat untuk tidak menjauhi tenaga medis maupun pasien Covid-19, karena yang seharusnya dijauhi adalah virusnya bukan orangnya.

“Jangan ada stigma negatif pada tenaga kesehatan maupun pasien Covid-19 karena orang kena Covid-19 itu bukan aib,” katanya.

Dalam menanggapi fenomena ini, ia menjelaskan relawan dan juga nakes termasuk agen yang memiliki peran penting guna meluruskan stigma negatif yang berkembang di masyarakat.

Menurutnya, mereka memegang peran strategis dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Salah satunya dengan mengedukasi masyarakat dengan informasi yang benar dan tepat seputar Covid-19, mulai dari apa itu covid, cara penularan, hingga cara pencegahannya.

“Jadi, relawan itu ada medis dan non medis. Relawan medis berjuang langsung dengan pasien dan relawan non medis berjuang di belakang dengan edukasi dan prevensi,” jelasnya.

Dalam mengedukasi masyarakat, para relawan diharapkan dapat memahami karakteristik masyarakat terlebih dahulu. Misalnya, ketika berhadapan dengan masyarakat kelas menegah ke bawah seperti di terminal, pasar, TPA, dan lainnya dalam penyampaiannya menggunakan bahasa yang tidak terlalu formal. Hal tersebut berbeda saat berhadapan dengan masyarakat kelas menengah ke atas yang bisa disampaikan dengan lebih formal.

“Kalau kelas menengah ke atas pakai sosial media, kalau kelas menengah ke bawah harus didatengin dan diajari langsung. Ada contoh, seperti cara cuci tangan yang benar, pakai masker, cara batuk, dan lainnya,”tuturnya.

Tirta menyampaikan dalam bertugas mengedukasi masyarakat, relawan diharapkan bekerja berdasar data dari sumber terpercaya seperti WHO, CDC, Kemenkes, dan Dinkes. Edukasi yang bisa dilakukan antara lain terkait pola hidup bersih dan sehat (PHBS), physical distancing dan social distancing, hindari stigmatisasi tenaga kesehatan dan pasien Covid-19, tidak mudik, dan lainnya.

“Rumus menangani Covid ini adalah tidak takut, tapi waspada. Tidak meremehkan, tapi tenang,”tandasnya.

Add Comment