Begitu Besar Sumbangsih Warga Persyarikatan untuk Penanganan Pandemi

Salah satu rumah sakit rujukan Covid-19 di Yogyakarta, RS PKU Muhammadiyah Gamping. PKU GAMPING

Menjadi salah satu RS rujukan Covid-19, RS PKU Muhammadiyah Gamping tak henti berikhtiar. Berbagai persoalan yang muncul dihadapi dengan semangat baja. Dukungan warga persyarikatan pun terus mengalir. Sumbangsih yang dapat menjadi kekuatan semua RS milik Muhammadiyah pada khususnya di tengah pandemi yang belum menampakkan tanda-tanda akan selesai.

Pada April 2020, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, menetapkan Rumah Sakit (RS) PKU Muhammadiyah Gamping sebagai salah satu rumah sakit rujukan penanggulangan penyakit infeksi emerging tertentu, termasuk Covid-19.

Meski baru menduduki RS dengan kelas tipe C, pelayanan di RS PKU Muhammadiyah Gamping terbilang cukup lengkap, dengan kapasitas 115 tempat tidur.

Direktur Utama (Dirut) RS PKU Muhammadiyah Gamping, dr. Ahmad Faesol, Sp.Rad.M.Kes., MMR mengatakan, pada awal merebaknya kasus Covid-19 di DIY, RS ini langsung membuka layanan screening Covid-19. Setiap orang atau pasien yang masuk ke RS PKU Muhammadiyah Gamping dilakukan screening terlebih dahulu.

Screening rutin dilakukan bagi tenaga kesehatan sebagai bentuk mitigasi dan menjalankan protokol selama pandemi. Tujuan dari screening adalah untuk melindungi pasien, pengunjung, dan keluarga besar RS PKU Muhammadiyah Gamping.

Untuk menjaga keselamatan pasien, rumah sakit telah mengetatkan protokol kesehatan sesuai standar yang ditetapkan pemerintah, termasuk melakukan general cleaning dan dekontaminasi rutin di seluruh area RS sebagai upaya pemutusan mata rantai penularan.

RS PKU Muhammadiyah Gamping mulai mendapat pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 pada bulan April 2020. Tahap awal yang mereka lakukan adalah merombak ruangan yang sedianya digunakan sebagai ruang isolasi. Saat itu, memanfaatkan ruang isolasi yang ada di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Ruang tersebut dimodifikasi, dibuat ruangan dengan tekanan negatif. Untuk diketahui, ruangan bertekanan negatif bertujuan untuk mencegah penularan Covid-19. Udara di ruangan akan disaring dengan filter berulang kali, sehingga udara yang dikeluarkan aman bagi pasien dan dokter.

Seiring waktu, pasien Covid-19 yang diterima RS PKU Muhammadiyah Gamping sangat banyak. Untuk itu, ditambahkanlah ruang isolasi khusus dengan menggeser ruang hemodialisa.

Ruangan dilengkapi dengan delapan tempat tidur dengan kriteria ruang isolasi khusus bertekanan negatif. Akan tetapi, saat itu rumah sakit belum menyediakan ventilator atau alat bantu pernapasan untuk pasien. Rumah sakit memprioritaskan adanya ruang isolasi terlebih dahulu untuk mempercepat penanganan pasien terkonfirmasi Covid-19.

Kebutuhan akan ruang isolasi ternyata semakin meningkat. Kunjungan pasien membludak dan antrean panjang di IGD tak terelakkan lagi. Rumah sakit mau tidak mau harus menambah ruang isolasi bertekanan negatif lagi.

Akhirnya, rumah sakit menambah satu bangsal untuk ruang isolasi pasien, termasuk untuk tenaga kesehatan (nakes) rumah sakit yang juga terpapar virus dari Wuhan itu. Di dalamnya, 10 tempat tidur dipersiapkan. Berkenaan dengan banyaknya nakes yang positif Covid-19 dan diharuskan menjalani isolasi, pihak rumah sakit kemudian merekrut sejumlah nakes.

Jadi, total ruangan yang digunakan untuk isolasi pada saat itu ada 30 tempat tidur bertekanan negatif, dan tidak sampai 2 minggu, 30 tempat tidur yang digunakan untuk keperluan isolasi telah terisi penuh. Saat itu, sebagian besar tempat tidur merawat pasien Covid-19 yang berasal dari klaster Indogrosir Sleman.

Pada bulan Desember 2020, jumlah ruang isolasi yang dimiliki RS PKU Muhammadiyah Gamping mencapai 48 kamar. Pihak manajemen rencananya terus menambah jumlah ruang isolasi bertekanan negatif, bahkan telah dibentuk Satgas Penanggulangan Covid-19.

Dokter Faesol menuturkan, geliat RS PKU Muhammadiyah Gamping sebagai pusat rujukan Covid-19 banyak mendapatkan bantuan dan dukungan, terutama dari internal persyarikatan Muhammadiyah, yaitu Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC).

MCCC merupakan lembaga Muhammadiyah yang khusus menangani pandemi Covid-19 di Tanah Air. Perannya dimulai sejak pasien Covid-19 pertama diumumkan pemerintah pada tanggal 2 Maret 2020 silam. Hingga kini, MCCC terus memberikan layanan melalui 82 Rumah Sakit Muhammadiyah Aisyiyah (RSMA).

Pihak rumah sakit selalu bekerja dengan sungguh-sungguh dalam penanganan pasien Covid-19. Teruntuk nakes diteguhkan bahwa pekerjaan mereka adalah jihad kemanusiaan dalam rangka menebar kebaikan. Di samping itu, nakes telah memiliki peranan besar dalam mensosialisasikan pemahaman mengenai Covid-19 di kalangan masyarakat, terutama di keluarga dan pasien.

Pengalaman sebagai Penyintas Covid-19

Direktur Utama RS Muhammadiyah PKU Gamping, dr. Ahmad Faesol, Sp.Rad.M.Kes.,MMR. AHMAD FAESOL

Seperti diketahui, dr. Ahmad Faesol juga terinfeksi Covid-19 pada bulan September 2020. Dirinya sempat kaget mendapati hasil SWAB yang positif dan hasil rontgen yang buruk. Oleh karena itu, ia diharuskan menjalani perawatan di ruang ICU RSUP dr. Sardjito, karena mengalami gejala penyakit menular tersebut.

Akan tetapi, petinggi rumah sakit itu lantas ikhlas menjalani masa perawatannya. Ia lebih banyak bermuhasabah dan mengambil hikmah dari keadaan yang tengah ia alami. Dokter Faesol menelaah, pandemi menjadi media yang efektif dan cukup bermakna untuk menyadarkan dirinya bahwa waktu yang ia gunakan selama ini mungkin tidak proporsional antara urusan dunia dan akhirat.

Selama menjalani perawatan di ruang ICU RSUP dr. Sardjito, dr. Faesol juga telah sepakat dengan diri sendiri untuk tidak menjadi pasien manja. Perawat yang ia beritahu hal itu pun sempat khawatir. Meski dalam keadaan sakit, dr. Faesol tidak mau dibantu ketika sedang mandi atau makan. Sebuah optimisme bahwa kesehatannya akan pulih kembali.

Menjadi penyintas Covid-19, dr. Faesol dan keluarga berterima kasih kepada Sang Pencipta. Baginya, pandemi adalah pintu kesadaran, yakni cara Tuhan menyadarkan manusia agar lebih dekat dengan-Nya. Sejak itu, pola hidup dr. Faesol pun berubah total.

Pandemi dapat berakhir apabila Tuhan menghendaki, sukar jika manusia yang memprediksi, demikianlah tutur dr. Faesol. Sementara itu, vaksinasi yang digencarkan pemerintah adalah ikhtiar, yang akan membuahkan hasil apabila didukung oleh kebiasaan masyarakat yang mengindahkan protokol kesehatan.

Berbekal pengalaman spiritual semasa isolasi, dr. Faesol memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi masyarakat, salah satunya memahamkan pentingnya mematuhi protokol kesehatan. Kepatuhan semata-mata untuk menjaga diri sendiri dan orang-orang sekitar. Meski demikian, dr. Faesol mengakui bahwa menyadarkan masyarakat tidaklah mudah.

Satgas Covid-19 PKU Muhammadiyah Gamping

Adalah dr. Masykur Rahmat, manajer pelayanan medis RS PKU Muhammadiyah Bantul, yang juga bertugas sebagai ketua Satgas Covid-19 RS PKU Muhammadiyah Gamping sejak akhir April 2020.

Dibentuknya Satgas Covid-19 ini adalah upaya rumah sakit untuk adaptif dengan situasi yang darurat, dengan tujuan memfokuskan pelayanan dan penanganan kasus Covid-19 oleh tim khusus. Jadi, tidak semua dokter dan nakes perlu terlibat.

Menurut dr. Masykur, Satgas Covid-19 RS PKU Muhammadiyah Gamping telah memiliki Surat Keputusan (SK) dari direksi rumah sakit. Satgas Covid-19 yang dipimpinnya bertugas untuk mengawal seluruh keperluan yang bersinggungan dengan penanganan Covid-19, meliputi sarana dan prasarana, pelayanan medis, logistik, serta keselamatan kerja karyawan.

Sebanyak 18 orang tergabung dalam keanggotaan Satgas, dengan berbagai peranan utama, seperti tim medis Covid-19, tim logistik, dan tim administratif. Demikian halnya dengan struktur kepengurusan, dibentuk demi kelancaran tugas dan fungsi masing-masing.

Dokter Masykur menceritakan pengalamannya ketika bertugas. Saat itu, banyak pasien terpapar Covid-19 pada gelombang pertama kasus di rumah sakit, namun masih dapat ditangani. Akan tetapi, angka pasien melonjak luar biasa pada gelombang berikutnya.

Mengendalikan situasi itu, Satgas Covid-19 berembuk dengan direksi dan MCCC. Kemudian, dibentuklah shelter Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA), yang digunakan untuk menangani pasien terkonfirmasi Covid-19 tanpa gejala atau OTG. Pada Desember 2020, shelter tersebut terbuka untuk masyarakat umum, yang dirujuk oleh puskesmas atau dinas kesehatan.

Untuk diketahui, sama halnya dengan dr. Ahmad Faesol, dr. Masykur juga sempat terkonfirmasi positif Covid-19 dan menjalani isolasi di Gedung Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Ia menyikapinya dengan lapang dada, juga memilih untuk mengambil hikmah yang berharga selama melakukan isolasi.

Persiapan yang dilakukan Satgas Covid-19 RS PKU Muhammadiyah Gamping untuk menangani pasien patut diapresiasi, mulai dari pengadaan ruang isolasi bertekanan negatif hingga perawatan medis.

Meski demikian, peranan Satgas Covid-19 tidak luput dari kendala yang ditemui di lapangan, salah satunya mengenai ketersediaan obat-obatan. Berkali-kali, kebutuhan obat-obatan bagi pasien Covid-19 sangat mendesak, akan tetapi rumah sakit sudah kehabisan stok persediaannya. Sedangkan mendapatkannya di pasaran tidaklah mudah.

Kelangkaan obat-obatan menjadi kendala yang serius. Rumah sakit harus menunggu ketersediaan obat tersebut. Dokter. Masykur menerangkan, pihaknya tidak mungkin mengadakan obat-obatan di luar standar pengobatan yang ditetapkan pemerintah, sebab selain menyalahi peraturan, obatan-obatan khusus untuk pasien Covid-19 pun masih dalam proses riset.

Beberapa keluarga pasien Covid-19 yang ditemui dr. Masykur justru pernah berniat memberikan obat-obatan kepada pasien, seperti halnya obat-obatan herbal dan berbagai macam madu. Padahal, menurutnya, obat dari rumah sakit sudah cukup. Obat-obatan herbal atau suplemen lainnya dapat dikonsumsi setelah pasien sembuh dan diperbolehkan pulang.

Kiprah RS PKU Muhammadiyah Gamping selama 12 tahun dalam meningkatkan derajat kesehatan warga tanpa membedakan suku, agama, ras, yang didasarkan pada spirit Al-Maun ini benar-benar sangat patut mendapatkan apresiasi.

Bersama Satgas Covid-19 yang dibentuknya, mereka terus bekerja keras, tak gentar menghadapi pandemi yang belum berakhir. Mereka pun tak lelah membangun optimisme masyarakat di masa pagebluk saat ini, melakukan yang terbaik untuk pasien dan masyarakat umum.