Bapak Asrama Shelter Tanggon

Rosada ketika sedang menyediakan makan untuk para pasien di Shelter Tanggon. ROSADA ROAN AT THARIQ.

Menjadi bagian dari perjuangan Shelter Tanggon Covid-19, yakni shelter gabungan Kapanewon (Kecamatan) Sewon, merupakan pengalaman berkesan bagai berkelana di tengah badai. Mengapa demikian? Sebab, mengelola shelter tentu ada perjuangan yang harus ditempuh di tengah situasi yang sedang tidak baik-baik saja. Sungguh demikian adanya, karena pada saat itu kasus Covid-19 sedang naik drastis.

Pengalaman menjadi relawan dalam situasi yang sedang tidak baik-baik saja, berawal dari rasa memiliki sebagai bagian dari masyarakat dan juga rasa tanggung jawab sebagai bagian dari pemerintah. Saya merupakan salah satu pamong kelurahan yang mendapat tugas tambahan mengelola shelter darurat ini.

Awalnya saya mendapat tugas sebagai pengelola bidang nonmedis. Hal ini menjadi bagian lain dari inti penanggulangan itu sendiri. Sebelumnya, pada tahap persiapan, alasan saya ditunjuk sebagai pengurus bagian nonmedis karena latar belakang pendidikan terakhir saya, yakni bimbingan dan konseling.

Berkaitan dengan nonmedis, berarti hal-hal yang berkaitan dengan urusan di luar penanganan klinis, yaitu kejiwaan para pasien Covid-19 yang sedang menjalani pemulihan atau isolasi di shelter. Termasuk juga urusan logistik, sarana, dan prasarana karena pada saat awal-awal beroperasinya shelter, belum banyak relawan yang turut bergabung.

Pada saat itu suasana memang sedang kacau. Kenaikan kasus positif Covid-19 mencapai puncaknya, sedangkan kesiapan menghadapi fase ini masih dirasa belum terlihat bentuknya. Termasuk cara membantu pasien dalam mengelola kondisi psikisnya selama isolasi. Tentu menjaga psikis para pasien Covid-19 di shelter di tengah situasi yang sedang tidak baik-baik saja menjadi tantangan tersendiri.

Menyusun jadwal kegiatan di Shelter Tanggon merupakan hal pertama yang dilakukan. Tentunya saya berupaya menciptakan kegiatan yang menyenangkan, bukan malah menambah suasana menjadi susah. Memang tidak mudah sebenarnya karena yang dilayani ini banyak orang dengan bermacam-macam karakter.

Kegiatan pagi hari biasanya diisi dengan ibadah salat subuh bagi yang beragama muslim, dan untuk yang beragama lain menyesuaikan dengan kepercayaannya masing-masing. Selanjutnya, dirangkai dengan membersihkan diri, olahraga, dan sarapan.

Bersamaan dengan itu, dilakukan terapi musik dan motivasi pagi. Saya biasanya langsung memandu kegiatan ini dengan diiringi musik tenang dan memberikan motivasi untuk para pasien.

Kemudian, setelah dua jam dari kegiatan tersebut, dilanjutkan mendengarkan musik edukasi, yaitu biasanya Mars Hidup Sehat, Mars Gerakan Masyarakat (GERMAS) Hidup Sehat, Mars 3 Wajib (Aman, Iman, dan Imun), Ingat Pesan Ibu, serta Indonesia Raya untuk mengakhiri sesi terapi musik dan motivasi pagi.

Kegiatan selanjutnya adalah proses skrining Tanda-Tanda Vital (TTV), yaitu mengecek tensi, saturasi oksigen, nadi, suhu tubuh, dan berat badan. TTV rutin dilakukan setiap pagi. Setelah itu akan dilanjut dengan kegiatan terapi literasi, makan siang, istirahat siang, hiburan sore, olahraga sore, makan malam, ibadah, terapi musik malam, motivasi, edukasi, dan yang terakhir adalah istirahat malam.

Sampai akhirnya saya dipanggil ‘bapak asrama’ karena seakan-akan saya mirip bapak asrama atau bapak kos yang dari pagi sampai malam mengurusi pershelteran nonklinis, seperti menyiapkan kegiatan, menyiapkan kebutuhan mandi pasien, menyiapkan makan dan minum, sampai ngoprak-oprak atau mendisiplinkan pasien supaya mau berolahraga dan berjemur pagi.

Selain itu, saya memberikan motivasi dengan suara yang menyejukkan, yang akhirnya suara saya dikangeni para pasien waktu itu. Apabila tidak memberi motivasi sekali saja langsung dicari-cari. Seakan mereka mencari bapaknya.

Selain itu, saya membuat grup WhatsApp (WA) untuk pasien agar memudahkan komunikasi. Uniknya, walaupun di grup itu berisi orang-orang yang baru kenal, tetapi rasa kekeluargaan yang terbangun sangat erat.

Hal itu ditandai ketika penyintas sudah dinyatakan selesai isolasi, ada tradisi berpamitan dan menyampaikan kesan dan pesan. Rasa haru dan rasa berkesan, tampak pada setiap pesan yang diunggah di grup WA itu.

Kebersamaan itu berlanjut hingga di luar shelter, para penyintas Covid-19 di shelter ini menjadi saling kenal, seakan memiliki kawan baru, padahal sebelumnya tak saling kenal. Inilah yang membuat saya dan para relawan lainnya menjadi lega, poin-poin bonus dapat kita capai.

Minggu pagi saya menjadi instruktur senam GERMAS Hidup Sehat yang diikuti oleh para pasien dan beberapa relawan. Antusias para penyintas sangat bersemangat karena banyak dari mereka sebenarnya bosan dan ingin melakukan aktivitas yang lebih variatif dan menyegarkan jiwa. Maka dari itu, kami memfasilitasi kegiatan senam setiap Minggu pagi dan hari-hari tertentu. Tujuan senam ini adalah membuat badan bergerak dan hati bahagia.

Selain itu, ada pengalaman unik, pada saat awal-awal shelter beroperasi, yakni ada salah satu penyintas perempuan yang mengirim pesan singkat kepada saya melalui WA untuk minta dibelikan pembalut.

Sontak saya kaget dan tertawa sampai akhirnya ada tambahan permintaan, “Tanpa sayap, ya, Mas.” Saya pun makin tertawa dan segera memberi tahu salah satu relawan Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB), yang saat itu sedang bertugas bersama dengan saya.

Akhirnya saya belikan di sebuah swalayan di pinggir Jalan Parangtritis Km 7. Setelah terbeli, akhirnya dipanggillah pasien itu karena titipan barang sudah sampai di meja logistik. Pesan singkat WA dari pasien tersebut saya tangkap layarnya, kemudian saya kirimkan ke Lurah Panggungharjo, ia pun seketika mengunggahnya di status Instagram dan WA sebagai bentuk membagikan pengalaman unik yang cukup menghibur.

Selain permintaan tanpa sayap itu, setiap pagi, siang, dan sore, saya bersama salah satu kader juga melayani permintaan pasien yang tidak bisa makan nasi, seperti meminta dibelikan bubur ketika pagi hari, jenang untuk siang hari, dan bubur kacang hijau untuk sore hari. Drama yang muncul dari kegiatan ini adalah adanya ketidakpastian jumlah permintaan. Kami sering bolak-balik seperti setrika demi mengabulkan permintaan para penyintas itu.

Selain itu, tanggung jawab relawan nonmedis dan logistik ini harus selalu memenuhi kebutuhan nonklinis dari para pasien. Suatu malam, bantal dan selimut habis karena yang kotor masih ada di ruang penatu (laundry) dan belum kering, serta belum didekontaminasi.

Karena pada malam itu sedang banyak pasien yang masuk ke shelter, saat itu juga relawan belum sebanyak akhir-akhir ini, dan relawan lainnya sedang bertugas. Akhirnya saya harus sendirian memborong dua belas bantal dan sepuluh selimut di swalayan dengan mengendarai sepeda motor. Sudah seperti mas-mas penjual kebutuhan rumah tangga.

Dukuh Tabung Kelangkaan Oksigen di Tengah Badai Pandemi

Memasuki pertengahan Juli merupakan masa-masa sulit karena merebaknya varian Delta yang menyebabkan sesak nafas di banyak pasien. Waktu itu juga dibarengi langkanya oksigen. Mencari oksigen kala itu bagaikan mencari cadangan nyawa bagi para pasien darurat.

Rekan-rekan bagian medis kala itu dipimpin oleh Dukuh Jaranan yang menjadi favorit orang-orang. Ia memberikan pesan bahwa persediaan oksigen perlu diperbanyak karena melihat situasi yang semakin kacau. Hari-hari dilewati dengan mencari oksigen keliling Jogja. Saya ditemani oleh beberapa rekan seperti Mbak Sylvy dan Mas Fery FPRB, Dukuh Pandes, Dukuh Krapyak Kulon, Mas Kevin dari PSID Panggungharjo, dan Dukuh Jaranan.

Dalam misi pencarian oksigen, saya mengalami kejadian yang cukup berkesan. Hari itu saya bersama Mas Kevin membawa empat tabung oksigen kecil dengan mengendarai sepeda motor. Sebelumnya baik-baik saja, kita jalan mulus melewati jalanan kampung. Sampai di tengah perjalanan ada drama. Tepat di tikungan Kampung Demangan, kami terjatuh bersama setabung-tabungnya.

Hal yang menyebabkan kami terjatuh, yakni kepala tabung oksigen mengganjal setang motor saya sehingga tidak bisa mengendalikannya. Beruntung pada saat itu ada seorang bapak yang menolong saya dan Mas Kevin.

Rasanya hanya keseleo dan panas dibagian kaki karena tertimpa motor dan tabung oksigen. Selebihnya, saya merasa sangat capek dan ngantuk. Mungkin tenaga sudah terforsir di pelayanan mencari oksigen sebelumnya dan pelayanan pershelteran yang bagai es campur waktu itu.

Pada saat itu pula, belum banyak relawan yang bergabung, sedangkan kasus sesak napas menghantui penjuru negeri. Spontan saya menelpon Lurah Panggungharjo. Didengar dari suara, sepertinya ia mengkhawatirkan saya.