Upaya Ponpes Sunan Pandanaran dalam Memutus Penyebaran Covid-19

Santri mengikuti pemeriksaan kesehatan di Poskestren Pandanaran. IG/PONPES SUNAN PANDANARAN

Sudah lebih dari satu tahun, pandemi Covid-19 menjadi concern luar biasa bagi semua pihak. Pemerintah bersama semua kalangan masyarakat bergotong royong untuk mencegah dan menangani pandemi, hingga ke implikasi kompleksnya.

Pandemi bahkan berhasil mengubah tatanan kehidupan warga Kabupaten Sleman, mulai dari perekonomian hingga sosial. Berbagai upaya dilakukan untuk menanggulanginya, termasuk memotong mata rantai penularan yang pada praktiknya, tidak mudah direalisasikan.

Juru bicara Pondok Pesantren (Ponpes) Sunan Pandanaran, Gus Azka Sya’bana mengatakan, pada awal kasus Covid-19 masuk ke Daerah Istimewa Yogyakarta, Ponpes Sunan Pandanaran langsung membentuk satuan tugas penanggulangan Covid-19.

“Pada awal Covid-19, kami langsung membentuk satuan tugas (satgas) Covid-19 untuk lebih memantapkan dan meningkatkan koordinasi penanganan penyebaran Covid-19,” ungkapnya.

Gus Azka sendiri terpilih menjadi ketua Satgas Covid-19 Ponpes Sunan Pandanaran. Setelah pembentukan satgas tersebut, pihaknya juga memiliki gagasan untuk memulangkan ribuan santri demi menghindari penyebaran Covid-19. Dari total 5.000 santri yang menuntut ilmu di Ponpes Sunan Pandanaran, hanya tersisa 60 sampai dengan 70 santri.

Dalam melakukan kegiatannya, Ponpes Sunan Pandanaran pun selalu mengikuti arahan pemerintah.

“Kami selalu mengikuti arahan dari pemerintah, dan kami siap untuk menjalankan kegiatan sesuai dengan mekanisme dan protokol tertentu,” tutur Gus Azka.

Sementara itu, untuk santri yang masih berada di pondok, kegiatan yang dilakukan pun tidak seperti hari biasanya. Banyak kegiatan yang dikurangi, dan jika pun berkegiatan, disesuaikan dengan protokol pencegahan Covid-19 dari pemerintah.

“Ada yang memang oleh orang tuanya disuruh tinggal di pondok saja, ada santri yang rumahnya jauh, dan ada juga ada juga santri yang ingin pulang, namun kota tempat tinggalnya sudah menerapkan karantina wilayah atau ‘lockdown’. Misalnya, ada santri dari Papua yang mau pulang, tapi bandara di sana sudah ‘lockdown’ pada saat itu. Ada yang punya kemauan sendiri untuk tetap tinggal di pondok,” terangnya.

Menurut Gus Azka, bagi santri yang dipulangkan, ponpes berinisiatif untuk memberikan pembelajaran secara online, baik sifatnya pelajaran sekolah maupun mengaji Al-Qur’an dan kitab.

“Ada kegiatan pembelajaran online. Banyak bentuknya, ada yang pelajaran sekolah, ada yang mengaji, baik pengajian Al-Qur’an maupun kitab-kitab ala pesantren,” paparnya.

Gus Azka juga menjelaskan bahwa selama masa pandemi, seluruh kegiatan di Ponpes Sunan Pandanaran sebatas dilakukan di dalam lingkungan pondok.

“Selama masa pandemi, tidak ada aktivitas keluar masuk pondok. Hal ini kami terapkan untuk para guru dan orang luar, kecuali jika darurat, misalnya untuk keperluan konsumsi atau pembelian bahan makanan pokok para santri. Selain itu, kebutuhan mendesak yang berhubungan dengan kesehatan seperti dokter serta obat-obatan,” jelas sang ketua Satgas Covid-19.

Guz Azka menambahkan, dampak psikologis yang paling berat akibat pandemi dirasakan oleh para santri, salah satunya adalah perasaan rindu ingin bertemu dengan orang tua dan aktivitas belajar seperti biasanya. Menyikapi hal tersebut, Ponpes Sunan Pandanaran melakukan berbagai acara untuk menghilangkan kegelisahan dan kebosanan para santri.

“Untuk mengatasinya, kami sering mengadakan berbagai acara mulai dari nonton bareng, mengadakan pentas seni, perlombaan, dan olah raga bersama di dalam ponpes,” jelasnya.

Pada September 2020 lalu, Ponpes Sunan Pandanaran akhirnya dibuka kembali setelah mendapat izin dari Wakil Presiden dan Gubernur DIY.

Sebelumnya, Wakil Presiden telah memberikan anjuran agar pondok pesantren dibuka kembali. Anjuran tersebut dinyatakan dengan mempertimbangkan sistem pondok pesantren yang berbeda dengan sekolah formal pada umumnya.

“Kalau pondok pesantren itu berbasis komunitas. Santri yang sekali masuk ya sudah di dalam, kalau sekolah pada umumnya kan mereka datang, keluar, terus nanti pulang, besok masuk lagi. Kalau pondok pesantren seperti keluarga, masuk, karantina, selesai,” jelas Gus Azka.

Setelah mendapatkan anjuran dari Wakil Presiden, Asosiasi Pondok Pesantren DIY menghadap Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang intinya meminta izin agar kegiatan belajar mengajar di ponpes untuk dapat dibuka kembali.

Ngarsa Dalem pun menyambut baik. Ngarsa Dalem mengatakan jika para santri merupakan anak dengan usia yang memiliki imun yang kuat,” tutur Gus Azka.

Tim dari Dinas Kesehatan Sleman telah dua kali melakukan cek fisik lapangan. Dari hasil pengecekan, Ponpes Sunan Pandanaran dinilai sebagai salah satu ponpes yang paling siap untuk berkegiatan lagi di masa pandemi. Selain memiliki satgas Covid-19 internal, pondok ini juga memiliki ruang karantina yang memadai.

Di samping itu, Ponpes Sunan Pandanaran juga telah mendapatkan surat rekomendasi aman dari Satgas Covid-19 Kabupaten Sleman. Hal tersebut dibuktikan dengan digelarnya tes swab di ponpes dengan sasaran 100 ustaz dan ustazah.

Menurut Gus Azka, uji swab mengutamakan ustaz dan ustazah yang berasal dari luar daerah. Begitu mendapatkan informasi rencana uji swab tersebut, peserta dan tempat swab langsung disiapkan oleh pihak ponpes.

Gus Azka menambahkan, jika sampai saat ini jumlah pengajar di Ponpes Sunan Pandanaran berjumlah hampir 900 orang di mana 475 orang di antaranya berasal dari luar DIY.

Oleh karena itu, lantaran jatah swab massal hanya diperuntukkan bagi seratus pengajar, untuk sementara waktu, banyak pengajar dari luar yang belum diperbolehkan mengajar di ponpes. Ustaz dan ustazah boleh mengajar jika sudah mengikuti tes swab atau karantina, atau telah memiliki surat rapid test atau surat keterangan sehat.

Santri yang akan kembali ke ponpes pun diwajibkan untuk melakukan isolasi mandiri terlebih dahulu selama empat belas hari.

“Sebelum masuk pondok, santri wajib karantina selama 14 hari. Kami sudah punya tempat karantina sendiri, tempatnya ada di luar gedung asrama. Tempat karantina itu tidak kami penuhi, misalnya satu kamar berkapasitas 20 orang, tapi di situ kami isi maksimal 12 orang,” terang Gus Azka.

Pihaknya menyebutkan, santri di Ponpes Sunan Pandanaran berjumlah kurang lebih 4.000 santri, dan kebanyakan dari mereka berasal dari luar daerah. Santri yang berasal dari DIY hanya sekitar 10 persen dari jumlah keseluruhan.

“Jadi, kepulangan mereka ke pondok dibuat bertahap. Tiap gelombang dibatasi 200 santri. Saat ini, ada ratusan santri yang telah kembali ke pondok, tapi untuk sementara, santri yang berasal dari zona hitam belum diperkenankan pulang,” ucapnya.

Saat ditanya tentang kegiatan belajar mengajar di lingkungan ponpes, Gus Azka mengatakan jika saat ini masih mengikuti aturan dan arahan pemerintah yang belum memperbolehkan adanya kegiatan belajar dengan sistem tatap muka.

“Untuk kegiatan belajar mengajar di ponpes juga masih mengikuti aturan pemerintah. Pemerintah masih belum memperbolehkan sistem belajar tatap muka, kita juga ikuti itu,” ungkapnya.

Kegiatan yang ada di ponpes adalah murni kegiatan pesantren, sedangkan untuk guru yang berasal dari luar pesantren masih menggunakan sistem online dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

“Seluruh kegiatan kita di pesantren murni diikuti oleh santri yang ada di pesantren, ustaz dan ustazah juga dari dalam, tapi kalau guru-guru dari luar masih pakai aplikasi online dalam mengajarnya,” jelas Gus Azka.

Dalam penanganan Covid-19, pihak Ponpes Sunan Pandanaran selalu melakukan berkoordinasi dengan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sleman maupun satgas Covid-19 tingkat kecamatan. Upaya tersebut dilakukan agar kedua pihak tersebut ikut serta dalam memantau para santri, apakah santri dengan kondisi sehat atau tidak.

Sementara dari sisi medis, Ponpes Sunan Pandanaran telah dilengkapi dengan tiga dokter dan empat perawat. Seluruh aktivitas yang berhubungan dengan masalah kesehatan pun selalu dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dan puskesmas.

“Dokter itu dari pusat kesehatan pondok pesantren atau poskestren. Nah, poskestren ini selalu berkoordinasi dengan pihak Dinas Kesehatan Sleman dan puskesmas sekitar,” jelas Gus Azka.

Gus Azka juga menceritakan, beberapa waktu lalu ada santrinya yang terindikasi terpapar Covid-19 dengan gejala hilang penciuman atau anosmia.

“Sejak ada santri kami yang terindikasi terpapar Covid-19, kami selalu berkoordinasi dengan satgas Covid-19, baik yang berada di tingkat kecamatan maupun kabupaten, sehingga isolasi dan tracing bisa dilakukan sesuai prosedur yang menjadi standar penanganan Covid-19. Kami berterima kasih karena sejak awal Pemkab Sleman melalui Satgas Covid-19 dan Dinas Kesehatan terus mendampingi dan memberikan arahan,” ungkapnya.

Ponpes Sunan Pandanaran juga berusaha membuat roda perekonomian warga masyarakat sekitar ponpes terus berputar, yakni dengan cara ikut menyediakan makanan dan minuman untuk para santri, serta mencucikan pakaian para santri.

Hikmah Pandemi Covid-19

Dalam memutus mata rantai penularan Covid-19, pemerintah meminta masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar rumah. Para pengajar di Ponpes Sunan Pandanaran pun termasuk yang terkena imbasnya. Karena ponpes menerapkan sistem pembelajaran dari rumah maka pengajar pun harus bisa bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH).

Gus Azka Sya’bana mengatakan, jika setiap cobaan pasti selalu ada hikmahnya, dan salah satu hikmah yang bisa dipetik dari terjadinya pandemi Covid-19 ini adalah para pengajar lebih sering berkumpul dengan keluarga mereka.

Begitu pula dengan para santri, mereka yang selama ini belajar di pondok pesantren atau madrasah yang dikelola oleh pesantren, secara otomatis juga bisa lebih leluasa belajar di rumah dan didampingi orang tua mereka.

Hikmah lainnya adalah para pengajar termotivasi untuk lebih menguasai teknologi informasi dan komunikasi, karena selama pandemi Covid-19 ini pembelajaran yang diterapkan cenderung berbasis online.

“Semua guru dituntut melek teknologi dan bisa lebih mematangkan diri dalam penguasaan IT, khususnya aplikasi sistem daring,” ujar Gus Azka.

Di sisi lain, kerinduan para pengajar untuk bertemu dengan murid-muridnya pun kadang tak terbendung.

“Di situasi ini, berkat sisi positif dari kecanggihan teknologi, yang jauh pun bisa terasa dekat. Kita bisa melakukan video call group. Seorang pengajar bisa ‘bertemu’ dengan lebih dari satu siswa,” tutur Gus Azka.