Manunggalnya Sektor Kesehatan dan Ekonomi

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo. HUMAS PEMKAB SLEMAN

Sektor kesehatan dan sektor ekonomi menjadi tumpuan strategis penanganan pandemi Covid-19. Bila salah satunya tak tertangani dengan benar, ketimpangan dapat terjadi. Hasilnya, bisa sangat fatal.

Awal Maret tahun lalu, ketika Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) mulai masuk ke Indonesia, pemerintah pusat dan daerah saling berkoordinasi untuk menjaga warga dari penularan virus yang berasal dari Wuhan, China ini.

Penelusuran dari kasus penularan lokal terus diantisipasi di Kabupaten Sleman. Pelacakan kasus dari warga yang terimbas wabah terus digencarkan. Harapannya, tentu agar kesehatan masyarakat Sleman dalam pandemi ini aman terkendali, meski harus berjibaku dalam kecenderungan global yang mengimpit kebutuhan warga.

Pada awalnya, segenap elemen masyarakat di Kabupaten Sleman sempat terpukul dengan pandemi. Mereka yang bergantung pada interaksi sosial untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, jelas merasakan beratnya keterbatasan aktivitas yang berisiko tinggi terhadap kesehatan mereka. Hal ini yang menjadi seabrek tugas besar ketika melakukan pengendalian wabah dan memantau perkembangan pandemi di Kabupaten Sleman.

Bupati Sleman menerbitkan Keputusan Bupati Sleman nomor 23/Kep/KDH/A/2020 yang berkaitan dengan penetapan status tanggap darurat Covid-19 Kabupaten Sleman yang dimulai tanggal 24 Maret 2020. Ketika keputusan bupati itu diluncurkan, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman bertindak cepat. Komando langsung bertindak cepat sejalan dengan ditemukannya kasus pertama di Sleman pada tanggal 18 Maret 2021.

Tak lama, ketetapan itu lekas diterjemahkan dengan menetapkan langkah strategis berupa agenda besar, Cari dan Kendalikan Masalah Covid-19 (Candak Mas Covid). Upaya tersebut bertujuan mengalokasikan sumber daya secara efektif guna edukasi, penelusuran, dan manajemen kasus melalui Tim Gerak Cepat, manajemen data, pemenuhan logistik, hingga penanganan jenazah Covid-19.

Beberapa langkah lain yang masih bagian dari langkah Candak Mas Covid juga dilakukan. Langkah-langkah yang telah dilakukan semasa penanganan Covid-19 itu di antaranya meliputi Surveilans Aktif Mencari Informasi Menemukan dan Obati Covid-19, Pelayanan Medis dengan menyediakan fasilitas kesehatan primer (25 Puskesmas) dan 12 RS SK Gubernur DIY, 13 RS rujukan antara (SK Bupati Sleman).

Itu ditambah dengan Fasilitas Kesehatan Darurat Tingkat Pertama Covid-19 di Asrama Haji Sleman, serta mengelola pembiayaan kesehatan yang diakibatkan karena Covid-19 yang tidak ditanggung oleh Pemerintah Pusat, juga mengembangkan Hotline Covid-19 (0878 1999 3434).

Langkah lainnya adalah dengan melakukan upaya promosi kesehatan dengan memberdayakan 25 Puskesmas untuk mengedukasi masyarakat, baik melalui penyuluhan langsung maupun tidak langsung, guna memberikan informasi yang tepat dan mereduksi stigma masyarakat.

Di sisi lain, percepatan penanganan Jenazah Covid-19 yang dikoordinasi Dinas Kesehatan melalui Call Center (081 359 111 600) sehingga menjadi lebih cepat dan mereduksi stigma terhadap jenazah, dan pemberdayaan disinfeksi mandiri pada masyarakat dan institusi.

Penanganan kasus yang tepat efektif dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 yang tentunya tidak lepas dari keterlibatan semua unsur segala lapisan masyarakat. Candak Mas Covid berkomitmen melacak kasus dengan cepat, maksimal 1×24 jam. Harapannya, tindak lanjut penanganan dilaksanakan dengan tepat dan sesuai prosedur, sehingga dapat mengendalikan penyebaran Covid-19 di Kabupaten Sleman.

Dinas Kesehatan berupaya mempercepat gerak langkah penanggulangan penularan dengan mengundang jajaran OPD dan BUMD untuk diberi bekal pengetahuan tindakan disinfeksi secara benar dan efektif terhadap ruang dan permukaan barang yang sering tersentuh orang banyak, sehingga dikhawatirkan terkontaminasi virus corona. Jajaran SKPD perlu melakukan disinfeksi secara mandiri dan berkesinambungan sesering mungkin.

Instansi pelayanan yang banyak diakses oleh orang dengan mobilitas tinggi diimbau dilakukan proses disinfeksi sebanyak dua kali sehari, yakni sebelum dan sesudah pelayanan. Selain itu, meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS, terutama cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir sesering mungkin, setelah menyentuh barang-barang yang banyak disentuh orang lain.

Dalam hal ini, SKPD dapat menyediakan wastafel di depan pintu masuk, sehingga orang yang akan masuk ruangan diharapkan cuci tangan terlebih dahulu. Di lain hal, untuk mengantisipasi kebutuhan informasi masyarakat terkait disinfeksi dan Covid-19, Dinas Kesehatan Sleman menyediakan Hotline Service.

Dijelaskan pula tata cara pembuatan disinfektan secara mandiri. Sebelum memulai proses pembuatan cairan disinfektan, petugas perlu mengenakan Alat Pelindung Diri (APD), seperti sarung tangan, masker, apron, dan sepatu boot.

Hanya saja, segenap upaya tersebut tak berarti lebih jauh kalau tak ada penerusan informasi yang efektif. Penyampaian informasi mengenai penanggulangan kasus Covid-19 dan pencegahan upaya niscaya disampaikan ke masyarakat. Efek penyampaian informasi berdampak cukup luas di tengah masyarakat. Ada sejenis pengaruh psikologis ketika informasi yang ada itu diserap oleh masyarakat.

Untuk meneruskan informasi ke masyarakat mengenai perkembangan kasus, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman melakukan updating peta persebaran kasus di dalam website instansi. Updating peta persebaran terus dilakukan agar masyarakat dapat ikut memantau di mana saja tempat-tempat dan wilayah yang masuk ke dalam zona-zona yang terkategorisasi khusus.

Penyuguhan informasi ke tengah masyarakat memerlukan kesiapan dan kesiagaan sumber daya. Informasi adalah barang publik. Apalagi hal ini adalah urgensi dari ketahanan masyarakat. Ancaman virus tak hanya masuk ke dalam ranah kesehatan, tapi juga merambat ke aspek-aspek lainnya. Dan informasi, menjadi barang publik yang penting dalam urusan penanganan Covid-19.

Siapkan Strategi Vaksinasi

Memasuki tahap baru penanganan wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), Pemerintah Kabupaten Sleman mulai mengelola jatah vaksin dari pusat yang lantas didistribusikan kepada penerima prioritas. Strategi vaksinasi dirancang khusus oleh Pemkab Sleman karena alokasi vaksin dibatasi, dan tuntutan untuk lekas memutus mata rantai penyebaran virus terus mendesak.

Bertolak dari hal itu, vaksinasi pun diutamakan bagi mereka yang rentan terhadap penularan virus, dan diutamakan pihak-pihak yang menjadi ujung tombak penanganan pandemi. Para lansia di Sleman adalah salah satu kategori yang diutamakan karena pada umumnya, mereka memiliki riwayat kesehatan yang lebih kompleks daripada kategori lainnya.

Sementara tenaga kesehatan punya andil yang besar dalam penanganan pandemi. Dengan tuntutan dan tanggung jawab pekerjaan, mereka harus mengorbankan tenaga, waktu, dan pikiran untuk terlibat langsung di lapangan dalam upaya menekan angka penularan virus di Kabupaten Sleman.

Sebelumnya, selama ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman menyasar target vaksinasi dengan database pendaftaran. Namun, kemudian Dinkes melakukan pendataan lansia berdasarkan wilayah domisilinya. Pendataan pun didukung oleh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), Kapanewon, kelurahan, hingga Padukuhan.

Perubahan strategi dirasa cukup memudahkan dan tepat sasaran. Karena, melalui perubahan ini, data-data yang diambil dari wilayah terkait lebih mengutamakan kedekatan. Sumber data dari wilayah terkait jadi lebih cepat dan ringkas. Dinas Kesehatan lebih efektif dalam mendistribusikan vaksin.

Dengan data berbasis wilayah, Dinas Kesehatan menargetkan bahwa Mei 2021, vaksinasi bagi Lansia akan selesai. Namun itu juga masih tergantung pada jatah dan ketersediaan vaksin. Ketersediaan vaksin juga mempengaruhi laju kecepatan program vaksinasi di lapangan.

Pada tahap awal vaksin yang dikenakan adalah produk Sinovac. Sementara di fase selanjutnya, jika memungkinkan, vaksin yang akan didistribusikan merupakan produk Astrazeneca. Tapi itu masih harus bergantung pada kesediaan. Yang jelas, utamanya vaksinasi sudah ditimbang sesuai dengan kondisi yang ada di Indonesia.

Terobosan dalam program vaksinasi tidak hanya berkutat soal sasaran dan pengumpulan database. Dari hulu ke hilir, program vaksinasi dimodifikasi demi kemudahan akses bagi mereka yang membutuhkan vaksin, dan untuk mereka yang termasuk dalam golongan rentan terhadap virus.

Di Sleman, Pemerintah Kabupaten Sleman, bersama Halodoc, Gojek, membuka Pos Pelayanan Vaksinasi Covid-19 drive thru di Candi Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Terobosan dan modifikasi program ini masih dalam rangka mendukung program vaksinasi massal tahap kedua dari pemerintah.

Selain dua superapp di Indonesia itu, beberapa instansi yang masih berkaitan dengan kesehatan masyarakat dan fasilitas publik juga turut terlibat di dalam program kolaborasi ini. Beberapa instansi itu di antaranya adalah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero).

Program diapresiasi oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Staf Ahli Bidang Ekonomi Kementerian Kesehatan, Mohamad Subuh, mengapresiasi komitmen yang konsisten dari Halodoc dan Gojek dalam menghadirkan pos pelayanan vaksinasi drive thru. Ia melihat kesiapan sarana dan prasarana vaksinasi sudah baik sekali dan yang paling penting, karena sasarannya berbeda dari tempat lain.

Pos layanan vaksinasi ditujukan bagi pelaku pariwisata, pelayan publik, dan transportasi publik. Mereka yang tertuju dalam program ini termasuk di antaranya seperti para mitra driver Gojek yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau berdomisili di Kabupaten Sleman. Program berjalan selama 33 hari, tanggal 5 April-7 Mei 2021.

Program ini dirasa sangat perlu, karena pada dasarnya program vaksinasi memerlukan keterlibatan banyak pihak. Program vaksinasi yang ditujukan untuk segenap lapisan masyarakat, menjangkau banyak elemen masyarakat. Dan cakupannya pun sangat luas. Karena itu, keterlibatan banyak pihak di dalamnya jadi sangat begitu penting.

Pemkab Sleman menyambut baik dukungan pihak swasta dalam menyukseskan vaksinasi yang sejalan dengan arahan pemerintah pusat. Kemampuan Halodoc bersama Gojek dalam mengelola vaksinasi Covid-19 secara drive thru sangat penting. Terlebih dalam pemanfaatan layanan dan fasilitas yang ada.

Program vaksinasi memang tepat, karena sasaran yang dituju berkaitan langsung dengan persoalan pariwisata yang selama ini punya andil besar dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Intinya adalah bagaimana vaksin dapat disalurkan dan mencakup para individu yang mesti bergerak memenuhi kebutuhan hidupnya di kawasan pariwisata tanpa mengabaikan kesehatan mereka sendiri.

Di lain pihak, ketersediaan vaksin juga perlu ditilik kembali. Target vaksinasi dan penyelenggaraannya perlu dikalkulasi agar terlaksana lebih efektif dan menyasar penerima prioritas. Target utama 5.000 dan terselenggara selama 5 hari. Harapannya, vaksinasi bagi pengelola wisata juga tercapai, tapi akhirnya kembali melihat dosis dan ketersediaan vaksin.

Untuk mengupayakan jatah vaksin, Kabupaten Sleman terus mengupayakan pelaksanaan vaksinasi di Sleman lekas tercapai. Vaksinasi diharapkan dapat dilakukan secara massal agar capaian yang divaksin teraih lebih banyak dan menghindarkan banyak pihak dari kerumunan-kerumunan yang tidak perlu. Ini aman, karena hanya kendaraannya yang mungkin berdempetan, bukan orangnya.