Hikayat Saraban dan Sejarah Tata Kepengurusan Pedukuhan Ngireng-ireng

Arca Yoni yang ditemukan di Kampung Karanggede. JAMILLUDIN

Jika berziarah ke Makam Saraban, di sudut barat yang mengarah ke utara akan ditemui sebuah pusara atas nama Kyai Muhammad Sorobudin. Tidak ada anggota keluarga yang pernah menziarahi makam tersebut. Meski begitu, menurut beberapa tokoh, nama Kyai Muhammad Sorobudin adalah cikal bakal penamaan Kampung Saraban.

Tokoh yang sering dipanggil Mbah Sorobudin ini namanya abadi, meskipun tidak ada yang tahu banyak cerita mengenai beliau.

“Tak ada yang tahu di mana lokasi tepatnya Simbah Sorobudin tinggal, bahkan simbah buyut dari saya pun belum tentu tahu di mana Mbah Sorobudin tinggal selama hidupnya. Bahkan, keluarga dan keturunannya pun tak ada yang tahu sekarang di mana,” ungkap Prapto, mantan Dukuh Ngireng-ireng yang pada 2019 ini berusia delapan puluh tahun.

Saraban, Satu dari Enam Kampung yang Digabung

Letak Kampung Saraban sendiri berada di sebelah barat Kampung Ngireng-ireng—nama pedukuhan dari enam kampung lainnya. Kampung Saraban merupakan kampung tertua di Pedukuhan Ngireng-ireng, disusul oleh Kampung Gedangan, Ngireng-Ireng, Jomblang, Karanggede, dan Nengahan. Secara geografis, Kampung Saraban berbatasan dengan Kampung Nengahan di barat, Kampus ISI Yogyakarta di utara, Jalan KH Ali Maksum di timur, dan Kampung Karanggede di selatan.

Pada tahun 1946, keenam kampung tersebut digabung menjadi satu pedukuhan. Nama Kampung Ngireng-Ireng dipilih menjadi nama pedukuhan baru sebab tempat tinggal dukuh pertama, Kyai Josono, terletak di Ngireng-ireng. Ia sebelumnya menjabat menjadi Kepala Urusan Kesejahteraan dan Agama (Kaum Beselit) di Kelurahan Cabeyan dan dikenal sebagai orang yang mempunyai banyak kelebihan (linuwih) dibandingkan dengan kebanyakan orang waktu itu. Masyarakat sering menyebutnya dengan kamisepuh. Ketika itu, beliau sering membantu menyembuhkan orang sakit.

“Dahulu, Pedukuhan Ngireng-ireng itu masuk Kelurahan Cabeyan yang beranggotakan Pedukuhan Garon, Cabeyan, Ngireng-reng, dan Geneng. Pada 1946 dileburlah menjadi satu desa, yakni Desa Panggungharjo—gabungan dari tiga kelurahan, yakni Kelurahan Cabeyan, Kelurahan Prancak, dan Kelurahan Krapyak,” ungkap Heru Prasetya, Dukuh Ngireng-ireng.

Berdasarkan bukti sejarah yang dikutip dalam website Panggungharjo, desa itu dibentuk berdasarkan Maklumat Nomor 7, 14, 15, 16, 17, dan 18 Monarki Yogyakarta Tahun 1946 yang mengatur tentang Tata Kelurahan di kala itu. Atas maklumat tersebut, kemudian ditetapkanlah hari jadi Desa Panggungharjo yang jatuh pada 24 Desember. Lurah yang pertama kali menjabat di kala hari jadi ialah Hardjo Sumarto.

Kepemimpinan Kyai Josono berakhir tahun 1976 yang kemudian digantikan oleh Prapto Wiyono alias Wagiyo. Ia merupakan warga penduduk asli Saraban.

Dulunya, saat pemilihan dukuh, setelah Kyai Josono, terdapat delapan kandidat calon kepala dukuh. Beberapa di antaranya adalah empat warga Saraban, yakni Prapto Wiyono, Marno Kiswoyo, Narto Wiarjo, dan Darmo Ijoyo alias Gampang, sedangkan dari luar Saraban, yakni Hajam Suwarsono dari Nengahan, Ahmad Tukiyo dari Gedangan, Wardi Wiyono dari Karanggede, dan Adi Sarwono dari Kampung Ngireng-ireng yang merupakan anak dari Kyai Josono.

“Pemilihan dukuh saat itu dilakukan melalui sistem demokrasi dengan cara coblosan di Kampung Nengahan, kediaman Bapak Suwito Utomo,” kata Prapto Wiyono yang terpilih sebagai kepala dukuh saat itu.

Pada 1970-an, Darmo Gampang menjadi sosok yang pertama kali menjabat sebagai Ketua RT 02 di Saraban, kemudian, ia naik jabatan dan menduduki kursi ketua RW 08. Lantas, Lunggi Santosa yang merupakan adik dari Darmo Gampang menggantikan tugas sang kakak sebagai ketua RT.

Peran Ketua RT dan Ketua RW Saraban saat itu, meninggalkan sejarah pembentukan jalan di Kampung Saraban dan Nengahan. Dahulu, wilayah Saraban dan Nengahan masih menjadi satu kepengurusan. Pembukaan jalan bertujuan untuk memudahkan akses masyarakat, menambah nilai jual lahan, dan tentunya memikirkan masa depan anak-cucu kelak.

Ikon Khas Pedukuhan Ngireng-ireng

Mangut Lele Mbah Marto, ikon kuliner Pedukuhan Ngireng-ireng yang terkenal. PEMERINTAH KALURAHAN PANGGUNGHARJO

Warga Saraban mempunyai pekerjaan khas, yakni sebagai penjual makanan matang yang dahulu berjualan di Kampung Ngireng-ireng. Ketika itu, Ngireng-ireng merupakan pusat jualan, mirip seperti pasar. Warga sering menyebutnya ngarung ireng.

“Siapa pun yang berjualan di situ pasti laris. Rata-rata pekerjaan warga di Pedukuhan Ngireng-ireng saat itu ialah berjualan makanan, dari mulai nasi tumpeng, rujak semelak, gulai, sego gudeg, dan makanan-makanan lainnya,” ungkap Darmo Gampang yang saat ini berusia 74 tahun.

Menurut Darmo, dahulu banyak dokar-dokar yang berhenti untuk membeli dagangan-dagangan para penjual. Rata-rata dokar yang berhenti di malam hari, di kondisi gelap, sering dikaitkan dengan pemberian nama ngarung ireng yang memiliki arti ‘warung-warung yang gelap’. Bahkan, sekarang ini Pedukuhan Ngireng-ireng memiliki ikon penjual makanan yang dikenal secara luas oleh masyarakat, yakni Mangut Lele Mbah Marto yang berlokasi di Kampung Nengahan.

Selain ikon khas berupa makanan, Pedukuhan Ngireng-ireng juga memiliki ikon peninggalan sejarah yang ditemukan pada 1987, yakni situs Arca Yoni di Kampung Karanggede. Situs ini ditemukan oleh Soparto, pemilik pekarangan di mana Arca Yoni tersebut ditemukan saat sedang membersihkan tanahnya dan menebangi rumpunan pohon bambu.

Menurut Lunggi Santosa, dahulu arca ini disebut Candi Tiban. Kemudian, ia memanggil wartawan untuk memberitakan penemuan situs bersejarah tersebut. Sontak penemuan ini mengundang rasa penasaran dari masyarakat setempat dan luar daerah.

Lunggi Santosa sempat ingin memanfaatkan momen ini untuk menarik infak guna keperluan kegiatan pedukuhan Ngireng-ireng, tetapi tidak jadi karena hal itu dirasa kurang tepat. Alhasil, ia membuka jasa penitipan parkir bersama para pemuda dan uang hasil parkir tersebut digunakan untuk melanjutkan pembangunan masjid pertama di Pedukuhan Ngireng-ireng.

Peletakan batu pertama masjid tersebut dilakukan pada Jumat Legi tanggal 13 Agustus 1982 dan akhirnya diberi nama Masjid Baitussalam. Lokasinya berada di sebelah utara Makam Saraban. Pembangunan masjid tersebut dilakukan dengan gotong-royong warga. Saat ini, tanah dari situs Arca Yoni telah dibeli pemerintah pada 2012 sehingga perawatan bisa dilakukan oleh Dinas Purbakala.

Sekitar tujuh tahun setelah kepengurusan Prapto Wiyono sebagai Kepala Dukuh Ngireng-ireng, Kyai Josono wafat dan dikebumikan di Makam Mangunan. Pada 2004, Prapto berhenti menjabat dan dirangkap oleh Kepala Dukuh Geneng. Pada 2008, diangkatlah Heru Prasetya sebagai Kepala Dukuh Ngireng-ireng hingga saat ini melalui pemilihan kepala dukuh tanggal 2 Maret 2008. Ia dilantik pada 5 April 2008.

Terdapat pergantian Ketua RT Saraban beberapa kali setelah Lunggi Santosa. Saat ini yang menjabat ketua RT Saraban ialah Suratiman.

Selain nama Saraban yang berasal dari nama tokoh adibintang yang jejaknya telah hilang, tak sedikit masyarakat yang mengemukakan pendapat dengan utak-atik gathuk mengenai asal nama “Saraban”. Salah satunya ialah dari kata “sarapan” karena banyaknya penjual makanan di pagi hari saat itu. Entah mana yang benar, sosok Mbah Sorobudin yang misterius telah berjasa melahirkan nama Kampung Saraban. Hingga kini, makamnya masih dirawat oleh juru kunci makam, yakni Mangkuyoto dan juga masyarakat Kampung Saraban.