Tamanmartani Terapkan Pengembangan Desa Wisata dengan Model Smart Village

KALASAN, Tamanmartani-Banyaknya jumlah desa di Indonesia merupakan salah satu tantangan dalam upaya pembangunan desa. Untuk mencapai pembangunan desa yang maksimal Kementerian Desa pada tahun 2017 mencanangkan empat program prioritas untuk desa. Pertama, produk unggulan kawasan pedesaan. Kedua, membangun embung air desa. Ketiga, mengembangkan BUMDes. Keempat, membangun sarana olahraga desa.

Sedangkan dari bawah, desa secara mandiri mulai menunjukkan aktivitas pembangunan. Dana desa dalam beberapa kasus telah berhasil menstimulasi meningkatnya upaya pembangunan desa dari bawah.

Beberapa desa di Indonesia telah berhasil mengelola dana desa untuk percepatan pertumbuhan ekonomi mereka. Misalnya dengan mengelola dana desa melalui pembangunan wisata berbasis BUMDes atau menciptakan ekonomi kreatif desa dengan pemanfaatan jejaring bisnis.

Geliat pembangunan desa melalui program-program desa yang inovatif tersebut pada akhirnya menginisiasi munculnya model pembangunan desa berbasis konsep smart village. Konsep ini diadopsi dari konsep smart city yang lebih dulu dikenal di Indonesia. Istilah smart village mulai dipakai oleh beberapa desa di Indonesia, salah satunya di Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman.

Lurah Tamanmartani, Gandang Hardjanata mengatakan jika di periode keduanya ini ia akan mewujudkan smart village atau desa yang cerdas di wilayah yang dipimpinnya ini. Selain itu akan mengusahakan Desa Tamanmartani sebagai penyangga wisata untuk candi Prambanan.

Istilah smart village diterjemahkan sebagai sebutan desa “cerdas”. Istilah “smart” digunakan dalam rangka melawan stigma desa yang telah lama melekat pada desa. Seperti desa dianggap tidak berpendidikan, terbelakang, miskin, ketinggalan jaman, dan lain sebagainya. Saat ini desa dianggap mampu melakukan pembangunan masyarakatnya secara cerdas.

Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa telah terjadi reposisi kewenangan penyelenggaraan pembangunan dari pemerintah daerah ke pemerintah desa. Dalam proses pembangunan desa, pemanfaatan teknologi informasi menjadi penting dan menjadi bagian dalam mendorong keberhasilan pembangunan desa.

Teknologi informasi menjadi alat selain untuk mempermudah proses penyusunan dan pelaksanaan pembangunan desa, juga menjadi media untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam pembangunan desa. Teknologi informasi mempertemukan berbagai kepentingan untuk bisa dirumuskan secara bersama-sama menjadi sebuah kebijakan pembangunan desa

Lingkungan pedesaan dalam konteks smart village tidak hanya diartikan sebagai lingkungan alam yang ada di desa, melainkan keseluruhan elemen yang membentuk satu tatanan sosial dan alam yang mencirikan karakter dari desa. Lingkungan pedesaan dalam tatanan sosial terdiri dari adat, budaya dan struktur sosial.

Dikaitkan dengan konteks smart village, pemanfaatan teknologi informasi dapat diterapkan baik dalam tataran lingkungan sosial maupun dalam tataran lingkungan alam. Dalam tataran sosial, pemanfaatan teknologi informasi dapat digunakan untuk mengembangkan dan memperkuat nilai adat, budaya dan struktur sosial yang ada, seperti pendataan, pendokumentasian serta pemanfaatan nilai adat dan budaya yang didasarkan kepada teknologi informasi yang ada.

Teknologi informasi juga digunakan untuk mengkreasikan nilai adat dan budaya agar lebih bisa dikontekstualisasikan dengan keadaan saat ini tanpa menghilangkan esensi dari adat dan budaya tersebut.

Di sisi lain, nilai adat dan budaya dapat dijadikan penangkal nilai-nilai budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai adat dan budaya yang ada di desa. Adanya pemanfaatan teknologi informasi yang tepat dalam konteks tatanan sosial di desa, maka akan menciptakan kelestarian struktur sosial yang selama ini ada. Bahkan, nilai adat dan budaya yang terdapat di dalam struktur sosial tersebut dapat dikembangkan, dilestarikan sesuai dengan pemanfaatan teknologi informasi yang berkembang.

Konteks pemanfaatan teknologi informasi dalam tatanan alam dapat digunakan dalam identifikasi potensi alam serta pemanfaatan alam yang lestari dan berkelanjutan. Hal ini dimaksudkan agar pemanfaatan teknologi informasi jangan merusak tatanan alam yang ada, tetapi harus berperan untuk memberikan cara dan pengetahuan kepada masyarakat untuk memanfaatkan alam secara proporsional, seperti pemanfaatan teknologi informasi bidang pertanian berupa tersedianya informasi pertanian yang tepat waktu dan relevan bagi petani di desa agar para petani dapat menentukan rencana pola tani, pemanfaatan teknologi tersebut pada akhirnya selain akan meningkatkan keterampilan para petani, juga akan meningkatkan produktivitas pertanian yang pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

Untuk mewujudkan itu semua, Berbagai cara dilakukan oleh Gandang, salah satunya dengan menggandeng Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri). Dengan kerjasama dalam bentuk pengembangan jasa penginapan jenis home stay.

Sebanyak 12 homestay dibuka di rumah warga untuk menampung wisatawan yang berkunjung ke Candi Prambanan.

Gandang mengatakan dengan bantuan pembangunan homestay ini bisa memberdayakan sekaligus merangsang perputaran roda perekonomian masyarakat setempat. Karena lokasi Desa Tamanmartani cukup strategis, hanya berjarak sekitar 500 meter di sisi barat kompleks Candi Prambanan.

Pengelolaan 12 homestay masing-masing terdiri dua kamar ini nanti diserahkan kepada koperasi bentukan warga. Nantinya, 10 persen dari total pendapatan bisa dimanfaatkan warga untuk pengembangan usaha.

Selain mendukung iklim pariwisata, bantuan tersebut diakuinya bertujuan mencetak pengusaha di tingkat desa agar mereka tidak lagi berkubang dalam kemiskinan.

Tak hanya penginapan, Damandiri juga membangun satu warung untuk menunjang desa wisata setempat. Semangat kita adalah memberdayakan masyarakat pedesaan agar kesejahteraannya bisa meningkat,” imbuhnya.

Ia optimis warganya bakal mengelola homestay dengan profesional. Ia berharap sesuai dengan tujuan awal, bantuan pengembangan homestay ini bisa meningkatkan kesejahteraan warga.

Terkait biaya sewa, koperasi warga bakal menyesuaikan pasar wisatawan yang berkunjung ke Candi Prambanan.

Kerjasama dengan Yayasan Damandiri sejak 2017 ini tak hanya memberikan dampak langsung dari sisi ekonomi. Namun, juga telah mengubah wajah Kalurahan Tamanmartani. Seperti yang dirasakan oleh warga Dusun Karangmojo, mereka merasakan jika Dusunnya sekarang menjadi jauh lebih baik.

“Program Desa Cerdas Mandiri Lestari yang dijalankan Yayasan Damandiri, membuat Tamanmartani menjadi lebih hidup. Seperti di Dusun Karangmojo, dulu kawasan ini sepi, tapi sekarang ramai dengan adanya sejumlah homestay, warung-warung, dan sebagainya,” katanya.

Gandang mengatakan, sejak adanya program dari Yayasan Damandiri, Dusun Karangmojo kini telah berubah menjadi salah satu wilayah pusat ekonomi di Desa Tamanmartani. Di Dusun yang memiliki 250 kepala keluarga dan 800 penduduk ini perputaran ekonomi masyarakat Desa Tamanmartani tumbuh dan makin bergeliat.

“Dulu di sini tidak ada warung, tidak ada wisatawan yang mampir. Tapi sekarang, banyak sekali wisatawan yang datang menginap di sejumlah homestay. Warung-warung juga bermunculan. Sehingga penghasilan dan ekonomi warga juga ikut meningkat,” katanya.

Menurutnya, salah satu hal positif yang juga terlihat di Dusun Karangmojo saat ini adalah mulai munculnya kesadaran warga untuk lebih mandiri. Memanfaatkan perkembangan sektor pariwisata yang ada, tak sedikit dari warga mulai berani merintis dan membuka usaha kecil-kecilan di rumah mereka.

“Padahal sejak lama, mayoritas warga di Dusun Karangmojo ini menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai buruh. Tapi, alhamdulillah kini perlahan hal itu mulai berubah,” ujarnya.

Ia berharap, agar keberadaan program Desa Cerdas Mandiri Lestari Yayasan Damandiri di Tamanmartani bisa terus berjalan di masa-masa yang akan datang. Sehingga, kesejahteraan seluruh warga pun akan semakin meningkat.

kawasan ini pun terus mengalami perkembangan pesat. Dimana banyak tamu luar daerah yang datang menginap serta banyak bermunculan sejumlah UKM di bidang kuliner. Terlebih di kawasan ini juga berdiri Warung Cafe Rakyat Damandiri.

Adanya kawasan sentra kuliner di dusun Karangmojo ini diharapkan dapat semakin mendorong pengembangan desa Tamanmartani sebagai desa wisata.

Pasalnya di Kalurahan Tamanmartani sendiri sudah banyak terdapat kawasan wisata, seperti tubing Kali Opak, wisata air belik Jongkangan, wisata outbound hingga edukasi pengolahan sampah.

“Kita akan dorong kampung ini menjadi kawasan wisata kuliner di tingkat desa. Dimana bermacam jajanan kuliner bisa dijual oleh masyarakat disini. Jika ada wisatawan yang datang mengunjungi sejumlah tempat wisata yang ada, bisa mampir membeli makanan ataupun oleh-oleh disini,” katanya.

Pengembangan kampung homestay Damandiri sebagai kawasan wisata kuliner itu, nantinya juga diharapkan dapat semakin mendorong peningkatan jumlah kunjungan ke Warung Cafe Rakyat Damandiri, maupun sejumlah homestay yang ada. Termasuk mendorong munculnya kawasan ekonomi baru di tingkat desa, khususnya di dusun Karangmojo.

“Dengan menjadi kawasan sentra kuliner, otomatis warga masyarakat sekitar juga akan bisa berjualan. Sehingga kesejahteraan mereka pun akan semakin meningkat,” ungkapnya.

Salah satu kafé kreatif atas kerjasama Kalurahan Tamanmartani dan yayasan Damandiri ini berada di sisi barat Candi Prambanan setiap sore khususnya akhir pekan, puluhan pelanggan yang didominasi anak-anak muda tampak memenuhi kafe ini.

Setiap hari terdapat sedikitnya 50 pelanggan yang selalu memenuhi warung ini. Saat akhir pekan maupun hari libur, jumlah pengunjung akan meningkat hingga dua kali lipat.

“Saat awal berdiri omzet kita hanya sekitar Rp50 ribu per hari. Namun kini sudah meningkat mencapai sekitar Rp400 ribu per hari,” katanya belum lama ini.

Sejak efektif beroperasi pada akhir Januari 2018 lalu, keberadaan kafe ini mampu meraih pendapatan hingga Rp 14 juta. Ke depan pihak pengelola berencana mengembangkan kafe ini menjadi lebih luas, agar semakin memberikan manfaat pengembangan ekonomi Kalurahan Tamanmartani.

Banyaknya warga masyarakat yang mengunjungi kafe ini karena pihak pengelola telah menambahkan fasilitas internet/wifi gratis. “Internet gratis sekarang sudah menjadi kebutuhan primer bagi warga masyarakat, terutama kaum milenial” ungkapnya.

Selain fasilitas internet gratis, kafe ini juga menyediakan menu makanan dan minuman yang digemari pelanggan khususnya pasar anak muda.

“Pihak pengelola selalu berupaya memasarkan dan mengenalkan kafe ini melalui media sosial seperti Facebook Twitter maupun Instagram dan WhatsApp. Karena pemandangan dari warung ini sangat bagus akhirnya banyak pelanggan yang tertarik untuk datang ke sini,” tuturnya.

Sementara untuk homestay nya, sebelum pandemi Covid-19 merebak di seluruh Indonesia, setiap akhir pekan atau ketika memasuki musim libur panjang Natal dan Tahun Baru, puluhan homestay ini selalu diserbu pengunjung. Bahkan sejumlah kamar homestay milik warga sudah dipesan pelanggan sejak jauh hari.

Selain wisatawan yang hendak merayakan tahun baru di Yogyakarta, sejumlah pelanggan homestay juga merupakan warga luar daerah yang hendak melakukan khitan di tempat sunat legendaris di kawasan Prambanan, Bogem.

Bahkan karena keterbatasan kamar, pengelola homestay kerap menolak sejumlah tamu yang hendak menginap di homestay tersebut

Homestay ini dikelola oleh Koperasi Unit Desa (KUD) Tamanmartani Sejahtera, Gandang mengungkapkan perkembangan kampung homestay Damandiri di Desa Tamanmartani ini terbilang menggembirakan. Hal itu tak lepas dari potensi Desa Tamanmartani yang terletak tak jauh dari lokasi wisata Candi Prambanan, serta sejumlah tempat seperti Bong Supit Bogem yang sudah sangat terkenal.

“Selain dibantu KUD, pemasaran homestay juga dilakukan oleh warga masyarakat Tamanmartani, biasanya mereka memasarkan homestay lewat media sosial di internet, seperti Facebook, Twitter maupun Instagram,” ujarnya.

Dengan tarif yang terbilang murah, yakni Rp200 ribu per malam, fasilitas yang ditawarkan sejumlah homestay di desa Tamanmartani ini terbilang tak kalah dari penginapan sekelas hotel. Pasalnya, sejumlah pemilik homestay telah melengkapi dan menambah fasilitas kamar.

Bersama dengan pembangunan homestay, kafe tersebut diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Yang pada akhirnya mampu ikut berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan seluruh warga desa.

Kampung Buah Karangmojo

Sejak dicanangkan sebagai Desa Cerdas Mandiri Lestari tahun 2017 lalu, masyarakat di Kalurahan Tamanmartani tak henti melakukan berbagai inovasi untuk memajukan desa mereka. Salah satu potensi lokal yang terus dimaksimalkan adalah di sektor pariwisata.

Menindaklanjuti program pemberdayaan yang telah dilakukan Yayasan Damandiri, seperti pembentukan kampung homestay dan kafe rakyat, kini sejumlah warga pun mulai merintis spot-spot wisata baru di sejumlah dusun. Salah satunya, wisata edukasi kampung buah di Dusun Karangmojo.

Saat ini warga masyarakat Karangmojo mulai menyiapkan kampung wisata agro di 4 wilayah RT sejak sekitar 3 tahun lalu. Hal ini dilakukan karena melihat perkembangan pariwisata Dusun Karangmojo yang terus bergeliat seiring adanya program Desa Cerdas Mandiri Lestari dari Yayasan Damandiri.

“Sejak adanya program homestay dan warung cafe dari Yayasan Damandiri, kampung ini menjadi lebih ramai. Banyak wisatawan luar daerah datang ke sini. Dari situ mereka berpikir bagaimana membuat spot wisata alternatif yang bisa bersinergi,” katanya

Dimulai di satu wilayah RT yakni RT 04, warga masyarakat berinisiatif untuk menanam berbagai macam jenis buah-buahan di pekarangan rumah mereka masing-masing maupun di sekitar lingkungan kampung. Bibit buah tersebut mereka dapatkan dengan cara swadaya baik membeli atau mencangkok sendiri.

“Saat ini sudah ada 137 macam jenis buah yang kita tanam. Sebagian juga sudah berbuah. Target kita nanti akan bisa mencapai 200 macam jenis buah,” ungkapnya.

Melalui upaya itu, diharapkan nantinya akan semakin banyak wisatawan baik lokal maupun wisatawan luar daerah yang berkunjung ke Kalurahan Tamanmartani.

Dengan bersinergi dengan program Yayasan Damandiri, diharapkan pemberdayaan di bidang pariwisata ini akan mampu meningkatkan pendapatan warga dusun. Sehingga kesejahteraan masyarakat pun akan semakin meningkat.

“Tujuan kita sederhana, agar masyarakat bisa punya penghasilan tambahan dari hasil menjual buah atau pun bibit yang ditanam. Sehingga kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Minimal lingkungan menjadi lebih bersih dan hijau. Kebutuhan buah masyarakat juga terpenuhi karena bisa dikonsumsi sendiri,” katanya.