Kontribusi Perguruan Tinggi dalam Penanganan Pandemi

Rektor UNISA, Warsiti, menunjukkan kartu vaksinasi Covid-19 miliknya. UNISA YOGYA

Dunia pendidikan sempat dibuat kalang kabut oleh pandemi Covid-19 yang kedatangan dan dampaknya tidak disangka-sangka. Menghadapinya, lembaga pendidikan dituntut untuk mampu beradaptasi dengan situasi, membuat inovasi-inovasi agar proses pembelajaran terus berlanjut, pun tidak menghilangkan esensinya.

Tidak terlepas dari itu, lembaga pendidikan juga dibutuhkan peran dan partisipasinya dalam membantu pemerintah menangani pandemi Covid-19.

Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA), sebagai salah satu universitas yang bergerak dan berperan aktif dalam dunia kesehatan, telah menata diri agar pukulan pandemi tidak membuat tenaga pengajar dan mahasiswa larut dalam duka.

Berbagai upaya dilakukan agar kuliah tetap dapat dilaksanakan dalam keterbatasan. Tak hanya itu, UNISA bahkan turut berkontribusi dalam pelaksanaan edukasi kepada masyarakat tentang pencegahan virus Corona.

Rektor UNISA, Warsiti, menjelaskan bahwa pengalaman pribadinya dalam menghadapi Covid-19 tidak sekompleks atau serumit yang dialami oleh institusi, sebab ia hanya perlu mengondisikan diri sendiri dan keluarga kemudian menjadikannya sebagai contoh ideal yang dapat ditiru oleh masyarakat sekitar.

“Sementara sebagai institusi pendidikan, kami harus menjalankan kebijakan pemerintah, yaitu melakukan kuliah online atau pembelajaran dari rumah,” ungkap Warsiti.

Sebagai rektor perguruan tinggi yang fokus pada ilmu kesehatan, Warsiti mengaku bahwa secara pribadi, ia lebih mendorong semua pihak ke arah bagaimana menjaga imunitas, tidak melakukan kontak dengan banyak orang, dan mampu mengajar mahasiswa dari rumah masing-masing.

Secara institusional, STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta yang kemudian berubah nama menjadi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta itu, baru resmi menjadi universitas pada tahun 2016, dan mendeklarasikan diri sebagai universitas berwawasan kesehatan.

Dari segi fisik bangunan, UNISA telah memiliki kelengkapan sarana dan prasarana kesehatan. Di setiap ruangan yang ada, tersedia tempat cuci tangan dan hand sanitizer, suatu hal yang kemudian sangat mendukung kesiapan UNISA Yogyakarta dalam membantu penanganan pandemi.

“Sejak pembangunan gedung universitas yang dimulai pada tahun 2011, sudah dirancang berbagai perlengkapan kebersihan dan kesehatan. Itu adalah culture kami. Jadi, ketika wabah Covid-19 mulai menyebar di Indonesia, kami segera mengambil sikap,” terang Sang Rektor.

Untuk memudahkan penanganan pandemi, UNISA membentuk Satgas Covid-19 sejak Maret 2020, terdiri dari pengurus inti, tim mitigasi, tim logistik, tim publikasi dan informasi, dan tim rujukan. Satgas diberikan beberapa kewenangan, mulai dari menyusun hal-hal yang berkaitan dengan penanganan Covid-19, membuat beberapa perencanaan, dan membuat Standard Operating Procedure (SOP) untuk dilaksanakan.

Menurut Warsiti, perguruan tinggi bersifat sangat dinamis. Terdapat berbagai program akademik yang harus dilaksanakan, juga penyesuaian dengan kuliah online. Dari situ, kemudian muncul berbagai bentuk kegiatan yang lakukan, termasuk upaya untuk meningkatkan kapasitas dosen dalam melakukan pembelajaran secara online.

Seperti diketahui, UNISA memiliki banyak program studi kesehatan. Mahasiswa yang menempuh studi tersebut harus melakukan tugas praktik. Mengingat keterbatasan di masa pandemi, pihak kampus pun menyusun rancangan adaptasi agar mahasiswanya dapat memenuhi tugas, yaitu adaptasi cara kerja layanan-layanan yang diberikan kepada stakeholder dan mahasiswa, serta adaptasi terkait dengan cara kerja seluruh pegawai.

“Sebelum kegiatan praktik laboratorium dilaksanakan, kami melakukan screening dahulu. Waktu itu, seluruh mahasiswa praktik mungkin ada tiga ribuan jumlahnya. Kami buatkan jadwal praktikum supaya mereka bisa bergantian masuk laboratorium,” terang Warsiti.

Sementara itu, kegiatan akademik meliputi proses pembelajaran, pengumpulan tugas akhir mahasiswa, dan ujian wisuda, dilakukan secara daring. Dalam prosesnya, tiap pembelajaran daring tersebut tidak lepas dari pengawasan dan evaluasi.

Beberapa kegiatan pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dosen dalam mengajar secara online pun diselenggarakan. Bahkan, ada dosen yang mendapatkan bantuan dana untuk melakukan riset dalam hubungannya dengan Covid-19.

“Selain dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang seperti penguatan internet, berbagai jalan keluar untuk mengatasi persoalan pembelajaran secara daring pun kami lakukan. Kami melakukan evaluasi, termasuk identifikasi berapa persentase mahasiswa yang tidak bisa mendapatkan akses internet,” jelas Warsiti.

Menurutnya, di masa pandemi ini, ada mahasiswa UNISA yang tidak dapat pulang ke daerahnya karena berbagai alasan sehingga mereka tetap tinggal di Yogyakarta. Melihat hal itu, pihak Warsiti segera melakukan identifikasi ke sekeliling kampus. Hasil yang didapatkan, ada sekitar tiga ratus mahasiswa yang masih tinggal di indekos.

“Mahasiswa yang masih tinggal di indekos, kami pantau kebutuhan mereka. Ada yang kami berikan voucher bantuan sembako dua sampai dengan tiga kali, termasuk kami bagikan pula kepada masyarakat sekitar,” jelas Warsiti.

Mengenai kedatangan mahasiswa yang akan kembali ke Yogyakarta dan tinggal di indekos, pihak kampus merasa perlu untuk melakukan koordinasi dengan para pemilik indekos dan pemilik warung di sekitar kampus.

Dalam koordinasi itu, kampus mengimbau kedua belah pihak agar tidak khawatir dengan kembalinya mahasiswa UNISA yang notabene berasal dari luar daerah. Pihak kampus pun mengedukasi bagaimana seharusnya para pemilik indekos dalam menerima mahasiswa. Sementara untuk pemilik warung, diminta berjualan dengan disiplin protokol kesehatan.

Shelter Pesantren Covid-19 UNISA

Selain memerhatikan keberlangsungan kegiatan pembelajaran, dan bertanggung jawab dalam meringankan biaya kehidupan para mahasiswa yang tetap tinggal di Yogyakarta, UNISA juga banyak berperan dalam membantu upaya percepatan penanganan pandemi.

UNISA menyiapkan shelter khusus yang berfungsi sebagai tempat isolasi mandiri, khusus bagi pasien Covid-19 asimptomatik atau tanpa gejala. Shelter tersebut dinamakan Pesantren Covid-19. Secara operasional shelter, UNISA bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Sleman.

Warsiti menerangkan, pada awalnya, shelter tersebut hanya diperuntukkan bagi mahasiswa, tenaga kesehatan, dan warga persyarikatan Muhammadiyah. Namun, seiring waktu, karena kebutuhan akan ruang isolasi semakin tak terbendung, shelter pun dibuka untuk masyarakat umum.

Hingga bulan Februari 2021, Pesantren Covid-19 telah menerima 255 pasien yang dinyatakan positif Covid-19, dengan sebagian besar pasien adalah keluarga besar Muhammadiyah. Pasien yang menjalani masa isolasi mandiri selama sepuluh hari hanya perlu mengganti uang makan.

“Kami juga bekerja sama dengan ahli gizi dari RS PKU Muhammadiyah Gamping. Sedangkan untuk memonitor kesehatan pasien, ada dokter spesialis paru-paru yang melakukan pemeriksaan secara berkala. hanya saja, untuk pemeriksaan thorax dan pemeriksaan laboratorium lainnya memang menjadi tanggungan pasien,” terang Warsiti.

Sesuai namanya, Pesantren Covid-19 mengajak pasien untuk senantiasa melakukan kegiatan positif agar masa isolasi mandiri tidak terkesan sia-sia. Misalnya, dengan berolahraga secara rutin dan mengikuti kajian keagamaan.

Warsiti juga menceritakan pengalamannya ketika berkoordinasi dengan Satgas Penanganan Covid-19. Ia berpendapat, Kabupaten Sleman termasuk daerah yang paling cepat responsnya dalam penanganan wabah ini.

“Saat itu, ada dosen UNISA yang suaminya terkonfirmasi positif Covid-19. Tim Satgas Covid-19 sangat responsif dan dalam penanganannya pun terorganisasi,” tuturnya.

Mengenai pelaksanaan vaksin bagi tenaga pendidik, UNISA telah mendaftarkan seluruh civitas akademika ke Kemendikbud Ristek. Sambil menunggu jadwal vaksinasi tersebut, UNISA berinisiatif melakukan kampanye mengenai pentingnya vaksinasi kepada masyarakat.

Warsiti mengungkapkan, dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19, individu tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Perlu melibatkan kekuatan banyak pihak. Dengan kebersamaan dan komitmen yang satu, penanganan pandemi diharapkan cepat berhasil.

Ia menambahkan, hal terpenting yang perlu mendapat perhatian saat ini adalah bagaimana menyikapi masyarakat yang sudah mulai bosan dan jenuh dengan suasana pandemi. Tingkat kecemasan masyarakat akan paparan Covid-19 perlahan menurun, terlihat dari beberapa kasus masyarakat yang mulai abai protokol kesehatan.

Meskipun demikian, Warsiti tetap berpikiran positif menyikapi tantangan yang ada. Untuk itu, dirinya pun mengajak semua pihak agar lebih serius dalam upaya penanganan pandemi.

“Penanganan harus lebih serius, meskipun kita tidak bisa memprediksi secara pasti kapan pagebluk ini akan berakhir,” ujarnya.

Dampak pandemi rupanya tidak hanya berimbas pada proses pembelajaran dan kegiatan akademik lainnya yang melibatkan para dosen dan mahasiswa UNISA, namun juga dirasakan oleh para orang tua di luar sana yang hendak mengantarkan putra-putri mereka ke jenjang universitas.

“Kalau tahun kemarin, masih dalam target kita, tidak mengalami penurunan jumlah mahasiswa sama sekali,” kata Warsiti.

Berbeda dengan sekarang, pihaknya harus mempertimbangkan bagaimana kemampuan para orang tua mahasiswa. Banyak dari mereka yang mengalami kesulitan finansial, mengingat di masa pandemi ini, banyak orang harus kehilangan pekerjaan.

Sekali lagi, Warsiti tidak berkecil hati. Ia tetap berpikiran positif. Pihaknya berharap, pandemi ini tidak akan mengurangi animo masyarakat untuk mendukung putra-putrinya menempuh studi di perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.