Puskesmas, Garda Terdepan Penanganan Covid-19

Founder & CEO Shoes and Care, dr. Tirta Mandira Hudhi. IG/TIRTA MANDIRA HUDHI

Karena bersentuhan langsung dengan warga, Puskesmas berperan besar mencegah warga agar tidak terpapar Covid-19, mendeteksi warga yang diduga terpapar, dan merespons cepat bila menemukan warga yang terpapar. Dengan pendekatan kewilayahan, Puskesmas memungkinkan kontribusinya yang mengena tepat sasaran. Lebih valid dan memasyarakat.

Berhadapan dengan pandemi Covid-19, Puskesmas memiliki peran penting. Di sanalah ujung tombak penanganan pandemi. Seorang dokter pesohor yang concern pada penanganan Covid-19, dr. Tirta Mandira Hudhi, meneguhkan peran Puskesmas yang sangat vital.

Mengapa Puskesmas diperankan sangat penting dalam pencegahan dan pengendalian Covid-19? Karena, Puskesmas adalah garda terdepan pelayanan medis yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Disebut garda depan, juga berarti pihak yang sangat ditunggu warga, kontribusi nyatanya. Bagi warga, Puskesmas menjawab persoalan medis, meski masih di tingkat paling dasar.

Menurut dr. Tirta, di masa pandemi saat ini, Puskesmas berperan besar dalam mencegah warga terpapar Covid-19, seperti dalam hal mendeteksi masyarakat yang diduga terpapar Covid-19 dan merespons bila menemukan warganya terpapar Covid-19. Fungsi tersebut dilaksanakan oleh puskesmas dengan pendekatan 3T, yakni testing, tracing, dan treatment.

Puskesmas dapat melakukan testing dan screening terhadap orang dengan gejala Covid-19. Selanjutnya, tracing dengan melacak siapa saja yang melakukan kontak erat dengan pasien Covid-19. Terakhir, treatment bila Puskesmas mendapati pasien Covid-19, yakni dengan melakukan karantina, supaya penyintas tidak berkeliaran.

Terlebih, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro. Dengan adanya kebijakan tersebut, peran Puskesmas sebagai penanggung jawab kesehatan di wilayahnya masing-masing dapat dioptimalkan.

Dengan konsep PPKM Mikro, penegasan peran yang harus dioptimalkan Puskesmas sebagai pelaksana pelayanan dan pemegang kendali koordinasi penanganan Covid-19, yaitu melalui upaya 3T. Apabila ada penyintas, ditangani berdasarkan pendekatan kewilayahan, tidak serta-merta mengaktifkan sumber daya kabupaten/kota, bahkan provinsi yang lebih besar.

Untuk mendapatkan informasi penanganan Covid-19 terkini di Puskesmas, para tenaga kesehatan telah membuat inovasi. Banyak inovasi yang telah dikembangkan agar warga masyarakat bisa mendapat gambaran real time kasus Covid-19 dan upaya 3T.

Puskesmas dapat aktif menyelusuri kontak erat dari setiap pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Penyelusuran dilanjutkan dengan testing melalui swab PCR maupun rapid antigen. Puskesmas juga memantau pelaksanaan karantina dan isolasi di wilayah.

Peran penting lainnya, Puskesmas dapat mengedukasi masyarakat seputar pentingnya vaksinasi Covid-19. Teknisnya, Puskesmas mendata warga yang menjadi sasaran vaksinasi di wilayah kerjanya. Pada tahap lanjutan, Puskesmas merencanakan kebutuhan vaksin dan logistik. Puskesmas lalu melaksanakan vaksinasi dan pelayanan, ketika terjadi kejadian ikutan pasca-imunisasi.

Memilih Vaksinasi di Puskesmas Sleman

Dalam usahanya untuk membuat warga masyarakat percaya dengan Puskesmas, dokter lulusan Universitas Gadjah Mada ini memilih turut vaksinasi di Puskesmas. Ia divaksin di Puskesmas Ngemplak II bersama dengan Bupati Sleman ketika itu, Sri Purnomo, dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah atau Forkopimda Sleman. Sebelum divaksin di Sleman, dr. Tirta mendapatkan tawaran fantastis, untuk mengikuti vaksinasi Covid-19 di Istana Negara bersama Presiden Joko Widodo.

Tirta mengakui bahwa tawaran vaksinasi bersama Presiden Jokowi memang sudah diterimanya bersama dengan beberapa tokoh lain, di antaranya Najwa Shihab dan Raffi Ahmad. Akan tetapi, ia lebih memilih untuk menerima tawaran dari pihak Pemerintah Kabupaten Sleman.

Dokter yang tumbuh dan dibesarkan di Kabupaten Karanganyar tersebut membeberkan alasan lain ikut vaksinasi di Sleman. Ia ingin agar masyarakat bisa lebih percaya efikasi vaksin sekaligus menangkal hoaks yang beredar soal vaksin. Efikasi vaksin adalah tingkat kemanjuran vaksin dalam melawan suatu penyakit pada orang yang sudah divaksinasi saat tahap uji klinis.

Hal yang paling utama adalah mengajak para generasi muda, khususnya tenaga kesehatan muda untuk menjalani vaksinasi di Puskesmas. Selain itu, Sleman adalah tempat kerja dr. Tirta saat kuliah. Jadi, harapannya, ia vaksinasi pertama di Sleman agar masyarakat lebih percaya. Trust issue bisa juga bagus dan bisa menangkal info hoaks, sehingga pandemi bisa segera selesai.

Menurutnya, hal itu bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat bahwa vaksinasi merupakan bagian dari pelayanan kesehatan di tingkat pertama. Jadi, alangkah lebih elok kalau nakes-nakes yang masih muda itu divaksin di Puskesmas karena ini bisa menjadi sarana edukasi untuk masyarakat sekitar bahwa layanan tingkat pertama dan vaksin itu merupakan termasuk layanan tingkat pertama. Selayaknya dengan program imunisasi yang ada di Puskesmas sejak dulu.

Tirta berharap, dengan vaksinasi yang dilakukan di Puskesmas dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap vaksinasi Covid-19. Terlebih lagi program vaksinasi atau imunisasi itu sudah sejak dulu ada di Puskesmas.

Saat dilakukan vaksinasi tersebut, ia sempat menayangkan prosesnya di semua akun media sosial yang ia miliki dengan harapan dapat menangkal hoax yang masih sering muncul. Khususnya terkait dengan persoalan Covid-19 dan vaksin Sinovac.

Dalam vaksinasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman membuka 52 fasilitas kesehatan (faskes). Faskes ini terdiri dari 25 Puskesmas, 24 rumah sakit, dan 3 klinik.

Puskesmas di Sleman Ciptakan Inovasi ‘Tawa Panic’

Berbagai inovasi juga telah dilakukan oleh Puskesmas-Puskesmas di Sleman dalam menanggulangi Covid-19. Salah satunya, inovasi ‘Tawa Panic’ atau ‘Tanggap dan Lawan Pandemi Covid-19’ yang diinisiasi oleh Puskesmas Mlati 1.

Tawa Panic menitikberatkan pada ‘tanggap’ dan ‘lawan’. Artinya, Puskesmas Mlati I dengan sigap mengurangi risiko bencana Covid-19, yaitu mensinergikan penguatan UKM (Upaya Kesehatan Masyarakat) dan UKP (Upaya Kesehatan Perseorangan), baik secara fisik maupun penyiapan SDM (Sumber Daya Manusia). Dengan perpaduan antara kekuatan UKP dan UKM, diharapkan dapat meminimalisasi penyebaran Covid-19.

Kegiatan diawali dengan penyiapan SDM, sarana, dan prasarana. Penyiapan SDM dilakukan dengan pengaturan tugas, bimbingan teknis terkait layanan kesehatan dan PPI (Pencegahan Penyakit Infeksi), serta penyiapan mental bagi karyawan. Selain itu, upaya mengubah perilaku dan kebiasaan petugas maupun pasien untuk taat pada protokol kesehatan.

Pada area UKP kegiatannya meliputi pemisahan pasien panas, batuk, pilek, dan sesak napas; perubahan alur layanan; penguatan PPI (Pencegahan Penyakit Infeksi); serta pengelolaan limbah medis.

Pada area UKM Puskesmas melakukan edukasi secara intensif kepada masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk taat pada protokol kesehatan, serta penguatan surveilan, guna memutus rantai penularan Covid-19.

Inovasi Tawa Panic diharapkan dapat memutus mata rantai dan meminimalisasi penyebaran Covid-19, sehingga pandemi bisa segera berakhir. Selain itu, meningkatkan kesadaran masyarakat untuk taat berperilaku hidup bersih dan sehat, juga untuk menguatkan mental petugas kesehatan dalam mengatasi pandemi Covid-19.

Tentu dalam menjalani inovasi, ada risiko dan tantangan yang dihadapi. Tantangan yang selama ini dihadapi petugas medis yakni petugas Puskesmas langsung berhubungan dengan pasien dan masyarakat maka risiko terbesar adalah kemungkinan tertular penyakit. Oleh karena itu, APD dan sistem pencegahan penyakit infeksi harus diperkuat dan harus memenuhi standar.

Fenomena tentang kuatnya stigma masyarakat terhadap seseorang yang terkait kasus Covid-19 maka tenaga kesehatan dituntut untuk mampu memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menghilangkan stigma. Mengubah perilaku masyarakat bukan hal yang mudah. Diperlukan edukasi secara intensif dan berulang-ulang.

Warga masyarakat tidak perlu menjauhi tenaga medis maupun pasien Covid-19, karena yang seharusnya dijauhi adalah virusnya bukan orangnya. Tidak perlu ada stigma negatif pada tenaga kesehatan maupun pasien Covid-19, karena seseorang terkena Covid-19 bukanlah aib.

Relawan dan tenaga kesehatan termasuk agen yang memiliki peran penting guna meluruskan stigma negatif yang berkembang di masyarakat. Mereka memegang peran strategis dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Salah satunya dengan mengedukasi masyarakat dengan informasi yang benar dan tepat seputar Covid-19, mulai dari apa itu Covid-19, cara penularan, hingga cara pencegahannya.

Relawan terbagi menjadi relawan medis dan non-medis. Relawan medis berjuang langsung dengan pasien, sementara relawan non-medis berjuang di belakang, dengan edukasi dan prevensi.

Dalam mengedukasi masyarakat, para relawan diharapkan dapat memahami karakteristik masyarakat terlebih dahulu. Misalnya, ketika berhadapan dengan masyarakat kelas menengah ke bawah seperti di terminal, pasar, TPA, dan lainnya. Dalam penyampaiannya, menggunakan bahasa yang tidak terlalu formal. Hal tersebut berbeda saat berhadapan dengan masyarakat kelas menengah ke atas yang bisa disampaikan dengan lebih formal.

Kalau kelas menengah ke atas menggunakan sosial media. Kelompok ini dianggap memiliki akses yang cukup pada informasi, dan tahu cara mengolahnya. Sementara kalangan menengah ke bawah harus didatangi dan diajari langsung. Kalau tidak demikian, sosialiasi dapat kurang optimal. Contohnya, bagaimana cara mencuci tangan yang benar, memakai masker, cara batuk, dan lainnya.

Dokter Tirta menyampaikan, dalam bertugas mengedukasi masyarakat, relawan diharapkan bekerja berdasar data dari sumber terpercaya, seperti Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization; WHO), Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Kementerian Kesehatan, dan Dinas Kesehatan.

Edukasi yang bisa dilakukan antara lain terkait pola hidup bersih dan sehat (PHBS), physical distancing dan social distancing, hindari stigmatisasi tenaga kesehatan dan pasien Covid-19, tidak mudik, dan lainnya.

Untuk siapa pun, bagi dr. Tirta, rumus menangani Covid-19 adalah tidak takut, tapi waspada. Tidak meremehkan, tapi tenang. Dan Puskesmas, sekali lagi berperan sangat vital bagi upaya pemerintah untuk menangani pandemi Covid-19.