Tamanmartani Ciptakan Pupuk Murah dari Kotoran Ternak

(Foto: Pemkab Sleman)

KALASAN, Tamanmartani-Indonesia merupakan negara agraris, dimana 40% mata pencaharian mayoritas penduduknya bertani atau bertanam cocok. Hal ini didukung dengan luas lahan serta keanekaragaman hayati, serta iklim yang mendukung untuk bercocok tanam.

Selain profesi sebagai petani, tidak sedikit masyarakat Indonesia menjadi peternak, baik peternak ayam, kambing maupun sapi di berbagai daerah. Proses pengelolaan lahan pertanian sangat membutuhkan pupuk sebagai penunjang agar tanah tetap subur serta menambah jumlah produksi hasil pertanian.

Sejak adanya pupuk anorganik mengakibatkan petani beralih pada penggunaan pupuk anorganik, selain mudah didapatkan pupuk anorganik ini juga persediaannya tercukupi. Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat dengan campuran bahan kimia yang kan menyebabkan meningkatnya populasi tanah sehingga berdampak pada kesehatan para petani itu sendiri.

Data dari BPS melalui sensus Pertanian pada 2013, petani yang menggunakan pupuk anorganik mencapai 86,41 persen. Sementara, penggunaan pupuk berimbang (organik dan anorganik) hanya 13,5 persen dan organik 0,07 persen. Maka para petani hanya memikirkan hasil produksi tanpa memikirkan dampak yang akan ditimbulkan dari penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus.

Untuk mendorong petani mengurangi penggunaan pupuk anorganik maka pemerintah membuat Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 70 Tahun 2011 tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah, peraturan ini mendorong munculnya usaha pengolahan pupuk organik.

Selain itu penggunaan pupuk kimia anorganik dengan jangka waktu yang lama diyakini dapat menurunkan kesuburan tanah. Beberapa pengaruh negatif pupuk anorganik terhadap tanah adalah tanah menjadi masam, tekstur tanah menjadi keras dan padat, kapasitas penyimpanan air menjadi berkurang, kandungan unsur hara akan menurun, mikroorganisme tanah menjadi berkurang dan mati, dapat mencemari dan mengganggu keseimbangan lingkungan.

Salah satu usaha untuk mengurangi penggunaan pupuk anorganik adalah dengan pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan sebagai pupuk organik. Beberapa keuntungan atau kelebihan pupuk organik adalah bahwa pupuk organik mempunyai kandungan unsur hara yang lengkap baik hara makro maupun mikro.

Kandungan bahan organik yang tinggi sehingga dapat memperbaiki struktur maupun sifat fisik tanah sehingga mampu mengikat air. Selain itu pupuk organik mengandung asam-asam organik seperti asam humic, asam fulic, dan hormon yang sangat baik untuk tumbuhan. Pupuk organik juga dapat menjadi penyangga pH tanah sehingga unsur hara tanah berada dalam kondisi tersedia bagi tanaman. Dan yang terakhir, bahwa pupuk organik aman digunakan dalam jumlah yang besar, aman bagi manusia, tumbuhan maupun aman bagi lingkungan

Kurangnya pemakaian pupuk organik di kalangan petani adalah karena minimnya informasi tentang pembuatan pupuk organik padahal pupuk organik sangat bermanfaat bagi kesuburan tanah dan dapat dibuat dengan memanfaatkan kotoran ternak seperti sapi, daripada dibuang begitu saja sebagai limbah dan mengotori lingkungan.

Sejak tahun 2015, Pemerintah Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, mengajak warganya untuk membuat pupuk murah yang terbuat dari limbah kotoran sapi dan sampah yang ada di wilayah tersebut.

Lurah Tamanmartani, Gandang Hardjanata menceritakan ide pembuatan pengolahan limbah menjadi pupuk murah ini karena adanya keprihatinan mahalnya harga pupuk dan keinginan petani di sini untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia.

“Hampir seluruh bahan baku berasal dari desa dan kecamatan sekitar sini. Di sini bahan baku cukup melimpah,” ujarnya.

Limbah peternakan dan pertanian, bila tidak dimanfaatkan juga akan menimbulkan dampak bagi lingkungan berupa pencemaran udara, air dan tanah, menjadi sumber penyakit, dapat memacu peningkatan gas metan dan juga gangguan pada estetika dan kenyamanan.

“Limbah ternak sebagai hasil akhir dari usaha peternakan memiliki potensi untuk dikelola menjadi pupuk organik seperti kompos yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan daya dukung lingkungan, meningkatkan produksi tanaman, meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi dampak pencemaran terhadap lingkungan,” katanya.

Menurut dia, pupuk hasil olahan kotoran sapi dan sampah ini dijual murah kepada para petani dan sebagian ada yang dijual ke luar wilayah.

“Harga pupuk ini sangat terjangkau, selain sapi, kotoran dari binatang lain pun dapat digunakan sebagai bahan pupuk organik. Seperti kerbau, kuda, domba dan kambing.” katanya.

Ia mengatakan, pengolahan pupuk limbah ini juga dikerjakan oleh para pemuda Karang Taruna Kalurahan Tamanmartani dengan bantuan peralatan dari Kementerian Perindustrian pada tahun 2014. Pembuatan kompos diawali dengan pengumpulan kotoran sapi dengan cara pemanenan dari kandang, dilanjutkan dengan proses pengolahan menjadi kompos

“Limbah kotoran sapi dan sampah dikumpulkan dari kandang sapi seluruh warga di Dusun Tamanan Pabrik, kemudian dilakukan fermentasi terlebih dahulu agar kering dan tidak berbau,” katanya.

Proses selanjutnya, kotoran yang sudah kering dimasukkan ke dalam enam mesin, termasuk mesin penggiling.

“Dari seluruh proses ini akan menghasilkan butiran pupuk, setelah itu kemudian dilakukan pengemasan dalam karung masing-masing seberat 20 kilogram. Seluruh proses menggunakan mesin hingga proses pengepakan,” katanya.

Gandang mengatakan, mesin pengolahan pupuk organik ini mampu memproduksi satu ton pupuk organik dengan delapan jam kerja sehari.

“Diharapkan dengan produksi ini kebutuhan pupuk murah tidak hanya dinikmati warga Desa Tamanmartani saja, namun bisa lebih luas lagi memasarkan ke sejumlah wilayah di Kabupaten Sleman,” katanya.

Ia menjelaskan, sebelumnya mesin-mesin pengolah pupuk ini sempat mangkrak karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan warga.

“Namun berkat keinginan yang kuat dari warga dan karang taruna, akhirnya mereka belajar untuk dapat mengoperasikannya, sehingga saat ini banyak memberi manfaat ekonomi bagi warga,” katanya.

Daur Ulang Sampah di Sleman

Pemerintah Kabupaten Sleman komitmen bersama seluruh pihak dalam upaya mengatasi bahaya plastik. Ini motivasi kerja untuk atasi sampah dan cara sistematis dalam mengurangi, mengolah, dan melakukan pengelolaan sampah berkelanjutan melalui kegiatan daur ulang atau dikenal dengan istilah 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle).

Menurut data dari Adipura KLHK 2018, komposisi sampah plastik di Indonesia sekitar 16% dari total timbunan sampah secara nasional dan sumber utama sampah plastik berasal dari kemasan makanan dan minuman, kantong belanja, dan pembungkus barang lainnya. Dari total timbunan sampah tersebut, yang didaur ulang diperkirakan baru 10-15%, 60-70% ditimbun di TPA, dan 30% belum terkelola atau terbuang ke lingkungan terutama lingkungan perairan seperti sungai, danau, pantai, dan laut.

Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Sleman mengajak masyarakat untuk dapat melakukan pengelolaan sampah plastik secara berkelanjutan. Bisa dengan redesain kemasan plastik, memanfaatkan kembali kemasan, atau mendaur ulangnya.

Menjadi penting pengelolaan sampah dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Volume sampah di Kabupaten Sleman tercatat mencapai 2.500 meter kubik per hari. Namun jumlah tersebut belum termasuk sampah yang dihasilkan oleh kegiatan wisata dan pendidikan.

Berdasarkan data DLH Sleman, sampah yang disalurkan melalui armada truk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) baru mencapai 319,56 meter kubik per hari. Pengendalian sampah plastik ini membutuhkan partisipasi dan kolaborasi dari semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun pihak swasta. Pemkab Sleman mendukung tumbuhnya pengelola sampah mandiri, semua pihak harus berpartisipasi dan berperan aktif untuk meminimalisir penggunaan plastik atau mengupayakan agar sampah plastik bisa didaur ulang.

Menyikapi permasalahan sampah dibutuhkan sinergitas dan upaya bersama dari seluruh pihak, baik Pemerintah, stakeholder lain dan tentu saja masyarakat yang berperan sebagai subjek maupun objek dalam permasalahan ini.

Salah satunya dapat dimulai dengan mengelola sampah melalui 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yaitu mulai mengelola sampah dengan mengurangi timbunan sampah terutama sampah Plastik, misalnya, dengan beralih menggunakan tas ramah lingkungan saat berbelanja. Memilah sampah menjadi sampah organik dan anorganik

Agar pengelolaan sampah selanjutnya dapat lebih mudah. Sampah organik bisa dibuat kompos sebagai media tanam sedangkan sampah anorganik bisa dimanfaatkan untuk kerajinan atau bisa dijual. Terakhir, untuk residu sampah dapat dibuang ke TPA dengan memanfaatkan pelayanan pengangkutan UPT kebersihan BLH sehingga tidak membuang sampah disembarang tempat.

Permasalahan sampah ini optimis dapat teratasi dengan metode tersebut apabila muncul kesadaran dan kedisiplinan seluruh masyarakat untuk dapat menerapkannya secara bersama-sama. Untuk itu, saya mengajak seluruh pihak untuk dapat bersama-sama menjalankan dan mengoptimalkan peran dan fungsinya masing-masing dalam upaya menyelesaikan permasalahan sampah di Kabupaten Sleman demi terjaganya kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Apalagi saat ini kita telah memiliki banyak kelompok pengelola sampah hingga tingkat RT, saya berharap keberadaan kelompok-kelompok pengelola sampah ini dapat menjadi pioner dalam menumbuhkan kepedulian masyarakat sekaligus dapat menjadi motivasi bagi perubahan perilaku masyarakat terkait pengelolaan sampah di wilayahnya masing-masing.

Disamping itu, berbagai upaya terkait permasalahan sampah juga telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Sleman diantaranya adalah melakukan pembinaan pengelolaan sampah rumah tangga melalui sosialisasi dan pelatihan, penyediaan sarana dan prasarana meliputi pengadaan kompartemen, komposer, mesin pencacah organik, transfer depo, truk sampah, tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3 R dan beberapa TPS yang tersebar di wilayah Sleman.

2020, tercatat ada penambahan 7 unit Dump Truck untuk mengangkut sampah. Penambahan armada truk sampah ini diharapkan dapat membantu Pemkab Sleman dalam mengatasi permasalahan sampah. Diharapkan dengan penambahan armada truk sampah ada perbedaan dan tidak ada lagi tumpukan sampah di Kabupaten Sleman yang didominasi sampah plastik.

Efektivitas Penanganan Sampah

Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) RI Perwakilan Provinsi D.I.Yogyakarta memberikan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) kinerja efektivitas penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga tahun anggaran 2019 sampai dengan semester I tahun 2020 kepada Pemerintah Kabupaten Sleman. BPK melakukan pemeriksaan tersebut berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melakukan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai mengenai kinerja entitas. Dalam menilai kinerja, BPK mengembangkan kriteria dengan menggunakan model kriteria yang telah dikomunikasikan dan dipahami bersama dengan entitas pemeriksaan.

Pemilihan pemeriksaan kinerja efektivitas penanganan sampah sebagai topik pemeriksaan kinerja didasari peningkatan kegiatan perekonomian dari sektor pendidikan, pariwisata, pelayanan kesehatan dan industri, serta bertambahnya jumlah penduduk di wilayah DIY menimbulkan berbagai permasalahan, dan salah satunya permasalahan sampah.

Untuk itu BPK perlu berperan aktif mendorong dan membantu Pemerintah Daerah meningkatkan kinerjanya dalam pengelolaan persampahan. Sementara berdasarkan hasil pemeriksaan LHP tersebut, diketahui bahwa Pemerintah Kabupaten Sleman telah menyediakan sarana pengumpulan sampah berupa TPS3R sebanyak 24 unit, transfer depo sebanyak 17 unit, serta TPS yang disediakan bersama dengan masyarakat sebanyak 309 unit yang tersebar di 17 Kecamatan.

Identifikasi awal pemeriksaan tersebut karena sampah yang masuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan mayoritas sampah yang belum dipilah. Pemilahan sampah belum dilakukan secara memadai karena aturan tentang pemisahan dan pengelompokan sampah menurut jenis dan sifatnya belum disosialisasikan dan diterapkan dengan memadai pada sarana penanganan sampah yang dimiliki.

Sarana dan prasarana TPA Piyungan saat ini tidak memadai. Dimana umur ekonomis sudah habis dan sudah dalam kondisi overload. Selain itu di TPA Piyungan tidak ada proses pemilahan yang sistematis, alat berat kurang, tidak terdapat backup energi listrik pada operasional serta jalan operasional masih menyatu dengan jalan masyarakat. Secara umum pengelolaan sampah masih mengikuti paradigma lama.

Sampah dikumpulkan, kemudian diangkut dan akhirnya dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) di Piyungan, Bantul. Pada sistem tersebut, semakin banyak sampah yang harus dikelola maka biaya yang harus dikeluarkan juga semakin besar.

Padahal secara teoritik, untuk mengatasi persoalan sampah mengharuskan dilakukannya pergeseran pendekatan dari pendekatan ujung-pipa (end-pipe of solution) ke pendekatan sumber.

Dengan pendekatan sumber, maka sampah ditangani pada hulu sebelum sampah itu sampai ke tempat pengolahan akhir (hilir). Pendekatan sumber menghendaki dikuranginya produk sampah yang akan dikirim ke tempat pengolahan akhir.

Cara yang dapat ditempuh untuk mengurangi sampah antara lain pemilahan sampah dan penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) atau pengurangan, penggunaan kembali dan mendaur ulang sampah. Dengan demikian pengolahan sampah di sumber penghasil sampah, termasuk rumah tangga merupakan kunci upaya penanganan sampah secara optimal.