Bertahan dalam Badai

Kampoeng Mataraman. PEMERINTAH KALURAHAN PANGGUNGHARJO

Jika Anda tahu musuh dan mengenal diri sendiri, Anda tidak perlu takut hasil dari seratus pertempuran. Jika Anda mengenal diri sendiri, tapi bukan musuh, untuk setiap kemenangan yang diperoleh Anda juga akan menderita kekalahan. Jika Anda tidak tahu akan musuh maupun diri sendiri, Anda akan menyerah dalam setiap pertempuran.

Sun Tzu, The Art of War

Tahun penuh tantangan, menjadi frase paling tepat untuk menggambarkan bagaimana ketidakpastian oleh sebab perubahan dalam keseluruhan aspek yang terjadi dalam waktu cepat, yang kemudian melahirkan situasi yang serba ambigu dan kompleks.

Tidak hanya perusahaan besar, yang oleh karena postur usaha yang gemuk dan cakupan usaha yang luas, yang mengalami kesulitan untuk melakukan shifting atau pergeseran dalam model, proses maupun strategi bisnisnya. Pandemi juga mengancam keberlanjutan usaha menengah, kecil, maupun mikro termasuk BUM Desa.

Sedari awal pandemi muncul pada bulan Maret 2020 sampai dengan satu setengah tahun kemudian, hampir semua indikator ekonomi baik mikro maupun makro mengalami pelemahan secara signifikan. Hal tersebut menjadi gambaran bahwa kelesuan ekonomi terjadi secara merata.

Hari ini bisa kita lihat berapa banyak pengusaha laundry, warung makan, penginapan dan indekos, pedagang suvenir dan oleh-oleh, pedagang mainan dan jajanan anak sekolah, toko alat tulis dan jasa fotokopi, serta ragam usaha lain yang dikelola oleh masyarakat kecil kehilangan sebagian besar pendapatannya.

Kehilangan pendapatan berarti kehilangan daya beli. Tergerusnya kemampuan daya beli mendorong perubahan pola konsumsi. Pengeluaran hanya untuk kebutuhan pokok dan mendasar. Masyarakat terutama golongan menengah ke atas menahan diri untuk membelanjakan uangnya atas barang barang yang tidak dianggap pokok.

Belanja rumah tangga lebih diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan dasar dan belanja untuk kesehatan, khususnya yang terkait dengan pencegahan dan pengobatan infeksi virus Corona. Kebijakan pembatasan mobilitas dan aktivitas masyarakat turut berperan dalam penurunan permintaan domestik secara umum.

Di tengah situasi yang serba tidak pasti, BUM Desa, entitas ekonomi desa yang dalam kelembagaannya berbeda dengan entitas ekonomi lainnya, menghadapi persoalan dengan dimensi yang cukup berbeda, untuk tidak mengatakannya lebih rumit. Persoalan yang melingkupi BUM Desa bukan hanya bisnis yang dimensi permasalahannya lebih teknis-pragmatis, tetapi ada dimensi sosial dan politik yang juga memiliki kerumitan tersendiri.

Menurunnya pendapatan BUM Desa selama pandemi menuntut adanya efisiensi di semua lini, tidak terkecuali untuk belanja gaji dan upah karyawan maupun tenaga kerja lainnya. Di antara semua lini pengeluaran, efisiensi atas belanja gaji dan upah menjadi sesuatu yang paling dilematis.

Strategi generik yang biasa dilakukan dalam memangkas biaya gaji dan upah adalah penyesuaian sistem pekerjaan, pengurangan jam kerja, penghitungan ulang standar upah kerja sampai dengan pengurangan tenaga kerja. Menjadi sederhana jika yang melakukan strategi ini adalah entitas bisnis murni yang menjalankan usahanya secara an sich, tetapi tidak bagi BUM Desa, yang merupakan entitas bisnis yang melekat dengan entitas negara yaitu pemerintah desa.

Bagaimanapun BUM Desa, yang dalam perspektif sosial diperankan oleh pemerintah desa, sebagai salah satu instrumen perlindungan sosial, khususnya bagi kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses untuk memperoleh sumber penghidupan yang layak.

Memilih untuk tetap mempekerjakan semua staf yang disertai dengan perubahan status dari karyawan tetap menjadi pegawai harian lepas, atau dengan tetap mempertahankan status sebagai karyawan tetap yang diikuti dengan merumahkan sebagian karyawan lainnya bukanlah perkara gampang.

Misalnya, pilihannya adalah merubah status ketenagakerjaan dengan tetap mempertahankan semua karyawan tetap bekerja, persoalannya adalah pada saat operasional usahanya harus berhenti sementara, kira kira pekerjaan apa yang masih dapat dilakukan dengan memanfaatkan pegawai yang ada.

Belum lagi, pertanyaan terkait seberapa kemampuan cadangan modal BUM Desa dapat menopang kegiatan nonoperasional yang tentunya nirlaba tersebut?

Atau jika pilihannya adalah dengan merumahkan sebagian karyawan, memilih untuk merumahkan Mas Muji atau Mbok Temu atau tenaga kerja lainnya, membutuhkan hati yang tatag dan kemampuan memendam lara.

Bagaimana tidak, Mas Muji, pemuda berusia 40-an, yang jika dilihat dari usianya, sudah waktunya untuk berumah tangga sendiri. Akan tetapi, oleh sebab dia harus menjadi tulang punggung ekonomi bagi ibu, kakak, dan adiknya yang semuanya mengalami keterbatasan, menjadi sebab dia harus menunda keinginan untuk berumah tangga sendiri.

Singkat cerita, ibu dan kakaknya, semenjak mengalami kecelakaan memiliki kecacatan fisik sehingga mobilitasnya sangat terbatas, dan seorang adiknya menderita gangguan kejiwaan.

Tidak jauh berbeda dengan kondisi Mas Muji, Mbok Temu, wanita berusia 62 tahun, alih-alih memikirkan pensiun, perempuan kepala keluarga ini masih harus terus bekerja agar tetap bisa tinggal dan hidup di kamar kontrakan yang dia sewa bulanan. Mbok Temu menggantikan peran suaminya yang tidak lagi mampu mengayuh becak sewaan.

Kondisi Mas Muji dan Mbok Temu ini mewakili sebagian besar kondisi karyawan yang dipekerjakan oleh BUM Desa, bergelut dalam keterbatasan untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup paling dasar, yaitu sandang, pangan, dan papan.

Ilustrasi di atas, kira-kira memberikan gambaran bahwa ruang yang tersedia bagi BUM Desa dalam mengambil langkah efisiensi terhadap belanja gaji dan upah tidaklah seluas dan seluwes entitas bisnis lainnya. Mencari titik keseimbangan antara efisiensi sebagai strategi bertahan dengan kewajiban untuk menjadi jaring pengaman sosial menjadi satu seni manajemen tersendiri.

Respons Cepat BUM Desa Panggung Lestari

Hilangnya sebagian besar pendapatan, juga menuntut BUM Desa Panggung Lestari untuk dapat mencari sumber pendapatan lainnya. Selama pandemi, sebagian lini usaha terpaksa dihentikan sementara atau bahkan ditutup secara permanen.

Dalam rangka memitigasi dampak kesehatan dari pandemi, sekaligus dalam rangka untuk beradaptasi dengan lingkungan ekonomi yang berubah, dari enam unit usaha yang dimiliki oleh BUM Desa Panggung Lestari, yaitu Kampoeng Mataraman, Kelompok Usaha Pengelolaan Sampah (KUPAS), Agrobisnis, Akademi Komunitas, Swadesa, dan Sinergi Panggung Lestari, lima di antaranya berhenti beroperasi. Hanya KUPAS, sebuah unit jasa pengelolaan lingkungan, yang relatif tidak terdampak.

Kampoeng Mataraman sempat berhenti beroperasi pada tiga bulan pertama pandemi, dan baru buka kembali pada tanggal 29 Juni 2020 bertepatan dengan tanggal pertama operasional tiga tahun sebelumnya. Unit agrobisnis ditutup secara permanen, selanjutnya pengelolaan lahan dimasukkan dalam unit Kampoeng Mataraman. Untuk Sinergi Panggung Lestari, lini bisnis yang memproduksi minyak nyamplung setelah sempat berhenti, empat bulan kemudian kembali beroperasi dengan menggeser positioning.

Sedangkan Akademi Komunitas, lini usaha yang mengelola pelatihan dan kunjungan tamu dihentikan secara permanen. Untuk selanjutnya, kegiatan pelatihan dan pengelolaan kunjungan dilekatkan dengan fungsi kesekretariatan (corporate secretary). Dan unit usaha Swadesa, lapak penjualan aneka ragam produk oleh-oleh dan suvenir juga ditutup secara permanen.

Refocusing, repositioning, maupun likuidasi atas beberapa unit usaha sebenarnya bukan merupakan agenda kegiatan BUM Desa yang direncanakan dalam dokumen perencanaan strategis tahun sebelumnya. Akan tetapi, langkah ini merupakan respons cepat dalam upaya memitigasi situasi kedaruratan.

Meskipun demikian, masih terdapat program kegiatan yang menjadi bagian dari rencana strategis yang dilaksanakan, salah satunya adalah rencana pengembangan area depan Kampoeng Mataraman, untuk kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE). Pada awal tahun 2020, area MICE ini diresmikan dengan nama The Plataran.

Implementasi atas rencana perubahan tahun buku juga tetap dilaksanakan. Tahun buku merupakan periode pembukuan atas aktivitas keuangan maupun aktivitas operasional BUM Desa. Jika pada tahun sebelumnya, tahun buku diawali mulai tanggal 1 Januari 2019 dan berakhir pada tanggal 31 Desember 2019, pada tahun operasi 2020 diawali pada tanggal 1 Juli 2020 dan akan berakhir pada tanggal 30 Juni 2021. Sedangkan kegiatan operasional tanggal 1 Januari sampai dengan 30 Juni 2020 ditetapkan sebagai periode transisi.