Hadapi Pandemi, Warga Masyarakatlah Kuncinya

Wakil Bupati Sleman 2016-2021, Sri Muslimatun. HUMAS PEMKAB SLEMAN

Sri Muslimatun layaknya seorang ibu bagi warga masyarakat Sleman di tengah belum meredanya badai pandemi Covid-19. Wakil Bupati Sleman periode 2016-2021 itu tidak kenal lelah mengajak warga masyarakat Sleman untuk terus-menerus menerapkan protokol kesehatan sebagai benteng pertahanan paling ampuh. Berpengalaman di bidang kesehatan, Sri Muslimatun terbukti mampu membangkitkan Sleman secara edukatif dan inovatif. Sebuah kronik kepedulian pimpinan Sleman atas warga masyarakatnya.

Sleman tercatat sebagai salah satu kabupaten dengan jumlah kasus tertinggi di DIY, tentu dengan sederet faktor yang melatarbelakanginya. Namun, bagi Wakil Bupati Sri Muslimatun, hal tersebut tidak kemudian membuatnya jengah. Baginya, sejak awal kasus terjadi di Sleman, dia sudah yakin bahwa masyarakat adalah kunci utama dalam usaha menghadapi pagebluk dari Wuhan itu.

Bersama jajarannya di Pemerintah Kabupaten Sleman, Sri Muslimatun melakukan berbagai cara untuk menekan penyebaran Covid-19. Ia mencatat, awal meledaknya kasus Covid-19 di Sleman, karena tingkat kepadatan penduduk dan tingkat kunjungan yang sangat tinggi.

Menurut Bu Sri, wilayah Kabupaten Sleman tidak terlalu luas, yaitu hanya 18 persen dari seluruh luas wilayah DIY. Tapi, penduduk Kabupaten Sleman mencapai 33 persen. Tingkat kepadatan penduduk dan mobilitas itulah yang disinyalir menjadi salah satu penyebab terus meningkatnya kasus Covid-19.

Selain itu, tingkat mobilitas masyarakat Sleman yang tinggi juga sangat mempengaruhi lonjakan kasus di Sleman. Jumlah penduduk Sleman hampir mencapai 1 juta orang, sementara yang memiliki KTP Sleman hanyalah 250-300 ribu orang. Hal itu yang dimungkinkan kuat menyebabkan peningkatan kasus, yang ditandai dengan diberlakukannya liburan setelah Lebaran dan libur panjang. Saat itulah angka penyintas Covid-19 mulai melonjak angkanya.

Bahkan pada awal kasus Covid-19 di Sleman, kompleks Pemkab Sleman sempat ditutup, sekira Juli-Agustus 2020. Selain itu, pasar-pasar tradisional di Sleman juga pernah ditutup. Dan yang paling menggemparkan adalah kasus Indogrosir, sebuah pusat perbelanjaan dan grosir populer di Sleman. Karena, salah satu pembelinya adalah Aparatur Sipil Negara atau ASN Pemkab Sleman.

Jadi, Pemerintah Kabupaten Sleman memutuskan untuk menutup Indogrosir selama dua hari untuk melakukan pemeriksaan, setelah pelayanan reaktif dan kelanjutannya. Orang yang positif langsung masuk isolasi. Setelah dinyatakan negatif, baru resmi dibuka kembali. Sebuah kebijakan tegas yang sangat dibutuhkan di tengah ketidakpercayaan publik pada banyak hal.

Edukasi Masyarakat dengan Gerakan ‘Cita Mas Jajar’

Berbagai cara terus dilakukan untuk mengedukasi masyarakat. Salah satunya, dengan menanamkan pada masyarakat agar selalu menerapkan protokol kesehatan. Pemkab Sleman meluncurkan gerakan ‘Cita Mas Jajar’. Cita Mas Jajar alias Cita adalah cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Mas artinya memakai masker jika keluar rumah, dan Jajar artinya menjaga jarak antara satu dengan yang lain.

Menurut Sri Muslimatun, setiap warga masyarakat di Kabupaten Sleman harus berkomitmen dengan Cita Mas Jajar agar menjadi budaya dan kebiasaan selama pandemi Covid-19. Pemkab Sleman pun terus meminta masyarakat agar selalu menjadikan kebiasaan tersebut sebagai kebiasaan sehari-hari, tanpa harus diingatkan kembali.

Setiap orang merupakan contoh bagi orang lain. Maka dari itu, masyarakat dituntut agar membiasakan perilaku baik ini agar orang lain juga ikut terbawa dengan kebiasaan tersebut. Budaya ‘pekewuh’, rikuh, atau merasa tidak enak, saat mengingatkan satu sama lain, harus disingkirkan. Karena, dalam hidup, seseorang tidaklah sendiri dan harus saling mengingatkan.

Tidak hanya itu, pelayanan publik di setiap tingkatan sudah dikondisikan dengan protokol kesehatan guna mencegah penularan virus Corona melalui Surat Edaran untuk patuh pada protokol tersebut. Tidak kurang-kurang pula pengawasan pemerintah atas perilaku warga masyarakat yang tidak patuh dan itu membahayakan warga masyarakat lainnya.

Warga dilatih, termasuk dengan simulasi tentang bagaimana mengadaptasi kehidupan baru ini di bidang pariwisata, perdagangan, kuliner, jasa, perhotelan, dan restoran. Sri Muslimatun berharap dengan simulasi itu, kemudian masyarakat paham apa akibatnya, serta apa dampaknya ketika tidak patuh pada protokol kesehatan.

Namun, ia mengakui hal terberat dalam mencegah penyebaran Covid-19 di Sleman adalah budaya warga masyarakat agar mematuhi protokol kesehatan. Berdasarkan penelitian, budaya memang diawali dengan sebuah paksaan. Setelah terpaksa, seseorang kemudian baru menjadi terbiasa, dan setelahnya, barulah menjadi budaya. Tidak kurang dan tidak lebih, semasa pandemi hal itulah yang terjadi. Budaya untuk menjaga prokes masih banyak diabaikan.

Bahkan ketika sedang berkeliling di berbagai pasar tradisional Sleman, ia kerap menemui, baik pedagang dan pengunjung pasar, yang tidak menerapkan protokol kesehatan. Dari pantauannya di sejumlah pasar, masih banyak yang tidak memakai masker. Bila pun mengenakan masker, terkadang ada yang terbuka, ada yang ditempel saja, dan ada pula yang seharian belum berganti. Wabup Sri Muslimatun pun mengedukasi warga masyarakat hingga memaksa mereka agar menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker.

Ia terus melakukan pendekatan secara persuasif kepada warga masyarakat, termasuk dengan cara mengingatkan secara baik. Hal tersebut akan sangat memengaruhi orang lain dalam melakukan kebiasaan hidup sehat. Ketika warga mengikuti semua anjuran pemerintah sesuai Standard Operating Procedure, mungkin Covid-19 akan pergi dan pandemi segera berakhir.

Selain itu, banyak pedagang dan pengunjung pasar yang tidak mencuci tangan, baik sebelum maupun sesudah meninggalkan pasar. Padahal, Pemkab Sleman sudah menyediakan tempat cuci tangan yang memadai. Karena, sekian kali ditegaskan, perilaku sehat tentu saja berdasar dari cara pandang dan kebiasaan hidup sehat, termasuk di masa pandemi.

Bahu-membahu dengan Masyarakat

Sri Muslimatun mengatakan, jika Pemkab Sleman sudah melakukan penanganan Covid-19 sesuai seharusnya, dibuktikan dengan angka penyembuhan cukup tinggi dan angka kematian cukup rendah. Hanya yang menjadikan budaya kepada masyarakat untuk terus disiplin menerapkan protokol kesehatan itu yang tidak gampang. Namun, baginya hal itu harus tetap dilakukan dengan sabar dan telaten. Unsur edukasi dan sosialisasi harus terus dilakukannya.

Pemkab Sleman juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memfasilitasi warganya agar terbebas dari Covid-19. Ia berharap warga mengerti, sehingga akan terjadi kerja sama, karena pemerintah sendiri tidak akan mampu menangani pandemi, jika warganya tidak ikut bekerja sama.

Sekuat apa pun upaya yang dilakukan pemerintah untuk menghambat laju pandemi akan berbuah nihil, apabila warga masyarakat tidak bekerja sama, bahkan tidak memedulikannya. Artinya, setiap kebijakan dan regulasi yang diterbitkan untuk menangani pandemi dapat efektif pelaksanaannya, bila dipatuhi dengan penuh kebersamaan dan optimisme.

Terlebih, pandemi Covid-19 sangat berpengaruh terhadap semua sektor kehidupan, terutama sektor ekonomi, yakni warga masyarakat yang kehilangan mata pencahariannya. Untuk itu, Pemkab Sleman berinisiatif mengadakan training online untuk para pelaku usaha Sleman. Program pendampingan dan pelatihan dimulai sejak 6 April 2020. Pasar online merupakan pasar yang sangat potensial di masa depan. Di masa pandemi, masyarakat enggan berinteraksi secara tatap muka dan lebih memilih mencari cara alternatif untuk memenuhi kebutuhannya, tanpa harus keluar rumah.

Sejumlah materi diberikan sebagai bekal masyarakat menghadapi kondisi pandemi. Salah satunya, seperti pengetahuan tentang aplikasi pesan singkat WhatsApp dengan memaksimalkan penjualan melalui aplikasi tersebut. Selain itu, diberikan materi tentang strategi berjualan melalui media sosial dan marketplace.

Sri Muslimatun mengungkapkan bahwa setiap orang harus menyadari bahwa kehidupan tidak berhenti. Dengan adanya pandemi Covid-19 atau tidak, semua orang harus terus bergerak, berusaha, berkreasi, dan berinovasi, agar dapat mendapatkan keuntungan sendiri, sesuai dengan apa yang bisa dilakukan.

Masyarakat terus diajak untuk semangat dan terus bergerak menjalani kehidupan. Warga harus pintar-pintar mencari peluang yang ada di sekitar agar menghasilkan nilai. Peluang biasanya tidak jauh dari seseorang. Kepekaan menangkap peluang di sekeliling dan disertai ketekunan serta kerja keras dapat bersumbangsih pada solusi perekonomian semasa pandemi.

Semasa menjabat sebagai Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun kerap mendapati masyarakat yang mengadu padanya untuk memohon bantuan. Baginya sudah biasa, menemui warga masyarakat yang berkeluh kesah mengenai pekerjaannya yang hilang, karena dampak pandemi Covid-19. Tidak hanya satu-dua, warga berkisah apa adanya kepada Wabup seputar beban hidup yang perlu untuk didengarkan dan disikapi Pemkab Sleman.

Sri Muslimatun selalu memberikan nasihat dan mengubah pola pikir warga masyarakat yang tengah kesulitan bahwa banyak sekali pekerjaan yang dapat dilakukan. Ia berharap agar masyarakat selalu optimis bahwa pekerjaan itu bisa didapatkan di mana saja. Dengan tidak terlalu pilih-pilih, problem hilangnya pekerjaan dapat berbuah pada banyak profesi baru lantaran pandemi, yang pada akhirnya dapat membuat perekonomian Sleman bertahan.

Sebuah situasi yang tidak mudah, memang. Bu Sri tanpa lelah berkeliling dari satu titik ke titik lain, untuk memberi semangat dan solusi atas kompleksnya persoalan perekonomian daerah, sejak pandemi membatasi transaksi jual dan beli warga masyarakat. Cara berdialognya dengan warga sungguh menyejukkan.

Dedikasinya untuk memberi yang terbaik bagi warga masyarakat Sleman, bukan hanya sektor kesehatan tapi juga sektor lain, termasuk perekonomian, pada akhirnya pun berbuah. Semakin hari, Pemkab Sleman dan warga masyarakat Sleman dapat bahu-membahu berhadapan dengan pandemi Covid-19.

Sebuah kisah tentang Sleman yang tanggap bencana, bukan hanya ancaman erupsi Gunung Merapi, tetapi kini, yakni Sleman tangguh bencana, lantaran pandemi Covid-19. Terbukti, wargalah solusi dari setiap persoalan yang ada.