Menilik Sekilas Perjalanan Kamituwo Panggungharjo dalam Menangani Pandemi

Relawan membantu pemasangan oksigen untuk warga yang melakukan isolasi mandiri. HOSNI BIMO WICAKSONO

Perangkat desa di dalam Pemerintah Kalurahan Panggungharjo yang mengemban tugas sebagai kepala seksi pelayanan disebut sebagai ‘kamituwo’ dalam istilah keistimewaan DIY. Tidak hanya menangani kebudayaan, sosial, pendidikan, kelompok rentan, dan keagamaan, namun sektor kesehatan juga menjadi salah satu tugas yang harus dilakukan.

Ketika gelombang ke-2 atau ke-3 pandemi Covid-19 menyerang, banyak kasus positif di desa hingga ratusan warga harus isolasi mandiri (isoman) di rumah karena fasilitas kesehatan tidak mampu menampung. Soal pengelolaan data kasus pun tidak mampu dikelola oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama, dalam hal ini puskesmas sebagai mitra desa.

Oleh sebab itu, kemudian pemerintah desa berinisiatif untuk mengadakan shelter desa meski di wilayah Panggungharjo sudah ada dua fasilitas yang dipakai oleh shelter kabupaten, yakni Shelter Niten di Jaranan dan Shelter Patmasuri di Krapyak Kulon.

Dengan segala keterbatasan, akhirnya kami membuka shelter desa pada tanggal 26 Juni 2021 sekaligus meresmikan aplikasi penanganan kasus Covid-19 yang kami beri nama bantultangguh.com.

Melalui aplikasi itu, warga bisa melaporkan kondisi kesehatan hariannya kepada Pemdes sehingga kami bisa merespons atas laporan warga tersebut. Respons bisa diberikan tergantung dari laporan warga yang ada di aplikasi, apakah OTG, gejala ringan, gejala sedang, maupun gejala berat.

Untuk OTG dan gejala ringan kami tempatkan di shelter desa jika memang secara sosial tidak memungkinkan isoman di rumah, misal karena rumah sempit dan banyak penghuni, tidak ada ruang untuk isoman, hanya memiliki satu kamar mandi, dan di rumah ada kelompok rentan, yakni lansia, balita, ibu hamil, serta orang yang memiliki komorbid.

Menangani pasien secara medis maupun nonmedis merupakan tugas yang diemban oleh divisi pelayanan. Sejumlah 50 tempat tidur kami siapkan untuk warga yang OTG atau gejala ringan, meskipun faktanya kadang ada warga dengan gejala sedang dan berat harus kami terima karena shelter kabupaten dan rumah sakit penuh.

Alur yang dilalui untuk menjadi pasien shelter, warga harus mencantumkan permohonan dari pedukuhan secara nonklinis atau sosial serta persetujuan klinis dari puskesmas, dan tentunya data calon pasien harus ada di dalam situs Bantultangguh. Kami juga siap jika warga harus dijemput di rumahnya untuk kami bawa ke shelter karena ada ambulans milik puskesmas yang kami siapkan di shelter.

Prosedur Operasi Standar (POS) yang kami lakukan adalah melakukan cek tanda-tanda vital (TTV) saat calon penghuni shelter datang, yakni meliputi cek tekanan darah, suhu, nadi, dan saturasi dengan alat kesehatan. Tidak luput kami tanyakan terkait gejala-gejala yang muncul.

Selanjutnya, hasil penyaringan data pasien, tersimpan rapi dalam situs Bantultangguh. Kami juga memberikan paket kit pasien berupa sprei, selimut, alat mandi, dan alat makan. Setelah rangkaian alur terpenuhi, kami persilakan untuk masuk kamar. Kami sediakan makan tiga kali untuk pasien, yaitu pagi, siang, dan malam.

Saat mengelola shelter, kami juga melayani warga berdasarkan laporan dan pantauan di situs Bantultangguh, semisal ada permohonan kunjungan untuk cek TTV karena warga bergejala, butuh obat, bahkan warga yang mungkin membutuhkan oksigen. Ketika ada panggilan itu, kami lalu memakai APD, membawa alat Kesehatan untuk TTV, kemudian menggunakan ambulans kami mengunjungi warga.

Setelah melakukan kunjungan, cek TTV, hasilnya kami sampaikan ke grup WA klinis yang beranggotakan kepala puskesmas, dokter, dan lurah yang akan memberikan rekomendasi apakah yang bersangkutan isoman di rumah, di shelter, atau dicarikan rujukan ke shelter kabupaten atau rumah sakit, termasuk untuk resep obatnya. Apabila rekomendasinya adalah dibawa ke shelter, langsung kami bawa ke shelter desa dengan menggunakan ambulans yang tersedia.

Kami melakukan kegiatan medis ini tentu bukan selaku tenaga kesehatan (nakes) apalagi tenaga medis yang terdaftar di kemenkes. Kami hanya perangkat desa yang harus melakukan hal ini untuk melayani warga dalam kondisi darurat. Kami lakukan itu siang dan malam.

Dalam melakukan ini tentu ada suka dukanya. Suka karena kami bisa membantu warga, menolong warga yang membutuhkan, bisa segera melayani panggilan warga yang membutuhkan. Sepulang dari cek warga, ada warga yang membawakan kami oleh-oleh, buah tangan hasil dari usahanya sendiri, seperti dari pembuat keripik belut.

Hal tersebut membuat kami haru, tetapi juga bingung dan cemas karena sampai di shelter kami ragu untuk memakannya karena kan makanan ini dibuat oleh warga yang positif. He-he.

Dukanya, saat kami merespons panggilan warga, ketika sampai di sana untuk kami cek, ada warga yang sudah meninggal atau sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Justru tanda-tanda nyawanya sudah pergi atau ada kabar setelah beberapa hari kami cek lalu sudah dibawa ke rumah sakit rujukan, warga tersebut meninggal dunia.

Tentu kabar itu membuat sedih walaupun kami lalu mencoba untuk menghibur diri dengan menyatakan bahwa kami sudah melakukan semampunya untuk memberikan pertolongan pertama.

Selain itu, pada tanggal 18 Juli 2021, setelah sekitar lebih dari satu bulan shelter berjalan, saya merasakan gejala, saya tidak enak badan, batuk, dan demam.

Hari Selasa, 20 Juli 2021 saat umat Islam melaksanakan salat Iduladha, saya tes swab antigen dan hasilnya positif. Istri dan anak pun segara saya minta untuk tes antigen, alhamdulillah hasil negatif, dan mereka saya minta mengungsi di rumah orang tua, sedangkan saya isoman di rumah sendiri.

Sampai hari ke-3 saya merasakan lemas, pegal linu, dan batuk, alhamdulillah tidak sesak napas. Saya siapkan alat untuk cek tekanan darah saturasi, dan suhu. Biasanya saya melakukan cek ke warga, sekarang saya cek diri saya sendiri setiap hari. Alhamdulillah hasilnya baik.

Saat isoman, saya dikirimi makan tiga kali oleh istri. Banyak juga dari saudara, kerabat, dan kolega yang memberi semangat dan motivasi bahkan juga mengirim paket bingkisan makanan, dan sebagainya. Saya jadi terharu karena banyak yang peduli.

Termasuk banyak grup WA yang tahu-tahu memberikan semangat, seperti grup WA teman sekolah, warga, kader, dan rekan-rekan yang melakukan video call untuk memberikan semangat. Bahkan ada satu grup WA kader yang membahas untuk melakukan gotong-royong iuran untuk membeli bingkisan yang akan diberikan kepada saya, padahal saya ada dalam grup WA tersebut.

Setelah lama mereka saling bahas dalam grup WA, kemudian saya muncul ikut mengomentari. “Nggak usah repot-repot, Bu. Bantu saja tetangga atau warga di sekitar Ibu-ibu. Saya nggak apa-apa kok. Hehe,” kata saya.

Spontan semua yang ada di WA grup kaget dan tertawa pecah karena mereka baru sadar bahwa orang yang dibahas oleh mereka ternyata ada dalam satu grup WA bersama mereka Ha-ha-ha.

Penciuman saya juga menghilang, baru muncul kembali sekitar hari ke-12. Pada hari ke-14 ternyata masih ada batuk sedikit sehingga diminta oleh puskesmas untuk melanjutkan tiga hari isoman, dan di hari ke-17 terbit surat sehat dari puskesmas. Alhamdulillah, sekarang sudah sehat dan siap kembali bertugas melayani warga.

One thought on “Menilik Sekilas Perjalanan Kamituwo Panggungharjo dalam Menangani Pandemi

Comments are closed.