Sungguh Vital Peran PKK Sleman

Ketua TP PKK Sleman 2010-2015 dan 2016-2021, Kustini Sri Purnomo. HUMAS PEMKAB SLEMAN

Kader-kader PKK Sleman, para ibu berdedikasi, bahu-membahu dan bekerja sama total untuk berhadapan dengan pandemi Covid-19. Gerakan intens, mulai penyemprotan disinfektan hingga membangun ketahanan pangan dari pekarangan, begitu terasa manfaatnya.

Pandemi Covid-19 di Indonesia masih belum berakhir. Untuk menghambat angka kasus positif Covid-19 di Indonesia, pemerintah meminta para jajaran, termasuk organisasi kemasyarakatan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) terlibat dalam proses sosialisasi protokol kesehatan. Begitu pun dengan PKK Kabupaten Sleman.

Kustini Sri Purnomo, ketika menjabat sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Sleman, pada pertengahan Maret 2020 turun langsung ke sejumlah lokasi untuk melakukan tindakan pertama, yakni penyemprotan disinfektan.

Saat itu, masyarakat masih terlihat panik, karena virus yang disinyalir berasal dari Kota Wuhan mulai masuk ke Yogyakarta. Sembari menenangkan warga, ia menggandeng sejumlah pihak untuk ikut terjun bersamanya.

Wabah Covid-19 dapat ditangani dengan modal gotong royong. Saat itu, Bu Kustini mendatangi 25 puskesmas di Sleman dengan meminjam mobil Pemerintah Kabupaten Sleman, yang kemudian ia gunakan untuk turun langsung ke warga. Mobil tersebut digunakan untuk melakukan penyemprotan disinfektan. Selain itu, pembagian masker dan hand sanitizer.

Setelah semua itu dilakukan, Kustini juga memberikan pemahaman kepada warga masyarakat agar patuh dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. Ia berharap, dengan penyemprotan disinfektan tersebut, masyarakat menjadi lebih peduli bahwa pencegahan virus merupakan kewajiban bersama.

Tak sampai di situ, istri dari Bupati Sri Purnomo itu, juga mengajak kepada seluruh kader PKK yang ada di setiap desa untuk aktif memberikan sosialisasi tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Ia mengajak masyarakat agar membudayakan hidup sehat serta menjaga kebersihan lingkungan melalui Germas. Kader-kader PKK yang ada di setiap desa sudah siap dan selalu berperan aktif menyosialisasikan dalam penerapan pola hidup bersih dan sehat dari tingkat terendah, yakni dimulai dari keluarga hingga ke tingkat kabupaten.

Kustini meminta kepada Pemerintah Kabupaten Sleman agar memberikan pembekalan edukasi tentang pencegahan Covid-19 kepada seluruh kader PKK di Kabupaten Sleman. Para kader PKK diimbau untuk berperan aktif jika menemukan gejala di sekitar tempat tinggalnya untuk segera melaporkan ke puskesmas setempat.

Akibat pandemi Covid-19, seluruh sektor kehidupan mengalami dampaknya, tidak hanya pada sektor ekonomi. Karena pandemi, anak-anak tidak bisa melakukan aktivitas belajar di sekolah mereka.

Untuk itu, Kustini berinisiatif untuk memperkuat program yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Sleman, yakni pemulihan ekonomi. Ia yang juga sebagai Ketua Dekranasda Sleman, merasakan langsung apa yang dialami para pelaku UMKM.

Kondisi menjadi keprihatinan bersama, namun ia selalu menekankan bahwa niat dan tekad yang kuat pasti bisa mengatasi masalah ini dengan bersama-sama, saling membantu, dan peduli. Pemulihan ekonomi bisa dilakukan bersamaan dengan penanganan kesehatan.

Berbagai upaya pun terus dilakukannya untuk memberi jalan keluar bagi kondisi yang dihadapi UMKM terdampak Covid-19. Keseriusan Pemkab Sleman dalam memulihkan perekonomian UMKM direalisasikan dengan diluncurkannya Gedung Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda).

Gedung Dekranasda menjadi wadah dalam memaksimalkan pengembangan produksi kerajinan. Baik kerajinan di Kabupaten Sleman, khususnya, dan kerajinan nasional, umumnya. Kustini menggandeng Diskominfo untuk memberikan pelatihan pemasaran dan penjualan produk secara online.

Saat mengunjungi Dusun Maguwo, Maguwoharjo, ia melihat warga bahu membahu menyediakan bahan pangan. Salah satunya, sayuran segar yang disediakan gratis. Ia melihat langsung bagaimana kebersamaan ketika merancang sebuah program bernama ‘Jumat Barokah’.

Menurutnya, itulah wujud Sleman Rumah Bersama yang selalu ia serukan kepada masyarakat. Gotong royong sebagai modal sosial memang sangat dibutuhkan. Urip rukun karo tonggo teparo. Nyengkuyung kiwo tengen. Berbagi, saling menopang. Pihak yang mampu, membantu yang kurang mampu, tanpa sekat tanpa batasan.

Serukan Pengembangan Ketahanan Pangan Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 berdampak pula secara sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat. Untuk menjaga ketahanan pangan, Kustini mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah guna menanam tanaman pertanian, khususnya sayuran.

Selanjutnya, warga bisa memelihara ayam dan kolam ikan. Aktivitas itu bisa mengisi kekosongan selama menjalani seruan pemerintah untuk stay at home. Pola menanam tanaman cepat panen bisa membantu warga di tengah pandemi Covid-19. Menjaga ketahanan pangan sangat dibutuhkan untuk melawan dan mengantisipasi penyebaran Covid-19.

Kustini mengajak masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan di sekitarnya. Tujuannya agar lahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan bisa ditanami tanaman apa saja. Bisa sayur-sayuran, kolam ikan, atau komoditas lainnya.

Cara tersebut tidaklah sulit. Sebab, cara ini tidak membutuhkan banyak biaya, cukup menggunakan benda-benda yang sudah tidak digunakan lagi seperti ember, canting, atau wadah bekas lainnya. Bisa menggunakan ember bekas atau benda yang sekiranya dapat digunakan sebagai pengganti pot.

Dengan pemanfaatan lahan pekarangan, warga masyarakat tidak perlu membeli jika membutuhkan sayur untuk memasak di rumah. Selain itu, sayuran tersebut bisa dijual kepada orang lain.

Sayuran yang telah ditanam di pekarangan dapat dimanfaatkan untuk dimasak sehari-hari maupun dapat dijual lagi. Jadi, makan apa yang ditanam, dan menanam apa yang dimakan.

Lebih lanjut, Kustini berharap, Kelompok Wanita Tangguh bisa memanfaatkan teknologi melalui berjualan secara online dari hasil tanaman di pekarangan nanti bila panen. Atau bisa juga dagangan lainnya, karena di masa pandemi, banyak orang mencari barang lewat online di media sosial. Harus kreatif memanfaatkan jualan online. Ini sebagai upaya menaikkan ekonomi.

Kesejahteraan sebuah negara salah satunya dapat dilihat dari kemampuan masyarakatnya dalam memenuhi kebutuhan pangannya. Maka di antaranya dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan yang dimiliki oleh masyarakat untuk menghasilkan berbagai macam pangan. ‘Nandur Opo Sing Dipangan, Mangan Opo Sing Ditandur’.

Adanya pandemi memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan dan keuangan, terutama bagi rumah tangga. Maka perlunya berpikir kreatif, seperti pemanfaatan pekarangan rumah sebagai lahan produktif untuk ketahanan pangan selama pandemi. Dengan adanya pemanfaatan media tanam di pekarangan rumah. Tentunya, memberikan keuntungan bagi si pemilik, baik dari segi ekonomi dan kesehatan.

Secara ekonomi, membudidayakan tanaman pangan di pekarangan rumah dapat menghemat pengeluaran apalagi selama pandemi. Kesehatan pun didapatkan dari mengonsumsi makanan organik hasil tanam sendiri, yang sudah dipastikan bebas dari bahan kimia berbahaya.

Selain pemanfaatan lahan pekarangan untuk ketahanan pangan, Kustini mengajak warga masyarakat untuk beternak lele dengan memanfaatkan barang bekas, seperti ember atau wadah besar lainnya.

Dipilihnya lele sebagai sumber protein dalam ketahanan pangan, karena nilai gizi pada ikan lele cukup tinggi. Perawatan ikan lele pun tidak memerlukan biaya yang besar dan tergolong lebih mudah dibandingkan ikan jenis lainnya.

Pandemi Covid-19 membuat semua sektor usaha berhenti bergerak. Usaha kuliner, kegiatan kampus, dan usaha-usaha kecil, serta roda ekonomi juga berhenti. Akibatnya, angka kemiskinan meningkat.

Jika tahun 2010 pada awal Sri Purnomo menjadi Bupati Sleman angka kemiskinan mencapai 19,9 persen, namun dalam 10 tahun terakhir berhasil turun 6,9 persen. Namun, sejak awal pandemi Covid-19 Maret 2020, angka kemiskinan naik menjadi 12 persen.

Hal itu menjadi tantangan bersama ke depan, yakni bagaimana menurunkan angka kemiskinan tersebut. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan meningkatkan ketahanan pangan dengan melibatkan semua komponen masyarakat, mulai dari keluarga hingga kelompok terbesar.

Namun, Kustini tak menepis adanya hambatan dalam upaya tersebut. Salah satunya, keterbatasan lahan, karena sebagian lahan produktif telah ditanami besi beton. Di sisi lain, jumlah petani berkurang dan petani yang ada sudah berusia 50 tahun ke atas.

Sementara banyak generasi muda yang tidak tertarik menjadi petani karena usaha pertanian selalu rugi. Sudah membeli pupuk dengan harga mahal bahkan langka, sementara harga hasil pertanian murah sehingga petani rugi.

Akibatnya, banyak yang tidak tertarik untuk menjadi petani, apalagi generasi muda. Karena itu, ia berharap kedepan perlu dikembangkan teknologi pertanian untuk menarik minat generasi muda menjadi petani dan terjun ke bidang pertanian.

Program ketahanan dan kemandirian pangan sangat penting, bukan hanya di Kabupaten Sleman tapi juga di lingkup nasional. Hal ini sesuai dan sejalan dengan program pemerintah pusat di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo. Sebab, sangat ironis Indonesia sebagai negara agraris justru impor pangan seperti beras, kedelai, daging, dan sebagainya.

Kustini bersama anggota PKK Sleman kerap pula mengadakan kegiatan di wilayah, seperti yang dilakukan di Balai Desa Sumberagung, Balai Desa Sumberarum dan Balai Desa Sumberrahayu, Moyudan, Sleman.

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk ‘Ibu Menyapa Warga’ ini adalah sebuah kegiatan penyuluhan dari Pokja PKK Kabupaten Sleman yang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman.

Dalam kunjungan tersebut, ia mengajak seluruh kader PKK di sana agar menyiapkan dan memulihkan kembali kegiatan posyandu dan masyarakat menuju masa new normal. Kustini berharap, kegiatan ini dapat mempersiapkan masyarakat dalam menghadapi kehidupan baru. Dengan selalu mengupayakan kondisi sehat, dapat berkreasi dalam memanfaatkan lahan pekarangan dan meningkatkan pendapatan ekonomi.

Dengan kondisi keluarga yang sehat, kegiatan ekonomi keluarga dapat tertata dengan baik dan dapat tercipta keluarga yang bahagia dan sejahtera, dengan jargonnya PKK Sleman, ‘Nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur, turahane didol’.